My happiness Is you

1251 Kata
Arganta Ragnala Manusia terlahir ke dunia dengan membawa rezeki dan jodohnya masing-masing, berbekal akal serta naluri, mewarisi paras dan warna kulit dari Gen Ayah dan/ atau ibu dari seorang anak, baik melalui hubungan biologis saupun sosial. Terkadang ketika melihat cermin dan bertemu seseorang yang luar biasa seperti diriku yang berparas lebih dari rata-rata untuk ukuran pria Asia. Aku selalu bertanya pada Tuhan yang dengan lautan kasih sayang-Nya telah menciptakan dan memberikan kehidupan untuk ku, Arganta Ragnala berasal dari rahim seorang Ibu dan benih seorang Ayah  mana kah sehingga mereka melahirkan sosok laki-laki seperti ku? Keegoisan kadang mendominasi akal sehat ku, walaupun di tengah keluarga Wijaya aku tidak kekurangan sesuatu apapun namun nyatanya aku selalu penasaran dengan orang tua yang telah melahirkan ku ke dunia ini. Dulu, ketika aku masih berada di bangku sekolah aku belajar teori tentang asal-usul manusia. Banyak ilmuan yang melahirkan teori asal-usul kehidupan manusia, kalian tau sendirikan? Ada yang berkonsep “Manusia berasal dari kera” seperti teori Evolusi Charles Robert Darwin, namun ada pula yang berkonsep “Manusia bukan berasal dari Kera” salah satunya Teorinya Gunung Surgawi dari Carolus Linnaeus, Teori Evolusi Lamarck dari Jean Baptiste Lamarck dan Teori berasal Dari Utara oleh George Louis LeClerc dan Comte De Buffon dan banyak lagi yang lainnya. Namun aku selalu percaya pada Tuhan yang meciptakan manusia dari tanah. Disuatu sore saat di perpustakaan sekolah, aku juga pernah membaca proses pembentukan manusia menurut perspektif sainsnya modern. Di sana di jelaskan, bahwa proses pembentukan manusia terjadi dalam 3 fase. Pertama Fase Zigot, yaitu sejak konsepsi hingga akhir minggu ke 2, ini adalah tahap pertama pertempuranku untuk datang kedunia, di fase ini membutuhkan kasih sayang antara dua manusia berlawanan jenis dan sangat jelas dalam proses ini membutuhkan pasangan laki-laki beserta perempuan. Kedua fase Embrio dan ketiga baru memasuki fase Janin. Jadi secara alamiahnya aku meyakini bahwa aku -seorang Arganta Ragnala yang telah diadopsi oleh keluarga Wijaya- pasti berasal dari rahim seorang Ibu dan benih seorang Ayah serta mempunyai silsilah keluarga dari marga -yang entah dibagian mana mereka mendiami bumi ini-. Selama ini aku selalu bersyukur karena aku tidak pernah kekurangan kasih sayang serta rezeki, walaupun hidup hanya berstatus anak adopsi dari keluarga Wijaya. Walaupun aku selalu penasaran dengan sosok mereka yang telah melahirkan ku ke dunia ini, namun sekalipun aku tidak terlalu berharap bertemu dengan mereka -dan tidak pernah juga berniat mencari mereka-. Yang sekarang menjadi prioritas dalam setiap do’aku adalah dia yang ku harap menjadi takdir jodohku. Selalu terselip nama gadis berparas cantik yang sekarang menempati ruangan yang telah ku tata sedemikian rupa khusus untuknya tepat di sebelah kamarku,-perempuan itu bukan hanya telah menempati kamar di rumahku, bahkan dia sudah menempati tempat istimewa dalam hatiku-. Ku lirik jam di atas nakas, pukul 23.45 sebentar lagi dini hari dan aku masih gelisah dengan urusan dunia. Dari sejak masuk kamar samapai sekarang aku belum bisa memejamkan mataku, fikiranku berkelana kemana-mana. Memikirkan asal-usul diriku, akankah Gantari tetap tinggal di sisiku andai dia tahu kebenaran tentangku yang hanya berstatus anak adopsi keluarga Wijaya? Ku sibakkan selimut dan turun dari ranjang, berjalan ke luar untuk melihat keadaan Tari. Sesampainya di depan pintu kamar yang di tempati Tari saat ini, tangan kananaku memegang handel siap untuk membuka, namun ragu. Aku melepaskan kembali gagang pintu kayu jati belanda berpernis itu. Namun akhirnya. . . Ceklek! aku tetep membuka pintu kamar tempat Tari tertidur. Aku melangkah dalam kegelapan berjalan ke arah ranjang, ku lihat Tari tidur menyamping menghadapku. Ku tatap wajah damai Tari yang sudah terlelap, aku menyingkirkan anak rambut dari wajahnya. Tari tidur dengan pulasnya, tidak ada gerakan mata dan aktivitas dari anggota tubuh lainnya, hanya terdengar ritme nafas yang beraturan. Ku selimuti tubuhnya sampai sebatas leher, aku condongkan tubuhku ke arah wajah cantiknya. Cup. Aku memberanikan diri mencium kening serta pipi gadis itu. “Mimpi indah, kamu yang akan menjadi ibu dari anak-anak ku.” Bisikku di telinganya. Aku kembali keluar dari kamar yang menurutku berhawa panas itu, padahal malam ini Lembang cukup dingin. Walaupun sebentar di dalam sana namun aku merasa kegerahan, atmosfir di dalam sana entahlah aku bingung menjelaskannya. Akhirnya tubuhku mendarat di sofa ruang tengah tidak berniat kembali ke dalam kamar,akhirnya aku membaringkan kepala di pinggiran sofa. Memejamkan mataku, dan meletakan tangan tepat di atasnya. Berharap kedamaian menghampiriku malam ini. Alam bawah sadarpun segera menyapa sesaat setelah aku memejamkan mata. Dan, selesai. Terima kasih diriku, kamu luar biasa hari ini. *** Tap. . Tap. .   Sreeeek . . Sreeeek. . Tidurku terganggu oleh suara langkah kaki seseorang membuka tirai jendela, aku terpaksa membuka mataku yang masih terasa berat. Ternyata Bi Mimin yang membuka gordeng, dia asisten rumah tanggaku yang tiap pagi selalu datang kerumahku. “Bi, jam berapa?” Tanyaku. Aku mendudukan tubuhku lalu meregangkan otot-otot ku yang sedikit terasa pegal di bagian leher. Ke lihat Bi Mimin berbalik ke arah ku. “Sudah jam 5 subuh, Den.” Jawabnya dengan panggilan Aden-nya seperti biasa. “Itu, Den. Anu . . .” Lanjutnya dengan tangan menunjuk ke arah kamar yang di tempati Tari. Aku tersenyum mengerti dengan maksud Bi Mimim. “Oh, itu Gantari. Enggak apa-apa, kamar itu enggak usah di bersihin dulu. Tunggu sampai dia bangun saja.” Ucapku pada wanita paruh baya yang mungkin usianya sama dengan usia Mami Tami.   “Tolong siapin sarapan aja ya Bi buat Tari.” Perintahku. “Baik, Den.” Jawabnya lalu beranjak pergi dari tempatnya berdiri berjalan menuruni tangga ke lantai bawah. Tangan ku memegang selimut bulu berwarna abu di atas paha, aku ingat semalam saat merebahkan tubuh di atas sofa aku tidak membawa selimut ini bersamaku. Siapa yang menyelimutiku semalam? Tari kah? Dengan berfikir dan berharap orang itu Tari aja hatiku udah sesenang ini. Pagi-pagi aku udah di buat mesem-mesem enggak jelas oleh perempuan yang sekarang mungkin masih bergelung nyaman di atas tempat tidur kamar rumahku. Aku menyibakan selimut yang masih bertengger nyaman di atas paha, berdiri lalu berjalan ke dalam kamarku. Tak lupa membawa serta selimut yang menjadi bukti perhatian Tari untukku “tapi bagai mana kalau bukan Tari? Tapi semalam di rumah aku cuman berdua sama dia, jadi itu pasti Tari kan?”. Dewa bathinku berperang dengan argument-nya masing-masing. Tapi aku tidak memperdulikannya, yang aku pedulikan hanya selimut bulu yang kini sedang ku tatap dalam genggamanku dengan perasaan berbunga-bunga dan sesekali aku mencium menyesap aromanya. Hari ini ku awali pagi dengan Tari sebagai moodboster-ku. Baru pertama kali aku merasakan hari senin  sesemangat ini, biasanya tiap hari senin paginya selalu diawali drama males-malesan. Soalnya di hotel pasti dengerin ocehan Ira. Ahh, Ira rasanya hidupku anteng beberapa hari ini tanpa dia yang biasanya mengganggu ketenanganku. Berarti bener yang orang bilang, kadang ada orang yang menjadi mendung dalam hidup kita dan ketika dia berlalu kehidupan akan kembali ceria. Mungkin itu definisi untuknya, maaf bukannya aku munafik -yang katanya tidak mencintainya, namun tetap mempertahankan pertunangan- tapi aku benar-benar belum menemukan jalan untuk mengakhiri semua ini dengannya. Digaris bawahi, belum menemukan cara. Itu berarti aku sudah punya niat untuk mengakhiri hubunganku dengan Ira. Sebaiknya aku tidak harus merusak kecerian hari ini dengan memikirkan Ira, mungkin sekarang aku harus mandi, sembahyang dan bersiap menyambut semburat merah mentari pagi yang mungkin sebentar lagi akan menampakan dirinya pada dunia -jika kabut tidak datang menyapa pagi ini-. Mumpung ada Tari di sini, aku akan mengajaknya menikmati udara pagi Lembang di balkon kamarku. Mungkin secangkir Teh dan setoples cemilan bisa menjadi pihak ke tiga diantara aku dan dia menikmati hangatnya sang surya pagi ini. Ahhh, semangat senin pagi ini sudah mencapai titik tertinggi dalam kisah hidupku. *** Bersambung..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN