Ketemu Cowok

1228 Kata
Hana mulai ke luar dari rumah dan berjalan di sisi jalan raya. Ia memakai airpods di kedua telinganya dan mulai menyetel lagu yang cocok dengan suasana malam. Terus berjalan, Hana bertemu tukang roti bakar yang sedang berhenti di depan sebuah rumah. Oh ya, Om June tadi bilang kalau dia udah pesen martabak, pikir Hana. Mengingat pesan June, Hana pun balik badan, tapi tak sengaja ia malah menyenggol seseorang di belakangnya. Hana menutup matanya karena yakin akan jatuh. Namun, hingga beberapa detik selanjutnya, ia tidak merasakan apapun. Hana membuka matanya dan melihat cowok berambut hitam dengan senyuman lebarnya menatapnya dengan geli. "Astaga...." Hana menegakkan tubuhnya. Tangannya dengan refleks menyisipkan untaian rambutnya di belakang telinga kirinya. "Maaf." "Nggak papa. Lain kali hati-hati ya," ujarnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Hana duluan. Hana yang tadinya berniat untuk pulang malah kembali berjalan mengikuti cowok yang baru saja ditabraknya. Cowok berambut hitam beralis tebal itu sedang memesan roti bakar. "Mang, coklak keju satu ya!" seru cowok itu lalu duduk di kursi plastik berwarna biru. Hana mendekati penjual roti lalu ikut memesan. "Mang, coklat keju satu." "Oh siap, Teh. Tunggu sebentar ya. Duduk dulu aja, Teh." Hana pun berlalu dan duduk di samping cowok yang tadi menabraknya. "Beli roti bakar juga ya?" tanya cowok itu menyapa duluan. Hana tidak menyangka jika cowok tadi akan menyapanya. Ia menoleh sebentar lalu menjawab. "Iya." Setelahnya tidak ada obrolan lagi. Mereka menunggu pesanan masing-masing hingga penjual roti bakar itu menyerahkan pesanan cowok itu terlebih dahulu, kemudian memberikan pesanan Hana. Hana membayar roti bakarnya kemudian berlalu kembali ke arah rumah. Anehnya laki-laki yang tadi bertabrakan dengannya masih berada di sana. Di depannya. Ia berjongkok dan menegakkan badannya lagi. Tangan laki-laki itu terlihat memegang sesuatu. Sepasang airpods. Tak menunggu lama, cowok itu menoleh ke belakang. "Hei!" sapanya pada Hana. Hana mendekat pada cowok itu dan menyadari airpodsnya yang hilang. "Punya kamu?" tanya cowok itu sambil memperlihatkan benda milik Hana. Hana mengangguk sambil mengambilnya dari tangan cowok berambut hitam itu. "Makasih." "Sama-sama. Lain kali hati-hati ya?" Hana pun terkikik. Perkataan cowok itu sama seperti beberapa menit yang lalu sebelum mereka membeli roti bakar. "Kenapa?" "Eng, nggak...." Cowok itu pun tersenyum. "Pulang ke mana?" "Lurusan ini kok." "Oh," Cowok itu mengangguk. "Bareng aja, gimana?" Hana pun mengangguk setuju. Ia malah senang karena cowok itu mengajaknya mengobrol. "Kamu orang sini ya?" tanya cowok itu lagi. "Hmm, aku baru pindah ke sini." "Oh ya? Sama dong! Aku juga baru pindah ke sini." Hana pun mengangguk. "Kamu masih sekolah, kuliah, atau udah kerja?" "Aku masih sekolah. Baru naik kelas 3 SMA." "Oh ya? Kita seangkatan dong. Aku juga anak kelas 3. Sekolah di mana emangnya?" "Di Siliwangi High School." "Serius? Aku juga sekolah di sana, tapi kok kayaknya aku nggak pernah ngelihat kamu ya di sekolah." Hana memperhatikan cowok itu sejenak lalu tersenyum tipis. "Oh ya kenalin, aku Brian. Kamu...." Pemuda bernama Brian mengangkat tangannya di udara. "Hana," balas Hana sambil menjabat tangan Brian. "Oh ya itu rumahku," kata Hana saat mereka berada di dekat rumah Hana. "Oh ini rumah kamu." Brian tersenyum tipis sambil memandangi rumah berlantai dua yang ada di depannya. "Ya sudah kalau begitu aku duluan ya," pamit Hana. Brian mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata. Ia memperhatikan Hana yang perlahan masuk rumahnya. Ia pun kembali berjalan menuju rumahnya yang masih satu jalur. *** "Dari mana aja, Han? Kamu bawa apaan itu?" tanya June saat melihat Hana membawa kantong plastik berwarna putih. Hana melihat barang bawaannya lalu menjawab. "Oh, tadi aku beli roti bakar, Om." "Padahal aku kan tadi udah bilang lagi pesan martabak," gumam June terdengar mengomel. "Udahlah, Sayang. Mungkin Hana lagi pengen roti bakar bukan martabak. Iya kan, Han?" tanya Aira membela