Arganta Ragnala
Sejak beberapa menit yang lalu aku belum beranjak dari posisiku di parkiran depan Apartemen tempat tinggal Tari. Masih anteng dengan bayangan-bayangan tentang dia. "Tuhan, aku tidak pernah tahu siapa yang akan menemaniku nanti untuk melewati hidup. Tapi jika boleh meminta aku ingin dia." Sekilas terlintas keinginan untuk memilikinya.
Tapi bagaimana dengan Ira? Meskipun aku tidak pernah mencintainya, tapi sebagai seorang laki-laki semestinya aku tidak bisa menempatkan dua perempuan di posisi yang sama dalam hidupku.
Berlaku adil? Tidak akan ada kata adil dalam urusan membagi cinta. Bagaimanapun itu, apapun itu, seadil-adilnya aku memperlakukan mereka pasti salah satu akan ada yang terluka.
Suara khas Lenka we are the brave memecah lamunanku, ternyata tanda panggilan masuk dari ponsel di atas jok samping kemudi. Ku ambil benda pipih dengan casing imut itu, "ini ponsel Tari?" Batinku. Karena hari ini enggak ada orang yang aku kasih tumpangan selain Evan sama Tari.
Dilayar lerlihat potret seorang perempuan cantik dengan nama Dono Maemunah berpendar-pendar. Aku ingat perempuan ini adalah seorang model tanah air yang lagi naik daun saat ini, tapi kayaknya namanya Pandita Mahmeru bukan Dono Maemunah dehh. Kok Tari bisa kenal? Tapi setelah kulihat dengan jelas photo yang berpendar-pendar di layar, sepintas ada kemiripan dengan wajah cantik Tari. Jadi photo ini tuh lebih kayak Tari dalam versi gelamornya.
"Hallo Kak Taryati, maaf yaa.. hari ini aku gak jadi ke tempat Kakak." Suara ceria khas perempuan manja terdengar di ujung telpon saat pertama kali ku terima panggilan. Taryati? Siapa? Pikirku bingung.
"Maaf Taryati siapa ya? Kayaknya ini ponsel Tari tertinggal di dimobil saya." Jawabku
"Eh.." Suara si penelpon kelihatan bingung.
Tanpa ku tunggu si penelpon menjawab, aku melanjutkan ucapanku.
"Saya rekan kerja Tari, mau anterin ponsel tapi gak tau nomor Unitnya Tati. Untung Mbaknya nelpon."
"Oh.. saya Dita Mas, adik Kak Tari." Ucapnya memperkenalkan diri. Tuh kan bener namany Dita dan ternyata Dita yang model ini adiknya Tari, pantesan jadi model wong Tarinya aja cantik gitu. Apa lagi Dita yaa. .
"Unitnya Kak Tari di lantai 29, di lantai itu cuman ada 1 Unit kok Mas." Lanjutnya
"Makasih Dita, saya ke atas dulu." Basa-basiku
"Iya Mas, aku tutup." Pamitnya lalu menutup panggilan.
Keluar dari kuda besi ku, berjalan melangkah memasuki lobby Apartemen yang ditempati Gantari. Ku sunggingkan senyum sekilas pada 2 orang reseptionist, sekedar bersopan santun.
Kulihat sekeliling area tempat dari segala informasi apartemen yang Tari tinggali ini sangat luas, bersih dan memberikan kesan mewah namun tetap memberikan kenyamanan saat pertama kali aku menjejakan kaki di sini. Pohon palm sintetis terlihat di sisi kanan kiri pintu masuk, di tengah-tengah lobby terdapat dua set sofa mempercantik ruangan bersuhu sejuk ini. Petugas apartemen yang siap membantu 24 jam serta di dukung dengan keamanan smart home system with 4 access digital door lock ini, pastinya seorang Gantari harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit untuk dapat tinggal di tempat mewah ini.
Lift terbuka, aku memasuki lift dan menekan angka 29 di tombol dinding lift. Aku termenung memikirkan kehidupan Tari, tinggal di hunian vertikal yang mengusung konsep rumah pintar yang mewah dan canggih juga memiliki konsep unik dari kehidupan perkotaan mewah, orang dari kalangan biasa sangat jarang bisa menempati tempat perlindungan dan kepuasan di jantung kota seperti ini. Karena memang harganya yang selangit. Hanya kalangan menengah ke atas yang sanggup bertempat tinggal di tempat seperti ini.
Jadi siapa Tari yang bisa tinggal di tempat semewah ini? Memiliki adik seorang model kelas atas yang sedang naik daun karena prestasi dan kecantikan nya. Apa latar belakang keluarga Tari? Sehingga kedua anak perempuannya mempunyai kehidupan yang mewah seperti ini. Entah kebetulan atau di sengaja, tapi aku selalu memperhatikan penampilan Tari. Tanpa mengenakan barang-barang mewah, baju, sepatu serta tas yang di pakai Tari adalah barang-barang biasa pada umumnya. Tidak ada kesan mewah, namun selalu tampil menarik. Jadi sekali lagi, siapa Tari??
Tiing. . .
Suara lift terbuka, ternyata aku sudah sampai di lantai 29. Melangkah keluar dari kotak besi itu berjalan menuju pintu Unit Gantari.
"Loh, kenapa pintunya gak ditutup?" Pikirku, karena terlihat ada sedikit celah di antara pintu dengan tinding.
"Tari. ." Panggil ku sambil sedikit membuka pintu apartementnya.
"Tari. ." Panggilku kembali, tapi tetap tidak ada jawaban dari siempunya hunian mewah di depanku. Akhirnya kuputuskan untuk masuk. Suasana ruangan terang dengan beberapa gantungan lampu yang dihidupkan, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Kulihat sepatu kets yang Tari pakai hari ini teronggok di lantai tanpa disimpan ditempat nya.
"Tari. ." Ku panggil sekali lagi, hatiku sedikit tidak tenang. Dan satu lagi, tas Tari ada di lantai. Ku percepat langkah ku menuju sofa, kulihat dia tertidur meringkuk dan merintih kesakitan dengan tangan memegang perut. Ya ampun ini anak kenapa? Apa tadi salah makan?
Aku segera menghampirinya, jongkok sejajar dengan tubuhnya. Ku panggil dia, tapi tak merespon. Aku semakin cemas, aku menepuk-nepuk pipi mulusnya berharap dia membuka mata, tapi nihil. Mata cantik itu tetap tidak terbuka.
Akhirnya ku gendong dia ke dalam kamar yang kemungkinan adalah kamarnya terlihat dari beberapa photo yang tergantung di dinding kamar, lalu aku membaringkannya di tempat tidur, supaya dia relax dan nyaman. Dan benar saja Tari berhenti merintih, aku coba memanggil nya kembali.
"Gantari, buka matamu. Jangan buat aku khawatir!" Perlahan mata itu terbuka. Syukurlah dia sadar. Dia mengedarkan pandangan kesekeliling, mungkin lagi mengingat-ngingat apa yang terjadi. Mata bulat cantik itu menatapku, aku masih mencemaskannya.
"Mas Arga kenapa di sini?" Tanyanya sambil duduk.
Aku di sini itu gak penting, yang penting adalah keadaan dia. Aku hanya bertanya apa yang sakit sampai dia pingsan.
"Ini udah biasa Mas, aku lagi dapet." Jawabnya dengan wajah sedikit memerah. Oaalaaah. . . Ternyata penyakit perempuan.
"Kamu dapat apa?" Tanyaku pura-pura gak ngerti. Rasanya seneng aja gitu becandaiin dia.
"Aku dapet yang lebih dari kamu Mas." Jawabnya jutek.
Aku tertawa mendengar jawabannya, gemesiiiiiiiin. Andai Tari milikku, udah aku cubit-cubit itu pipi.
Aku keluar kamar berniat mengambil air hangat, dulu Kangjeng Mami kalau lagi datang bulan suka ada drama kaya gini, jadi aku sedikit banyak tahu harus gimana.
Ting..
Suara pesan masuk ke ponselku saat sedang menuangkan air panas ke dalam botol bekas, ku ambil ponsel dari saku kiriku.
Kangjeng Mami
GPL.
Sumpah aku pengen ngakak baca pesan yang di kirim ibu-ku. Gini nih korban kumpulan Makemak rempong tuh. Serasa usianya masih muda padahal udah senja. Ehh, kualat loe Bang sama emak sendiri ngatain gitu *ketawa jahat* habisnya Kangjeng Mami ini kadang suka gak inget umur.
Aku kembali kekamar dengan membawa segelas air minum dan sebotol air hangat untuk di tempel di perut Tari. Katanya sih air hangat bisa meredakan nyeri ketika wanita datang bulan.
Aku fikir Tari tinggal sendiri di sini, karena tidak ada tanda-tanda kehidupan dari orang lain di tempat ini. Sesudah meminum obat pereda nyeri, kulihat kondisi Tati berangsur membaik. Mungkin sudah bisa di tinggal, kalau saja di rumah gak ada acara kumpul keluarga, aku mungkin akan semalaman tinggal di tempat Tari. Tapi Kangjeng Mami udah rewel, ponsel dalam saku bergetar terus dari tadi.
Aku pamit dan sedikit mengacak rambut Tari. Dengan bekal senyum indah dari Tari, aku keluar dari Unitnya. Di depan pintu lift aku berpapasan dengan Pak satpam bername tag Ujang Sutisna.
"Saya kira tadi Pak Bagas, ternyata bukan. Sudah dari Neng Tari Pak?" Tanya Bapak Satpam ramah.
"Ahh, iya Pak. Saya rekan kerjanya Bu Tari." Jawabku sambil tersenyum dan masuk lift.
"Mari Pak." Pamitku
Kulihat Pak Satpam tersenyum dan mengangguk, pintu lift pun tertutup membawaku ke lantai dasar.
Pak Bagas? Siapa? Ayahnya atau pacarnya? Dengan satu nama itu saja hatiku sudah kacau.
--
Setengah jam kemudian aku sudah sampai di kediaman Wijaya. Terlihat ada beberapa mobil yang terparkir di halaman depan rumah. Aku memasuki pintu rumah yang telah terbuka, kulihat Papi Wijaya, Bapakku yang masih terlihat gagah di usia senjanya sedang bercengkrama dengan Kia dan Mami Tami. Ibuku, Cintami Atmaja yang sama seperti Papi masih terlihat sangat cantik di usia senjanya.
Ada Evan yang sedang mengelus-elus rambut Winda, dan Ira yang terlihat asik dengan ponsel pintarnya. Diatas meja tersaji berbagai jenis minuman dan nasi tumpeng serta kue berwarna putih dengan hiasan lilin di atasnya. Dengan tulisan Happi Birth Day Abang Arga.
Hah, ini ulang tahun ku? Sumpah aku gak inget. .
"Bang kenapa berdiri di situ?" Itu suara Mami. Aku berjalan ke arah Mami dan Papi, ku cium punggung tangan kedua orang tua yang sudah membesarkanku dengan tulus.
Mami memelukku, "Selamat ulang tahun, Bang." Ucap Mami seraya memanjakan segala do'a terbaik untukku. Mami tersenyum melepas ku dari pelukannya, mengusap mata yang sedikit basah dengan tangan lentiknya.
Aku berbalik ke arah Papi, Papi memeluk ku singkat "Kamu akan selalu menjadi kebanggaan Papi." Ucap Papi dengan mata berkaca-kaca.
Begitu pun dengan Evan, dia memeluk ku.
"Selamat Bang, umur udah tua cepet kewong. Ntar kalo udah bangkotan susah bikin anak Bang." Ucapnya sambil menaik turunkan alisnya dengan wajah tengil. Ya ampun ni anak bibirnya lemes banget, untung cakep hahaha. . Yang tadinya suasana haru biru malah jadi riweh pada ketawa. Dasar Evan. .
Dan Ira hanya tersenyum, menyodorkan tangan sambil berucap "Selamat ulang tahun, Ga." Tidak ada pelukan, tidak ada cipika cipiki. Cuman gitu doang. Ini maksudnya masih lanjut marah gara-gara gak di beliin tas seharga mobil itu? Loh, padahal udah mau 2 minggu kirain udah lupa.
