"Marc, bagi birnya dong!" pinta June saat Marco sedang minum bir di dapur. Ia pun duduk di samping Marco.
"Nih," Marco menyerahkannya.
June menerimanya lalu membuka kaleng birnya. Ia meminumnya lalu bertanya tentang Hana. "Hana udah tidur?"
"Nggak tahu. Dari habis makan malam sih dia di atas."
June mengangguk singkat. "Kayaknya Hana udah betah tinggal di sini."
Marco diam sejenak. "Aku kayaknya harus bawa Hana ke rumah orang tuaku Aku harus mengenalkan Hana, kalau Hana anak kandungku."
June diam sejenak lalu meminum birnya. "Emang harusnya sih begitu."
"Aku cuma sedikit khawatir. Kalau nanti Hana akan merasakan apa yang pernah ibunya rasakan, Jun. Aku nggak mau membuat Hana merasa sedih karena tidak diterima keluargaku."
June mengangguk setelah mendengarkan. Kekhawatiran Marco benar adanya. "Mungkin kamu harus cerita dulu ke orang tua kamu, Marc. Setelahnya baru kamu kenalkan Hana pada kedua orang tua kamu kalau mereka mau bertemu. Dengan begini Hana tidak akan tersakiti."
Marco setuju. Ia juga tadinya memikirkan ini. "Mungkin lebih baik seperti itu." Marco mengedikkan bahunya. "Sabtu minggu ini aku akan ke Surabaya naik kereta. Kamu bisa kan jaga Hana pas weekend ini?"
June tersenyum canggung. "Bukannya nggak mau sih, Marc, tapi aku ada janji dengan Aira akhir minggu ini."
"Tolong lah, Jun. Minggu ini saja. Atau kamu bawa saja Aira untuk pacaran di sini."
June terdiam sejenak. Ia berdecak kesal dan akhirnya setuju. "Oke, oke. Puas kan?"
Marco pun meminum birnya lagi hingga habis. Ia membuka kaleng kedua.
***
Sabtu malam itu, Hana bertemu dengan pacar June di rumah. Mereka berkenalan dan Hana merasa tidak nyaman karena merasa seperti menjadi obat nyamuk.
"Om aku ke kamar dulu ya."
"Loh kamu nggak lanjut nonton drakor?" tanya June masih sambil merangkul Aira yang duduk di sampingnya.
"Nggak deh. Aku mau ke atas dulu ya, Om."
June pun mengangguk dan Hana kembali ke kamarnya.
"Kayaknya aku buat Hana nggak nyaman deh, Sayang."
"Udahlah, biarin aja. Mungkin Hana emang pengen di kamarnya." June tersenyum untuk menenangkannya. Mereka pun melanjutkan nonton.
"Sayang, ganti filmnya dong. Aku mau nonton film...."
"Film p***o gimana?"
Aira langsung memukul June dengan keras. "Awas kalau berani nonton gituan. Kita nonton film romantis aja. Siniin remotenya."
June mengambil remote TV lalu memberikannya pada Aira. Wanita berusia 25 tahun itu memilih film di saluran TV berbayar dan menjatuhkan pilihannya pada film Barat berjudul Me Before You.
Mereka pun menikmati film sambil sesekali b******u mesra.
***
Hana baru saja berniat turun ke lantai bawah saat merasakan haus, tapi malah melihat pemandangan orang pacaran yang mengganggu matanya. Om June dan pacarnya sedang berciuman mesra di bawah.
Hana kembali berbalik dan mendesah. Ia terganggu melihat orang berciuman. Beberapa saat kemudian, Hana kembali menuju lantai bawah. Biar nanti aku akan coba tidak melihat Om June dan pacarnya.
Sesampainya di lantai bawah, June dan Aira yang menyadari keberadaan Hana dari suara langkahnya pun berhenti bermesraan.
"Kalian lanjutkan saja. Aku cuma mau ambil minum kok." Hana berkata tanpa menoleh sedikit pun.
June tersenyum, sementara Aira terlihat malu dan memukul lengan kekasihnya yang berotot.
***
Kayla menelepon Hana saat ia sedang membuka kulkas. Sambil memindahkan botol air mineral ke atas meja, Hana pun mengangkat panggilan telepon dari sahabatnya itu. "Halo, Kay. Kenapa?" tanya Hana.
"Lagi ngapain, Han? Lo yakin nggak mau ke luar?"
"Nggak usah lah, kejauhan juga kalau gue main ke rumah lo."
"Ini ada Siti, Devi, dan Ira lagi pada main, Han."
"Oh jadi pada kumpulan ya?"
"Ya. Pacarnya juga pada ikut ini. Lo mau disusul? Ntar gue sama Aan deh jemput ke situ."
"Ah sebenarnya sih gue pengen main, tapi gimana ya ... gue bingung nih. Gue nggak enakan udah mau main aja."
"Nggak enakan kenapa? Kalau mau main ya main aja, Han. Nggak ada yang ngelarang kok." June berkata sambil mengambil botol cola dari kulkas.
Hana melirik June lalu berkata pada Kayla. "Kay, nanti gue telepon lagi ya." Setelahnya Hana memutus panggilan telepon.
June melihat Hana dan berdiri di sisi meja. "Jadi mau main ke rumah teman?"
Hana diam beberapa saat.
"Kalau mau main tinggal main aja. Nggak perlu sungkan. Atau kamu mau aku antar ke rumah teman kamu?"
Hana menggeleng. Ia bisa merepotkan Om June yang sedang pacaran dengan pacarnya. "Nggak usah, Om. Aku di rumah aja."
June pun mengedikkan bahunya. "Ya udah kalau kamu mau gitu. Oh ya, aku lagi mesen martabak. Kamu jangan tidur dulu ya?" Pesan June sebelum meninggalkan Hana.
Hana meminum air putih kemudian kembali meninggalkan dapur. Saat ia melewati June dan Aira, ia pun berpesan. "Om, aku mau ke luar dulu. Mau cari angin."
"Oke, tapi jangan jauh-jauh ya!"
"Iya, Om," balas Hana sambil berlalu pergi.
***
"Kamu kayaknya perhatian banget sih sama Hana?"
"Masa sih, Sayang?" tanya June balik sambil memainkan poni rambut Aira.
"Serius, Sayang. Kamu tuh kayak Bapak bapak."
June pun tertawa. "Ya mau bagaimana lagi, Hana kan anak Marco. Marco nitipin Hana ke aku. Jadi aku harus perhatian sama dia."
"Kayaknya kamu udah pantas jadi ayah deh, Sayang."
June tersenyum mendengar perkataan Aira.
"Kamu kan udah 37 tahun, udah sangat dewasa. Kerjaan kamu juga udah mapan. Rumah sudah hampir selesai. Apa kamu nggak ada niatan buat menikah di waktu dekat ini?" tanya Aira. Ia sebenarnya khawatir dengan pertanyaannya. Namun, karena kedua orang tuanya sudah banyak menuntut agar hubungan Aira dan June ke jenjang yang lebih serius. Aira terpaksa bertanya. Lagi pula Aira juga sebentar lagi akan lulus kuliah Kedokteran.
"Kamu mau menikah?" tanya June sambil menatap Aira dengan serius.
Aira pun mengangguk. "Mana mungkin aku nggak mau. Bukannya aku nggak sabaran, Sayang, tapi aku mau hubungan kita jelas. Atau kalau kamu mau ... kita juga bisa bertunangan terlebih dahulu."
June diam cukup lama. Ia meminum colanya sampai habis lalu bangkit berdiri. "Aku ke toilet dulu ya."
Aira menatap June dan mendesah. Sebenarnya sebelum menerima June sebagai pacarnya, Aira sudah sering mendengar rumor tentang laki-laki itu.
June jelas laki-laki normal yang menyukai wanita. Bahkan June sangat perkasa di atas ranjang. Namun, karena masa lalunya yang dikecewakan June tidak ingin menikah. Ia takut dikecewakan lagi. Gagal menikah karena pasangan yang berselingkuh adalah hal buruk yang membayanginya.
Sudah bertahun tahun dan June masih betah untuk hidup selibat.
***
Bersambung>>>