Kapan mau mopon kalo kek gini? Disembunyiin aja kangen, palagi kalo nampakin diri.?
Gantari Willis
Sejak saat itu, malam dimana Arga mengantarku pulang. Hari-hari ternyaman ku terusik oleh sosok Arga, -dan itu sudah terjadi dari dua minggu yang lalu-.
Ya..kalo kata anak-anak jaman sekarang mah "si Tari oleng gak balik-balik sama pesonanya Kang Eksmud."
Aiiiihhh, cukup hati yang kepincut Kang Eksmud, pikiran mah harus tetep waras Neng!!!
"Bisa ae loe Bang, nyamperin di sesi Lunch." Suara Mas Evan memecah konsentrasi ku. Siapa yang dipanggil Abang sama Mas Evan? Kakaknya Mas Evan kan Arga.
Deg, benarkah Arga datang? Arga ku? Woooaaaahhhhh stop it Gantari!!! Maksudmu apa Neng pake acara bilang Arga-Mu? Heh..
"Mumpung lewat, sekalian aja mampir." Ucapnya.
Suara itu, Suara ngebass khas Arga yang selalu ingin ku dengar. Dan sekarang pemilik suara itu ada tepat di depan ku. Di pintu masuk ruangan yang menghubungkan ruangan Mas Evan dengan karyawan bawahannya.
Ahh . . . Gantari!! Lupakan. . .lupakan stay cool Ri!!
"Hai. ." Sapa sosok tinggi jangkung yang baru datang ke ruangan dimana aku duduk menghabiskan waktu dengan tumpukan berkas.
Yaps, dia Arganta. Memakai celana jeans biru, kemeja putih tangan panjang di gulung sampai siku. Arga tetaplah Arga, tak ada yang berubah dari makhluk ganteng di depanku. Dengan style yang sama seperti pertemuan kami sebelumnya. Yang berubah hanya rambut agak panjang dan sedikit acak-acakkan, serta jambang yang mulai tumbuh memenuhi rahangnya. Namun itu menjadi point plus yang menambah pesona kegantengan Arga.
Arga yang satu bulan ini ku temui. Kami pun beberapa kali bersapa lewat telpon bahkan beberapa kali kopi darat, tapi sumpah demi apapun rasanya masih deg-degan seperti kala dia mengecup tanganku di malam itu, huhuhu aku jadi mengingatnya lagi otak dan fikiranku terlempar kembali ke kejadian pertama kali skinshipku dengannya.
Aku berdiri dari duduk ku, hanya sekedar untuk sopan santun. Tersenyum ke arahnya, dan sedikit menundukan punggungku.
"Tari, senang bisa bertemu lagi." Katanya menyalamiku.
Aku menerima uluran tangannya, ahh hangat.
"Ya Pak. Gimana kabarnya Pak?" Tanyaku basa-basi.
"Duhhhh, saya masih ganteng gini. Belum punya uban juga, jangan panggil bapak dong." Protesnya.
Aku tersenyum canggung, "ah.. eumppp..." ucapku bingung.
"Arga, Abang, Mas, bebz, sayang..!! Terserah kamu mau panggil apa." Jawab Arga dengan kedipan mata genitnya. Pipiku menghangat mendengar Arga mengucapkan kata terakhirnya. Ya, kata sayang. Duhh seandainya aku bisa memanggilnya sayang, ehh..
"Ahh. . .it's oke Mas Arga saja." Ucapku. Akhirnya aku putuskan memanggilnya dengan sebutan embel-embel Mas.
Arga tersenyum lebar mendengar jawabanku, duhhh ntu bibir minta di. . . . . .plak plak!!! Hahaha hus hus hus jauh jauh pikiran yang gak baik dan gak benar hahaha. .
"Kenapa Ri?" Tanya Mas Evan dengan tatapan herannya.
Duh malu!! Ke gap lagi bayangin yang iya iya...haha.
"Gak Mas." Jawabku sambil terkekeh
"Cheesy yuk!" Ajak Arga menyebutkan resto di kawasan Dago.
"Gak sekalian New Shapiree apa rumah camer gitu, biar sekalian selesai makan langsung bobok." Kelakar Mas Evan. Yang di bercandain malah anteng menatap ku.
Aku salah tingkah, duduk kembali dan berniat meneruskan pekerjaanku. Padahal cuman stalking-stalking sosmed doang.
"Tari ayoo ikut." Ajak Mas Evan
"Saya di ajak Mas?" Tanyaku bingung
"Lah, Bang Arga kan sengaja kesini buat nyamperin kamu, bukan saya." Jawaban Mas Evan sukses membuat Arga melotot menatap Evan dengan wajah sedikit memerah.
Duhhh, gemesin banget siiiiy Bang dedek liatnya..!
"Eump, Tari iya ikut aja. Lagian weekand juga kan." Ucapnya canggung
Akhirnya aku menyetujui nya, setelah mematikan komputer di mejaku dan membereskan tertas yang berserakan aku mengekori mereka di belakang berjalan menuju basement Artha Tama.
Selama perjalanan aku hanya diam mendengarkan percakapan dua saudara ini.
Karena aku duduk di jok belakang, jadinya aku dengan nyaman dan leluasa duduk sambil beramain ponsel. Iseng iseng berselancar di aplikasi berjargon "di jamin ori". Kebiasaan perempuan saat main ponsel kan kalo gak lihat aplikasi belanja online, yaa mantengin aktor drakor or dracin biar nambah nambahin Vit A sama nutrisi gitu.. kan katanya yaa, kalau sering lihat yang ganteng-ganteng tuh bagus buat kesehatan otak. *ketawa ngakak*
Memasuki area parkiran resto, aku masih saja berselancar memuaskan rasa penasaran ku pada barang-barang di aplikasi online. Sampai Suara Arga mengajakku keluar mobil dan masuk resto.
"Kamu chatting-an sama siapa?" Tanya Arga sesaat setelah kami Memasuki resto bergaya rustic modern, yang menurutku sangat unik. Dan memang aku baru pertama kali kesini.
"Hah. . . . " hanya itu responku. Bukan aku gak ngerti sama pertanyaan Arga, cuman kenapa Arga nanya-nanya sampe ranah pribadi gini. Apa maksudnya sih??
"Kamu ya udah kelaperan, sampe gak respon saya nanya apa." Ucapnya sambil menarik kursi model classic vintage di depanku.
Aku hanya tersenyum menyembunyikan gugup, lalu duduk di kursi depan Arga.
Ku lihat sekeliling resto, konsepnya keren. Ada indoor dan outdoor juga. Dibagian outdoor pengunjung bisa bersantai duduk lesehan di atas hamparan rumput sintetis mirip-mirip alun-alun Bandung gitu. Sementara di bagian dalam resto yang aku tempati sekarang, menggabungkan konsep classic vintage dengan sentuhan gaya modern. Tempatnya luas dan nyaman, dengan hiasan batu bata, kayu dan tumbuhan. Lengkap dengan panggung musik, cocoklah buat anak-anak ABG nongki-nongki cantik bergosip ria.
Untuk menu makanan, banyak menu yang di tawarkan. Ada makanan Barat dan makanan Indonesia. Aku lebih memilih karedok sama ayam bakar komplit. Tau dong, kalau orang Indonesia modelan kaya aku mah gak kenyang kalo gak makan nasi. Dan yang pasti karedok jangan sampe ketinggalan! Rasa sedikit pahit yang ditinggalkannya selalu menjadi cita rasa tersendiri dilidahku.
"Ini udah jam pulang kalian kan?" Tanya Arga di sela-sela kami makan
"Yo'i, hari sabtu cuman sampe jam 12 siang. Ni juga dipaksa ngantor, padahal ini hari jadwalnya kelonan sama Winda." Jawab Mas Evan kalem
"Oke, Tari biar gue yang anter pulang." Ucap Arga tanpa melirik ku.
"Ya kali Papa Muda ini yang harus anterin anak perawan, apa kata tetangga? Yang ada anak gadis orang dikira pelakor. Kan lagi rame-ramenya yaa pelakor." Jawab Mas Evan mendramatisir.
Arga hanya geleng-geleng kepala dengan jawaban Bapak Manager ajaib ini. Aku pun hanya tersenyum mendengar jawaban Mas Evan.
"Gapapa ko Mas, aku bisa naik taksi." Jawabku gak enak.
"Kamu berangkat sama saya, pulang juga harus sama saya." Ucap Arga tanpa bisa di bantah lagi.
"Lagi pula kita searah, nanti si Evan di jemput Winda." Lanjutnya. Mas Evan melihatku komplit dengan cengiran kudanya. Sial, mereka sudah merencanakan ini. Tapi kok aku malah seneng yaaa, ehh..
Makanan di piringku raib tak bersisa, hanya menyisakan potongan-potongan tulang ayam dengan sedikit daging yang tersisa di beberapa bagian, serta sambal matah dengan beberapa lembar lalapan. Aku berjalan ke toilet, mencuci tangan dan berkumur-kumur.
Sementara Arga dan Mas Evan menikmati secangkir kopi panas menu andalan Cheesy.
Setelah selesai, aku kembali ke meja tempat makan. Ternyata hanya ada Arga yang fokus pada ponsel pintarnya.
"Mas Evan kemana?" Tanya ku, sambil mendudukkan bohong ku di atas kursi kayu
Arga mendongak menatapku, dan memasukkan ponselnya ke saku kemeja "pulang duluan." Jawabnya "Kamu udah selesai?" Lanjutnya bertanya.
"Udah Mas." Jawabku, lalu meminum air putih dari gelasku.
"Kalau udah beres, kita pulang." Ajaknya sambil berdiri. Aku ikut berdiri mengekorinya berjalan sampai ke parkiran.
Aku duduk di samping Arga.
"Di anterin ke apartemen, apa kemana?" Tanya Arga
"Iya, ke apartemen aja Mas. Aku lelah!" Karena memang hari ini hari pertama aku PMS, kebiasaan ku kalau lagi dapet ya gini suka lemes, kepala pusing, perut sakit dan badan gak nyaman.
Dia hanya menatapku dan mengangguk. Kami pun saling diam dan hanya mendengarkan suara merdu Mas Judika sepanjang perjalanan.
Setengah jam kemudian mobil Arga masuk parkiran apartemen, aku menolak di anterin turun.
"Sudah sampai sini saja Mas, terima kasih unt. . ." Belum ku selesaikan kalimatku tangan ku sudah di tarik. Aku menubruk d**a bidang Arga, aku dipeluknya erat.
Sebelum aku mampu berpikir dan menolak, Arga sudah memegang pipiku dan mencium bibirku lembut.
Bilang aku gak waras, karena aku menerima nya.
Euhhhh. . .tanpa sadar aku melenguh dan membalas ciumannya. Perlahan Arga melumat bibir ku dengan kelembutan yang luar biasa. Arga menggigit bibir bawahku, aku ngerasa darahku berdesir, bulu kuduk ku meremang, otakku berkabut dan aku mengesampingkan kewarasanku.
Aku free, yaa I am single..!!
***
Bersambung..