Prolog
Langit sore kota kembang hari ini tak begitu bersahabat, hanya memperlihatkan kekecewaan pada senja yang enggan menampakkan diri di penghujung hari.
Kebisingan musik dari panggung kecil, tak mampu membuyarkan lamunan seorang gadis yang duduk seorang diri di sudut kafe.
Butuh waktu beberapa menit untuk membuyarkan lamunan Tari, nama asli dari Mbak Dilraba Dilmurat yang "duduk sendirian".
Gadis cantik bersurai sebahu, bernetra hitam itu tengah berada dalam suasana hati yang " tidak baik-baik saja ".
Flashback on
Satu jam yang lalu
Tari menarik nafas sebelum membuka pintu masuk sebuah kafe di kawasan Asia Afrika.
Tempat yang sudah di sepakati untuk bertemu dengan seseorang yang sudah menjadi pacarnya sejak setengah tahun terakhir ini.
Bukan tanpa alasan mereka membuat janji temu sore ini, dan sudah di pastikan pertemuan kali ini akan menjadi pertemuan mereka yang terakhir.
" Aku,. . . .emmmp. . Kita akhiri saja semuanya! " Ucap seorang lelaki di depannya.
Laki-laki yang menjadi lawan bicaranya itu tak kunjung mendapat jawaban.
" Karena ini memang yang terbaik", lanjutnya.
" Hubungan kita tidak mendapat restu dari orang tua ku, dan. . . " Laki-laki itu menatap Tari yang masih anteng di tempatnya,
"dan hari ini aku menyetujui perjodohan yang sudah di atur keluarga ku".
Tari mengedipkan mata beberapa kali, sembari menghembuskan nafas panjang. Namun tetap tak membuka suara.
Tidak heran, karena memang beberapa minggu terakhir ini sudah tak bertukar kabar.
" Alasan klise untuk menolak melanjutkan hubungan" Batin Tari.
" Maaf " Sambil berdiri laki-laki itu mengucapkan kata terakhir dan pergi melewatinya begitu saja.
Flashback off
Lelah, itulah satu kata yang mewakilinya saat ini. Dengan gontai ia berdiri dan berjalan keluar kafe.
Duk. . .
Sebelum membuka pintu, punggung Tari di tabrak seseorang dari belakang.
" Aww. . . "Peliknya tubuh Tari lambung ke depan hampir menabrak pohon pisang sintetis yang di tempatkan di pinggir pintu masuk caffe.
" Maaf, saya buru-buru " Ucap seorang lelaki yang sudah menabraknya tanpa menoleh, dia tetap berjalan dengan langkah lebarnya ke luar dari caffe.
Dengan bersungut-sungut Tari melihat laki-laki berperawakan jangkung itu masuk ke dalam sebuah mobil hitam metallic. Namun aroma tubuh yang sempat di tinggalkan laki-laki berpakaian modis itu membuat Tari teringat dengan seseorang dari masa lalunya.
Dalam mood yang sedang buruk seperti saat ini, Tari ingin sekali mengirim laki-laki itu ke Negara yang penuh dengan konflik.
Agar dia tahu, bagaimana bersopan santun " yang baik dan benar " kalau tidak mau di culik dan berakhir dengan penemuan mayat.
Ahh, sudahlah..
Hai. . Hai. . Assalamu'alaikum ?
Ini adalah cerita pertamaku, aku belum pernah menulis cerita sih sebelumnya.
Karena keseharian aku adalah ngehalu wkwkwk jadi aku bikin novel buat wadah kebucinan ?