Gantari Willis
Glowing. .
Shining. .
Shimmiring. .
Splendid. .
Itulah kata yang terlintas difikiranku, saat netraku melihat sosok anggun nan modis duduk satu meja bersama Arga di resto New Shapire sore ini.
Ya, aku di paksa Bos gantengnya Artha Tama ikut ke New Shapire, katanya sih mau cek ulang apalah aku juga sedikit enggak paham. Pokoknya aku di gusur ke sini di jam yang seharusnya aku pulang, menikmati ritual rendem kaki air hangat pake garam. Hanya sekedar buat menghilangkan rasa lelah serta penat setelah seharian sibuk oleng sana oleng sini oleh tumpukan kertas yang menggunung.
Tapi apa sekarang?
Setelah melewati drama kemacetan di jalan raya Dago Lembang yang wow sekali, dan di sini langsung disuguhi dengan pemandangan Arga bersama seorang wanita cantik, Malah menurutku sangat cantik. Sambil memangku anak kecil dengan segala tingkah dan celotehnya.
Dan apa katanya tadi?
Anak kecil imut itu memanggil Arga Papa?
What. . ?? Aku gak salah dengerkan?
Jadi maksudnya Arga sudah berkeluarga? Itu istrinya?
Aku akui, udah punya anak aja ini wanita masih Kece. Ho'oh, Money talks right!! Arganya aja yang punya hotel ini, orang kayah rayah gemah ripah loh jinawi. Keturunan ningrat darah biru. Apalah aku yang darahnya biru kagak merah gak jelas. Hadeeuuuuh, kasta aku sama Arga ya kayak langit dan bumi. Jauh banget!
Tapi mungkin kalau aku punya uang, aku juga bisa lebih cantik dari Mbak Dilraba Dirmurat, lohh.
Aku bukan takabur ya, banyak orang yang bilang aku mirip Mbak Dilraba, tapi versi leceknya. Versi rambut kusut kulit kusam, Ya gpp dong versi leceknya juga, entar kalo di cuci terus di setrika pake duit pasti kinclong lagi. Iya, kan? Pokoknya jangan sekali-kali remehin kekeuatan duit!
Kenapa seketika rasanya hatiku sakit. Seperti inikah rasanya patah hati yang sesungguhnya?
Seperti inikah rasanya patah hati sebelum berjuang?
Tapi tunggu dulu, kok aku sakit hati melihat kebersamaan mereka?
Lah, Arga bukan siapa-siapa buatku.
Pacar bukan, suami juga bukan.
Tuhan, ada apa dengan hatiku?
"Selamat sore Bapak Arga?" Lamunanku terinterupsi oleh sapaan hangat Mas Evan. Sementara Arga mendongak dan melihatku, netra hitam legam itu menatapku tajam dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku hanya bisa menunduk melihat ujung sepatu, menyembunyikan wajah. Bukan malu, lebih ke sakit hati.
Tapi sakit hati karena apa coba?? Ahh, entahlah. . .
Arga mempersilahkan kami duduk dan berbasa-basi. Tapi tunggu dulu, kenapa basa-basinya Arga buat aku bingung? Seperti Mas Evan sama Arga sudah saling kenal. Ini bukan bentuk basa-basi antara kolega.
Eh, eh, eh. . . Mas Evan megang tangan wanita cantik itu di barengi gombalan receh?
Kulirik Arga dengan ujung mataku karena penasaran, do'i anteng-anteng aja. Jadi, siapa wanita ini??
Kini sekarang aku yakin, wanita ini bukan istri Arga.
Yaa.. walaupun keyakinanku cuman beberapa persen, tapi bisa membuatku bernafas dengan normal kembali.
Akhirnya Mas Evan inget bumi alam juga, setelah sekian lama lupa kalau aku ada di sini.
Mas Evan memperkenalkan wanita cantik itu bernama Mbak Winda, istrinya. Anak kecil imut itu Kia anaknya Mas Evan. Dan yang aku gak percaya Arga adalah kakaknya. Kenapa Mas Evan gak ngomong dari kemarin-kemarin kalo si Mas Weir versi indonesia ini adalah sodaranya? Entahlah, ini menjadi kebingungan aku yang kedua kalinya masih diwaktu yang sama. .
Aku baru akan bertanya, aku mendadak menegang. Arga memegang tangan ku di balik meja, Karena memang aku duduk disamping kanannya. Aku melirik ke arahnya, tapi dia tetep sibuk sama kentang goreng didepannya.
"Mau pesen apa Ri?" Tanya Mas Evan menatapku.
"Aaahh..Apa aja Mas, boleh." Jawabku gugup. Aku mencoba menarik tanganku, namun genggaman Arga sangat kuat. Aku mulai gak nyaman dengan suasana yang membuatku gerah. Perlakuan Arga yang seperti ini akan membuat jantungku gak aman.
Ini maksud Arga apa? Kita hanya Kolega dengan intensitas pertemuan jarang terjadi, karena memang baru 1 kali bertemu dan pertemuan kali keduanya ini udah grepe-grepe tangan. ya walaupun aku seneng sih, yaelaaah, nyebut jeng nyebut.
Dan selama pertemuan ini berlangsung, tanganku ada dalam kendali Arga.
Uhh, Mas Evan sama Mbak Winda sadar gak ya...? Kan tengsin kalo ketahuan.
Aku tersenyum, senang. Mungkin inilah definisi broken heart yang terabaikan.
***
Arganta Ragnala
Sumpah demi apapun, selama pertemuan aku berani megang tangan dia. Si Evan udah lirik-lirik manja, tandanya dia tau kalau aku misuh-misuh sama anaknya.
Biarlah . . .toh aku juga ngerasa nyaman saat pegang tangan Tari.
Padahal aku udah punya tunangan, tunangan beneran bukan maen-maen. Tapi gak tau kenapa si Tari ini tiap hari selalu menuhin ruang di fikiranku. Tapi catat, hanya rasa penasaran. Gak lebih!
"Bang, balik duluan ya. Nitip anak Gue!" Suara Evan menyadarkan ku dari lamunan.
"Apa?" Tanyaku gak ngerti, karena memang enggak konsen sama arah pembicaraan.
"Yaelah Bang, tenang Nenek Lampir gak ada di sini kok. Loe mau grepe-grepe anak orang juga aman." Jawab Evan sambil tertawa. Dan ucapan Evan sukses membuatku melotot menatap Evan tajam.
"Udah ah, gue balik dulu. Nitip nih anak gue, awas jangan sampe lecet." Ancamnya
"Iya, nanti Tari gue anterin." Jawabku sambil melirik Tari
"Tari, sampai ketemu besok." Evan pun berlalu dengan senyum tengilnya. Memang si Evan ini paling ngerti sama perkara hati.
Tangan Tari masih berada dalam genggamanku, kenapa rasanya pas ya? Seandainya. . . Dan berpikir untuk maju, namun tanpa sengaja ku lihat cincin itu masih melingkar di jari manisku, aku mundur. Ini sesaat, hanya rasa penasaran saja.
Sebelum time to back the real life sebagai seorang yang udah punya tunangan, aku mau nikmatin dulu kenyamanan ini bareng Tari. Bahh, b******k banget aku jadi laki. *tutup muka*
Kalo kata si gombal tengil Evan kan "hal-hal terbaik dan terindah di dunia ini tidak dapat di lihat atau di dengar, tetapi harus di rasakan dengan hati" nah ini definisi Tari buat aku saat ini, segala yang tertanam dalam diri Tari mampu membuat hatiku bahagia.
"Kenapa?" Suara indah Tari mengusik kekhusuanku menikmati kenyamanan ini.
"Kenapa apanya?" Aku balik bertanya
"Kenapa Bapak terus lihat tangan saya?" Sambil menunjuk ke arah tangannya yang masih ku pegang.
Aku sadar, saking nyamannya megang tangan dia fikiranku jadi traveling kemana-mana.
Sebelum ku jawab, aku lihat ponselku terus berkedip yang sejak tadi aku abaikan.
"Saya antar pulang!" Ucapku kemudian. Ku lepaskan tangannya, berdiri dari dudukku lalu berjalan tanpa menjawab pertanyaan Tari. Iya, aku mengabaikanTari yang kebingungan dengan sikapku yang berubah-ubah, namun tetap mengekoriku juga di belakang.
***
Suara merdu HaiLai Amu menemaniku selama perjalanan dari Lembang menuju Asia Afrika. Tari yang kini di sampingku anteng menatap lurus kedepan dengan kedua tangan saling bertautan.
Tari punya magnet yang selalu membuat fikiranku masuk kepusaran segala tentang dia. Mata indahnya, senyum manisnya, lembut tangannya bahkan harum tubuhnya pun selalu senghantuiku setiap aku memejamkan mata.
Aku memberanikan diri memegang tangannya lagi, soalnya sayangkan tangan secantik ini di anggurin. Halahhh alesan!
"Anter kemana?" Tanyaku.
"Ke Asia Afrika, Pak." Jawabnya sambil menoleh ke arah ku.
"Loh, balik kantor?" Tanyaku bingung. Soalnya ini udah jam 8 malem, mau ngapain balik kantor. Anak perawan kan gak aman berkeliaran malem-malem gini.
"Enggak, emang saya tinggal di daerah situ." Jawabnya.
"Eummmp. . . Pak, waktu di New Shapire kok Bapak gak bilang kalo atasan saya sodara Bapak?" Lanjutnya bertanya dengan menampilkan wajah penasarannya.
"Evan itu punya kepribadian easy going, ya. . Sebagai orang santai dalam menjalani hidup, dia gak mau kalo pekerjaan di kait-kaitkan sama masalah pribadi." Jelasku, kulihat Tari manggut-manggut tanda dia mengerti.
"Jarang orang luar tau kalo Evan bagian dari keluarga Wijaya." Lanjutku "ehh, ini udah masuk Asia Afrika, sebelah mana?" Tanyaku melirik Tari.
"Grand view" Tari menyebutkan nama sebuah apartemen mewah di kawasan ini.
Tak berselang lama,akhirnya mobilku sampai di depan apartemen elite ini.
"Terima kasih Pak sudah mengantar saya." Ucap Tari sambil melepas seatbelt dengan tangan kiri. Karena tangan kanannya masih aku sita *ketawa jahad*
Ku geser posisi dudukku menghadap samping, dengan berani kukecup tangannya yang masih ada di genggamanku. Dia melotot, terkejut dengan kelakuan beraniku. Biarlah sudah terlanjur, padahal dalam hati aku tak kalah terkejut dari dia. Kenapa aku lakuin itu sama kolega coba? *tepok jidat*
"Maaf Pak, saya pulang dulu." Ucapnya, sambil menarik tangan dari dari genggamanku. Buru-buru keluar dari mobil dan sedikit berlari kedalam lobby apartement.
Aku hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala dengan kelakuanku sendiri.
Untuk beberapa saat aku masih di sini, di depan apartemen tempat Tari tinggal. Aku penasaran kenapa Si Tari bisa tinggal di kawasan elite ini, padahal notabenenya dia hanya seorang karyawan biasa.
Apa di berangkat dari keluarga kaya?
Atau punya pacar kaya?
Atau bahkan punya suami kaya?
Dengan pertanyaan di fikiranku ini, aku seperti tertampar oleh kenyataan, kalau aku gak tau apa-apa tentang dia.
***