Olahraga Pagi

1034 Kata
Bangun dari tidurnya, June melihat selimut membalut tubuhnya. Ia melihat sekitar tempatnya tertidur dan merutuk dalam hati. Ternyata aku ketiduran, keluhnya membatin. June duduk di sofa lalu menyadari bantal dan selimut yang asing di matanya. Kok ada selimut sama bantal? Apa Hana yang ngasih ya? Kan Marco lagi nggak ada di rumah.... Belum selesai pikirannya tentang Hana, June mendapati panggilan telepon dari Aira. Ia menggapai ponsel yang ada di meja lalu menjawab, "Halo, Sayang!" "Kamu lagi ngapain?" tanya Aira dalam telepon. "Aku baru bangun tidur, Ra," balas June sambil menyadarkan punggungnya di sandaran sofa. "Oh kamu baru bangun," Aira diam sejenak. "Kamu nggak lupa kan, Sayang, kalau hari ini kita janjian jogging bareng?" Wajah June bengong sejenak. Ia hampir saja lupa. "Nggak kok, Ra. Aku ingat banget. Ini aku mau mandi dulu terus jalan." Tepat saat itu, Hana ke luar dari kamar. Ia melirik June sebentar lalu turun ke lantai dasar tanpa menyapanya lagi. June mendesah entah mengapa, ia tidak suka sikap Hana yang terlalu cuek padanya, padahal ia kan serumah. "Sayang, kamu dengerin aku nggak sih?" tanya Aira dalam telepon. June yang tidak fokus pun berdehem. "Sayang, aku mandi dulu ya, nanti aku telepon lagi kalau udah mau OTW." "Ya udah deh, Sayang. Cepetan ya!" June langsung mematikan panggilannya. Ia mengambil sapu dan pengki yang ada di lantai atas lantas membersihkan sampah yang ada di meja. Tak lupa, June juga melipar selimut dengan rapi. Ia merapikan semuanya dan segera turun dari lantai atas. Di bawah, June melihat Hana sedang membuat roti panggang. "Kayaknya enak sarapan roti panggang," ujar June menggoda Hana. Hana melirik sejenak lalu mencoba membuka botol selai nanas. Tak kunjung terbuka, June pun mengambilnya begitu saja dari tangan Hana. June pun membuka botol selai dengan mudahnya. Ia tersenyum sambil menyerahkannya pada Hana. "Makasih," kata Hana pendek lalu memulai mengoleskan selai ke atas roti panggang. June bukannya menuju kamar malah diam sejenak. Sejujurnya ia ingin jika Hana menawarinya sarapan bersamanya. Hana tidak memperhatikan June dan meneruskan kegiatannya. Selesai memoles roti panggang, Hana memakannya. Suara kriuk terdengar renyah di telinga Hana dan June. June mendesah berat karena Hana tak kunjung menawarinya. Ia pun menahan tangan Hana lalu menggigit habis roti panggang yang sedang dimakannya. Hana kaget dan diam seribu bahasa. Apalagi saat June dengan sengaja menjilati selai yang terjatuh di jemarinya. Astaga! "Makasih untuk sarapannya, Hana." Dan Hana masih tetap terdiam di tempatnya, sementara June sudah masuk ke dalam kamarnya. *** Hana masih tidak pikir. Kenapa Om June begitu mengganggunya? Apakah semua itu karena Hana dan June tinggal serumah dengannya? "Han, ngapain?" tanya June saat ia baru saja ke luar dari rumah. Hana sendiri sedang melakukan pemanasan di halaman depan. "Nggak ngapa-ngapain kok," Hana tiba-tiba berhenti bergerak. Ia hendak masuk ke dalam rumah. June menahan tangan Hana lalu berbicara. "Ikut aku ke alun-alun yuk?" "Alun-alun? Ngapain, Om?" tanya Hana tidak terlalu tertarik. "Lari pagi sekalian jajan-jajan." "Nggak mau ah. Nanti aku jadi obat nyamuk lagi kayak semalam. Bikin bad mood aja." June tersenyum lebar sambil menggeleng. "Nggak akan. Emang sih tadi aku janjian sama Aira. Tapi karena dia nggak sabaran suruh aku datang, dia batalin. Makanya aku ngajak kamu. Yuk lah kita jalan! Kamu juga pasti bosen kan di rumah terus weekend gini?" Hana menimbang sebentar. Tak sengaja matanya melihat tangan June yang masih menggenggamnya. June yang melihat tatapan Hana pun segera melepaskan genggamannya. "Sorry, nggak sengaja!" Hana mendesah lalu mengangguk pendek. "Aku ikut deh. Tapi aku mau ambil hape aku di kamar." "Jangan...." Saat Hana hendak pergi, June menarik tangan Hana lagi. "Nanti kamu main hape terus." "Om juga pasti bawa hape kan?" "Nggak!" balas June telak. Setelahnya June mendorong tubuh Hana menuju mobilnya. Mereka pun pergi bersama menuju alun-alun tempat di mana banyak orang berkumpul untuk menghabiskan weekend mereka. *** Hana dan June berjalan santai di sepanjang jalan raya sekitar alun-alun. Beberapa orang yang sedang olahraga pagi seperti mereka pun terlihat banyak yang berlalu lalang. Bukan hanya orang yang ingin berolahraga, tapi para pedagang pun menjajakan jualannya. Sedang berjalan bersama, June tiba-tiba lari mendahuluinya. Hana memperhatikan June yang berhenti di pedagang bunga yang berdiri di pinggir jalan. Ia terlihat mengeluarkan dompetnya dan membeli bunga mawar berwarna kuning. Hana sampai di dekat June dan pria itu segera menyamakan langkahnya lagi. "Mau buat pacar Om ya?" "Nggak. Ini buat kamu!" kata June lalu menyodorkannya di hadapannya Hana. Bukannya menerima, Hana malah melipat kedua tangannya di d**a. "Aku nggak suka bunga," jawab Hana cuek. June langsung berdecak. Ia menarik tangan Hana lalu memberikan bunga yang baru dibelinya. "Nggak boleh menolak rezeki. Terima!" Hana melihat bunga yang sudah dipegangnya lalu mencium baunya. Wangi khas mawar. Indah juga! Hana tersenyum tipis. Diam-diam memperhatikannya, June pun ikut tersenyum. Namun, entah mengapa ia begitu menyukai senyuman Hana. "Cantik!" gumam June tanpa sadar. "Apanya, Om, yang cantik?" Tersadar dari lamunannya, June pun berhenti tersenyum bodoh. "Bunganya lah, emang apa lagi?" tanya June bohong. Hana pun diam. Oh bunganya. "Emang cantik sih bunganya." *** "Duduk dulu yuk! Kamu capek nggak?" tanya June sambil memegang tangan Hana. Sesampainya di bangku kosong yang muat untuk dua orang, mereka pun duduk dan melepas penat. "Lumayan, Om. Capek juga." June tersenyum lebar. "Kamu kayaknya harus lebih sering olahraga deh, biar stamina kamu bagus. Gimana kalau kita agendain tiap minggu pagi ke sini?" "Kita?" Hana tertawa karena kesal selintas. "Om kan punya pacar. Paling juga minggu depan Om udah lupa dan mentingin jalan sama pacar Om." "Apa? Hah? Nggak kedengaran!" June sengaja bertanya untuk menggoda Hana. "Ya kan nanti kita bareng-bareng. Kamu sama Marco. Aku sama Aira. Kita double date. Maro pasti setuju." "Aku yang nggak setuju." Hana mendesah lelah. Ia melihat sekitarnya yang ramai lalu berhenti melihat penjaja es. Ah haus.... "Kamu mau minum?" Hana menoleh menatap June yang tiba-tiba bertanya. Mengapa tepat sekali bertanya ketika ia merasa haus? "Mas, beli es!" seru June memanggil pedagang es keliling. Ketika pedagang itu sudah mendekat, June mengambil es jeruk lalu menoleh menatap Hana. "Ayo ambil! Mau es jeruk atau es teh manis?" Hana segera mengambil es teh manis. "Berapa, Mas?" tanya June sambil membuka dompetnya. "20.000 aja, Mas." June pun segera membayar dengan uang pas. "Makasih, Mas." Setelahnya pedagang es itu kembali mengelilingi dan menjajakan jualannya. Hana dan June pun meminum es mereka masing-masing.[] *** Bersambung>>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN