"Sudah sekian lama pintu hatiku ku tutup rapat"
Gantari
"Dududududududu sudah sekian masehi, akhirnya rem blong juga kan?"
Author
Gantari Willis
Dengan sisa tenaga yang kupunya, ku buka pintu Apartemen. Melangkah memasuki ruang tamu yang masih gelap, perlahan tanganku menggapai saklar lampu di sebelah pintu dan melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul lima sore.
Ku lepas sepatu kets putihku tanpa menaruhnya di rak sepatu yang sudah ku berikan tanaman hias di atasnya. Dengan sedikit membungkuk dan tangan tetap memegang perut, aku berjalan tertatih menuju sofa.
Melepas tas begitu saja ke lantai, lalu melemparkan tubuh ke atas sofa berwarna abu di ruang tamuku. Saat haid hari pertama aku biasa memposisikan tubuhku di posisi Fetal atau meringkuk kaya janin dalam perut mama.
Tidur meringkuk, menyamping menekuk kaki dan lutut sampai ke d**a, dengan kedua tangan memegang perut dan kepala menyusup ke bantalan sofa begitulah kiranya penampakkanku saat ini. Perutku semakin sakit, rasa mual dan pening semakin menjadi-jadi, keringat dingin sudah membasahi kening serta punggungku.
Aku tak sanggup melakukan apa-apa selain merintih menahan sakit, mau ambil air anget ke dapur aja aku gak sanggup. Inilah derita para perempuan tiap pergantian bulan. Aku gak tau dan aku sendiri juga gak yakin PMS ini sudah terbukti secara ilmiah apa enggak atau hanya sugesti aja karena perempuan pengen jadi ratu drama sebulan sekali? Entahlah.. Tapi yang sudah pernah atau bahkan biasa mengalami PMS kayak aku, pasti banyak moment absurt yang jarang terjadi saat emosi normal juga pergantian suasana hati yang tiba-tiba.
Para Wanita pasti sangat familiar dengan PMS atau premenstrual syndrom ini.
Moment dimana tiba-tiba ada jerawat Mendadak muncul di tempat yang tak terduga. Moment dimana tiba-tiba makan banyak karena nafsu makan yang tak terkendali. Moment dimana tiba-tiba kita nangis untuk alasan-alasan yang aneh atau karena hal-hal kecil, contohnya nangis pas lihat koin jatoh ke kolong dan kita terlalu susah buat ambil, atau saat ponsel kita kehabisan batrai dan terlalu jauh untuk mengambil charger. Lalu kita menyadari bahwa kita hidup di dunia yang penuh dengan perjuangan. Dan kek gitu aja langsung baper terus nangis. Moment dimana kita bisa marah-marah gak jelas sama siapa aja yang kita temui. Ya ampun gitu ameeet yaa jadi perempuan *tepok jidat*
Tapi buat mereka yang gak pernah ngerasain PMS, mereka bakal menganggap PMS hanyalah alasan perempuan biar bisa marah-marah gak jelas, padahal gak gitu. Kayak sekarang, dari pagi emosi aku gak stabil, terus peningkatan hormon tidak terkendali rasa nyeri di tempat-tempat tertentu, sampai-sampai aku nikmatin ciumannya Arga. Duhhh Gusti gak ngerti lagi deh sama hormon anak gadis yang lagi PMS.
Dan lanjut ini, kalau lagi PMS pasti trouble di tubuh cantik aku banyak banget, rasa nyeri dimana-mana.
Aku menggapai tas di dekat kaki meja, berniat menelpon Dita adikku. Karena aku ingat tadi pagi dia kirim pesan lagi seminar di Bandung. Dengan mata setengah terbuka, aku mencari ponselku tapi nihil. Entah dimana aku menyimpan benda pipih itu. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan pusing kepalaku, perlahan lahan pandanganku mulai kabur. .berkabut. . lalu gelap.
***
"Tari. . . . Gantari. . . " Aku merasakan tubuhku di guncang-guncang, dan pipiku di tepuk-tepuk seseorang. Namun mataku berat untuk terbuka, tubuhku kaku tidak bisa ku gerakkan.
"Tari. . ." Sekali lagi suara itu memanggilku, namun aku masih nyaman dalam tidurku. Aku merasakan tubuhku melayang. Dan wangi ini, wangi tubuh Arga. Kenapa sampai mimpipun Arga tetap hadir, tidak bisakah Arga hanya mengganggu dunia nyataku??
"Gantari buka matamu, jangan bikin aku khawatir." Suara itu berhasil menarikku kembali dari alam bawah sadar. Perlahan ku buka mata ku, pertama kali ku lihat adalah wajah cemas Arga. Kuperhatikan sekeliling, ternyata aku berbaring di atas tempat tidur dalam kamarku.
"Mas Arga kenapa bisa disini?" Tanyaku heran, aku berusaha duduk rada rada salah tingkah, kan tengsin ya kamar anak perawan di masukin cowok. Oalaaaaah. . .. Untung tadi pagi aku beberes, kalau gak ntu daleman, tisyu bekas ingus, sama cangkang bekas makanan berserakan di mana-mana.
"Itu enggak penting, yang penting sekarang adalah keadaan kamu." Ucapnya lalu duduk di pinggir ranjang ku.
"Tadi kamu pingsan. Niatnya sih aku cuman mau anter ponsel kamu, tapi pintu Unit kamu kebuka. Ya udah, aku langsung masuk aja. Kamu kenapa? Apa yang sakit?" Lanjutnya menjelaskan sekaligus bertanya dengan masih mempertahankan wajah cemasnya.
Dan memang seingat ku tadi aku tidur di sofa bukan di kamar.
Aku bingung mau jawab apa, jelasinnya gimana? "Ini udah biasa Mas, lagi dapet." Cicitku.
"Kamu dapet apa?" Tanyanya sambil tersenyum.
Eh, ini Si kembaran Mas Weir kenapa tersenyum? Bukannya tadi cemas ya.. "Aku dapet yang lebih dari kamu, Mas." Jawabku asal. Gak tau kenapa aku malah bete lihat senyumnya Bapak ganteng di depanku, tuhh kan mood akunya labil..
Dia malah tertawa dan berlalu keluar dari kamar. Loh dia mau kemana?? Masa iya balik gitu aja?? Ini gak pamit??
Belum juga pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan di kepalaku terjawab, Arga sudah kembali lagi kekamar dengan membawa segelas air minum dan botol kaca bekas yang berisi air.
"Minum dulu!" Perintahnya sambil menyodorkan Mug berwarna coklat kesayangan aku berisi air putih hangat.
"Perutnya masih sakit?" Tanya Arga.
Sambil minum aku mengangguk, "kok Arga ngerti ya aku lagi PMS." Batinku "padahal aku gak kasih kode apa-apa. He know PMS?" Aiiihhhh. . . Arganta sumpah aku speechless sama perlakuan Arga.
"Kamu bisa sendiri apa mau aku bantu pegangin botol?" Tawarnya
"Gak papa Mas, aku pegang sendiri aja." Kuambil botol yang berisi air hangat dari tangannya, lalu ku tempelkan diperut ku. Beberapa detik menempel diperutku, sumpah rasanya nyaman sekali.
"Mas boleh minta tolong?" Aku meringis dalam senyumku, dia hanya mengangguk.
"Tolong ambilin obat aku di laci lemari itu!" Tunjukku ke lemari yang ada di dekat pintu masuk kamar.
Arga berjalan ke arah lemari, kuperhatikan sosok Arga dari belakang. Arga punya postur tubuh tinggi jangkung, kulit eksotis khas pria bumi Priangan, hidung mancung dengan rahang tegas, senyum yang terukir manis. Ditambah dengan kepribadian, sopan santun dan tutur sapa yang lembut menambah nilai plus seorang Arganta yang memang pada dasarnya Arga sudah matang dalam segi apapun, sempurnalah buat kandidat calon suami. Ehh,
Heloooooo, Tari situ udah banguuuun masihhh aja mimpiii. . Hadeeehh
Sudah sekian masehi, akhirnya rem blong juga kan? Udah sampai mimpi nyari calon suami segala. Tak dipungkiri sih, kehadiran Arga selalu bikin jantung aku gak aman apalagi kalau ngebayangin ciuman lembutnya tadi sore, yang masih terasa di bibirku sampai sekarang. Duhhh ya ampuuuuun cuman ngebayanginnya aja bikin jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
Aku memegang pipiku yang terasa panas.
"Yang ini bukan?" Aku terhenyak mendengar pertanyaan Arga.
"Ah, iya Mas yang itu. Hatur nuhun (terima kasih)." Ucapku. Ku minum tablet pereda nyeri yang ku ambil dari tangan Arga, dengan obat itu biasanya beberapa saat rasa nyeri di perut akan hilang.
