Arganta
Perlahan ku pacu kuda besiku membelah jalanan Kota Metropolitannya Jawa Barat ini menuju kediaman Ira.
Seharian, Ira membombardir ponselku dengan pesan singkat dan puluhan panggilan memenuhi log panggilanku. Yang seharian ini juga aku abaikan.
Aku terlalu lelah dengan sikap dan segala keinginan Ira, yang menurutku selalu enggak masuk akal. Kali ini dia ingin aku membelikannya tas branded yang seharga dengan mobilku. Gilaaa!
Belum lagi persoalan notif transaksi kartu kreditku hari ini yang dia kuras di salon kecantikan dan juga boutique bergengsi, yang pasti sepotong baju enggak dapet dengan beberapa lembar uang ratusan. Uang yang dihabiskan Ira di tempat itu bisa buat beli dua sepeda motor baru, hanya untuk beberapa potong baju saja. Hadeeeeh, dikata si Arga ini cucu kesayangannya Kerajaan Arab apa? uang tinggal ambil dari bawah Kasur. Ehh, dari berangkas.
Memang sih enggak dipungkiri, penghasilan ku satu bulan bisa buat beli beberapa tas itu. Tapi, masa iya harus beli tas yang segitu mahalnya padahal kegunaannya enggak ada. Cuman dapet gengsi doang, yaelaaah!
Maksudku bukan gak boleh beli sih, tapi belilah barang yang memang dibutuhkan. Sisanya bisa buat keperluan yang lain, soalnya keperluan kitu juga bukan cuman satu. Ya kali entar ibu dari anak-anakku hanya mentingin gaya sama gengsi ketimbang perut lapar anak-anaknya. Entahlah, mungkin karena Ira lahir di keluarga kaya jadinya seperti itu.
Belum lagi aku selalu ingat kata-kata Bapak alias ayahku, "selalu sisihkan sebagian penghasilan mu buat saudara-saudara kita yang kurang beruntung". Jadinya tiap bulan aku rutin menyisihkan sedikit dari penghasilan ku buat anak-anak di Panti Asuhan, yang memang dulu dibangun oleh keluarga Wijaya dan tempat ku pertama kali bertemu dengan keluarga Wijaya.
Dan sekarang aku disini, didepan pintu Apartemen Ira. Menunggu Ira membuka pintu setelah aku membunyikan bel beberapa kali, kebiasaan Ira ketika ngambek salah satunya adalah mengganti kode kunci Apartemen yang sudah ku ketahui sebelumnya."
Bip. . .
Suara pintu terbuka.
Munculah Ira dengan muka betenya, dia kembali ke dalam tanpa menghiraukanku. Boro-boro cipika cipiki, sapaan basa-basipun tidak ada.
Malam ini Ira memakai linggerie warna hitam, kontras sekali dengan kulit putihnya. Rambut di cepol asal-asalan.
"Kenapa gak ngomong apa-apa?" Tanyaku sarkas setelah duduk didepannya. Karena memang dari pagi di pesan yang di kirim ke nomor ponselku dia banyak ngomong. Lah, sekarang malah diem-diem bae.
"Aku mau itu, Ga. Harganya juga cuman 400 jeti kan, temen-temenku sudah pada pake semua. Lagi pula kalau aku cantik, pake barang-barang bagus kamu juga kan Ga yang bangga.
Aku gak mau kamu malu, aku gak mau ketinggalan sama temen-temen aku." Jawabnya dengan tetap mempertahankan wajah cemberutnya.
Hening
"Aku mau beli itu tas juga kan buat kamu." Lanjutnya. ohh ini masih ada lanjutannya yaa? kirain udah beres. Tadi penjelasan yang udah kaya rumus panjang lebar kali tinggi volume itu ternyata belum beres. Hadeeeeh dasar wanita..
"Lah, kenapa jadi buat aku? Itu tas kan kamu yang bakal pake bukan aku! Toh banyak yang tetep cantik cuman pake barang-barang biasa." Jawabku gak ngerti sama jalan pikiran perempuan ini.
"Contohnya Tari" Batinku. Tari yang sederhana, enggak neko-neko, style nya simple tapi tetep cantik. Dan aku suka, ehh..
Ira menatapku, "Iya maksudnya Ga, biar semua orang tau kalau kamu tuh loyal sama pasangan." Jawab Ira menjelaskan.
"Gak usah pamer juga mereka bakalan tau kalau aku loyal sama kamu, Ra. Tanpa kamu harus beli tas semahal itu. Uang itu bisa buat tambahan beli mobil baru." Bantahku jengkel.
Aku bangkit dari dudukku dan berjalan ke arah pantry, berniat mengambil minum karena Ira enggak menyuguhkan apa-apa untukku.
"Sekarang aku gak punya uang Ra." Lanjutku "Pernikahan kita beberapa bulan lagi, aku harus nabung buat keperluan pernikahan kita. Biaya pernikahan di zaman sekarang mahal, aku gak mau Bapak dan Ibu kamu kecewa." Jelasku
Aku kembali ke ruang tamu dan duduk di depan Ira, lalu meletakan gelas berisi air putih di atas meja.
"Lagi pula minggu kemarin kamu minta uang, kamu habisin buat apa uang itu?" Tanyaku bukan maksud aku cerewet atau apalah, cuman mau tahu aja uang itu di pake buat apa. Soalnya nominal nya lumayan, dengan delapan digit angka masa iya habis pake beli ketoprak di pinggir jalan. Kan gak mungkin!
"Ya ampun Ga!! Kamu itung-itungan sama tunangan sendiri?" Tanya Ira dengan marah. "Ya udah kalau kamu gak mau beliin! Aku bisa ngomong sama Mama, minta beliin." Ira bangkit dari duduknya, tangannya dengan sengaja menyenggol gelas di atas meja dengan kasar. Lalu masuk kedalam kamar.
Prraakkkk. . . .
Gelas cantik itu meluncur dengan bebas menghantam kerasnya lantai hingga berserakan.
Aku memejamkan mata dan mengepalkan kedua telapak tanganku untuk meredam emosiku. Ira selalu seperti ini, tiap pertengkaran tidak pernah ada jalan penyelesaiannya. Kecuali aku meminta maaf dan membujuknya.
Kulihat puing-puing gelas yang berserakan di lantai, orang selalu mengatakan " terlalu banyak air dan cairan yang di tampung akan membuat air dalam gelas tumpah. Begitu juga dengan beban hidup yang terus digenggam."
Seperti sekarang aku lelah dengan semua tingkah laku Ira, Ira menjadi salah satu bebanku! Hati manusia juga mempunyai kapasitasnya masing-masing, sehingga kesabaran yang bisa di tampung dalam hatipun ada batasnya.
Dari awal aku tidak mencintai Ira, mungkin kalau rasa tanggung jawab iya.
Kenapa menerima peerjodohan ini?
Karena aku menghargai Orang Tua yang sudah membesarkannku dengan kasih sayang. Aku tidak mau mengecewakan mereka, dan aku fikir lama kelamaan mungkin Ira bisa merubah sifat buruknya. Namun ini sudah berjalan di tahun ke-4 pertunanganku dan Ira masih seperti ini.
Aku menyugar rambutku kebelakang, dan mengusap wajahku kasar. Akhirnya kuputuskan akan mandi dan tidur di Apartemen Ira.
Aku berjalan ke kamar tamu, membuka lemari lalu mengambil baju. Tak heran, Karena aku sering menginap di tempat Ira jadi banyak barangku yang tersimpan di tempat ini.
Tidak membutuhkan waktu lama untukku mandi, selesai mandi ku pakai kaos Polo ku lalu keluar dari kamar mandi.
Kulihat Ira sedang berbaring di ranjang dengan linggerie sedikit di naikan ke atas pangkal paha. "Drama apa lagi sekarang?" Batinku.
Aku naik ke atas ranjang, mematikan lampu nakas dan memejamkan mata. "Aku tidur duluan." Ucapku tanpa menunggu jawaban Ira.
Biasanya kalau seperti ini aku akan membujuknya, supaya dia gak ngadu-ngadu sama Ibu. Tapi untuk sekarang TIDAK!
Aku lebih memilih mendiamkannya.
Mungkin untuk saat ini, dunia mimpi lebih indah dari pada dunia nyata.
***
Gantari
Kulirik jam di atas nakas kamarku, pukul 22:03. Ya, saat ini aku sedang bergumul di bawah selimut dengan guling kesayangan. Hari ini banyak cerita yang tak terduga, banyak kejadian yang tak bisa kuhindari.
Ku ambil ponsel, ku usap layar benda pipih itu. Sepi..
Tak ada pesan atau panggilan, pesan grup yang biasanya ribut berisikan para perawan rempong juga sepi.
Bosan..
Nasib jomblo memang seperti ini. Ya, awalnya sih coba-coba ngerasain jomblo ehhh ternyata malah keterusan. Bangkee!
Ku sibakkan selimut dan turun dari ranjang King size ku, melangkah keluar kamar merasakan dinginnya lantai marmer Apartemen dengan kaki telanjangku. Berniat mengambil minum, lalu duduk-duduk cantik menikmati hembusan angin malam di balkon Apartemen.
Sampai dapur ada banyak minuman yang bisa ku nikmati, air putih yang selalu ada, kopi, teh, dan ada juga jus. Tapi pilihanku jatuh pada jus kemasan, karena memang ini pilihan yang paling praktis. Tinggal buka tutup botol kemudian tuangkan ke dalam gelas, beres.
Aku berjalan menuju baklon, malam ini kulihat langit Kota Kembang gelap tanpa cahaya apapun. Ku tatap gelas yang ada dalam genggamanku. Aku tercenung, dengan apa yang ku saksikan barusan di pantry.
Ya, hatiku bisa seperti gelas. Kita punya kesempatan untuk memilih hal apa saja yang mau kita tampung, termasuk pasangan.
Gelas tidak pernah menolak jika di isi dengan air putih, s**u manis atau kopi pahit. Mau es jeruk di rumah makan, es teh di warteg atau bahkan wine di resto atau di sebuah bar.
Begitu juga dengan hati perempuan, mau diisi oleh laki-laki kaya, miskin, posesif, tampan, bahkan arogan sekalipun selagi seorang wanita nyaman dan mengerti pasti bisa menerimanya. Karena memang begitulah semestinya hati, bisa menerima pasangan apa adanya. Dan Perlahan suatu saat bisa membawa perubahan ke arah yang lebih positif buat pasangannya. Inilah magnet seorang perempuan, bisa merubah laki-laki kearah yang lebih baik.
Intinya kepada siapa hati ini nenjatuhkan pilihannya. "Dan ketika naluri kamu memberi tahu kamu kepada siapa hatimu melabuhkan pilihan, maka jangan lupa untuk berdiskusi dengan moral. Apakah itu pantas atau tidak."
Dan sekarang aku memikirkan kata-kata itu, Arga. Ya, Arganta.
Logikaku selalu menolak memikirkan hal-hal tentang Arga, tetapi Arga selalu punya cara untuk masuk ke dalam fikiran dan hatiku. Sentuhan Arga, kecupan Arga di punggung tanganku. Semua itu membuat hatiku menghangat.
Aku tidak pernah membayangkan pertemuan seperti ini, orang diluar jangkauan tetiba hadir dalam hidup ku. Dalam hal apapun aku berbeda dengannya, apalagi aku selalu punya keyakinan semua laki-laki sama seperti ayahku, laki-laki hanya akan menyakiti hati perempuan.
Sebelumnya dengan siapapun aku tidak pernah seperti ini, tapi demi Arga Perlahan akan ku coba lupakan semua luka masa lalu yang masih tersimpan didinding hati.
Aku memejamkan mata. Gantari, katakan aku bisa, bisa,bisa! Bisa mencoba membuka hati untuk laki-laki.
***
Bersambung..