Dira Anastasya
Di dalam keluarga dan di lingkaran pertemanan, aku biasa di sapa akrab Ira. Aku terlahir dari keluarga kelas atas, Ayahku seorang petinggi di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang minyak bumi sementara ibuku adalah anak dari salah satu pengusaha terkaya di kota Bandung.
Ibuku berdarah Sunda-Manado, sementara ayah keturunan Tionghoa. Tak heran jika aku mewarisi paras cantik, kulit seputih s**u, hidung mancung dan mata bulat indah berwarna hitam pekat, dengan tubuh semampai berpinggang ramping, berkaki jenjang. Karena sudah tidak di ragukan lagi, wanita asal kota Tinutuan dan wanita keturunan Parahyangan sudah sejak jaman dulu terkenal dengan gadis cantiknya. Sementara kulit putihku, aku mewarisinya dari Ayahku yang keturunan Tionghoa.
Aku merupakan anak semata wayang dari pasangan Mama Ranty Utami dan Papa Sudjono Salim. Karena dulu Ibuku mempunyai masalah dengan rahim yang mengakibatkan beliau tidak akan bisa mengandung kembali, jadinya sekarang aku harus puas dengan tanpa seodara yang menemaniku.
Ayahku, Papa Sudjono Salim menempati peringkat ke 10 orang terkaya di Indonesia. Sementara Ibuku masih kerabat jauh Mami Tami ibu angkatnya Arga, tunanganku.
Tak heran aku tumbuh menjadi wanita manja, sedari kecil aku tidak pernah mengalami masa sulit. Kecuali ketika selesai kuliah aku sempat berpacaran dengan seorang laki-laki yang berprofesi sebagai pengisi suara di sebuah kafe. Saat itulah masa sulit yang aku pernah rasakan, karena orang tua ku sangat-sangat tidak setuju hubunganku dengannya.
"Mama tidak mau kamu berhubungan dengan laki-laki yang tidak setara dengan kita." Ultimatum Mamaku waktu itu.
Dulu, aku sempat mempertahankan hubungan asmaraku dengan nya, karena aku mencintainya. Waktu itu aku menentang keputusan orang tua ku untuk meninggalkannya. Dengan tegas aku menolaknya, dan beberapa minggu aku minggat dari rumah, dengan tidak membawa apa-apa kecuali dompet. Di catat, saat itu Ibuku tidak mencariku, dan semua kartu kredit serta ATM yang aku pegang blokir oleh beliau.
Orang Tua ku adalah tipe orang tua kejam pada semua keputusan yang tidak dikehendaki oleh mereka. Contoh kecil, aku harus bersekolah di tempat yang sudah mereka tentukan, kalau aku ngeyel gak mau, yakin ibunda dan ayahanda tidak akan membiayai pendidikan ku.
Namun mereka sangat menyayangiku, dibuktikan dengan segala fasilitas yang mereka berikan dan semua kemauanku dari segi materi mereka turuti. Rahasianya cuman satu, karena aku selalu jadi anak baik dengan menuruti semua keinginan mereka. Padahal keinginan semua anak sama, tidak hanya cukup dengan di kasih materi dan kasih sayang saja. Namun semua anak juga ingin didengar pendapat serta keinginannya. Makanya tidak heran, sekarang aku tumbuh menjadi wanita yang egois karena meniru cara kedua orang tuaku.
Sampai sekarang aku masih mengingatnya saat pergi dari rumah aku tinggal di kostan nya Ragil, pacarku. Kita hidup seadanya, benar-benar seadanya. Makan hanya dengan nasi bungkus yang di bawa Ragil sepulang manggung. Awalnya aku pikir enggak apa-apa gak punya uang, yang penting cinta. Tapi ternyata konsep kehidupan enggak seperti gitu, enggak sesederhana yang aku fikirkan. Aku terbiasa hidup mewah, dengan segala sesuatu orang lain yang kerjakan. Aku hanya ongkang-ongkang kaki, apa-apa tinggal tunjuk. Dengan kondisi yang seperti ini aku hanya bisa bertahan selama tiga minggu. Ragil tidak sanggup membiayai semua kebutuhanku, pendapatan Ragil aja masih kalah jauh dari harga skincare yang ku pake. Piyyuuuuuh. . .
Akhirnya aku memutuskan pulang ke rumah, saat itu juga Ayahku mengirimku ke Negri Sakura, belajar bisnis dengan kolega ayahku. Siasat orang tua ku untuk memutus hubungan asmara ku dengan Ragil.
***
Dua tahun berlalu, aku pulang ke Indonesia. Aku ingat percakapanku dengan Mama sesaat setelah kepulanganku ke tanah air.
"Sayang, sekarang kamu harus dengerin Mama." Ucap Mamaku yang masih terlihat cantik nan modis di usianya yang sudah tak muda lagi.
"Kamu harus setuju Dengan pertunangan yang Mama atur untuk kamu. Arga adalah anak pertama Keluarga Wijaya, kalau kamu menikah dengan dia kamu gak bakal belangsak." Lanjutnya. Ahh, Arga. Yaa aku tahu. Itu anaknya Tante Tami sodara Mama, kami sering ketemu saat ada acara keluarga.
Aku masih diam. Mama menggenggam tanganku, "Sekarang nama Arga sudah ada dalam jajaran direksi di perusahaan papanya, anaknya juga ganteng. Yang paling penting dia baik." Aku menghela nafas, dan memalingkan muka. Iya Arga ganteng, baik, kaya, mapan ahh pokoknya model mantu idaman buat Mama tapi aku gak suka Arga. Aku masih mencintai Ragil.
Tapi Ragil selama dua tahun ini dia tidak pernah menghubungiku. Aku awal-awal tinggal di Jepang sempat mencari tahu info tentang dia tapi Nihil, Ragil hilang bagai di telan bumi. "Mungkin dia sudah mempunyai pendamping hidup dan telah melupakanku." Batinku
Dengan segala pertimbangan dan tentu saja dengan mengesampingkan perasaanku, aku menyetujui kemauan orang tuaku bertunangan dengan Arga.
"Baiklah, Ira ikuti pengaturan Mama sama Papa saja." Ucapku lelah.
"Anak baik, besok malem gak usah kemana-mana. Mama sudah undang keluarga Tante Tami." Lah, ini maksudnya dari kemarin ibu-ibu kece ini udah bahas perjodohan ku sama Arga? Terus ngapain sekarang minta persetujuan aku lagi? Sekalian aja langsung dateng seserahan tanpa aku tahu apa-apa, biar aku nangis kejer aja sekalian di tengah-tengah acara. Uhhhh..
***
Dan disitu lah aku malam itu, di taman belakang rumahku yang sudah di sulap cantik sedemikian rupa dengan pernak-pernik serta lampu-lampu kecil dimana-mana sama Event Organizer punyanya Tante Maria, teman sosialita Mama.
Aku menghampiri keluarga Tante Tami, yang sekarang mengenakan seragam keluarga batik bermotif mega mendung khas Indonesia dengan warna dasar merah muda, cantik banget.
"Selamat malam Tante, Om." Sapaku.
"Duhhh, Gusti gelis pisan Neng." Puji Tante Tami (ya Tuhan, cantik sekali). Aku menyalami Tante Tami dan Om Wijaya.
"Terima kasih, Tante."
"Ayo sini duduk, Arga masih di jalan." Ucap Tante Tami. Dan benar, disini hanya terlihat Evan sama istri cantiknya. Si Evan ini udah seperti musuh bebuyutanku, karena dulu selama satu tahun aku pernah satu SMA sama dia. Walaupun dia di sekolah termasuk anak nakal, namun kalah jauh dengan kenakalanku. Aku selalu bikin dia masuk BP dengan kelicikanku.
Aku tersenyum dan duduk di samping Tante Tami. Tante Tami tanya ini itu, dari mulai kabar, kehidupanku selama di Negri Sakura, sampai ngobrol tentang tas baru luncuran perusahaan asal Paris yang selalu menjadi favorit fashionista kelas atas. Obrolanku sama Tante Tami makin seru, mengingat hobi kita yang sama, shopping berburu barang branded. Semua rumah mode keluaran Kota cinta sejuta umat, kota mode yang telah melahirkan sederet label branded dan terus mempertahankan eksistensi nya selama puluhan bahkan ratusan tahun menjadi topik obrolan kita. Gpp deh aku gak cinta sama anaknya juga, yang penting sama Ibu mertua se-frekuensi. Biar nanti aku aman pas beli ini itu.
"Ehh, si Abang kok belum nyampe juga ya Dek?" Tanya Tante Tami sama Evan, yang ditanya malah mengedikkan bahu tanda tak tahu.
"Coba telp, takut ada apa-apa di jalan." Perintahnya.
"Itu Abang Mih." Tunjuk Evan ke arah pintu belakang rumahku, Arga berjalan menghampiri kami. Malam ini sosok ganteng itu belum sampai menyentuh hatiku, tapi enggak masalah yang penting dia bisa memenuhi semua keinginanku.
"Kenapa baru sampai Bang?" Itu suara Om wijaya, yang dari tadi kita ngobrol ngalor ngidul beliau tidak berkomentar apa-apa hanya sesekali tersenyum sekilas dan setelah itu kembali ke ponsel di tangannya.
"Di hotel ada urusan bentar Pih, Irma Manager keuangan ngedadak resign. Ada masalah sama kehamilannya." Jawab Arga. Beberapa tahun gak ketemu, Arga tetep Arga yang sama dengan ketampananny. Sejenak aku terdiam gugup mendengar suara beratnya, ternyata suara maskulin itu sedikit banyak sekarang telah menyentuh sisi lain dari hatiku.
"Sekarang belum ada yang isi posisi Manager Keuangan?" Tanya Tante Tami.
"Ya belum mih, baru hari ini Irma ngajuin surat resignnya."
"Ehh, sayang kamu belum dapet kerja kan?" Tanya Tante Tami menatapku, aku sedikit kikuk karena semua orang menatapku.
"Eump, belum Tante. Kan baru kemarin sampe Bandung." Jawabku bingung.
"Ya udah Bang, Ira aja yang isi posisi Manager keuangan. Ngirit-ngirit biaya rekrutmen." Usul Tante Tami.
Mataku bersirobak dengan mata kelamnya Arga, detak jantungku berpacu lebih cepat. Aku mengalihkan pandanganku, jantungku bermasalah gak sanggup lama-lama bersitatap dengan Arga. Ternyata lama tak bersapa dengannya, pesona Arga mampu menarik hatiku. Aku yakin sekarang Arga sedikit banyak sudah masuk mendiami singgasana hatiku. Tak sia-sia aku menyetujui perjodohan yang di atur Mamaku, kalau laki-laki nya modelan sempurna kaya Arga. Aku tersenyum dalam diamku.
"Kenapa sayang? Jadi kamu setuju kerja di hotel Arga?" Tanya Mama ku. Loh, siapa yang kerja di hotel Arga? Aku?
"Giman Mah?" Tanyaku memastikan.
"Iya tadi kata Tante Tami gimana kalau kamu ambil posisi Manager keuangan yang sekarang kosong. Dan Arga gak keberatan." Jelas Mama ku. Oalahhh, aku belum konek dengan pembicaraan kerjaan karena terganggu pesona Arga.
"Iya Tante aku bisa kerja sama Arga kok." Jawabku, Tante Tami tersenyum lalu memeluku dari pinggir. Ku lihat dari ujung mataku Arga memalingkan muka.
"Kita mulai saja ya, mengingat waktu sudah malam." Sela Papaku, semua diam mendengarkan. "Mas, Mbak sesuai dengan kesepakatan kita dari awal, ini waktu yang pas Arga sama Ira melangsungkan pertunangan. Supaya Mas Wijaya juga bisa tenang dengan posisi Arga di perusahaan, karena sudah ada dukungan penuh dari saya." Lanjut Papa ku. Ternyata perjodohan bisnis batinku.
"Kebetulan anak kami sudah setuju." Jawab Om Wijaya sembari melirik anaknya, Arga.
"Gimana dengan Ira?" Lanjutnya bertanya dengan ramah kepadaku.
"Euhhh, aku..." Ku lirik Mama ku karena gugup. Om Wijaya ini walaupun kalem tapi entah kenapa tatapannya selalu mengintimidasi, buatku gugup.
"Ira juga sudah setuju, Mas." Mama mewakiliku menjawab.
"Kemarin Ira sudah sepakat untuk bertunangan dulu sama Arga." Lanjut Mamaku sambil tersenyum menatapku. Yang aku tahu senyuman itu adalah senyuman penekanan, yang berarti aku sudah tidak bisa membantah lagi.
"Syukur kalau dua-duanya sudah setuju." Ucap Tante Tami "Bang, ayo berdiri. Pasang cincinnya." Perintahnya sambil menyodorka kotak cincin ke hadapan Arga, Arga menerimanya.
Aku berdiri dari duduku, dan Arga berjalan ke arahku dengan membawa kotak beludru berwarna merah ati di tangannya. Ku tatap Arga yang sekarang ada di depanku, wajahnya datar. Sama sekali tidak ada senyum.
"Mana tangannya." Ucapnya pelan.
Ku ulurkan tangan kiriku, Arga menyambut tanganku. Tangannya hangat, pertama kali kulitku bersentuhan dengannya, tubuhku seperti tersengat aliran listrik dan di dalam hatiku terasa seperti ada ribuan kupu-kupu berterbangan sampai perut.
Arga membuka kotak merah itu dan mengeluarkan cincin putih bertahta berlian, lalu memasangkannya di jari manisku.
Arga melepaskan tanganku, tanpa berkata apa-apa Arga berbalik lalu berjalan ke tempat duduknya semula.
Aku memperhatikan punggungnya, mulai dari detik itu aku bertekad untuk mendekati Arga dan mendapatkan hatinya.
Acara pertunanganku yang sederhana itu, hanya di hadiri keluarga besar Mama dan Papa serta keluarga ini Tante Tami dan Om Wijaya. Itu terjadi sudah 4 tahun yang lalu. Selama 4 tahun aku bertunangan dengannya, apapun yang aku inginkan, apapun yang aku minta Arga selalu kasih.
Di hatiku, entah itu cinta entah itu karena sikap Arga yang selalu menurutiku, tapi yang pasti aku enggak mau kehilangan Arga. Aku enggak ingin wanita lain merebutnya dariku.
Prinsipku, entah berhubungan dengan siapapun aku akan selalu menjadi wanita egois. Aku yang akan mengendalikan pasanganku. Walaupun sekarang cintaku yang lama hilang kembali singgah lagi, aku akan tetap mempertahankan Arga. Aku bisa menemui Ragil di belakang Arga.
***
Bersambung..