3. Mulai melihat

1099 Kata
" Diandra. " gumam Angga pelan sebelum ia terduduk di atas lantai. Kenan yang menyaksikan bosnya sedang bersedih mendekati dan memapah Angga agar duduk di sofa. Dunia Angga seakan runtuh saat melihat adiknya ditutup kain putih. *** Seminggu setelah meninggalnya Diandra Angga kembali ke rumah sakit untuk menemui Yumna. Dari luar Angga melihat Yumna sedang duduk di ranjangnya menatap keluar jendela. Perlahan Angga membuka kenop pintu dan bejalan mendekati Yumna. Namun Yumna yang menyadari ada orang masuk malah menyembunyikan wajahnya dengan mengambil selimut kemudian menutupi seluruh kepalanya hanya menyisakan celah untuk kedua matanya. " Kamu sudah mulai sembuh? " Angga duduk di kursi sebelah ranjang. Yumna yang kebingungan malah menatap lekat wajah Angga dan tak sengaja netra mata keduanya bertemu. Dalam penglihatan Yumna Angga tengah menangis sesenggukan seorang diri dalam sebuah kamar yang gelap, tangisan yang mengisyaratkan kehilangan tergambar jelas dalam penglihatannya. Namun saat Yumna sadar nyatanya Angga sedang menatapnya balik dengan mata yang tajam, seolah ia tak suka pada dirinya. " Bagaimana rasanya bisa melihat kembali? Kamu senang? " tanyanya masih dengan sorot mata yang tajam. Yumna yang kebingungan harus menjawab apa hanya diam saja. Ia tak berani menjawab pertanyaan Angga. " Bersiaplah dua hari lagi aku akan bawa kamu operasi plastik di luar negeri. " ucap Angga sungguh- sungguh. " Tapi...." Yumna hendak protes tapi diurungkannya. Pikirnya percuma menolak Angga, toh seharusnya dia berterimakasih pada pria itu karena mau merawat bahkan membiayai semuanya selama dia di rumah sakit bahkan sekarang dia akan diajak operasi plastik demi memperbaiki wajahnya. " Kamu menolak tawaran ini? " tanya Angga menatap serius pada Yumna yang masih menutup wajahnya. " Aku mau operasi plastik. Aku janji akan melakukan apapun demi berterimakasih pada kamu. " Yumna menatap Angga penuh harap. " Oke dua hari lagi kita terbang, sekarang istirahatlah. Aku masih banyak pekerjaan. " ucap Angga sambil bangkit dan pergi meninggalkan Yumna yang kini kembali termenung. " Kenapa tadi aku melihat dia menangis padahal dia sedang tidak menangis, lalu kenapa aku suka sekali menatap matanya itu. Ini aneh sekali. Apakah dia punya kepribadian ganda? Atau aku yang sedang mengalami halusinasi saja? " Yumna bertanya pada diri sendiri terkait dengan apa yang dia lihat dalam penglihatannya namun tidak sesuai seperti pada kenyataan yang ia hadapi. " Mungkin ini hanya efek operasi mata saja dan akan segera menghilang. " ucapnya kembali. Pintu kamar rawat Yumna kembali di buka dari luar oleh perawat yang datang membawakan obat untuknya. " Mba Yumna sudah waktunya minum obat, beruntung ya mba punya pacar yang baik dan pengertian sekali. Mana ganteng banget lagi. " ucap sang suster sambil tersenyum. " Hah pacar? " mata Yumna membola karena terkejut. " Iya, itu yang tadi pacarnya kan? Mba beruntung sekali. " jawab suster. " Dia bukan pacar saya sus. " " Oh, bukan pacar ya. Pasti dia suaminya ya? " tambahnya lagi. Yumna tersenyum kaku, ia bingung harus merespon bagaimana lagi. Pada akhirnya ia hanya membiarkan si suster dengan segala pemikirannya saja. *** Angga berjalan santai menuju sebuah pintu, dengan yakin ia menekan deretan tombol untuk membuka sandi pintu. dengan perlahan ia membuka pintu, namun saat masuk ke dalam ruang tamu yang remang ia terkejut menyaksikan dua manusia yang tengah mengecap manisnya Indra pengecap mereka. Angga membalikkan badannya kemudian ia segera pergi dengan geram, kedua tangannya mengepal dengan sempurna. " Wanita jalang! Begini cara main dia di belakang gue. Tapi dengan siapa dia selingkuh? " Geram Angga menahan kesal. Saat sampai ke parkiran ia melihat Kenan menautkan alisnya bingung. " Kenapa kamu? " " Kenapa cepat sekali tuan? " " Saya capek, jadi sekarang kita pulang saja! " Bohongnya. Bagaimana mungkin dia berbicara jujur pada sekretarisnya kalau dia baru saja melihat pacarnya berselingkuh dengan pria lain, bisa hancur harga dirinya di depan karyawannya itu. Jadi Angga memilih berbohong saja demi menjaga citra baiknya. *** Yumna yang sudah mulai bosan hendak berjalan- jalan di taman untuk sekedar menghirup udara segar, namun di tengah jalan ia bertabrakan dengan seorang ibu yang sedang berjalan dengan tatapan kosong hingga ia jatuh tersungkur. Yumna yang terkejut langsung meminta maaf, ia merasa bersalah pada ibu itu. Namun bukannya merespon Yumna si ibu tadi malah menangis sesenggukan sambil duduk bersimpuh, tangisannya jelas terdengar sangat pilu. " Ibu, saya minta maaf. Saya tidak sengaja. " Ucap Yumna berjongkok. Si ibu tadi masih sesenggukan, sama sekali tak menghiraukan Yumna yang meminta maaf padanya. " Kenapa kamu pergi secepat itu nak?! Kenapa bukan ibu saja yang pergi, kenapa malah kamu yang lebih dulu pergi ninggalin ibu. " ucap sang ibu masih terduduk. Yumna yang berjongkok bisa mendengar dengan jelas ucapan si ibu. Ia menebak ibu itu sepertinya baru saja kehilangan anaknya. Yumna tanpa sadar menepuk-nepuk menepuk pelan punggung si ibu, hingga akhirnya ia tak mendengar lagi Isak tangis yang semula terdengar cukup keras. " Terimakasih nak, maaf ya ibu tadi tidak sengaja. Ibu sedang tidak fokus maafkan ibu. " ucap si ibu sambil memegang tangan Yumna dengan lembut. " Iya Bu. Saya yang seharusnya minta maaf karena kurang hati- hati. " Yumna kembali meminta maaf sambil tersenyum. Si ibu tadi menatap Yumna sedih, ia menyentuh wajah Yumna dengan pelan. " Kamu kenapa? Sakit apa? " Yumna yang terkejut memundurkan wajahnya sedikit sambil menggeleng. " Jangan Bu. Jangan dibuka, wajah saya menakutkan. " ucapnya jujur. " Kamu terbakar? " tanya ibu tadi dengan khawatir. Yumna hanya mengangguk membenarkan, ia menetap mata ibu itu, tiba- tiba saja dia melihat ibu tadi berjalan dengan sempoyongan kemudian ia terkapar tak sadarkan diri. Yumna tersadar saat sang ibu berpamitan. " Nak ibu pamit dulu ya. " sambil menepuk pelan punggung Yumna. Yumna menatap Punggung ibu tadi yang semakin menjauh dengan khawatir, ia kemudian mengikutinya dari belakang. Dan benar saja baru dua puluh langkah Yumna sudah melihat si ibu berjalan tak stabil, persis seperti dalam penglihatannya. Tak lama si ibu benar- benar hendak terjatuh , Yumna berlari langsung berlari dan menahan si ibu yang sudah tak sadarkan diri. " Tolong, suster tolong ada yang pingsan! " Teriak Yumna meminta bantuan. Tak butuh waktu lama semua orang yang melihat berusaha menolong si ibu, ia dibawa ke ruangan untuk mendapat pertolongan. Yumna masih mengekor di belakang para suster yang membawa ibu tadi hingga benar- benar masuk ke dalam ruangan. Yumna berbalik hendak kembali ke kamar tapi tanpa sengaja ia mendengar suara seseorang yang ia kenal, namun saat hendak memastikan ia keburu ditarik oleh suster yang merawatnya. " Mba Yumna kemana saja? Saya dari tadi cariin mba, ini sudah waktunya minum obat! " tanya sang suster khawatir. " Saya habis jalan- jalan sus. " jawab Yumna sambil menolehkan wajahnya ke belakang, namun ia tak melihat siapapun di depan kamar ibu tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN