[ Gantari ]
"Duh Non, lingkungan hitam mata udah kek bayangan masa lalu." Mbak Santi melihatku di pantulan cermin toilet.
Btw, Mbak Santi ini temen satu divisi aku. Orang pertama yang aku kenal ketika masuk kerja di sini three years ago. Orangnya cantik, baik asyiiiik lagi. Pokoknya ngeklop banget sama karakter aku.
"Hooh Mbak, beberapa malem susah tidur. Inget terus sama mantan sih." Mbak Santi ketawa denger jawabanku.
"Ehh, tapi bener deh Mbak gegara acara hari ini kualitas bobo aku jadi gak bagus." Jelasku sambil terus melihat dengan teliti setiap inci wajahku di pantulan cermin toilet.
Mbak Santi melirik ku, "oh, ternyata situ punya mantan Jeng?" Ledeknya. Kulihat Tangannya merogo saku blazer berwarna abu yang dia kenakan hari ini mengambil cushion dengan merek sama seperti punya ku, menepuk-nepuk lembut spons cushion itu ke wajahnya.
Dengan ekspresi so' cantik aku melirik Mbak Santi, "lah. . . Situ gak tau Ne, Koko LinYi aja nangis kejer ekeu putusin. Terus yaa Koko YiBo ekeu tolak." Kataku dengan kehkehan ringan. Mbak Santi mendelik ke arah ku namun tetap melanjutkan aktivitas nya membubuhkan blushon ke pipinya.
Disampingku Mbak Santi geleng-geleng kepala. "Hello... Kendi lumutan!! Sekelas Koko YiBo aja di tolak, terus apa kabar sama Aa tukang sayur depan komplek emak gue?" Tanya Mbak Santi yang dibalas cengiran olehku.
"Udah ahh cari sarapan yuk." Ajak Mbak Santi. Sekali lagi dia memutar badannya merapi kan baju yang di pakainya, tangannya menyisir-nyisir sedikit rambut di keningnya.
"Ayo, tunggu bentar!" Jawabku seraya mengaplikasikan lipcream ke bibir mungilku. Biar apa coba harus pake gincu? Yaa. . . Biar tebar pesonanya sukses dong *ketawa jahat*.
"Ehh, bibir kamu jangan merah menor yaa. Entar di sangka udah makan orok lagi di toilet." Mbak Santi tertawa keras setelah mengucapkan kata itu, aku mendelik ke arahnya. Namun tetap mengekori berjalan di belakangnya keluar dari toilet.
Setelah melewati beberapa ruangan, akhirnya kami tiba di halaman depan gedung. Aku melihat sudah banyak orang di sekitaran gedung. Mereka yang sedang berjualan mencari nafkah di pinggir gedung dengan mendirikan tenda-tenda kecil, dan mereka yang sedang harap-harap cemas menanti pembukaan Jobfair yang di adakan oleh Artha Tama.
Ya, sekarang kita berada di Gedung Sabuga. Gedung yang berdiri sudah lebih dari 20 tahun dengan luas kira-kira lebih dari 20.000 meter persegi ini berlokasi di Jl. Tamansari Bandung. Kenapa Artha Tama memilih Sabuga? Yaa, karena tempatnya yang luas. Di sini bisa menampung beberapa ribu orang jadi sangat cocok untuk acara-acara seperti ini.
Dan akhirnya tiba juga dengan hari ini, acara akbar yang rutin dilakukan perusahaan 5 tahun sekali.
JobFair
We Are Hiring!
"Menggapai Mimpi di Perusahaan Impianmu"
Itulah kata yang tercetak di banner depan Auditorium.
Jobfair kali ini tidak hanya membantu para pencari kerja untuk mendapatkan pekerjaan, namun menjadi cara efektif bagi perusahaan untuk bertemu kandidat yang sesuai dengan kebutuhan.
Biasanya karena kurangnya talenta yang berkualitas dengan kemampuan yang mumpuni membuat proses rekrutmen kian sulit dan memakan banyak waktu.
Perusahaan juga selalu kesulitan dalam menentukan talenta yang berkualitas untuk menghadapi Era Revolusi Industri 4.0.
Dulu aku juga pernah beberapa kali ikut acara jobfair. Sebagai pengangguran pemburu loker, open rekrutmen seperti ini selalu menjadi harapan besar mendapatkan pekerjaan yang layak.
"Semoga acara hari ini sukses." Batin Tari.
[ Arganta ]
"Den, bade kopi?" Tawar Bi Inah disela-sela kesibukanku memberi makan ikan di kolam belakang rumah orang tuaku pagi ini.
"Moal Bi, Sakedap deui angkat." Jawabku pada Bi Inah, asisten rumahtangga di rumah orang tuaku.
Bi Inah sudah bekerja di sini sebelum aku masuk ke rumah keluarga Wijaya.
Dan di sinilah aku sekarang, di belakang kemudi CR-V hitamku menuju hotel. Berangkat dari rumah orang tuaku di kawasan Dago, perjalanan biasanya hanya memakan waktu sekitar 20 menit.
Mungkin karena hari ini hari minggu, lalu lintas jalur alternatif Dago menuju Lembang padat merayap. Sudah lebih dari 30 menit masih setengah jalan.
Suara LuHo, Soldier dering tanda panggilan masuk dari smartphone yang kusimpan di dashboard memecah keheningan. Tanganku menggapai benda pipih itu, dan melihat siapa yang memanggilku.
Gantari ArthaTama
Panggilan masuk WhatsApp
Nama yang tertera di layar smartphone-ku. aku menghubungkan ponsel pintarku ke Bluetooth mobilku.
"Hallo... Selamat Siang Pak." Sapanya di ujung telpon, tak lama setelah ku terima panggilan itu.
Teringat 5 hari yang lalu, pertemuan ku dengan gadis itu.
Flashback on
New Shapire Hotel
"Ga.." Kulihat ira masuk kedalam ruanganku, Ira duduk di depan mejaku.
"Jam berapa meeting sama ArthaTama?" Tanyanya.
Ku lihat jam tangan Fossil-ku "harusnya satu jam lagi." Jawabku. Kulihat hari ini Ira memakai dress berwarna grey lengan pendek, tanpa blazer dan tanpa nametag.
"Aku gak ikut ya, ada urusan sama ibu. Kayaknya gak balik hotel lagi." Terangnya.
"Hmm... Mau aku antar?" Basa-basiku yang di tolak oleh ira.
"Kamu kerja aja yang rajin, biar bisa beliin aku tas baru." Ha ha ha
"Udah ahh, aku berangkat ya Ga." Jawab ira sebelum berlalu sambil melambaikan tangan kearahku.
Tok tok tok
Diana sekretaris ku berdiri di depan pintu, "maaf Pak, perwakilan ArthaTama sedang menunggu di coffee shop." Lapor sekretarisku.
"Baik, saya segera kesana."
Jawabku sambil berdiri dan keluar ruangan.
Sampai di Coffee shop, aku lihat Pak Eko bersama seorang perempuan. Entah apa yang mereka diskusikan sehingga tidak menyadari kedatanganku.
"Sudah menunggu lama Pak?" Tanyaku basa-basi.
Pak Eko berdiri dari duduknya, "ahh engak Pak, santai saja. Lagi pula kita juga baru sampai." Jawabnya sambil menyalami tanganku.
"Ohh, iya Pak. Perkenalkan ini Mbak Tari penanggungjawab acara." Kata Pak Eko memperkenalkan seseorang yang datang bersamanya.
Kulihat wanita itu, netraku langsung bertubrukan dengan netra miliknya. Aku denger suara terkesiap kaget dari wanita di depanku.
Dengan raut wajah yang sulit di artikan, wanita itu memperkenalkan diri.
"Gantari, anda bisa memanggil saya Tari." Ucapnya seraya tersenyum dan mengulurkan tangan padaku.
Cantik. . . Itulah gambaran wanita yang bernama Tari ini.
"Arga" Ucapku menerima uluran tangannya.
"Pak Arga, kedepannya bapak akan berhubungan langsung dengan Mbak Tari selaku penanggungjawab acara." Suara Pak Eko memecah konsentrasiku menikmati wajah cantik di depanku.
Dengan berat hati kulepaskan tangannya dari genggaman tanganku.
Tak terasa, satu jam lebih membahas fasilitas dan layanan training karyawan baru ArthaTama, dan mencapai kesepakatan tanpa merugikan pihak manapun.
"Terima kasih Pak, semoga acara ini sukses tanpa hambatan apapun." Ujar Pak Eko.
"Hotel kami akan memberikan fasilitas dan layanan yang terbaik." Ungkapku.
Kulirik Tari yang ternyata sedang melihatku, "ahh, iya... Ini kartu nama saya." Lanjuku sambil menyimpan kartu nama di atas meja.
Tari mengambil kartu namaku, dia pun memberikan kartu namanya.
Flashback off
"Apa benar saya bicara dengan Pak Arga?" Suara yang ku kenal di ujung telpon kembali menyapa pendengarannku.
"Gantari..." Ucapku tanpa menjawab pertanyaannya.
"Saya masih di jalan, satu jam lagi saya telpon balik." Lanjutku.
"Baik Pak, Terima kasih." Ucap Tari dan panggilanpun terputus.
Hanya dengan panggilan ini saja hatiku udah capek, dan lebih parahnya paras cantiknya Gantari muter-muter di pikiran ku.
To be continue..
*Den, mau kopi?
**enggak Bi, sebentar lagi berangkat