( Gantari )
Hari semakin siang, mataharipun sudah ada di atas kepalaku.
Aku masih disini, di ruang panitia tempat jobfair berlangsung. Menunggu hasil dari penguji psikotes dan wawancara para pelamar.
Sekarang adalah jam rawan buat lambung-ku. Keributan di perut pun sudah mulai berisik dari beberapa menit yang lalu.
Aku berinisiatif mengambil nasi kotak dengan tulisan "Lattuce eat" di atasnya yang sudah tersedia di atas meja. Makanan yang sudah kami sediakan untuk panitia, para penguji dan para peserta.
"Tari.." pintu ruangan terbuka, ternyata Mas Evan yang datang.
"Kita ke New Shapire Hotel, harus memeriksa kembali secara menyeluruh ruang konferensi dan ketring. Ini pertama kalinya kita ganti hotel. Sekalian kita lunch di sana." ajaknya
Aku menghela nafas, "Dunia ini begitu besar, kenapa harus bertemu lagi dan lagi dengan nya." Batinku
Mas Evan melirik nasi kotak Lattuce eat-ku yang hanya tinggal sedikit lagi.
"Kamu udah makan?" Tanyanya, sambil menunjuk ke arah meja.
"Udah Mas, biasa perut kampung jam segini udah gak kuat." Jawabku sambil terkekeh.
Mas Evan hanya tertawa mendengar jawaban ku. "Coba kamu telpon dulu deh, buat janji sama pihak hotel." Pintanya
"Oke Mas. ." Jawabku sambil membuka gawai dan mencari-cari nama kembarannya Mas Weir di kontak Aplikasi w******p-ku.
Dan ketemu, jariku mengusap nama Pak Arganta New Shapire dilayar ponselku.
Pak Arganta New Shapire
Berdering
Tut. . .
Tut. . .
Tanda panggilan tersambung, aku menunggu beberapa saat sebelum akhirnya terhubung.
"Hallo. . Selamat Siang Pak!" Sapaku pertama kali.
Lama tak mendapat jawaban di ujung telpon, ku lihat layar ponsel, takut terputus atau signal hilang. Terlihat 01:23 waktu panggilan di layarku.
Kulirik Mas Evan yang sedang menatapku, kugerakkan bahu dan tangan ku serta ku gelengkan kepala sebagai isyarat tidak ada jawaban.
"Apa benar saya bicara dengan Pak Arga?" Tanyaku sekali lagi.
"Gantari. . . Saya masih di jalan, 1 jam lagi saya telpon." Jawaban dari Arga dengan suara beratnya di ujung telpon
Dan tidak tahu kenapa hatiku menghangat mendengarnya menyebut namaku. Sambil tersenyum aku memegang pipi kananku yang terasa panas.
"Baik Pak, terima kasih. " Jawabku, lalu mematikan sambungan telpon.
"Gimana?" Tanya Mas Evan
"Ahh iya, lagi di jalan. Katanya nanti balik nelpon. " Jawabku sambil menunduk menyembunyikan rona pipiku.
"Duhh, hati jangan lembek gini dong!" Batin ku
"Saya makan di sini saja lah." Ucap Mas Evan sambil mengambil nasi kotak dari tempat yang sama denganku tadi.
Aku melihat Mas Evan makan sambil memainkan ponselnya dengan tersenyum dan geleng-geleng kepala, lalu berguman tidak jelas.
"Mungkin lagi chatting sama istrinya." Pikirku
( Arganta )
Ting. . .
Ting. . .
Bunyi tanda pesan masuk dari ponselku.
Papa kia
Sombong loe Bang.
Tadinya mo lunch bareng.
Saya
Lagi di jalan, Van.
Gak aman nyetir sambil nelpon.
Papa kia
Alah, ngomong aja kalo staf gue yang nelpon jadinya loe gak fokus Bang
Aku tersenyum dan keluar dari ruang chat di aplikasi w******p-ku.
Kata Evan, si Tari-tari ini belum tau kalo kita kakak ade.
Setibanya di parkiran, aku memarkirkan CR-V ku di parkiran khusus karyawan.
Fikiran ku menerawang. .
Ya. . Nama itu Gantari Wilis selama satu minggu terakhir ini selalu memenuhi fikiran dan imajinasiku.
Wajah cantik itu. .
Tangan lembut itu. .
Senyum manis itu. .
Dreeettt . . . Dreeettt
Getaran dari smartphone yang ku pegang membuyarkan lamunanku.
Kulihat nama Ira berkedip-kedip dilayar Smartphone-ku.
Ya, Ira tunanganku. Karena Tari aku lupa kalau aku punya tunangan.
Aku membiarkan panggilan Ira sampai berhenti dengan sendirinya.
Segera ku buka log panggilan untuk menelpon Tari.
"Hallo, Pak Arga." Sapa Tari di ujung telpon setelah panggilan ku di terima.
"Aku sudah di hotel." Jelas ku
"Tadi gimana?" Tanyaku sambil menyandarkan kepala ke jok mobil.
"Sebentar Pak.." "Mas Evan jadinya mau jam berapa?" Kudengar Tari bertanya pada Evan.
Dan jiwa jealouse ku meronta-ronta mendengar Tari memanggil Evan dengan sebutan Mas.
"Sedekat itukah mereka" Batinku
"Pak Arga, tadinya kita mau buat janji sama Bapak cuman kalau waktunya mepet ke sore kaya gini takutnya Pak Arga sudah punya acara." Jelasnya setelah beberapa waktu tak ada suara.
"Jam 5 saya free, kalau mau saya tunggu." Cepat-cepat aku jawab, takutnya si Tari ini berubah fikiran.
"Baik Pak, sampai bertemu nanti."
Tut. . Suara merdu itu hilang seiring dengan berakhirnya panggilan.
--
"Papa Aga, Kia mau kentang lagi." Pinta gadis kecil dipangkuanku
Dan di sinilah aku sekarang, di resto hotelku bersama dua wanita cantik. Lebih tepatnya menemani mereka.
Jadi, tadi waktu aku ke resto Winda istrinya Evan sudah ada di resto. Katanya Kia kangen sama Papa Arga . Hahaha halah palingan cuman alesan adikku aja itu mah, entah apa lagi yang suami istri itu rencanakan kali ini.
"Selamat sore Bapak." Suara adik tengilku menyapa pendengaran. Aku mendongak, dia bersama wanita yang selama satu minggu ini membuatku penasaran.
Iya, Evan membawa Gantari.
Ku lihat Tari dari ujung kepala sampai ujung kaki, dia masih memakai seragam formalnya. Atasan blazer berwarna merah muda, bawahan rok di atas lutut dengan warna senada. Rambut terurai dan hanya memakai makeup tipis. Segitu aja udah bikin aku gak bisa berpaling ☺
Kepalanya sedikit menunduk, terlihat ada sedikit kekecewaan di wajahnya. Entah kecewa karena apa.
"Silahkan duduk." Ucapku mempersilahkan mereka.
"Ada reuni keluarga, apa mau pembagian warisan?" Tanyaku asal
Evan tertawa, lalu menggenggam tangan Winda yang ada di atas meja.
"Sayang. . .sikapmu jangan terlalu dingin dong, Aku mudah pilek loh.." dengan wajah pura-pura memelas Evan melancarkan gombalan nya.
"Aku nunggu lama loh, kasian juga Bang Arga kerjaannya jadi terganggu sama Kia." Kata Winda
"Kianya juga gak mau jauh-jauh sama Papa Arga." Lanjutnya
"Biarin, Papa Arga juga kan Papanya Kia. Kalau Kia udah gak mau deket-deket sama kamu, ya udah kita bikin aja Kia yang baru." Aku geleng-geleng kepala dengan kelakuan adik ajaibku ini.
Ku lirik Tari dengan sudut mataku, dia tersenyum manis sekali melihat tingkah Evan. Entah kemana raut wajah kecewa yang tadi dia tampilkan.
"Tari sudah kenalkan sama Pak Arga?" Tanya Evan yang sudah eling lagi kalau ada orang lain yang dia bawa ke tengah pertemuan keluarga kita.
"Eummp. . .udah Mas, aku udah kenal sama Pak Arga." Jawab Tari dengan menampakkan wajah bingung.
"Ahh iya, Tari. Perkenalkan ini Winda Istri saya, itu Kia anak saya, dan ini Bang Arga Kakak saya satu-satunya. " kata Evan
"Tapi kamu harus mengakui kalau saya lebih ganteng di banding Abang saya. " lanjutnya.
Kami semua tertawa setelah mendengar kepedeannya Evan.
Senyumku tersungging pada Tari, ku tatap Tari semakin dalam. Sambil tersenyum kedua manik indah itu berkedip-kedip, dia salah tingkah.
Tuh kan! Ya Tuhan, senyumnya Tari itu manis banget. Kalau ada kopi di sini udah gak usah pake gula lagi, pake senyumnya Tari aja udah manis banget.
Sumpah baru kali ini aku jadi cowok gombal-gombalan
Jika ditanya apa keinginan ku saat ini?
Jawabanku sangat sederhana, hanya ingin bersamanya.. Gantari Wilis.
To be continue..