"Mungkin semuanya hanya memeluk harapan, Namun aku selalu berharap semua ini bisa menjadi kenyataan."
Arganta
Dua minggu ini aku bolak balik Bandung-Magelang, meninjau langsung lokasi pembangunan Villa di kaki lereng Gunung Sumbing. Para pemegang saham sebelumnya sepakat terus melebarkan sayap di industri akomodasi ini.
Bisnis penyewaan properti kini banyak di lirik, termasuk Wijaya Corporate. Karena bisnis penyewaan seperti ini termasuk jenis bisnis yang evergreen alias akan dibutuhkan setiap waktu selama orang-orang masih bepergian dan liburan ke luar kota, permintaan akomodasi nyaman pasti akan selalu meningkat. Dengan pengelolaan yang mudah dan menjanjikan Wijaya Corporate akan selalu meraup keuntungan yang sangat besar.
Sebagai pemegang saham terbesar, Bapak menjadi penanggung jawab pembangunan Villa. Dan itu berarti aku yang akan turun tangan meninjau lokasi pembangunan dan berhubungan langsung dengan pihak pengembang. Kalau kek gini kan aku kelihatan seperti anak yang berbakti kepada kedua orang tua, nusa, bangsa, serta negara. Yaelaaaah. .
Selama dua minggu ini juga dengan keseharian ku yang super sibuk, perhatianku teralihkan dari hubunganku dengan Ira yang di bumbui aroma Pertengkaran di malam itu. Sejak pagi dimana aku meninggalkan apartemen Ira, tidak ada panggilan atau pesan singkat yang masuk ke nomorku dari Ira. Aku hanya melihat sekilas Ira mengunggah photo punggung dirinya yang berlatar di sebuah pantai. Mungkin dia berlibur dengan teman-temannya dan entah kapan, aku tidak tahu dan tidak ingin cari tahu.
Dan di jum'at siang ini, aku tengah duduk di gazebo rumah Pak Mamat. Orang yang menampungku selama aku di sini. Ditemani teh hangat dan sepiring jagung rebus yang masih panas mengepul mengeluarkan asap.
Selepas solat jum'at, kebiasaan keluarga Pak Mamat duduk-duduk santai di teras depan rumah untuk bersantap siang bersama keluarga atau hanya sekedar menikmati secangkir minuman hangat seperti sekarang.
Dering ponselku terdengar nyaring di tengah-tengah obrolan ngalor-ngidulku dengan Pak Mamat. Ku lihat nama "Kangjeng Mami" berkedip-kedip dilayar ponselku.
"Hallo Mih.." sapaku pertama kali, sambil ku gigit jagung yang ku pegang di tangan kananku.
"Bang, kapan pulang?" Tanya Mami. Di belakangnya aku mendengar suara anak kecil ribut-ribut, mungkin Mami lagi kumpul keluarga.
"Jangan lupa kalau udah pulang ke Bandung, pulang ke rumah dulu. Ini juga Mami di tengokin Winda." Lanjutnya
"Iya Mih, besok pagi Abang pulang. Mau di bawain apa dari Magelang?" Tanyaku basa-basi. Soalnya ya, Kangjeng Mami ini suka nagih-nagih kalau aku dinas ke luar kota tapi pulangnya enggak bawa buah tangan. Dasar wanita, gak ibu, gak pacar, gak adik pasti seneng kalau di bawain jingjingan.
"Kalau Magelang apa sih Bang ciri khasnya? Mami kurang hafal juga." Jawab Mami yang keliatan rada rada bingung.
"Oke nanti Abang tanyain ya sama orang sini. Mih, udah dulu ya.. Abang lagi sama Pak Mamat, nih." Ucapku sambil tersenyum melihat Pak Mamat.
"Iya bang, besok pulangnya tiati ya.." Pesan Ibuku.
"Iya, Abang sayang Mami." Ku sentuh tanda merah di layar ponselku. Ibuku adalah sosok Ibu terbaik di dunia. Gimana enggak terbaik coba, aku yang hanya berstatus anak pungut tapi aku sangat di cintai oleh beliau. Sungguh durhaka kalau aku sampai menyakiti hatinya.
Aku melanjutkan percakapan ku bersama Pak Mamat yang tadi sempat tertunda. Ada banyak hal yang menjadi perbincangan kami. Aku juga menanyakan oleh-oleh khas Magelang, dan katanya ada banyak makanan khas daerah sini, Salah satunya Pothil sama permen tape. Mungkin besok aku beli itu aja buat Ibuku.
Ku lihat sekeliling rumah Pak Mamat, daerah sini memiliki topografi yang unik. Rumah Pak Mamat juga di bangun mengikuti topografi lereng pegunungan berundak. Disekeliling rumah terdapat kebun sayur juga ada kolam ikan. Dari sini terlihat Villa-ku yang masih dalam tahap pembangunan, yang lokasinya berada sedikit di bawah lereng. Karena memang Villa yang ku bangun berada di rute jalur masuk Desa Wisata Nepal Van Java Kaliangkrik, Magelang.
Segarnya hawa pegunungan dengan kabut tipis, serta kontur tanah yang berundak-undak, dan rumah-rumah warga yang di kelilingi perkebunan, dengan background gunung tertinggi ke-dua di Jawa Tengah. Dan dengan letaknya yang berada di kaki lereng gunung, membuat suasana dingin dan udara sejuk pun langsung menyelimuti. Sensasinya seperti berada di lereng Gunung Everest di Nepal. Tak ayal, Desa Wisata ini di sebut Nepal Van Java atau Nepal-nya dari Jawa. Dengan deskripsi suasana seperti itu, akhirnya Wijaya memutuskan untuk membangun villa di sini.
Dari pusat Kota Magelang dibutuhkan waktu perjalanan sekitar satu jam untuk sampai ke Kecamatan Kaliangkrik atau lebih tepatnya ke Villa yang ku bangun ini. Dari taman Villa, nanti tamu yang berkunjung bisa puas memandang panorama bangunan berundak dan gagahnya Gunung Sumbing. Dan karena Villa ini terletak di Tenggara kaki gunung Sumbing, pengunjung akan di suguhi panorama deretan pegunungan indah yang membentang di sisi timur. Bahkan gunung Merapi dan Merbabu pun akan terlihat, jika cuaca cerah. Dan aku ingin segera mengajak Tari menikmati semua keindahan ini.
Ya, Gantari.. wanita berhidung mancung berkulit putih itu dengan beraninya terus bermukim di pikiranku. Aku berharap semua ini bisa terjadi, menikmati sunrise dan menghirup udara pagi pegunungan dengan Tari dalam pelukan.
***
Malam semakin larut, tapi aku belum bisa memejamkan mata. Pikiranku terus berkelana memikirkan Tari. Selama 32 tahun aku hidup nyaman di keluarga Wijaya, baru kali ini semua perhatianku tersita oleh sosok perempuan bernama Gantari Wilis.
Perasaan ini sangat asing, dan hatiku gundah terlalu lama memikirkan Tari sehingga aku tidak bisa tidur. Aku melihat jam analog di layar ponsel, pukul 23.40. Akhirnya kuputuskan keluar rumah, menghirup udara malam pegunungan yang mungkin jarang ditemui untuk orang-orang yang bermukim di tengah kota besar seperti aku. “Semoga dengan udara segar pikiranku bisa tenang.” Batinku
Ternyata damai dan indahnya suasana Nepal Van Java tidak bisa mengalihkan kerinduanku pada Gantari.
--
Aku terbangun dari tidur ku, mengerjapkan mata beberapa kali. Melihat keluar kaca jendela mobil yang ku tumpangi, sekarang aku disini di tol Cikopo-Palimanan. Magelang-Bandung di butuhkan sekitar 7-8 jam perjalanan.
"Mang, sudah berapa jam aku tidur?" Tanyaku sama Mang Udin, sopirnya Bapak ku.
"Sudah 3 jam lebih, Cep." Jawab Mang Udin. Mang Udin biasa memanggil ku "Cep atau Encep" kalau di Sunda, itu sapaan untuk anak laki-laki yang di hormati.
"Oh, kalau lapar nyari rest area Mang!" Perintah ku. Karena memang tadi sebelum subuh udah berangkat, belum sempat sarapan juga. Cuman minum air putih doang, lalu di mobil langsung tidur.
"Mangga, Cep." Jawab Mang Udin. Karena masih sedikit pusing, akupun kembali tidur.
Tidurku terganggu oleh bisingnya klakson kendaraan. Walau berat ku paksakan membuka mata, dan ternyata aku mengenali kawasan ini, mobil yang dikemudikan Mang Udin sudah memasuki kawasan Dago.
"Loh, Mang sudah sampai Bandung. Kenapa tadi gak berhenti makan dulu?" Tanyaku heran. Soalnya kasihan kan Bapak-bapak udah sepuh gini gak di kasih makan, entar kalau kenapa-napa gimana???
Mang Udin tertawa, kulihat jejak kulit keriput di pipinya. " itu ada roti, jagung, sama singkong rebus. Mamang mah makan itu juga udah kenyang. Tadi di bahanin sama Pak Mamat." Jawabnya sambil menunjuk ke belakang jok. Oh, iya. Tadi subuh pas pamitan Pak Mamat memaksa untuk membawa kudapan yang katanya sudah di siapkan oleh istrinya.
Aku sampai rumah pukul 11:03, ternyata Kangjeng Mami lagi meninggalkan kediamannya alias tidak ada dirumah "lagi pergi arisan" kalau kata Bi Inah mah.
Kuputuskan untuk mandi dan mengganti pakaian, hari ini aku harus ketemu Tari. Status w******p si Evan dia lagi lembur di kantornya, besar kemungkinan Tari juga ada di sana. Berarti aku harus nyamperin dia ke Artha Tama.
Pukul 12:35 aku sudah berada di depan kantor Artha Tama. Ini untuk pertama kalinya aku berkunjung menginjakkan kaki kesini ke kantornya Evan, adikku. Di lobby aku bertanya pada dua orang reseptionis, dan ternyata ruangannya Evan ada di lantai 9.
Keluar dari lift yang langsung mengarah keruangan Evan yang hanya di batasi kaca. Sehingga terlihat siapa saja yang ada di dalam sana.
"Van.." sapaku. Si Evan mendongak dan tersenyum senang melihat kedatanganku. adikku berdiri dan berjalan ke arah ku, lalu memeluku singkat.
"Baru sampe? Gimana disana? Uhh, bisa ae loe Bang nyamperin di sesi lunch." Kelakar si Evan, aku hanya tertawa. "Tari bentar lagi pulang." Bisiknya, tahu aja ni bocah aku kesini niat nemuin dia.
"Mumpung lewat, sekalian mampir." Bohongku, haha.
Aku berjalan mengikuti Evan ke ruangan sebelah, ku lihat Tari tengah konsentrasi pada layar di depannya. Dia mendongak, sapaanku membuatnya terlihat kaget. Hatiku bergetar dan detak jantungku berpacu sangat cepat saat mataku bertemu langsung dengan matanya. Dia selalu tampak sempurna, kapan sih perempuan ini terlihat jelek. Kadang aku selalu memikirkan hal-hal yang remeh temeh seperti itu.
Tari berdiri di depan mejanya, hari ini dia tampak santai memakai rok jeans biru di atas lutut di padukan dengan t-shirt warna putih, cantik sekali.
Kuajak dia ke Cheesy, resto favoritku dekat rumah Ibuku. Selama perjalanan dia diam, apa memang Tari ini tipe anak pendiam atau karena belum akrab? Entahlah..
Kulirik dari spion depan, dia tampak asik dengan ponsel pintarnya. Mungkin chatting-an sama temen-temennya atau sama pacarnya.. sudahlah jangan di pikirkan lagi.
Selama makan aku menikmati cara dia makan, ternyata dia tipe wanita yang gak gengsian, dia makan seperti kebanyakan orang parahiyangan "pake tangan gak pake sendok" dan enggak menye-menye kaya wanita manja. Tipe wanita kesukaan aku semuanya ada dalam diri Gantari, Aiiiiih.. pokoknya selama makan aku terus memperhatikannya, yaa walaupun hanya curi-curi pandang gituu.
--
"Di antar ke apartemen atau ke mana?" Tanyaku setelah selesai makan dan ku putuskan langsung mengantarnya pulang. Karena jujur saja aku gak kuat lama-lama lihat bibir dan leher jenjang Tari. Whoooooo stop it Arganta!!! Ngeres banget ini otak.
"Iya ke apartemen aja Mas, aku agak capek." Jawab Tari yang sekarang sudah memanggilku dengan sebutan Mas.
Kutatap dia, wajahnya agak pucat. Memang sepertinya dia kelelahan. Aku mengangguk dan tak bertanya apa-apa lagi.
Sepanjang perjalanan fikiranku berkelana kemana-mana, memikirkan segala kemungkinan yang sekarang bakal terjadi. Apa aku harus memberi tahunya tentang tersiksanya aku selama dua minggu ini karena tidak bertemu dengannya? Atau aku langsung menyatakan perasaan ku? Ahh, sumpah aku bingung!
Ku masukkan mobilku ke parkiran apartemen tempatnya tinggal, dia menolak aku mengantarnya turun.
"Sudah sampai di sini saja Mas, terima kasih unt.." Tari belum sampai menyelesaikan ucapannya, aku sudah menariknya ke dalam pelukanku. Ku cium aroma tubuhnya, rambutnya, wangi..
Wangi rambut Tari..
wangi tubuh Tari..
Aku pernah merasakannya, aku terdiam sesaat memikirkan kenyataan yang masih abu.
Dalam pelukanku dia diam, tidak menolak. Ku pegang pipi mulusnya dan ku cium bibirnya lembut. Kali ini nafsuku lebih mendominasi dari akal sehatku.
"Euuhhh..." Tari melenguh dan membalas ciumanku. Perlahan kulumat bibirnya, dan ku gigit bibir bawahnya. Tari kembali mendesah dan membuka bibir, lidahku menerobos masuk mebelit lidahnya. Aku sangat menikmati ciuman Tari, cuman yang dalam memaknakan kerinduan yang teramat sangat dan mewakili awal dari sebuah cerita di antara kita.
"Mas.." bisik Tari dalam ciumannya. Setelah ku kendalikan diri, ku usap bibirnya dengan jariku. Kulihat wajah Tari memerah.
"Badan kamu hangat." Ucapku sambil memegang kening dan pipinya.
"Aku gak enak badan Mas." Jawab Tari agak lemah.
"Aku anter ke atas?" Tawarku. Dia menggeleng.
"Gapapa Mas, aku duluan." Pamitnya lalu keluar dari mobilku dan berjalan ke dalam lobby apartement.
Ku perhatikan punggung Tari sampai menghilang, sebelumnya aku beberapa kali berciuman dengan perempuan bahkan sampai tidur. Tapi tidak ada ciuman yang selembut dan semanis Tari.
Kali ini.. Ya, ini untuk pertama kalinya.
Dan Tari adalah bagian dari salah satu keberuntungan ku dalam hidup ini.
***