Drreeettt. . . Drreeettt. . .
Handphone-ku bergetar dengan nama " Dira Anastasya " Berkelip-kelip di layar gawaiku. Ku usap tombol hijau di layar dan menempelkan benda pipih itu di telinga kanan, aku menyesap kopiku yang tinggal setengah.
" Kamu dimana? Hei. . . Ini proyek besar Arganta, masa kamu pake acara telat segala sih? " Ucapnya kesal dengan nada sedikit tinggi, hingga aku menjauhkan kembali ponsel dari gendang telinga.
Dia Ira, Manager Keuangan di Hotel tempat keluarga ku membangun usaha, sekaligus wanita yang menjadi tunangan ku selama 4 tahun terakhir ini.
Eump, sapa aku Arga.
Ya, Arganta Ragnala alias kembaran Mas Weir Sukollawat. Ha ha ha yeile ngarep tapi emang bener sih, kalo lihat Mas Weir pasti bakal inget sama Arga .
Bener, aku adalah anak pertama keluarga Wijaya. Tapi selalu ada saja yang bertanya kenapa nama belakang ku tidak mengikuti Marga Wijaya? Tidak seperti adik ku Evan Wijaya.
Nah, loh bingungkan??
Ha ha sama aku juga bingung.
Uhuhu sedikit cerita, dua puluh lima tahun yang lalu saat usia ku baru 6 tahun, aku di adopsi oleh keluarga Wijaya dari panti asuhan, kata mereka penghuni panti sih gak ada yang tau asal-usulku dari mana, yang mereka tahu bocah kecil yang tergeletak tak sasaran diri di area perkebunan dengan luka di setuju tubuh, memanggil dirinya Arga dan gak tahu apa-apa lagi selain itu. Alhamdulillah ada pemilik panti baru yang udah berlawanan d**a menerima aku menjadi anggota keluarganya. Dan sampai sekarang pun belum ada berita seseorang mencari keberadaan ku.
Bercerita tentang keluarga Wijaya, Keluarga Wijaya adalah keluarga yang paling hangat, keluarga kaya raya.
Gimana gak kaya raya coba, bidang usaha yang Keluarga Wijaya jalankan sudah seperti gurita yang bergerak hampir di semua sektor.
Salah satunya ya ini, sektor perhotelan ini. Yang sejak 5 tahun lalu sudah beralih kepemilikan atas nama ku. Jadi bisa di katakan untuk urusan harta, aku punya segalanya. Yaa, walaupun itu hasil dari warisan tapi tetap hasil kerja keras ku juga selama ini. Soalnya Papi Wijaya juga enggak bakal gitu aja ngasih hak kepemilikan kepada ku tanpa melihat usaha ku dalam menjalankan bisnis keluarga. Ya mungkin aku bisa menempati kursi kepemimpinan ini hasil jerih payahku yang kebetulan di apresiasi oleh orang tua ku.
Adapun Ira, dia adalah keponakan jauh dari pihak Ibu. Jadi tak heran kalo kami bisa bertunangan.
Ya, semacam alasan yang sudah sangat kuno lah " Pernikahan yang di atur oleh keluarga ".
Pekerjaan Ira sendiri di perusahaan, setiap hari mencatat dan bertanggung jawab pada semua transaksi keuangan. Mulai dari pendapatan, pengeluaran pajak, gaji karyawan ahh. . . . pokoknya segala sesuatu yang berurusan dengan uang Ira lah tempatnya.
Ira itu cantik, pinter, ulet, teliti. Calon mantu idaman lah kalau kata Ibu.
Cuman ada satu hal yang paling aku gak suka. Ira itu manja. Bahkan lebih dari sekedar manja. Pokoknya parah banget, segala sesuatu aku harus ikut sama kemauan dia.
"Ga. . . Arga. . .! " Aku kembali dari lamunaku oleh teguran Ira di ujung telpon.
" Bentar, lagi sama orang dari Bumi Putra ".
Bohong! Padahal aku lagi sendiri di sebuah kafe di kawasan Asia Afrika.
" Oke " Tut. . . . Panggilan di akhiri secara sepihank oleh Ira tanpa menunggu jawaban dari ku. Kebiasaan Ira mematikan telpon tidak pernah basa basi kalau lagi marah.
Dengan tergesa aku memasukkan rokok yang sudah tinggal setengah serta pematik ke dalam saku celana, berdiri dari dudukku dan meminum kopiku yang hanya tinggal sedikit.
Setengah berlari aku keluar kafe sambil membuka gawai ku, terlihat pukul 17.20.
Ternyata sudah lewat 1 jam lebih dari janji temu.
Duuuukkk..
Karena kecerobohan ku berlari sambil melihat ponsel, aku menabrak punggung seorang perempuan di depan pintu keluar kafe.
Dan tanpa menoleh aku hanya berucap maaf karena sedang terburu-buru.
"Biarlah, toh tidak akan bertemu lagi " Pikir ku.
Masuk ke dalam Honda CR-V yang ku parkir tepat di halaman depan kafe, buru-buru ku lajukan kuda besiku. Karena setidaknya butuh sekitar tiga puluh menit untuk sampai ke tempat pertemuan.
Gawat kalau sampai Ira ngamuk gara-gara pertemuan di batalkan.
Hohoho dudududu gimana gimana gimana?
Biasa aja yaa *tutup muka*
Maafin ya, baru pertama nih *nyengir kuda*
Mudah-mudahan feelnya dapet yaa.
Ehh, btw itu yang jadi cast nya Babang Arga itu tuhh Om kesayangan aku Om Weir Sukollawat.
Pokoknya happy reading yaa manteman semua.
Sun dari jauuuuh