GANTARI Willis
Jam 7 malam aku sudah turun, masuk resto New Shapire di lantai dasar hotel dan langsung di suguhi lagu yang lagi nge-hits pada jamannya, Akad lagunya Payung Teduh ini. Kicep deh si aku kalau kupingku udah denger lagu-lagu romantis kaya gitu, denger lagu Akad punyanya Payung Teduh yang sekarang lagi di bawain sama Mas-Mas berkemeja kotak di panggung lounge aja udah baper, apa lagi kalau ngalamin di lamar pake acara live music kek gini, ehhh. . . apaan sih, Ri?
Aku celingukan mencari meja yang masih kosong, ini weekand jadi jam segini resto lumayan udah penuh. Apalagi di lounge kayanya udah gak ada meja yang tersisa lagi. Ternyata Arga menerapkan konsep keren juga di hotelnya. Udah mah resto, ada café atau lounge dengan diiringi live music pula. Ehh, di luar ruangan di tambah lagi fasilitas afternoon tea. Dimana tamu hotel bisa menikmati matahari terbenam di sore hari yaa. .kalau cuacanya lagi bagus sih. Pokoknya keren, recommended-lah buat temen-temen aku yang mau honeymoon tapi gak mau ke luar kota jadi cukup ke Lembang aja ke hotelnya Arga.
Akhirnya netraku menemukan meja kosong yang tepat di pinggir kaca besar pembatas antara resto sama fasilitas afternoon tea di halaman pinggir hotel yang sudah di sulap sangat cantik nan apik dengan kursi beserta mejanya yang minimalis serta lampu gantung yang memenuhi area, duduk di sini lumayan enak dan nyaman sih. Sambil makan bisa menikmati suasana Lembang di malam hari, yaa walaupun petang ini cuaca Lembang kurang mendukung karena berkabut dan sedikit gerimis. Jadinya aku hurus puas hanya dengan menikmati makanan saja, tanpa lihat pemandangan.
Tadi sore Arga udah iyain ajakan aku buat makan malam bareng, tapi ini udah jam 7 lewat lima belas tapi Arga belum kelihatan batang idungnya juga. Apa aku pesen duluan aja ya? Pikirku. Jadi pas Arga sampe tinggal makan enggak harus nunggu lagi.
“Mbak..” panggilku pada seorang wanita yang berseragam waiters New Shapire bername tag Santi yang kebetulan lewat dekat meja ku.
“Mau pesan sekarang, Mbak?” Tanyanya ramah, aku tersenyum dan mengambil buku menu yang di sodorkannya. Aku membaca deretan menu makanan dan minuman di list itu.
“Enggak mau pesen yang aneh-aneh dehh, mau yang cepet jadi aja.” Monolog ku, “Nasi goreng cumi aja 1, sama salad ya Mbak. Terus minumnya saya minta jus alpukat aja. Bikinin dua ya, Mbak.” Pintaku. Si mbaknya mengangguk menuliskan pesananku.
“Cuman itu aja, Mbak?” tanyanya kembali sambil menuliskan pesanan ku.
“Iya, itu aja. Makasih ya Mbak. Ehh, enggak deh Mbak. Bikin satu aja takutnya enggak sesuai selera dia.” Dia tersenyum mendengar ucapanku, tanganya kembali menuluskan sesuati di notes-nya, setelah itu Mbak waiters nya pergi meninggalkan meja ku. “Kok Arga belum datang juga ya?” Batinku
Sambil menunggu pesanan datang, aku menikmati tembang yang lagi di bawain sama Mas-mas bersuara merdu di panggung live music café yang kebetulan masih satu area sama resto. Kali ini si Mas-nya nyanyiin lagu Dealova yang nge-hits sepanjang tahun 2005’an, di kasih lagu ini aku kaya nostalgiaan lagi ke jaman aku remaja. Dimana tiap malem pasti mantengin radio kesayangan, kirim-kirim pesan sama si do’i via atensi yang di kirim ke radio dan pastinya reques lagu yang mewakili perasaan kita saat itu. Duhh, beneran deh aku rindu masa senyum-senyum sendiri atau tutup muka pake bandal pas penyiar radionya bacain atensi aku yang di spesialin buat si do’i. Ada yang sama pernah ngerasain fase itu kaya aku? Pasti ada dong!
“Mbak, pesanannya.” Aku tersenyum kepada waiters yang membawakan makanan ku. Bertepatan dengan itu Arga menghampiri mejaku.
“Aku telat ya?” tanyanya. Tangannya menarik kursi di depanku dan mendaratkan bokongnya di sana.
“Enggak, ini makanan aku aja baru datang.” Jawabku, makananku udah tersaji di meja.
“Gi, buatin yang sama. Tanpa salad, jusnya tanpa gula. Makasih ya..” Pinta Arga sama karyawannya. Waiters bername tag Yogi itu mengangguk.
“Baik, Pak.” Ucapnya dan meninggalkan meja kembali ke dapur hotel.
“Kamu makan duluan aja, kalau udah dingin biasanya gak terlalu enak.” Padahal tanpa di suruh pun akum ah bakal makan duluan, soalnya ni perut udah kelewat laper. Arga celingukan terlihat mencari keberadaan seseorang, “Evan belum turun?” Lanjutnya bertanya.
Aku nyengir, “Jadwal makan kita harusnya jam 19.30 tapi aku duluan aja.” Arga menggelengkan kepala mendengar jawaban dari ku. Tak lama kemudian pesenan Arga datang masih di antar oleh waiters yang sama dengan sebelumnya. Sebelum nasi dipiringku tandas, rombongan anak-anak training sudah masuk area resto. Terlihat manager HRD yang paling ganteng ada di antar mereka. Aku tersenyum dan mengangguk kala mereka menyapa dari sebrang meja. Mas Evan berjalan ke arah meja yang kami tempati.
“Ri, Santi sama Eko ada confirm enggak kapan tiba?” Tanya Mas Evan kala bokongnya mendarat di kursi samping Arga.
“Udah, Mas. Jam makan siang mereka udah di area.” Mas Evan mengacungkan jempolnya mendengar jawabanku
“Makanannya samaan nih.” Sindirnya lagi.
“Yak kan kita sehati, Van.” Jawab Arga cuek dengan mulut masih mengunyah makanan.
“Jorok loe Bang! Ngunyah makanan sambil ngomong.” Yang di ajak ngomong terus menyuapi makanan ke mulutnya.
“Ri, Aa makan di sana bareng trainer. Kamu jangan cemburu yaa.” Mata Arga melotot mendengar candaan adiknya, dan aku hanya tersenyum dengan candaan Mas Evan. Aku melanjutkan makan menikmati nasi goreng cumi di hadapanku, yang entah kenapa malem ini terasa nikmat sekali. Rasa nya juga pas di lidah ku. Entah karena aku kelaperan atau emang doyan, yang pasti nasi di piringku tandas tak bersisa. Kenikmatan yang hakiki bisa menikmati makanan apa saja tanpa takut berat badan naik atau menghitung banyaknya porsi kalori.
“Kamu gak dingin pake baju tipis gitu?” Tanya Arga yang dari tadi ternyata memperhatikan ku yang malam ini hanya memakai kemeja berbahan satin bermotif bunga sakura dipadukan dengan hot pants jeans setengah paha yang tadi siang di beliin sana Dita, adikku.
“Tadi di atas engga, tapi udah sampe sini malah kerasa dingin.” Tanganku mengusap-usap lengan yang terbalut kain tipis itu.
“Aku udah beres makan, kita kembali ke kamar aja.” Ajaknya sambil berdiri, aku mengambil kunci kamar dan ponsel di atas meja -karena tadi waktu ke bawah aku gak bawa apa-apa cuman pawa ponsel sama kunci kamar aja-. Aku berdiri dari dudukku dan berjalan mengekori Arga. loh ini Arga mau kemana? Ini mah bukan arah ke lift tapi ke pintu utama lobby. Ku percepat jalanku untuk mensejajarkan langkah dengannya.
“Mas, kita kemana ya?” tanyaku penasaran, Arga menengok ke arah ku. Tangannya menunjuk sebuah rumah mewah di samping hotel.
“Ke rumah kita.” Jawabnya kalem, seketika wajahku terasa panas mendengar jawabannya. Aku merasakan atmosfer di luar ruangan terasa lebih panas di bandingkan tadi saat di dalam ruangan, Arga engak tau apa hanya dengan 2 kata itu aja jantungku serasa mau loncat minta ke luar. Ku rasakan telapak tanganku di genggam olehnya.
“Dan anak-anak kita.” Bisiknya di telinga ku yang sukses membuat bulu kuduk ku merinding. Aku tersipu dengan apa yang Arga ucapkan. Padahal ini bukan kali pertama aku menjalin asmara dengan lawan jenis, namun entah kenapa akhir-akhir ini hatiku lembek bila sudah berurusan dengan Arganta. Mungkin karena sosok laki-laki yang berjalan di sampingku ini adalah laki-laki yang selalu aku harapkan kehadirannya selama beberapa tahun ini.
Aku memasuki rumah tiga lantai bergaya modern-minimalis, -yang katanya rumah kita-. Rumah ini memiliki ruangan terbuka dan jendela-jendela tinggi besar, dengan warna dasar netral namun pencahayaan terang. Interior di dalam rumah sangat kekinian, di lantai satu adalah ruang tamu dengan dapur tanpa sekat. Namun ketika naik ke lantai 2, Arga menerapkan desain rumah natural yang menghadirkan material alami, ada kayu, rotan, bambu bahkan batu alam yang sepaket dengan kolam ikan yang di sekelilingnya menampilkan warna hijau dan hadirnya tanaman hias. Di lantai 2 ini adalah ruang keluarga, bisa dirasakan ruangan ini memiliki kesan hangat dan nyaman namun kami hanya melewatinya saja lalu lanjut menaiki tangga ke lantai tiga rumahnya. Mungkin nanti anak-anak bakalan betah kalau tinggal di sini.
“Kamu duduk aja dulu.” Perintahnya saat menginjakan kaki di lantai 3 rumahnya. Arga masuk ke ruang pertama sesudah tangga, mungkin itu kamarnya. Ku perhatikan sekeliling, di sini ada satu buah sofa berwana hitam lengkap dengan home theater dan smart TV 80 inch. Di pojokan ada pohon palem tinggi dan di lantai ini terdapat 4 kamar tidur. Aku duduk nyaman di sofa empuk milik Arga, menghirup pengharum ruangan yang terasa nyaman. Perpaduan wangi cemara dan citrus yang bisa menenangkan fikiran. Rumah yang wangi tentu saja memberikan kesan istimewa, dan sekarang kesan ku pada hunian apik ini yang pasti nyaman banget, mager gak mau pulang. Anak-anak bakal betah tinggal di rumah walau seharian. Ehh, tuh kan ngelntur lagi. Namun aku tidak menemukan potret siapa pun di sini selain Arga -masih remaja- yang kemungkinan besar bersama keluarganya. Di dalam potret berbingkai putih itu seorang wanita cantic duduk di atas kursi dengan Arga sama Mas Evan berdiri mengapit seorang laki-laki paruh baya.
Arga kembali dengan membawa sebuah selimut di tangannya, duduk di sampingku dan menyelimuti pahaku dengan selimut yang di bawanya.
“Masih dingin?” Tanyanya, aku menggelengkan kepala tanpa menjawabnya.
“Kamu mau cemilan apa?” Lanjutnya.
“Gak usah Mas, itu ada keripik di toples.” Dengan dagu ku tunjuk toples keripik di atas meja. Arga lalu duduk menghadap ke arah ku.
“Yang lain pada kemana, Mas? Kok sepi?” aku celingukan ke sekeliling ruangan, aroma-aromanya gak ada tanda-tanda kehidupan lain di sini.
“Di rumah, aku kan cuman sendiri, Ri. Papi sama Mami di Dago. Aku juga enggak punya sodara lain selain Evan.” Jelasnya, Oalaah pantesan sepi.
“Seriusan nanya, kamu nyaman gak sama aku?” lah, Arga kenapa masih nanya itu sih? Kan kalau aku enggak nyaman sama dia aku enggak bakal mau ketemu sama dia lagi. Apa lagi sampai ikut ke rumahnya kaya gini.
“Nyaman, Mas. Kalau gak nyaman, ngapain aku ngintilin mas Arga terus malah sampe mau diajak kerumah kayak gini.” Arga tersenyum mendengar jawaban dari ku. Aku merasakan ketulusan dalam senyuman Arga, binar matanya menyiratkan kebahagian. “Apa sebahagia itu Arga bersama ku?” Batinku.
“Kalau misalkan,. . eumpp.. gpp enggak jadi nanya, lupa lagi.” Ucap Arga bingung. Aku memperhatikan gerak gerik Arga, senyum bahagia yang awalnya membingkai bibirnya lenyap. Semacam punya beban, tapi entah apa. Mungkin dia lagi ada masalah kerjaan atau bahkan masalah internal keluarga yang orang luar kaya aku enggak usah ikut campur. Dan aku pun masih punya etika, tidak mau terlalu mencampuri urusannya. Entar apa kata dia, baru juga deket udah caper, udah kepo mau tau segala urusan dia.
Smartphone miliknya yang dia simpan di atas meja bergetar, dengan photo seorang wanita cantik bersurai panjang berpendar-pendar di layarnya. Arga hanya melihatnya, lalu membalikan smartphone-nya tanpa menerima panggilan itu.
“Kamu balik hotel pagi aja, di sini ada kamar kosong.” Pintanya.
“Hah..” aku gak salah dengar kan? Maksudnya aku malam ini tidur di rumahnya gitu? Cuman berdua? Wahhh, cilaka. Kalau Mama Dyah Dwi Gantari tau aku pasti di jadiin dendeng Padang. Gini-gini walawpun dandanan urakan, sembahyang bolong-bolong dan punya tato kupu-kupu di pundak kiri -dan ini yang jarang orang tahu-, tapi aku enggak pernah tidur berdua satu ruangan sama laki-laki. Paling banter ciuman dan enggak lebih dari itu. Ehh, Mas Arga juga kan cuman nyuruh nginep doang gak ngapa-ngapain, kenapa pikiran aku udah berkelana kemana-mana sih.
“Iya, kamu nginep aja di sini. Besok pagi baru balik hotel.” Jelas Arga.
“Aku cuman takut kamu kelelahan. Kalau di sini aku bisa tau kondisi kamu. Aku khawatir ninggali kamu sendiri di kamar hotel.” Lanjutnya. Entah apa yang merasukiku, namun aku mengangguk mengiakan tawaran Arga.
“Kamu juga kayanya udah lelah, kalau mau tidur di kamar itu.” Tunjuknya pada salah satu pintu kamar bercat putih.
“Di lemari ada piyama sama handuk baru.” Arga merapikan anak rambut di keningku.
“Selain nama, tempat tinggal dan tempat kerja aku gak tahu lagi tentang kamu.” Ucapnya dengan nada penyesalan.
Arga memegang tangan ku, “Aku ingin tau segala tentang kamu, enggak usah sekarang perlahan-lahan saja.” Lanjutnya, iya sama aku juga kan gak tau segala tentang dia. Yang aku harapkan cuman satu, semoga Arga bukan laki-laki yang mengedepankan egonya sendiri. Karena aku paling enggak suka sama laki-laki modelan kayak gitu.
Ku rasakan mataku perih dan mulai lengket, “Mas, aku tidur duluan ya.” Sumpah demi apapun, ini mata udah enggak bisa di ajak kompromi. Kalau udah lelah sama ngantuk, biar pun di depan mata ada laki-laki berwajah ganteng setengah Dewa Yunani pun tetep enggak bisa melek. Ehh, berarti itu tandanya aku masih menjadi manusia normal yang enggak bisa menahan kantuk akibat kelelahan. Bener kan?
“Kamu tidur duluan, gih.” Arga berdiri dari duduknya, lalu mengulurkan tangannya kepadaku.
“Yuk, aku anter sampai depan pintu.” Aku menyambut uluran tangannya, dan berjalan ke dalam kamar.
“Ri..” kurasakan tanganku di Tarik olehnya.
Cup. . Di depan pintu Arga mengecup keningku.
“Mimpi indah.” Ucapnya lalu menutup pintu. Aku masih mematung dengan tangan memegang dadaku yang bergemuruh, kurasakan di dalam perutku seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan. Dulu aku merasakan perasaan seperti ini ketika masih duduk di bangku SMA saat dia -mantan kekasihku- memegang tanganku di gerbang sekolah. Dan sekarang baru kembali lagi rasa itu..
Ku langkahkan kakiku ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mengganti pakaian, segala kebutuhan sudah lengkap tersedia. Kenapa semua barang yang ada di kamar mandi bisa sama dengan produk yang aku pakai? Mungkinkah Arga menyiapkan segalanya untuk ku? Uhhh, geer!!!
Keluar dari kamar mandi aku baru sadar kalau pengharum di ruangan ini sama dengan wangi di kamar ku. Bukannya sesumbar ya, tapi aku yakin Arga menyiapkan semua ini untuk ku.
Setelah itu aku kembali ke ruangan bercat putih itu, ku rebahkan tubuhku di Kasur empuk berlogo KK yang aku taksir harganya bisa buat aku beli 4 unit motor sekaligus. Mataku menerawang langit-langit kamar, mengulang kembali segala yang terjadi sepanjang hari ini. Aku sudah di titik ini, wajib untuk ku memberikan penghargaan untuk diri ku sendiri sekedar ucapan selamat malam sebagai sapaan pengantar lelap.
Terima kasih sudah menjalani hari ini dengan baik, semoga Tuhan lebih menguatkan pundakku untuk menjalani hidup, semoga Tuhan lebih banyak memberikan stok kesabaran di hatiku dalam menghadapi segala ujian hidup, semoga esok hari ketika aku membuka mata, terangnya cahaya dari sang surya bisa membawaku kembali ke titik tertinggi sebuah harapan.
“Arga, selamat malam. Aku akan tidur bersamamu dalam hatiku.”
***
To be continue..