"Makasih, Ra." Ucapku sambil tersenyum dan melepaskan tangannya
"Mama sama Papa kamu gak kesini? Tanyaku
"Tadi titip salam, Mama sama Papa lagi di Jakarta." Jawabnya singkat dan kembali dengan dunianya bermain ponsel.
Aku melirik Evan, dia hanya mengedikkan bahu.
"Ayo kita photo dulu, buat update sory." Ucapan Evan berhasil mencairkan suasana.
Kami mengambil beberapa photo, aku sengaja duduk di samping Mami, tangan kananku memeluk Mami dengan Ira di sampingku memeluk lengan kiriku.
"Papa Aga Kia mau tiup lilinnya." Rengek bocah kecil imut itu berjalan ke arahku.
"Ayo sini, sayang. Temenin Papa Arga berdo'a ya." Ucapku sambil mengangkat Kia ke pangkuanku. Ku pejamkan mataku saya melafalkan do'a dalam hati.
"Terima kasih Ya Allah, aku satu tahun lebih tua hari ini. Tidak banyak orang yang memahami hal ini, tetapi kalau aku ingin menjadi tua dan dewasa, ya aku harus hidup terlebih dahulu dan aku sudah melakukan hal itu hingga detik ini!
Selalu menjadi kehormatan saat melihat ke cermin setiap pagi dan bertemu seseorang yang luar biasa seperti diriku, rasanya tidak mudah namun harus tetap bersyukur! Yupss, inilah penghargaan tertinggi untuk diriku sendiri sudah mencapai titik ini.
Yeaaayy, happy birthday to me, myself and I ?? I hope may God bless me? selamat ulang tahun untuk orang yang luar biasa ini." Aku membuka mataku kembali, kubiarka Kia meniup lilin dan memotong kue ulang tahunku.
"Udah gue posting." Ucap Evan dengan senyum jahilnya.
Ku lihat Ira selama acara duduk dengan tidak nyaman. Sebentar sebentar buka ponsel, entah apa yang terjadi tapi aku tidak mau ambil pusing.
Pukul 10 malam, Kia sudah rewel. Dan akhirnya evan duluan memboyong pulang anak dan istri tercintanya.
"Kamu mau pulang apa nginep di sini Bang? Tanya Mami
"Abang pulang aja Mih, sekalian anterin Ira pulang." Jawabku sambil melirik Ira
"Gak usah Ga, aku bawa mobil sendiri." Tolaknya
"Oh. . Ya udah aku langsung pulang aja Mih." Pamitku memeluk Mami dan Papi
"Sayang, kamu hati-hati ya.." Ucap Mami sambil memeluk Ira
"Iya Mih, Ira pamit ya.." Ira berlalu tanpa Basa-basi dengan ku. Aku mengekori nya di belakang
"Ra. . . Ira" panggilku. Ira berbalik kearahku.
"Kenapa Ga?" Tanyanya dengan wajah judes.
"Kamu ngobrol apa sama Mami?" Tanyaku to the point soalnya Ira biasanya suka ngadu-ngadu.
"Gak ngobrol apa-apa, aku pulang duluan." Pamitnya masuk kedalam mobil, dan berlalu keluar dari halaman rumah orang tuaku
"Huhhh, sampai kapan harus seperti ini." Batinku
Aku mengecek ponselku, Takut-takut Tari menghubungi ku. Namun tak ada pesan atau panggilan dari Tari. Mungkin dia sudah tidur
Akhirnya kuputuskan untuk pulang, karena sudah beberapa tahun aku tidak tinggal di rumah orang tuaku. Aku sengaja membangun rumah yang masih satu area dengan hotel. Karena memang aku selalu ingin dimanjakan dengan pemandangan alam khas Lembang yang sejuk dan hijau. Aku membangun rumah tiga lantai dengan view menghadap ke area Taman Hutan Raya Bandung, dan penampakan Gunung Tangkuban Perahu yang terlihat dari lantai atas pun menjadi pemanis ketika aku bersantai menikmati secangkir Teh hangat di balkon kamarku.
Dan berharap Tari yang akan menemaniku menikmati karya ciptaan Tuhan ini.
--
Happy reading Manteman