Arganta Ragnala Aku menguap beberapa kali saat memeriksa file-file yang dikirimkan sekretarisku siang ini, semalaman aku tidak bisa tidur sehingga siang ini aku merasakan kantuk, padalah otak dan mataku sudah lelah namun fikiranku tidak bisa diajak berkompromi. Setiap aku menutup mata, bayangan akan Tari yang sangat kecewa kepadaku, mata Tari yang menatap nyalang kepadaku dengan serta meneteskan air mata terus menari-nari dan aku tidak bisa menghentikannya untuk sejenak mengistirahatkan pikiranku. Tari seolah menghantui disetiap detik waktu yang ku lalui. Semalaman pula beberapa kali aku mencoba menghubunginya, namun dia mematikan ponselnya. Meski ada niat untuk menyambangi apartemennya, namun sepertinya itu kurang pantas mengingat semua keluarga Tari sedang ada disana. Apa yang harus ak