"Eumppp. . Ponsel kamu" Arga mengambil ponsel dari saku celannya, lalu menyimpan benda pipih itu di nakas sebelah kiri aku.
"Tadi ketinggalan di jok mobil." Lanjutnya
"Uhh. .pantesan aku cari-cari gak ketemu." Batinku
"Tadi aku angkat telp kamu, makanya aku tau nomor Unit kamu." Ucapnya. Aku memeriksa log panggilan masuk, ternyata Dita yang nelpon. Pantesan aja ni si Mas Weir KW bisa sampe ke tempat aku.
"Itu adik kamu?" Tanyanya
"Iya Mas, kebetulan dia lagi di Bandung." Jawabku. Aku melirik jam di nakas, ternyata sudah jam 7 malam. Ku lihat Arga ikut melirik jam.
"Udah jam 7, enggak papa sendiri? Soalnya aku masih ada urusan." Aku mengerjapkan mata, aku di sini sudah mau masuk tahun ke-4 selalu sendiri, dan baru kali ini ada yang perhatian seperti ini. Duhhh . . .jantung yang aman dong, jangan kampungan!! Pake maen rusuh segala, elaaaaah. .
"Aku udah biasa sendiri, Mas." Jawabku sambil tersenyum
"Maksudku, kamu kan lagi enggak enak badan. Takutnya pas aku tinggal kamu kenapa-napa." Cemasnya.
"gini aja deh, ponselku semaleman bakalan aktif. Kalau ada apa-apa telp aku aja, besok pagi aku kesini lagi." Lanjutnya panjang lebar. Untuk kedua kalinya aku speechless gak bisa jawab apa-apa selain menganggukan kepala dan berguman menyebutkan kata "ya". Iya cuman gitu doang.
"Inget ponsel kamu harus aktif, gak boleh mailbox." Ucap Arga, tangannya mengacak rambutku.
"Ihh, rambutku jadi jelek." Aku sedikit menjauhkan kepalaku darinya, padahal dalam hati aku seneng. Etdaaaaahhhhh. . Yang lagi kasmaran, cie cie. . Baru di sentuh rambut aja udah baper, gimana kalau di sentuh yang lain-lain, ehhh. .
"Aku pulang dulu ya, kamu istirahat aja enggak usah anterin aku ke depan." Pamit Arga. Dia berdiri lalu berjalan meninggalkanku yang menatap punggungnya, sampai pintu Arga berbalik dan tersenyum. Ku balas dengan senyuman termanisku, akhirnya Arga berlalu dan hilang di balik pintu.
Aku kembali merebahkan kepalaku di atas bantal, memandang langit-langit kamar, membuka kembali memori kilasan-kilasan yang terjadi selama satu bulan lebih ini.
Siapa Arga?
Kenapa bisa sampai sejauh ini?
Kenapa hatiku selalu terisi oleh hal-hal tentang dia?
Cinta? Apakah aku mencintainya?
Entahlah, yang pasti aku merasa nyaman dengan kehadirannya.
Ting. .
Suara pesan masuk dari ponselku, kuambil benda pipih itu dari atas nakas. Ku buka room chat-ku, ternyata dari Dita.
Dono Maemunah
Kak, tadi aku telp.
Yang angkat cowok, aku kasih tau nomor apartemen Kak Tari.
Me
Dia kolega Kakak, tadi nganterin ponsel ketinggalan di jok mobil dia.
Kami tidur dimana Dek?
Dono Maemunah
Di Aston Kak.
Besok udah closing, aku ke tempat Kak Tari.
Me
It's oke, tiati Dedek Maemunah. *sun sayang*
Dono Maemunah
Miss U sistaa, Taryati. *sun sayang* banyaaaak.
Aku tersenyum melihat chat terakhir dari adik bungsuku, udah lama aku gak pulang kampung.
Mungkin sesudah acara akbar di kantor beres aku bakal ambil cuti tahunan.
Aku keluar dari room chat-ku, ku simpan kembali ponsel kesayangan ke tempat semula. Dengan malas aku bangun dan berjalan ke kamar mandi, mungkin mandi air hangat bisa meredakan rasa nyeri dan penat di kepalaku.
Aku hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk menyegarkan kembali tubuhku. Ku habiskan minuman hangat buatan Arga yang sekarang sudah dingin dengan sekali teguk hingga habis tak bersisa. Naik ke atas ranjang bersiap menuju pulau impian dan berharap besok semuanya akan baik-baik saja, terutama hati dan jantungku.
***