Ragnala

1567 Kata
Author pov Kota Hujan Bogor, akhir tahun 1990. “Asiiiik, Bunda pulang bawa makanan banyak.” Teriakan girang terdengar nyaring dari anak perempuan yang masih memakai seragam putih merah di halaman sebuah rumah dengan Plang Panti Asuhan Kasih Bunda. Anak-anak yang lain ikut berteriak senang, sebagian ada yang berlari keluar rumah mengerubungi wanita paruh baya yang kerap disapa akrab “Bunda” oleh seisi penghuni panti . “Jangan lari-lari, sayang. Bunda takut kalian jatuh.” Ucap Ibu Mariam, seorang Ibu asuh sekaligus yang bertanggung jawab di dalam Panti Asuhan Kasih Bunda yang kini datang bersama sepasang suami istri di belakangnya. “Ini ada Ayah sama Bunda yang jenguk. Ayo semuanya salim dulu, sayang!” Perintah Ibu Mariam pada anak-anak seraya memperkenalkan sepasang suami istri yang berkunjung ke Panti Asuhan. “Ayah dan Bunda ini, yang punya rumah kita.” Ucap Bu Mariam, bibirnya menyunggingkan senyum kepada anak-ana. “A Adit, adik-adik kamu yang lain kemana?” Tanya Bu Mariam kepada salah seorang anak asuhnya yang paling bontot. “Di kamar, Bunda. Masih ngerjain PR. Aa panggil dulu sekarang.” Jawabnya lalu berlari kedalam rumah  memanggil semua adik-adiknya di panti. Pasangan suami isrti itu pun menyapa anak-anak ramah, istrinya sesekali mengusap dan mencium kepala anak-anak Yatim Piatu itu. “Pak Wijaya, Ibu. Mangga di lebet wae.” (Pak Wijaya, Ibu. Silahkan di dalam saja) Ajak Bu Mariam kepada pasangan suami istri itu. Yang disapa Pak Wijaya dan istrinya tersenyum dan mengiayakan ajakan Pengasuh Panti Asuhan, mengekorinya di belakang masuk ke ruang tamu yang berukuran tidak lebih dari 30 meter persegi. “Silahkan duduk Pak, Bu.” Bu Mariam mempersilahkan tamunya duduk di kursi yang terbuat dari kayu jati di ruang tamu panti asuhan. “Terima kasih, Bu.” Ucap Istri Pak wijaya mewakili suaminya. Mereka semua duduk, sementara anak-anak yang tadi mengikuti mereka dari halaman rumah semua masuk ke ruang keluarga. “Saya yang harusnya mengucapkan terima kasih kepada Bapak sama Ibu, karena sudah membeli tanah yang kami tempati. Selama satu bulan kemarin saya bingung mau bawa anak-anak pindah kemana.” Ucap Bu Mariam dengan mata berkaca-kaca. “Dulu saya sendiri yang menerima tanah waqaf ini dari Juragan Karto yang punya perkebunan di sini, memang benar saya tidak mempunyai surat-surat waqafnya. Tapi saya kira anak Juragan Karto tidak akan menggugat dan mengambil kembali tanah yang sudah diwaqafkan oleh ayahnya.” Lanjutnya bercerita. “Saya juga tau dari rekan bisnis saya Bu, katanya ada sebuah Panti Asuhan di dekat rumahnya yang akan di gusur karena sengketa tanah dengan hak waris. Tadinya beliau yang akan beli, tapi karena sesuatu hal beliau tidak bisa membeli dan menyarankan kepada saya untuk diambil alih kepemilikannya.” Jawab Pak Wijaya “Saya kasihan sama anak-anak yang tinggal di sini, Bu. Mudah-mudahan kami sedikit banyak bisa mengurangi beban Ibu Mariam.” Sela Istri Pak Wijaya seraya tersenyum hangat. “Alhamdulillah, Ibu. Hatur Nuhun.” Ibu Mariam menangis haru di depan suami istri dermawan itu. “Mamaaaaaaaa. . . . . “ Terdengar teriakan anak laki-laki dari kamar. “itu, Arga.” Panik Bu Mariam, tanpa permisi berlari ke arah kamar. Suami istri itu saling berpandangan, Pak wijaya beserta istrinya lalu ikut berdiri dan berjalan ke arah kamar mengikuti kemana pengasuh panti pergi. Di dalam kamar sempit itu lerlihat seorang anak kecil laki-laki yang terbaring lemah di atas dipan susun, dengan perban masih menempel di kening kecilnya. Istri Pak Wijaya mendekati Bu Mariam yang masih menenangkanya, ia mengusap-ngusap tangan putih bocah laki-laki itu dengan sayang. “Enggak apa-apa, sayang. Bunda di sini sama Arga.” Bisik Bu Mariam. “Arga mau minum?” Tawar Bu Mariam, mata anak kecil itu terbuka. Istri Pak Wijaya tersenyum kala melihat mata hitam jernih milik bocah laki-laki itu. Anak kecil yang di panggil Arga mengangguk. “sebentar, Bunda ambilin dulu ya.” Ucap Bu Mariam seraya melepaskan tangannya dari tangan kecil milik bocah yang disapa Arga. “Biar saya saja yang jagain, Bu.” Tawar Istri Pak Wijaya, Bu Mariam pun tersenyum dan berlalu keluar kamar. Tanpa aba-aba Arga kecil bangun dari tidurnya lalu memeluk Istri Pak Wijaya sambil menangis sesenggukan. Tangan lembut perempuan itu mengusap-usap punggung dan kepala Arga. “Kenapa nangis, Sayang? Arga jangan takut lagi ya, ada Mami disini.” Istri Pak wijaya menenangkan anak kecil dalam pelukannya. “Utami, coba kamu ajak dia ke rumah kita.” Bisik Pak Wijaya di telinga istrinya, wanita yang di panggil Utami tersenyum senang dengan tawaran suaminya. “Sayang, ikut yuk kerumah Mami dan tinggal sama Mami. Di rumah Mami juga ada adik Evan.” Tawar Ibu Utami, Arga mengangguk dalam tangisnya. “Udah dong nangisnya, anak ganteng harus kuat gak boleh nangis lama-lama. Nanti gantengnya hilang loh.” Bujuknya. Arga melepaskan pelukannya, lalu mengsap air matanya. “Arga, minum dulu.” Ucap Ibu Mariam menyodorkan segelas air putih hangat, Arga mengambil gelas dari tangan Ibu asuhnya lalu minumnya hingga tandas. “Arga bobo dulu ya, Mami ngobrol dulu sama Bunda.” Ucap Ibu utami lembut, matanya menatap dalam bola mata hitam milik Arga kecil. “Iya, Mami.” Jawab Arga dan kembali meletakkan kepala kecilnya di atas bantal berwarna coklat tanpa motif. Ketiga orang dewasa itu keluar dan kembali ke ruang tamu. “Arga kenapa ya, Bu?” Tanya Bu Utami penasaran, sesaat setelah mendudukan tubuhnya kembali di atas kursi jati di ruang tamu panti. “Arga baru masuk panti belum ada satu minggu, Bu. 4 hari yang lalu saya di hubungi Pak Lurah kalau di Puskesmas ada anak laki-laki yang ditemukan warga didekat perkebunan miliknya dengan kondisi jauh dari kata baik.” Jawabnya, netranya menerawang mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu. “Awalnya pihak Puskesman akan meminta Dinas Sosial untuk merawat sementara Arga sambil menunggu Polisi mencari identitas Arga, tapi saya kasihan dan akhirnya saya bawa saja ke panti.” Lanjutnya bercerita. “Dari pihak Polisi sudah ada titik terang siapa keluarga Arga?” Tanya Pak Wijaya. “Belum ada, Pak.” Ibu Mariam menggelengkan kepala. “Sebelum ada keputusan dari pihak berwajib, kalau saya mau merawat Arga berarti belum bisa ya, Bu?” Tanya Ibu Utami kecewa, Bu Mariam menganggukan kepala. “Tapi kalau saya mau bertanggung jawab untuk pengobatan Arga dan membawanya ke rumah sakit, Boleh kan Bu?” Tanyanya lagi, Pak Wijaya memegang tangan istrinya menenangkan. “Tentu boleh, Bu. Bapak dan Ibu kan sekarang pemilik panti kami. Jadi sedikit banyak ada tanggung jawab dari Bapak dan Ibu juga.” Bu Utami tersenyum senang dengan jawaban Pengasuh panti. “Ya udah, Bu Mariam sekarang hubungi dulu pak Lurah. Bilang kami pemilik panti akan membawa Arga ke Rumah Sakit untuk pengobatan.” Perintah Pak Wijaya. “Baik, Pak. Saya ke Balai Desa dulu sekarang, deket kok Bu di ujung jalan sana.” Bu Mariam menunjuk ke luar rumah dengan telunjuknya lalu bangkit dari duduknya. “Saya titip anak-anak dulu sebentar ya Pak, Bu.” Pintanya ramah sebelum keluar dari panti. Bu Utami pun mengangguk mengiyakan. Beberapa menit kemudian, bu Mariam datang bersama 3 orang laki-laki berseragam khaki berjalan masuk ke ruang tamu menghampiri pasangan suami istri yang menunggunya. Dari seragamnya bisa di pastikan itu dari pihak Desa. “Pak Wijaya, ini Pak Lurah. Dan Pak Lurah, Ini Pak Wijaya pemilik panti.” Bu Mariam memperkenalkan kedua belah pihak. Merekapun saling menyapa, kemudian dari pihak desa sedikit banyak menanyai identitas sang pemilik panti yang baru. “Pak Lurah, saya beserta istri berencana membawa Arga ke Rumah Sakit. Kebetulan Arga ini statusnya titipan di panti kami bukan anak asuh kami yang sudah mempunyai legalitas. Jadi saya kira, saya sebagai salah satu penanggung jawab, dalam hal ini berkewajiban untuk meminta izin terlebih dahulu kepada pihak Desa yang panti kami tempati.” Ucap Pak Wijaya sopan setelah perkenalan singkat mereka. “Saya justru bersyukur, Pak. Masih ada dermawan seperti Bapak yang mau menanpung dan memperhatikan kesehatan Nak Arga.” Jawab Pak Lurah tak kalah sopan.  “Saya akan buatkan Surat Kuasa, kalau-kalau nanti Bapak menemui masalah. Rencananya kapan bapak akan berangkat ke Rumah Sakit?” Lanjut Pak Lurah bertanya. “Hari ini saya akan langsung membawa Arga ke Rumah Sakit.” Jawab Pak Wijaya mantap. “Baik Pak, saya buatkan dulu surat kuasanya. Nanti saya antarkan ke sini.” Ucap Lurah yang bernama Sura Jalu itu. “Terima Kasih, pak.” Ucap Pak Wijaya, Pak Sura Jalu pun kembali ke Balai Desa untuk membuat Surat Kuasa didampingi bawahannya. “Bu Mariam, saya mau ajak Arga dulu.” Ucap Bu Utami sambal berjalan ke dalam kamar tempat bocah malang itu tidur. “Sayang, bangun. Kita ke Rumah Sakit yuk sama Mami. Biar kamu cepet sembuh.” Ucap Bu Utami sambil mengusap-usap rambut Arga, Mata hitam jernih dengan bulu mata lentik itu terbuka. Arga mengangguk dan bangkit dari tidurnya. Pak Wijaya yang dari tadi berada tepat di belakan istrinya dengan sigap menggendong anak kecil itu lalu berjalan keluar rumah, mendudukannya di dalam mobil miliknya yang terparkir di halaman panti untuk membawanya ke Rumah Sakit. Surat kuasa dari desa diantar langsung oleh Pak Sura Jalu sendiri setelah keluarga Wijaya masuk kedalam mobil. “Nak Arga, lekas sembuh.” Ucap Pak Lurah dengan mengusap kepalanya, anak kecil dalam pangkuan Bu Utami hanya mengangguk lalu menyusupkan kembali kepalanya ke tubuh istri sang pemilik panti.   “Selamat sampai tujuan, Pak.” Pak Sura jalu menutup pintu mobil dari luar. “Terima kasih, Pak. Mari semuanya.” Setelah berpamitan dengan semua orang mobil yang di tumpangi keluarga Wijaya perlahan meninggalkan Panti Asuhan kasih Bunda. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN