Ikuti Arus

2375 Kata
Arganta Ragnala Keluar dari lift lantai empat New Shapire, aku bingung mencari kamar si Evan di room berapa. Cuman seingatku sepuluh room pertama di lantai ini diperuntukan untuk penanggung jawab acara sama trainer yang berjumlah kurang lebih tujuh orang setiap minggunya. Akhirnya dengan terpaksa aku membuka room chat “grup karyawan” New Shapire, melihat kembali penempatan kamar penanggung jawab acara beserta peserta training yang hampir lima puluh persen atau setengah dari keseluruhan kamar di hotelku terisi satu bulan ke depan oleh acaranya training Bank Artha Tama. Dan ternyata adik kesayanganku di kamar 03. Aku berjalan ke arah pintu room 03, sampai di depan pintu lalu menyentuh bel yang terpasang di pinggir pintu kayu bercat  hitam itu. Ceklek. Suara pintu terbuka dari dalam. “Mas Arga?” Sapa wanita cantik yang tak asing lagi buatku, karena tiap malam wajah cantik itu lah yang selalu hadir menemani ku melewati sepinya malam. Pikiran jelekku mulai berseliweran, kenapa Tari yang buka pintu? Apa yang dia lakukan di kamarnya Evan? Masa mereka berdua-duaan dalam satu ruangan? Ahh, aku yakin Tari dan adikku bukan orang seperti itu. “Mas, helloo..” Tangan Tari melambai-lambai di depan wajahku, dialogku dengan Dewa batinku kini  terinterupsi oleh suara lembut Gantari, “Mas Arga malah bengong.” Lanjutnya. “Ahh, sorry. Tapi kenapa kamu yang buka pintu? Mana Evan?” Tanyaku, dengan sedikit mencondongkan wajah kearah pintu –niatnya mencari keberadaan Evan, padahal enggak bakal kelihatan juga kalau dari sini-. Tari mengernyitkan kening “Mas Evan enggak ada di sini, mungkin di kamarnya atau masih di tempat acara.” Jawabnya sedikit bingung. “Ini bener room 03, bukannya kamar Evan di sini, ya?” aku menggaruk kepala yang tak gatal, soalnya masa sih aku salah kamar. Di layout bener kok kamar Evan di room 03. “Ohh, ini kamar aku Mas. Kamarnya Mas Evan di room 01 sebelah aku.” Tari menunjuk kamar di sebelahnya. “Mas Arga mau masuk dulu?” Tawarnya. Ini tuh kalau kata orang ibarat berlayar sambil memapan, merapat sambil berlayar, kerjaan kelar urusan hati juga terselesaikan. Aku tersenyum dan mengangguk, Tari mempersilahkan aku masuk ke kamarnya. Dia baru sampai bahkan aku masih melihat kopernya belum masuk lemari. Aku duduk di sofa sebelah Kasur king size, memperhatikan gerak-gerik Gantari yang sedang membereskan barang-barangnya. “Bentar ya, Mas.” Ucapnya sambil memasukan koper ke lemari di dekat kamar mandi. “Kamu nyaman di kamar ini? Kalau enggak nyaman aku pindahin ke kamar aku di lantai atas atau pindah ke rumah aku sekalian.” Canadaku. Ehh, tapi beneran kalau Tari nya mau aku mah ridho, ikhlas keur korban Merdeka (Berjuang untuk merdeka) Tari satu kamar sama aku. Halahhh ngarep! Tari menghentikan aktivitasnya dan melihatku. “Gak usah Mas, ini juga udah cukup. Dari sini pemandangannya bagus, Mas. Kayaknya besok pagi aku bisa nikmatin secangkir Teh dan hangatnya matahari pagi hanya dengan membuka pintu.” Jawabnya. matanya menerawang membayangkan aktivitas yang akan di kerjakannya esok pagi. Aku berjalan ke arahnya. “mau aku bantu?” Tawarku basa-basi. Tari tersenyum menatapku lalu menggelengkan kepala. “Dimasukin aja dulu ke lemari, beresinnya nanti aja.” Ucapnya. Tari menutup lemari dan berbalik, matanya langsung bersirobak dengan bola mataku. Mungkin dia lupa kalau di belakang punggungnya masih ada aku. Saat netranya bertubrukan dengan netra ku, aku menatap dalam bola mata bening itu, turun ke hidung mancungnya lalu lama menatap bibir seksi bergincu pink milik Tari. Aku memberanikan diri mengikis jarak sampai hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya, nafas Tari terasa hangat menerpa wajahku. Akhirnya tak ada lagi jarak dan sekat antara kita, aku menyambar bibir ranumnya yang sekarang sudah menjadi candu buatku. Terasa manis, dan tak ada penolakan darinya. Tangan kananku memegang pinggang rampingnya, merapatkan tubuhnya ke tubuhku dan tangan kiriku menopang tubuh ke pintu lemari, dia mengalungkan tangannya ke leherku dan membalas ciuman panasku yang sedikit menuntut. Ting Tong! Baru beberapa saat aku melepas rindu sama Tari, suara bel kamar berbunyi. “Siapa yang datang sih?” Batinku. “Mas..” Ucap Tari di tengah ciuman kami dengan nafas masih memburu. Aku melepas ciumanku, lalu ibu jariku mengusap bibirnya. “Manis.” Bisikku di telinganya, wajahnya seketika memerah. Uhhhh gemesiiiin! Dia melehpaskan diri dari pelukanku, dan berjalan ke arah pintu. Aku mengekorinya lalu duduk di pinggiran Kasur. “Kamu lama banget buka pintu, lagi ngapain?” Pintu kamar baru di buka Tari, adikku Evan sudah nyelonong masuk ke kamar. Tari hanya bengong melihat si Evan masuk ke dalam kamarnya. Evan mengerutkan kening kala netranya melihatku yang duduk santai di pinggiran Kasur Tari seolah tak terganggu oleh kehadirannya. “Bang, udah mau gelap loe ngapain di kamar anak gadis?” Tanyanya heran. Aku hanya mengedikkan bahu cuek. “Seriusan, Bang. Loe ngejar anak gue?” Evan menggelengkan kepalanya. “Tadi gue salah kamar, Van. Mau nyari loe malah nyasar ke kamar Tari.” Elakku. Aku mengambil bantal di Kasur dan berjalan ke arah sofa tempat Tari duduk. Aku mendaratkan bokongku di samping Tari, menyimpan bantal yang ku bawa ke atas paha mulusnya. “Lain kali pake roknya yang panjangan dikit.” Bisik ku di telinga nya, Tari menundukkan kepala dan bergumam “Iya.” Lalu memegang bantal yang ku bawa. Hari ini si Tari pake rok di atas paha, jadi saat duduk pahanya terekspos kemana-mana. Sayang kan paha mulus gitu di umbar-umbar, di kata tu paha ayam di pasar Induk Caringin yang bebas di nikmati siapa aja. “Ini gue di sini kok rasa-rasanya cuman di anggap nyamuk yaa.” Protes Evan. Tari tersenyum melihatnya, “Mas, udah beres?” Tanya Tari. “Udah beres, dan kita jadinya gak buka kelas malem. Tapi trainer ngasih tugas buat di kerjain malem.” Jawab Evan. “Jadi malem kita free, cuman dari pagi full sampe jam 5 sore.” Lanjutnya menjelaskan. Di balik punggungnya tangan kanan ku memeluk pinggang Tari, kurasakan Tari terhenyak kaget dan melirik ke arah ku. Aku hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah mataku. “So, ngapain ke kamar Tari, Van?” Tanyaku. Adik kesayangan ku nyengir, menampilkan deretan gigi rapihnya. “Cuman mau nengok anak gue, takut di kamar boring sendirian. Ya kan gue gak tau loe lagi ngapel, Bang.” Jawabnya cuek. Ku gerakan dua jari telunjuk di depan wajah, “Maksudnya mau nemenin anak gadis di kamarnya gitu? Cuman berdua?” Kesel juga lama-lama sama si Evan. “Ya ampuuun, Bang. Sensi amet, ngambekan kek anak gadis!! Loe gak asik, uhhh dasar toge etiolasi. Makannya Bang waktu tumbuh tuh di tempat terang, jangan di tempat gelap jadi hatinya kagak sempit sama keruh kek gini. Udah ahh gue balik kamar dulu di mari urusan gue udah kelar.” Jawabnya, Evan lalu berdiri dari duduk nya. “Ri, kalau ada apa-apa teriak aja. Aa ada di kamar sebelah kok!” Lanjutnya sambil mengedipkan mata, genit. Tari tertawa mengacungkan tangan, jari jempol dan telunjuknya membentuk hurup O “It’s oke, Mas. Enggak usah khawatir. Aku pasti teriak kenceng, kan suaraku 7 oktaf kalau teriak-teriak.” Ucapnya. “Kali aja sekarang Abang gue makan orang, tuh bibirnya ada bekas lipstick gitu.” Ucapan Evan sukses membuat Tari tengsin, dia sampai menutup wajah dengan kedua telapak tanganya. Mataku melotot, si Evan ketawa bengek. “Serah loe, Van. Oh ya, pintunya tutup lagi.” “Beneran loe Bang ngusir gue?” Evan mendramatisir ucapannya, tangannya menyentuh d**a percis gaya orang terdzolimi. “Hooh, nanti bentar lagi nyusul.” Ucapku, akhirnya Evan menyerah dan keluar kamar meninggalkan kita berdua. Tari masih menutup wajahnya, duhhh anak gadis kalau malu kaya gitu yaa. Ku Tarik tangan mulus berjari lentiknya yang bercat pastel carnation, “Evannya udah keluar.” Ucapku menenangkannya. “Beneran, Mas. Aku malu! Besok mau aku taruh dimana muka ku kalau ketemu Mas Evan?” Dia merengek manja. Ku Tarik dia kedalam pelukan ku, ku hirup wangi yang mengguar dari rambutnya. “Kamu wangi banget!.” Ucapku mengalihkan kebingungannya. “Ihh, Mas Arga seriusan.” Telunjuknya menusuk-nusuk dadabidang ku. Aku menertawakan kemanjaan Tari, ternyata ini salah satu sisi lain dari sosok Gantari wilis. Manja!!! “Gpp sayang, dia jail. Enggak usah di masukin hati semua omongannya. Lagi pula dia pasti udah tau sama hubungan kita.” Ucapku, aku memgelus punggungnya. “Aku ke kamar Evan dulu ya, kalau mau makan atau mau keluar nanti hubungi aku.” Lanjutku. Aku melepaskan Tari dari pelukanku, lalu berdiri dari duduknya. Dia tersenyum dengan anganggukan kepala. Gemas! Tanpa dikomando tanganku mengacak rambutnya. “Aku pergi ya, gak usah di antar.” Pamitku. “Iya, Mas.” Tari tersenyum, tatapan mata indahnya mengantar kepergianku. Aku menutup pintu kamarnya, lalu menerobos masuk ke kamar Evan di room 01 sebelah kamar Tari yang memang ada celah sedikit terbuka di pintu -segaja dibiarkan tak terkunci- sama Evan. Ku lihat sekeliling kamarnya mencari sosok laki-laki berperawakan tinggi jangkung yang hanya beda usia beberapa tahun dengan ku, ternyata dia di balkon kamar sedang menerima panggilan dari ponsel pintarnya. Dari kecil Evan sudah terkenal berkarakter nakal, jail dan suka bikin anak-anak di komplek rumah nangis. Menginjak usia remaja, dia masuk club motor. Tiap liburan sekolah dia pasti tour keliling Nusantara bareng komunitasnya, tak heran sekarang dia punya karakter supel, temannya banyak dimana-mana, Bahasa sama gayanya pun gaul. Kami lahir bukan dari Rahim yang sama, bukan dari ayah yang sama bahkan air s**u yang kita minum pun bukan dari tempat yang sama, namun ikatan batin kita dan kedekatan kita sebagai adik kakak lebih dari yang notabenenya sodara sesusu, satu Rahim dan satu Ayah Ibu. Sejak kecil walaupun nakal Evan selalu menuruti kata-kata ku. Aku sebagai anak tertua di dalam keluarga selalu menjadi tempat pengaduan ketika dia tersandung masalah akibat kenakalan remaja. Papi sama Mami enggak pernah tau aku sering di panggil wali kelas dia karena dia yang jarang masuk sekolah, karena dia yang ikut tawuran dan karena uang SPP yang belum masuk selama beberapa bulan. “Bang, kenapa senyum-senyum? Gak kesambet kan?” Pertanyaan Evan menarik lamunan ku ke dunia nyata. “Inget zaman loe SMA, Van.” Aku terkehkeh mengingat kembali masa-masa itu. “Si Bu Vanya wali kelas loe mungkin udah bosen yaa liat tampang gue tiap bulan.” Lanjutku, Evan mencebikkan bibir. “Loe mah jahat Bang, sama anak kesusahan aja di mintain tarif sekali jalan ke sekolah.” Cibirnya. “Ya kan uang tutup mulut, Van. Sampe sekarang loe aman kan, Papi sama Mami taunya loe anak baik gak pernah masuk daftar hitam sekolah.” Jawabku . “kalau loe gak ada Bang, mungkin gue udah di kirim ke Serengeti sama Mami.” Si Evan bergidik ngeri membayangkan tubuhnya di kirim Ke Taman National Serengeti, Tanzania Afrika. Kebayang kan? Yups! Afrika broo. Dia di kirim ke dataran Savana kering gurun sahara yang luas, rumah bagi berbagai satwa liar dan rimba yang ganas. Memang sih padang rumput yang luas ini selalu memberikan pemandangan paling mengesankan di bumi. Gimana enggak coba, Taman nasional ini di kenal dengan migrasi tahunan dari jutaan wildebeest dan juga diikuti oleh ratusan ribu rusa dan zebra. Di masa itu kita bisa melihat bermacam interaksi antara predator dan mangsa yang menyajikan potret menakjubkan tentang kehidupan kejamnya rimba. Aku tertawa membayangkan dia berseragam putih abu berada di tengah-tengah predator dan mangsa satwa liar Serengeti. Jangankan daging sama tulang, kain yang di pake membungkus tubuhnya pun gak bakalan tersisa di makan hewan-hewan liar. “Ketawa aja teruuuu! Loe mah beneran jahat Bang sama ade sendiri.” Si Evan masiih lanjut merajuk, bisa-bisanya dia masih merajuk di usianya yang udah lewat pubertas. Aku masih menikmati kebahagian di atas penderitaan Evan ketika ponselku berbunyi, notice pesan masuk ke ponselku. Aku mengusap layar benda pipih itu, Tari mengirimi aku pesan. Ganari Artha Tama Jam 7 makan di resto bawah, yuk! Aku tersenyum membaca deretan kata dipesan yang di kirim Tari, ku lihat jam di pergelangan tangan ku. “Baru jam 6 petang, masih bisa mandi dulu.” Batinku. Ehhh, perasaan tadi udah mandi, Nyet.  “Mesem-mesem lagi. Beneran hari ini loe kesambet apaan, Bang?” Tanyanya, Evan menggaruk alisnya. “Bahagia banget hari ini. Gak mau bagi-bagi dikit gitu buat gue.” Lanjutnya.    “Tari, Van. Ngajakin makan.” Ucapku jujur. “Sama si Tari sebenernya gimana? Seriusan apa cuman temen gabut doang?” Arah pembicaraan evan udah mulai serius nih. Aku menghela nafas, bingung mau jawab apa. “Rempong loe kayak emak gue.” Jawabku ketularan bahasanya dia, bener yaa terlalu sering ketemu dia lama-lama ini otak pintar aku terkontaminasi sama gayanya Evan. “Ehh, emak loe emak gue juga ya. Kalau loe lupa.” Aku nyengir denger ucapan dia, bener juga. “Yang pasti gue nyaman sama dia, dan . .enggak mau kehilangan dia.” Lanjutku. “Terus si nenek lampir? Loe jangan serakah, Bang!” Ahh, Ira. Ya Dira, aku sampai melupakannya. “Gak tau, Van.” Ini yang bikin pikiran aku mentok kalau inget keberadaan Dira di antara aku sama Tari. Bingung aku harus ngapain, mulai dari mana? Melanjutkan hubunganku dengan Ira dan harus rela meninggalkan Gantari, atau mengakhiri hubunganku dengan Ira dan memulai hubungan baru dengan Tari? Ahhhh, kepalaku pusing memikirkan dua perempuan yang membuatku hidup segan mati enggak mau ini. “Apapun keputusan loe gue dukung, Bang. Asal itu yang bisa buat hati loe bahagia Bang. Enggak belangsak kaya kemaren-kemaren.” Sindirnya. Karena si Evan tau hati aku enggak sama Ira, selama ini aku baik sama Ira cuman sebatas ikut permintaan orang tua dan rasa tanggung jawab sama Ira yang statusnya sebagai tunanganku. Kalau kata Nini alias Neneku beungeut nyanghareup hate mungkir (muka menghadap namun hati membelakangi). *Pribahasa Bahasa sunda Untuk saat ini aku ikuti arus air mengalir saja untuk hubungan asmara ku dengan Gantari, kata orang “dengan mengikuti arus bisa membantu mu untuk melihat situasi, sehingga kamu tidak salah dalam mengambil keputusan dan melangkah.” Namun dengan mengikuti arus biasanya kita akan mempertaruhkan segalanya, tapi nanti kita akan mendapatkan sesuatu sebagai imbaln. Semoga semesta berpihak pada cinta aku untuk Gantari, dan bentuk imbalan itu adalah dipersatukannya jodoh antara aku dengan Gantari. Walaupun ada sebagian orang yang mengatakan “Untuk urusan gaya, mode dan penampilan ikutilah arus. Namun, untuk prinsip kuatlah seperti batu.” Dari dulu prinsipku, tidak menyakiti perempuan dan tidak berselingkuh. Namun bagai mana dengan hati aku? Aku sungguh merasakan kebahagiaan yang teramat sangan dengan keberadaan Gantari di sisi ku. Kali ini aku memilih egois dan tetap melanjutkan hubunganku dengan Tari. *** Bersambung..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN