Arganta Ragnala
Jam pagi di akhir pekan seperti ini adalah waktu tersibuk buat kami para pengelola hotel, apa lagi buat anak-anak di bagian dapur. Di akhir pekan tamu hotel biasanya akan naik 4 kali lipat dari hari-hari biasanya, itu membuat para Koki dan Waiters kewalahan. Itulah mengapa aku selalu stay di resto tiap weekand seperti ini, bantu ngelist pesanan atau bahkan anterin pesanan ke meja tamu, karena di hotel ku tidak menggunakan parasmanan tapi dengan pesanan. Walaupun aku sebagai seorang pewaris sekaligus pemilik Hotel, namun aku tidak pernah membuat bawahan ku merasa terdiskriminasi oleh pekerjaan mereka. Kalau sekiranya aku sanggup dan juga ada waktu senggang, kenapa engga aku bantu mereka. Iya kan? Makanya di sini sudah beberapa tahun ini aku menjadi figur yang di senangi sekaligus di segani oleh para karyawanku, terutama karyawan wanita. Haha….
Seperti di hari minggu pagi ini, banyaknya tamu yang sedang menginap di tambah dengan karyawan baru Bank Artha Tama yang sudah checkin kemarin sore, dengan agenda opening training di siang hari ini. Membuat semua karyawanku kewalahan dengan bermacam-macam drama. Walaupun pagi ini cuaca Lembang dingin dan masih setia dengan kabut tebalnya, namun dari jam 5 pagi aku sudah stay di kafe Hotelku. Biasanya selesai dengan urusan dapur dipagi hari, nanti di jam-jam rawan hari libur seperti sekarang kira-kira sekitar jam 8 sampai jam 10 New Shapire bakal kedatangan rombongan Out Bound dan Komunitas Golf. Karena memang Hotelku menyediakan Fasilitas Water Boom, Out Bound dan Juga Lapang Golf.
Di tengah kesibukanku ngelist semua pesanan tamu, aku celingukan mencari keberadaan Ira. Karena minggu lalu sudah ada pemberitahuan untuk minggu ini semua karyawan yang masuk shift pagi harus sudah ada di hotel pada jam 5 pagi, termasuk Ira dan aku. Sekarang sudah jam 7 lebih, namun batang hidungnya pun masih tak terlihat.
“Gi, Bu Ira belum datang?” Tanyaku Pada Yogi, salah satu Waiters New Shapire.
“Sepertinya belum, Pak.” Jawabnya.
“Coba kamu hubungi deh.” Perintah ku.
“Baik, Pak.” Jawabnya seraya menghubungkan sambungan telpon kabel hotel dengan Ira.
“Pak, maaf. Tidak ada jawaban dari Bu Ira.” Ucap Yogi di tengah kesibukanku ngelist pesanan yang akan masuk dapur.
“Oh, gpp. Makasih Gi.” Ucapku tersenyum kepadanya, “Kemana Ira? Biasanya dia orangnya on time.” Barinku.
“Bang..” Sapa seseorang di depan meja. Kulihat adikku dengan cengiran tengilnya. Pagi ini dia mengenakan Outfit setengan santai, Atasan kemeja bermotif kotak-kotak dipadukan dengan celana jeans belel beserta sepatu kets berlogo centang dengan harga yang lumayan mahal.
“Pagi-pagi udah mau tebar pesona sama anak baru, heh?” Tanya ku sarkas, mataku memindai penampilannya dari kepala sampai ujung kaki.
“Yaelah, Bang. Sama Ade sendiri gak ada sayang-sanyangnya.” Udah mulai pake acara drama. Aku celingukan melihat sekeliling, kali aja ada Tari. Ehh, kan Tari kemarin malam sakit yaa. Lupa..
“Nyari siapa, Bang? Manusia berhati peri apa nyari si Nenek Lampir?” Tanya Evan yang ikut nengokan keplanya ke sekitar kafe.
“Si Tari enggak bareng Loe, Van?” Tanyaku blak-blakan.
“Hari ini Gue yang gantiin tuh anak. Tadi pagi dia nelpon katanya sakit sih, dan hari ini mau periksa ke Dokter.” Jawab Evan.
“Emang kemarin Loe dia apain Bang sampe sakit gitu?” Lanjut Evan bertanya dengan tampang ngeresnya. Aku menggaruk-garuk telingaku yang tak gatal.
“Gak Gue apa-apain kali Van. Anak gadis orang takut lecet-lecet.” Jawabku ngeles, aku tersenyum mengingat kejadian sore kemarin di dalam mobilku, ehhh..
“bentar gue telpon dia dulu deh, soalnya kemarin udah janji mau ke tempat dia lagi.” Lanjutku.
“Ya udah, gue balik kamar dulu deh, Bang.” Pamit Evan. Aku menangguk, tanpa mengatakan apa-apa lagi dia meninggalkan resto hotel naik ke lantai empat.
Setelah kepergian adikku, aku kembali keruanganku. Bisa-bisanya aku melupakan janjiku sama Tari, buat nengok keadaan Tari ke apartemennya pagi ini.
Setelah mendudukan tubuh di atas sofa di dalam ruanganku, aku membuka room chat w******p. Jariku mengetikan nama Gantari di Kontak. Ku panggil nomor Tari, dan tersambung. Sambil menunggu kulihat jam di mejaku, pukul 08.15. Sudah beberapa kali nada tunggu terdengar, namun dia belum mengangkat panggilanku, “Hmm.. Mungkinkah dia masih tidur?” Pikirku
“Hallo, Mas.” Jawaban Tari di ujung telpon dengan suara lembutnya.
“Gimana keadaan kamu sekarang?” To the point aku langsung bertanya keadaannya, karena jujur saja aku masih sedikit khawatir dengan keadaanya sekarang.
“Sekarang aku baikan Mas, cuman enggak bisa hadir aja di acara opening. Spalnya masih lemes juga.” Jawabnya yang sedikit terdengar kecewa.
“Tadi udah di gantiin sama Evan, barusan ketemu di Hotel.” Ucapku.
“Kamu udah makan belum? Aku ke apartemen kamu ya?” Tanyaku basa-basi. Padahan aku udah niat mau ke tempat Tari.
“Mas Arga lagi enggak sibuk gitu?” Tanyanya.
“Kebetulan di Hotel udah pada beres.” Bohong, Padahal di sini tamu lagi banyak-banyaknya. Tapi demi Tari aku bakal absen dulu buat hari ini, kan Ada karyawan yang lain. Ngapain aku mempekerjakan mereka kalau pada enggak kerja? Iya kan?
“Kamu mau di bawain makanan apa?” Lanjutku bertanya.
“Apa aja, Mas. Ehh, makasih loh sebelumny.” Ucapnya. Duhh, adem banget sih dengernya. Ini perempuan belum di kasih aja udah bilang terima kasih. Padahal cuman sarapan bukan barang-barang mahal. Kalau Ira boro-boro bilang makasih, paling banter ya “Ga, barangnya udah samapai” atau “Ga, aku cek transferannya udah masuk.” Udah gitu aja, iya cuman gitu doang.
“Aku berangkat sekarang, telponnya aku tutup ya..” Ucapku.
“Iya, Mas.” Jawab Tari. Aku mengakhiri panggilan telpon dengannya. Kemudian menyimpan kempali ponsel yang barusan dipake untuk menelpon Tarik e dalam saku celana.
Setelah memeutus sambungan telpon, aku keluar dari ruanganku, “Di, hari ini saya enggak stay di kantor, ada sedikit urusan di luar. Kalau ada apa-apa hubungi saya.” Perintahku pada Diana, Sekretarisku.
“Baik, Pak.” Jawab Diana dengan tersenyum ramah.
Aku meninggalkanya yang masih berdiri mengantar kepergianku berjalan menuju lift yang akan membawaku ke lobby Hotel.
“Empp. . sepertinya lebih baik aku bawa makanan dari sini saja. Soalnya kan kalau makanan dari sini semua bahannya sudah terjamin, beda dengan buatan orang lain komposisinya pasti enggak tahu, mungkin pake pewarna atau bahkan mengandung pengawet. Engak bagus juga kan buat orang sakit.” Pikirku. Akhirnya aku memutuskan akan mampir ke dapur hotel dulu, membawa makanan yang sekiranya akan dimakan sama Tari.
Namun sebelum masuk ke kotak besi di depanku, ponsel di saku kiriku bergetar tanda pesan masuk, yang ternyata dari Ira.
Dira Anastasya
Aku ke Jepang
Ambil penerbangan siang.
Untuk 3 minggu ke depan aku cuti.
Ira kelakuannya makin seenak udelnya sendiri, pengajuan cuti itu minimal 2 hari menunggu di approve HRD, baru ada keputusan. Lah ini udah jam 9 baru kasih kabar ehhhh via pesan singkat lagi. Kalau karyawan lain udah aku suruh gak usah datang lagi ke Hotel. Aku memasukan kembali ponselku ke dalam saku. “Sudahlah, gak usah di bales. Terserah dia mau ngapain!” Batinku.
**
Satu jam perjalanan aku lewati dengan drama kemacetan jalan raya Ibu kotanya Jawa Barat ini. Bising dari knalpot kendaraan, panas terik matahari dan debu jalanan serta para pencari nafkah di tiap lampu merah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dari jalanan lingkar kota yang aku lewati. Itulah kenapa aku memilih tinggal di kawasan Lembang, di samping dekat dengan tempat kerja namun Lembang juga memiliki kualitas udara yang bagus, jauh dari kebisingan dan hingar bingar kota seperti itu.
Aku memasukkan kuda besiku ke basement apartemen Tari, keluar dari mobil ku lanjutkan langkahku menuju lift yang akan membawaku ke lantai 29 tempat Gantari tinggal.
Sampai di lantai 29, ku tekan bel di depan pintu Unitnya. Berharap sang pemilik hunian mengetahui ada orang yang datang bertamu.
Bip. .
Suara pintu terbuka.
Diambang pintu munculah Tari dengan muka bantalnya, dengan hanya mengenakan kaos berlengan pendek dipadukan dengan celana training berwarna abu, “duhhh belum mandi aja nih anak masih aja cantik.” Batinku.
“Ayo. .silahkan masuk, Mas.” Ajaknya mempersilahkan masuk.
“Oh iya, taruh aja sepatunya di dalam lemari.” Lanjutnya, jari telunjuknya menunjuk lemari sepatu yang ada di sebelah pintu masuk.
“Ahh, Iya. Makasih, Ri.” Kulihat Tari tersenyum sebelum berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menungguku. “Kok aku gugup gini ya?”
Ku lihat dia berjalan ke arah Pantry, aku mengikutinya ke dapur. “Ini aku bawa makanan dari Hotel.” Ucapku sambil menyimpan kantong kertas berisi makanan yang tadi disiapin sama anak-anak dapur Hotel.
“Wiiih, banyak amat Mas temen nasinya.” Candanya. Dia mengeluarkan semua kotak makanan dari kantong kertas.
“Biar kamunya cepet sehat.” Godaku, yang di goda malah tersenyum memalingkan wajah.
“Bentar aku siapin dulu piring, rezeki anak soleh yaa gini pagi-pagi dapet lauk banyak banget.” Ucapnya bermonolog sambal mencari-cari peralatan makan di lemari atas dapurnya. Aku tersenyum melihat tingkah laku Tari, mungkin nanti kalau aku menikahinya ini adalah pemandangan yang akan terjadi setiap hari. Ehh, apaan sihh Ga?
“Mas beneran aku bingung deh, ini ada bubur ayam sama nasi goreng. Terus aku makannya yang mana dulu?” tanyanya dengan tangan masih memilah-milah bungkusan makanan “Ini juga, ayam goreng, telur rebus, Udang asam manis, rendang. Terus ini roti bakar, cake, surabi, bandros Bandung duhhhh Mas Arga kenapa gak bawa sama gerobaknya aja sih sekalian.” Haha sumpah aku tertawa mendengar ucapan Tari.
“Yaa kan aku gak tau kamu sukanya apa, jadi aku bawa aja semua yang ada di Hotel. Suruh anak-anak bungkusin. Kalau enggak kemakan sekarang ya kamu simpen aja buat nanti siang, tinggal dipanasin aja.” Jawabku yang masih dibarengi tawa, baru kali ini aku tertawa tanpa beban.
“Dan sebelum ke sini aku udah makan di hotel.” Lanjutku. Aku menarik kursi lalu duduk di atasnya.
“Gimana sih Mas bawa makanan banyak tapi Mas nya malah udah makan. Yaa udah lah aku makan nasi goreng tambah udang aja. Lagi rindu sama udang asam manis.” Ucapnya, lalu mengambil dua kotak makanan.
“Terus sama akunya gak kangen gitu?” Godaku. Ehhh, ngomong-ngomong kenapa aku sekarang jadi cowok picisan gini sih..? kelakuan si Evan kayaknya nular sama aku. *tepok jidat*
“Ihh, Mas Arga gejeee! Udah ahh aku makan dulu.” Entah kenapa segala tentang Gantari terasa menarik buat ku.
“Tuh kan jadi lupa, Mas Arga mau kopi apa teh? Biar aku buatin.” Tawarnya.
“Kamu makan dulu aja, nanti kamu selesai makan baru bikini aku minum.” Jawabku, Tari tersenyum lalu mengangguk. Selesai berdoa Tari makan dengan tenang, aku sudah pernah bilang kan kalau Tari ini bukan tipe wanita yang menye-menye kalau makan? Sekarang pun sama Tari makan dengan lahapnya, aku menunggunya makan sampai nasi di piringnya tandas tak bersisa. Jujur aku sangat senang ketika makanan yang aku bawa di habiskan, itu tandanya orang yang aku kasih menghargai pemberianku.
Sambil menunggunya makan, aku membukan ponselku berselancar di dunia maya. Melihat postingan-postingan dari yang menarik sampai yang geje. Ada postingannya Ira juga lewat di berandaku.
Dirasya12
Sukarno-Hatta International Airport
Disukai oleh Masayu dan 56 lainnya
Dirasya12 Dari jendela kecil ini aku bersyukur bisa bersamamu.
Masayu Woiii Honey Moon gak ajak2
DewanggaBaratha @Ragta17 Kapan di halalinnya bro, udah honeymoon ajee?
1 jam yang lalu
Aku membaca di kolom komentarnya akun Ira, aku heran sebenernya Ira ke Jepang sama siapa? Kalau bareng sama geng sosialitanya kenapa si Ayu temen satu gengnya Ira enggak ikut?
“Kenapa, Mas? Ada masalah?” Tanya Tari, aku menutup akun IG ku.
“Ahh, gak ada yang penting ini cuman baca komennya orang. kamu udah makannya?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan, aku takut Tari tau kalau aku punya tunangan. Untuk sekarang biarlah berjalan seperti ini saja, aku nyaman dengan keberadaan Tari di sisiku. Untuk nanti, apapun yang terjadi aku akan mengambil semua resikonya.
“Udah Mas. Mau pindah ke ruang tamu apa ke balkon?” Tanya Tari. Kalau jam segini pasti di luar cuaca panas, mending cari aman aja.
“Ke ruang tamu aja, itu makanan manisnya sini aku yang bawa.” Ucapku mengambil piring cemilan di tanggannya.
“Biar mereka enggak pada iri, habisnya kamu lebih manis dari mereka.” Bisik ku di telinganya. Yaa ampuun, ini bibir kenapa malah jadi lemes ketularan Evan sih.. Aku tertawa dan berjalan cepat menghindari pukulan manjanya Tari.
Aku duduk di sofa, di belakangku Tari berjalan membawa dua gelas minuman berwarna orange.
“Gpp minumnya juice?” Tanyanya dengan meletakan minuman di atas meja.
“Apa aja aku minum, asal jangan kasih minum racun aja. Entar aku belum nikahin kamu malah udah mati duluan.” Yaelahhhhh Argantaaaa, beneran ini mah fix aku udah ketularan Evan Wijaya .
“Ihh, Mas Arga apaan sih.” Dia salah tingkah pemirsa-pemirsa, terlanjur basah ya udah aku pepet terus. Kali aja nasib baik lagi bersamaku hari ini, karena sebenarnya aku berniat mengajaknya berkencan secara diam-diam.
Entah karena cinta atau hanya sekedar rasa suka, namun yang pasti aku sangat tertarik dengannya. Ada dorongan yang sangat kuat dalam hatiku untuk menjadikannya sebagai teman kencanku.
***
To be continue..