Gantari Willis

1072 Kata
Gantari Wilis, seorang karyawan sebuah Bank Swasta di Kota Kembang Bandung. Terlahir di keluarga kaya namun broken home. Ayahnya pergi dengan seorang perempuan meninggalkan Tari, Ibu dan kedua adiknya saat Tari masih duduk di bangku SMA.  Sura Jalu, Ayah Tari adalah orang nomor satu di daerah tempat tinggalnya. Karena memiliki harta dan kekuasaan, Ayahnya di segani dan di hormati semua orang. Tak heran banyak wanita yang rela menjadi madu Ibunya, dan ada pula sebagian orang tua yang ingin anak gadisnya di persunting Ayahnya untuk di jadikan istri sirih. ketika itu Ayahnya menikahi seorang gadis yang jauh lebih muda darinya, wanita yang dinikahi Ayahnya adalah juru tulus di kantor Desa tempat Ayahnya bekerja. Kota Hujan Bogor adalah kampung halaman yang sudah beberapa tahun di tinggalkannya, karena Ayah dan istri barunya tetap menetap di kota itu dengan mengelola perkebunan peninggalan Kakek Tari dari pihak Ibu. Tari tak pernah mengira, orang pertama yang akan mematahkan hati nya adalah cinta pertama seorang anak perempuan yaitu Ayahnya. Yang Tari ingat, malam itu terjadi pertengkaran di dalam kamar orang tua nya. Dengan segera ia memeluk Dita adik bungsunya yang masih berusia 8 tahun, yang saat itu sedang menonton bersama Tata, kakaknya. Saat itu Tari tidak tahu apa yang terjadi. Yang ia dengar Ibunya menangis, dan tidak lama kemudian Ayahnya keluar dari kamar dengan membawa sebuah koper. Sebelum pergi, Ayahnya memeluk Tari dan kedua adiknya. Sambil meminta maaf dan memintanya menjaga kedua adiknya, sebelum akhirnya berlalu dan benar-benar pergi keluar meninggalkan rumah. Tari berlari membuka pintu kamar, dan menemukan Ibunya terduduk di lantai sambil menangis. Tari pun ikut duduk di lantai dan memeluk Ibunya.  Saat itu ia kelas 2 SMA, setidaknya ia sudah mengerti situasi yang di alami Ibunya. Dan Tari yakin pertengkaran kali ini akan membawa kabar buruk untuk pernikahan kedua orang tuanya. Akhirnya ia tahu bahwa Ayahnya berselingkuh dengan seorang perempuan, dan rela meninggalkan keluarga demi wanita yang di kencaninya selama beberapa bulan terakhir. Sejak saat itu dia tidak pernah mengharapkan seseorang akan setia kepadanya, dan selalu menganggap sebuah hubungan hanya omong kosong belaka. Tidak ada cinta, tidak ada keseriusan, tidak ada perasaan. Karena menurutnya semua laki-laki akan sama seperti Ayahnya. Seperti cerita dia minggu lalu, cerita kandasnya kisah asmara Tari dengan seseorang yang hanya bertahan enam bulan saja. Ini bukan kali pertama seorang Gantari Wilis mengalami putus cinta. Tiap kali jalinan asmara itu terjalin, selalu saja kaum Adam yang meninggalkan nya. Namun Tari tidak pernah merasakan sakit di tinggal kekasih. Apa karena keyakinannya terhadap laki-laki itu sama seperti Ayahnya? Jadi di setiap jalinan asmara itu terjalin, tidak pernah ada cinta dan perasaan. Entahlah, yang pasti Tio mantan pacar Tari yang meninggalkannya di kafe dua minggu lalu hanya mencari alasan saja untuk bisa putus dengan Tari. Padahal kenyataan nya tidak ada perjodohan yang di atur oleh keluarganya. Lebih tepatnya Tio punya gebetan baru hasil dari perselingkuhannya bukan dari pengaturan orang tuanya. "Euumpppp. . . . " Tari merenggangkan kedua tangan ke samping. Tangan kanannya perlahan mengusap tengkuk, menggoyangkan kepala yang hari ini terasa berat. Matanya masih terpejam merasakan otot-ototnya yang kaku karena seharian duduk di depan layar komputer. Tangannya terulur mengusap bingkai photo di sebelah komputernya, potretnya bersama Ibu dan kedua adiknya. Tari ingat betul photo itu di ambil ketika keluarga mereka akan meninggalkan Kota Hujan. Karena bukan apa-apa istri muda Ayahnya selalu mencari gara-gara dengannya, dengan bekal rengekan manja Ayahnya selalu mengalah pada si rubah itu dan menelantarkan anak-anaknya. Terakhir yang membuat Ibunya mengambil keputusan meninggalkan Kota kecil sejuta kenangan itu karena Adik nya Tata terkena penyakit Lekimia yang saat itu masih langka dan tak banyak orang tahu, Ibunya meninggalkan harga dirinya untuk meminta bantuan Ayahnya untuk berobat, namun apa yang di katakan Ayahnya? Semua arus keuangan harus melalui persetujuan istri mudanya. Padahal semua kekayaan yang di miliki Ayahnya adalah warisan dari Orang Tua Ibu Tari. Dari kasus ini Ibunya memang salah, karena terlalu percaya sama suami jadi semua warisan di alihkan menjadi atas nama Ayahnya. Akhirnya mereka harus meninggalkan Kota itu demi menghindari perselisihan dengan istri muda Ayahnya. Lamunan Tari terinterupsi oleh ketukan seseorang di depan pintu " Tari belum pulang? " Tanya Evan di depan pintu ruangan, dia adalah Manager HRD atasan Tari. " Tumben Mas Evan belum pulang ". Batin Tari " Ah, iya Mas bentar lagi. Baru print RAB acara minggu depan ". Jawabnya dengan tangan menunjuk tumpukan berkas di atas mejanya Evan berjalan ke arah mejanya,  "Jobdesknya udah sampe mana?" Tanya Evan sambil membolak-balik kertas di depannya. "Satu lagi sih Mas, nunggu soal yang dari pusat". Jawab Tari sambil mematikan komputer " Berarti 90% lah ya persiapan udah oke". Tebak Bapak Manager "Deadline kita mepet, jadi hari senin persiapan harus udah finish. Masalah tempat gimana?" Tanyanya Tari berdiri dari duduknya, "tempat buat acara hari-H udah beres. Soalnya kan emang kita tiap Jobfair yang di adain sama kita selalu pake Sabuga. Jadi waktu kemaren Mbak Santi ketemu sama pihak pengelolanya langsung deal". Jawab Tari "Kalau yang buat Medical checkup Mbak Santi udah deal juga sama Parahita". Lanjut Tari Bapak Manager manggut-manggut tanda mengerti. " Oke, hotel tempat training?" tanya Evan Tari meringis sebelum menjawab "Maafin Mas, hotel belum deal". Jawab Tari sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan wajah. " Soalnya kita kan ganti tempat training, jadinya di Bandung bukan di Gumati Bogor lagi". Tari beralasan "Tapi Mas Eko udah ketemu sama pihak pengelola hotel. Kemaren baru ngasih schedule sama nego harga. Jadi untuk pertemuan selanjutnya bahas fasilitas sama tanda tangan kontrak". Lanjut Tari yang terkesan buru-buru, takut Bapak Manager ini tahu kalau hotel harusnya bagian dari kerjaan dia. Cuman karena ada insiden tak berdarah di kafe waktu itu, jadi Tari meminta Mas Eko gantiin dia ke pertemuan. Mas Evan menghela nafas, namun tak berkomentar apa-apa. " Oke Tari, hari senin beres ya!". Pintanya, dan berlalu meninggalkan kubikelku kembali keruangannya. Aku menyandarkan kepalaku di sandaran kursi, melirik jam di mejaku pukul 18.15. Padahal ini weekand, harusnya aku udah di rumah melakukan ritual. Ha ha ha iya ritual perempuan, maskeran, luluran, selonjoran nonton drama. Ahhh.  . . .pokoknya menikmati hiduplah. Tapi karena di percaya menjadi penanggung jawab acara Jobfair perusahaan, akhirnya aku masih terdampar di ruangan ini. "It's oke Tari, cayooooooo". Hai Hai Hai. . . . Masih part part awal nih, Masih pengenalan karakter. Huhuhu padahal aku masih bingung, ini cerita Arga sama Tari mau di bawa kemana Tapi gapapa dech selagi ada si Om "my first love Weir Sukollawat" Aku bakal tetep ngehalu Selamat membaca manteman, semoga sehat selalu.. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN