Gantari Willis Aku menyandarkan kepalaku di sandaran kursi mobilnya Mas Bagas, melihat keluar dari kaca jendela mobil yang melaju sangat pelan. Kerlap kerlip cahaya lampu yang terpantul di kaca jendela kini tidak begitu indah lagi buatku, padahal biasanya aku selalu suka melihat cahaya lampu jalanan di malam hari. Tadi sesaat setelah keluarga Wijaya mengumumkan hari pernikahan Arga dengan Ira yang akan digelar bulan sebulan lagi Mas Bagas langsung memelukku kala ia melihat air mataku keluar dengan derasnya tanpa dikomando, lalu tanganku sudah diseret olehnya untuk keluar dari ruangan sebelum orang-orang memperhatikan penampilan wajahku yang sudah berantakan dengan air mata yang terus mengalir di pipiku. Tidak ada yang memulai pembicaraan di dalam mobil yang perlahan menjauh dari gedung y