Hana. Ia menenangkan pacarnya agar tidak mengomel. Hana diam saja. Ia berjalan meninggalkan June dan Aira dengan cuek menuju lantai atas. Melihat wajah Hana yang dingin, June ikutan jengkel. "Kenapa jadi dia yang marah? Hanaaaa...." panggil June saat Hana berjalan menaiki undakan tangga. Mendengar namanya dipanggil, Hana tidak peduli. Ia terus melangkah hingga sampai ke kamarnya. Hana pun memakan roti bakar yang dibelinya sendiri di atas balkon kamarnya. *** "Halo, Hana." "Halo, Pa." Hana menjawab panggilan ayahnya. "Kenapa?" "Nggak papa. Kamu lagi ngapain?" Tanya Papa Marco saat Hana sedang memakan roti bakarnya. "Lagi makan." "Sama June?" "Nggak. Aku makan sendiri di kamar. Emang kenapa, Pa?" "Nggak papa. Papa mau ngecek kamu aja. June lagi ke luar atau ada di rumah nemenin kamu?" Tepat sekali ayahnya bertanya, Hana melihat June dan Aira ke luar dari rumah. Keduanya memasuki mobil SUV milik June. "Ehm.... Ada di rumah kok, Pa. Sama pacarnya, Mbak Aira." "Papa bisa ngobrol sama June sebentar?" Hana melihat mobil June ke luar dari rumah. Ia pun menjawab, "Papa telepon Om June sendiri aja. Aku lagi di atas. Om June sama pacarnya di bawah. Aku lagi mager, Pa." "Oh ya udah. Papa tutup teleponnya sekarang ya, Han." "Iya, Pa. Ehm, Papa besok udah pulang kan?" tanya Hana memastikan. "Iya, Han. Sudah ya. Papa dipanggil soalnya." Hana pun meletakkan ponselnya setelah Marco memutuskan panggilannya. Ia kembali makan roti bakar sambil memperhatikan ke luar. Gemerlap lampu kota dan kebisingan menjadi pemandangan Hana saat ini. *** June kembali ke rumah sambil membawa dua kantong belanjaan dari bagasi mobil. Saat ia hendak masuk, ia melihat ke atas dan mendapati Hana sedang berdiri di atas balkon. "Hanaaaa...." teriak June. Hana menoleh ke bawah dengan wajah cueknya. "Ayo turun! Kita nonton bareng di bawah." Hana menggeleng. "Aku mau tidur, Om." Setelahnya Hana berbalik badan dan menutup pintu balkon kamarnya. June yang melihat Hana pergi begitu saja pun hanya bisa mendesah. Ia masuk ke dalam rumah dan memasukkan kaleng bir yang ada di kantong belanjaan ke dalam kulkas. Selesai menata kulkas, June membawa tiga kaleng bir ke lantai atas. Ia menaruhnya di meja lalu menyiapkan DVD untuk menonton film. Setelah siap, June mengetuk pintu kamar Hana. "Hanaaa.... Kamu sudah tidur?" Tidak ada balasan. June mendesah lalu kembali ke sofa. Ia mendudukinya sambil mengambil kaleng bir di atas meja. Ia membukanya dan meminumnya sambil menonton film Twilight. *** Hana tidak mempedulikan panggilan June dan lebih memilih berbaring di ranjangnya. Tangannya memegang ponsel dan matanya melihat video singkat dari beranda i********:. Sedang asyik-asyiknya scrolling i********:, Hana pun tertidur begitu saja. Beberapa waktu berlalu, Hana terbangun ketika sudah dini hari. Ia turun dari ranjang menuju kamar mandi. Menyelesaikan hajatnya, Hana ke luar dari kamar mandi. Ia duduk di sisi ranjang. Saat sudah berbaring, ia mendengar suara TV di luar yang masih menyala. Apa Om June masih nonton film ya? Hana melihat ponselnya dan mengetahui bahwa saat ini sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Ia pun memejamkan matanya lagi. Apa Om June ketiduran di luar sampai TVnya belum sempat dimatikan? Hana mendesah pelan. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu kamar. Dibukanya pintu kamar berwarna putih itu lalu melihat TV yang masih menyala. June sudah dalam posisi berbaring di sofa. Hana berjalan mendekati sofa untuk melihat keadaan Om June yang benar saja sudah terlelap. "Tuh kan bener. Pasti ketiduran!" Hana mengambil remote lalu mematikan TV. Ia membiarkan meja yang masih berserakan beberapa kaleng bir dan kulit kacang yang sudah terbuka lalu masuk ke kamarnya lagi. Hana pun kembali mendekati June sambil membawakan selimut dan bantal dari kamarnya. Ia menaruh bantal di bawah kepala June, lalu melebarkan selimut yang dibawanya agar menutup ke seluruh tubuh June kecuali bagian kepalanya saja. Selepasnya Hana pun kembali ke kamar untuk lanjut tidur. *** Bersambung>>>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN