Ragnala 2

1331 Kata
Author pov Satu bulan kemudian, cedera Arga sembuh total tapi tetap bocah kecil yang selalu memanggil dirinya Arga itu tidak mengingat siapa Orang tua ataupun keluarganya. Juga tidak ada titik terang dari identitas bocah laki-laki yang memiliki paras di atas ukuran rata-rata anak laki-laki pada umumnya dengan mata hitam jernih serta kulit putih hanya ada satu tanda hitam di punggung sebelah kiri –hanya itu satu-satunya petunjuk yang di tertinggal dalam diri Arga-, dan wajar saja itu menyulitkan semua pihak untuk mengetahui siapa orang tua kandung Arga. Akhirnya dengan kesepakatan bersama dengan semua pihak yang terkait, Arga secara sah telah di adopsi oleh keluarga Wijaya yang kebetulan baru di karuniai seorang anak berusia usia 4 tahun dalam pernikahan mereka.  Pasangan suami istri itu memperlakukan Arga dengan sangat baik, mereka memperlakukan Arga sama seperti memperlakukan anak kandung mereka sendiri. Tidak ada sekat antara Arga dengan anak kandungnya, Evan Wijaya. kini tersematlah nama warisan dari orang tua angkatny, Arganta Ragnala yang berarti -Laki-laki berkedudukan tinggi yang penuh kasih sayang-. Karena Arga diasuh di bawah kasih sayang keluarga Wijaya, sehingga tumbuh menjadi laki-laki yang bijaksana, dewasa, serta hormat kepada siapapun dan yang paling utama Arga tumbuh menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Dua puluh lima tahun berlalu begitu cepat, Arga mengingat semua kasih sayang yang diberikan oleh orang tua angkatnya. Tanpa mereka, mungkin Arga tidak akan sehebat sekarang. Tanpa mereka, mungkin Arga tidak akan tahu jalan mana yang akan dia tempuh. Tumbuh dalam keluarga yang mempunyai segalanya, tidak membuat Arga lupa diri akan dirinya berasal dari mana. Yang pasti tak seharusnya air s**u di balas air tuba, sampai kapanpun Arga akan berbakti kepada orang tuanya. Arganta Ragnala Lembang, 2018. Dira Anatasya Ga, transfer ke nomor rekening aku. Sekarang! Me Buat apa? Dira Anatasya Aku kehabisan uang. Pokoknya gak mau tau, harus ada. Aku malu sama temen-temen. Cepetan, Ga! Aku mengusap wajah kasar membaca chat yang di kirim Ira sore ini, namun walaupun kesal dengan Ira yang selalu seenaknya sendiri aku keluar dari room chat dan tetap masuk ke aplikasi Mobile Banking terpercaya keluargaku. Mengetikan 8 digit angka dan mengirimkannya ke nomor rekening Ira. Dira anatasya Loh, Ga. Kok cuman 40 jeti sihh? Kurang. “cik…” Bibirku berdecak kesal. Aku bosan dengan tingkah Ira, bukannya berterima kasih ini malah enggak nerima dan masih minta lagi, padahal udah untung aku kasih. Dengan kesal aku mematikan ponsel dan melemparnya dengan sedikit kasar ke atas meja yang di sebelahnya tersaji secangkir teh hangat dengan uap terlihat masih sedikit mengepul di atasnya. Sore ini di balkon kamarku aku ditemani sekotak kue moci juga, salah satu makanan kesukaanku, namun dengan pesan yang di kirimkan Ira mood-ku langsung terjun bebas ke dasar jurang, tadinya aku ingin menikmati udara sejuk Lembang disore hari di temani teh hangat juga kue mocha, makanan kesukaanku. Huhh. . Aku berdiri berjalan ke arah pagar balkon pembatas di lantai 3 rumahku, memandang hutan raya yang sedikit tertutup kabut putih. Aku masih menghargai Papi Mami hingga aku bisa bertahan dengan segala tingkah Ira selama ini. aku mengingat kembali ketika orang tuaku meminta ku untuk menyetujui pertunanganku dengannya, empat tahun yang lalu. Flash back on. “Bang, setelah putus dari Sella beberapa tahun ini Mami belum denger kamu dekat dengan seseorang.” Ucap ibuku saat menghampiriku di belakang rumah. Aku meliriknya dan menghentikan aktifitasku memberi makan ikan. “Kenapa Mih? Aku normal kok. Beneran!” Ucapku dengan dua jari tangan diangkat ke udara.   “Lah, siapa juga yang nanya kamu normal apa enggak.” Galaknya, aku nyengir mendengar suara jutek ibuku. “Ayo, gimana gimana? Abang dengerin deh.” Bujukku. “Kamu ingat Ira enggak, Bang?” Tanya ibuku antusias. Ahh, iya Ira aku ingat anak judes musuh bebuyutannya si Evan. “Kalau enggak salah anaknya Tante Ranty, yang satu sekolah sama Evan kan Mih.” Tanyaku, ku liat ibuku tersenyum senang. Wahh aku udah merasa ada yang enggak beres dengan senyum yang terbit di bibir Mami. “Kenapa dengan dia, Mih?” Tanyaku lagi, aku sudah cemas dengan jawaban ibuku. Aku mungkin sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan ibuku, karena bagaimanapun juga aku adalah lali-laki dewasa yang sudah bisa mencerna semua obrolan dari lawan bicaraku. Apa lagi untuk seorang pebisnis sepertiku, insting kuat wajib menjadi salah satu yang ku miliki. “Tante Ranty ingin kamu menjadi mantunya.” Jawab Mami tanpa basa-basi. Sebelum aku membuka mulut, ibuku sudah kembali berbicara mendahuluiku. “Ingat, Bang tidak ada cela dari keluarga mereka. Dan satu, kalau kamu menerima pertunangan ini posisi kamu di perusahan pasti aman. Para pemegang saham yang lain akan segan dengan status kamu sebagai menantu dari Sudjono Salim, Bang.” Lanjutnya meyakinkanku. Aku menarik nafas, memang benar statusku yang hanya sebagai anak angkat keluarga Wijaya selalu di pandang sebelah mata oleh para pemegang saham yang lain. Dan setahun ini iku baru megang New shapire, menerima hak waris yang diberikan keluarga Wijaya. Aku belum menjawab, tidak mengiyakan ataupun menolaknya. “Pikirkan baik-baik, Bang.” Ibuku mengusap pundakku. “Ira anaknya juga cantik, kamu enggak akan menyesal kalau menerima pertunangan ini. Dan Ira sudah setuju dengan perjodohan ini, sekarang tinggal pesetujuan dari kamu.” Lanjutnya. Aku mengangguk menatap wajah cantik ibuku. “Mami berharap malam ini kamu sudah punya keputusan.” Sekali lagi Mami mengusap pundakku sebelum berdiri dan berlalu masuk ke dalam rumah. Aku menyandarkan kepalaku disandaran kursi, menerawang jauh menembus langit kota Kembang. Setelah putus dari Sella, mantan pacarku selama dua tahun. Aku memang belum dekat lagi dengan wanita manapun. Dulu aku mencintai wanita blasteran sunda jerman itu, namun harus kandas di tengah jalan karena dia pergi dengan laki-laki lain yang menurutnya lebih kaya dari pada aku. Sekarang aku harus bertunangan dengan wanita yang mungkin -hanya beberapa kali aku temui-. Boro-boro mencintainya, kenal dekat dengannya pun enggak. Apa yang aku harapkan dengan pertunangan yang diawali seperti ini? dengan sella aja yang aku sudah mengenalnya sejak di bangku kuliah, dia menyakitiku. Apa lagi dengan Ira yang aku enggak kenal, mungkin dia akan lebih menyakitiku lebih dari Sella. Namun memikirkan kembali posisiku di perusahaan saat ini, benar kata ibuku. Jika aku menerima pertunangan ini, posisiku akan aman. Demi kedua orang tuaku juga demi harga diriku yang selalu dipandang sebelah mata oleh mereka yang meremehkanku aku menyetujui pertunangan dengannya. Flash back off. Ku lihat pengatur waktu di tanganku, pukul 15.46 sore. “Baru jam 4, tapi pikiranku kacau sekali. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Tanya batinku. Aku memejamkan mata, meredam segala emosi yang membuat kepala ku sakit. Ku rasakan udara sore Lembang mulai menusuk kulit, aku beranjak dari tempatku berdiri masuk ke dalam rumah. Mungkin berendam air hangat bisa menghilangkan rasa sakit di kepalaku. Aku berjalan masuk ke kamar mandi, mengisi bathtub dengan air hangat dan menuangkan sedikit sabun ke dalam air, juga menyalakan lilin beraroma terapi. Ini adalah kebiasaan Mami setiap kali dilanda stress Mami selalu menyarankan buat berendam air hangat dengan cara seperti ini paling sebentar 15 menit. Ku lepas semua pakaian yang melekat di tubuhku, dan masuk ke bathtub yang sudah terisi penuh dengan air hangat. Aku harus membuang semua kekesalan yang ku rasa hari ini, dan berharap waras kembali setelah berendam. *** Satu jam kemudian aku sudah rapi dengan mengenakan kaos tanpa kerah berwarna abu, memakai celan pendek selutut dan rambut di sisir sedikit acak-acakan. “Aku ke holel aja lah, dari pada di sini cuman bengong enggak ada kerjaan.” Pikirku. Di lobby Hotel ku lihat Tari sedang mengobrol dengan receptionist, tak lama kemudian dia pergi membawa kopernya berjalan kearah lift. Aku menghampiri meja receptionis, penasaran dengan kehadiran Tari sore ini. “Tadi Bu Tari Check in?” tanyaku pada karyawanku. Kedua reseptionis berdiri melihat kehadiranku di depan meja. “Iya, pak. Bu Tari sudah ambil kamar di sebelah kamar Pak Evan.” Jawabnya dengan senyum, ramah sekali. “oke, makasih ya.” Jawabku. Aku kembali berjalan ke arah lift, di lobby belum terlihat banyak orang. Berarti acara di Ballroom tempat training Artha Tama belum selesai. “Aku samperin Evan saja lah ke kamarnya.” Batinku *** To be continue. . . 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN