Arganta Ragnala pov
Satu jam kemudian aku sudah siap dengan kaos oblong hitam kesayanganku yang dipadukan dengan celana chino pendek, di depan cermin aku menyisir rambut yang masih sedikit basah. Badanku sudah wangi sabun dan sudah sembahyang juga, so pagi ini tinggal ngajakin Tari sarapan bareng. Aku membuka tirai jendela dalam kamarku, tanganku mebuka pintu geser membiarkan udara segar Lembang masuk memenuhi seisi kamarku.
Tok, tok, tok.
Seseorang mengetuk pintu.
“Masuk.” Perintahku pada orang yang datang di balik pintu.
Ceklek, daun pintu terbuka dan menampilkan sosok wanita cantik yang masih memakai piyama tidur dengan rambut di cepol asal namun wajahnya sudah nampak segar. Aku tersenyum kala melihatnya, padahal tadi mau aku samperin ke kamarnya malah udah nyamperin duluan. Rezeki anak soleh *Ketawa jahat*.
“Mas Arga sudah bangun?” tanyanya sambil berjalan masuk ke dalam kamar, langkah lebarnya langsung menghampiriku yang tengah berdiri di depan jendela besar -yang menampakan pemandangan indah Lembang dipagi hari-.
“Udah dari tadi, gimana kamu mimpiin aku gak?” Tanyaku asal, yang di tanya malah tertawa menampilkan deretan gigi rapihnya. Tari berjalan keluar dari kamar ku, dia merentangkan kedua tangannya menghirup segarnya udara pagi ini.
“Mau mencoba breakfast di sini?” Aku menawarinya sarapan di tempat yang menurutku cocok menikmati terpaan hangatnya mentari pagi. Suasana yang didukung pemandangan gagahnya gunung tangkuban perahu yang bertengger di depan sejauh mata memandang, dan segarnya udara pagi Lembang serta indahnya warna kabut yang di terpa mentari pagi sangat cocok untuk memulai merekatkan hubunganku dengannya.
Aku berjalan mendekatinya, selintas aku melihat sesuatu yang menyembul mengintip di balik piyama satin tipis di belakang tengkuknya. “Tari bertato?” Batin ku.
“Boleh sarapan di sini?” Tanyanya lalu berbalik menghadapku, dia menyenderkan tubuhnya ke pagar kaca pembatas balkon. Aku tersenyum, senang aja gitu saat di bertanya dan meminta persetujuanku. Bersamanya, ternyata kehadiran ku lebih di hargai.
“Everything, anything.. apapun yang kamu mau.” Ucapku di balik senyum, dia tersenyum lalu beberapa kali mengangguk antusia mengiyakan ajakanku buat breakfast disini. Setelah mendapat persetujuannya, aku meninggalkannya ke lantai bawah dan meminta Bi Mimin membawa sarapan ke kamarku.
Ketika kembali ke kamar, aku disuguhi pemandangan wajah cantik Gantari diterpa semburat merah mentari pagi, ku sandarkan tubuhku di pinggiran pintu dan memasukan ke dua tangan ke saku celana. Sejenak menikmati indahnya karya sang pencipta di hadapanku, karena pahatan-pahatan wajah cantic Gantari terlalu indah untuk ku lewatkan.
“Den, makanan nya di taruh diman?” fokusku menikmati karya indah ciptaan Tuhan harus terinterupsi oleh kehadiran Bi Mimin di depan pintu kamar yang membawa nampan berisi makanan serta minuman yang aku minta.
“Bawa sini, Bi.” Perintahku, Bi Mimin mengikuti langkahku ke baklon kamar. Gantari tersenyum melihat kehadiranku bersa Bi Mimin yang mengekoriku.
“Biar saya bantu, Bu.” Ucapnya ramah. Tangan gantari cekatan memindahkan makanan serta minuman yang di bawa Bi Mimin ke atas meja.
“Terima kasih, Neng.” Rengkuhan sopan di suguhkan Bi Mimin untuk Gantari. Selama ini Ira tidak pernah berbincang atau menyapa asisten rumah tangga di rumah ku, sekalinya ngomong paling cuman merintah ini itu.
Aku merangkul pundak Gantari, “Sini aku kenalin.” Ucapku.
“Ini Bi Mimin yang suka bantu aku tiap hari di rumah, kalau udah beres semua pekerjaan rumah Bi Mimin pulang ke rumahnya. Kebetulan Bi Mimin tinggal masih deket-deket sini.” Lanjutku. Tari mengulurkan tangannya ke hadapan Bi Mimin yang langsung disambut senyum hangat oleh asisten rumah tanggaku.
“Panggil Tari aja, Bu. Maaf sudah merepotkan Bu Mimin.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Aduhhhh, Neng tangan Bibinya kotor.” Ucap Bi Mimin, tangannya di gosok-gosokan ke baju yang di pakainya. Namun tetap menyambut uluran tangan Tari.
“Neng Tari gak usah sungkan, kalau butuh apa-apa langsung panggil Bibi saja.” Lanjutnya. Aku melirik ke arah Tari yang masih menikmati rangkulanku.
“silahkan di nikmati, Neng. Bibi ke bawah dulu.” Pamitnya.
“Terima kasih, Bi.” Ucapku. Aku melepaskan rangkulanku di pundak Tari, tanganku menarik kursi untuk Tari tempati, Tari duduk di kursi yang sudah ku siapkan. Lengkungan bibir seksinya tersenyum dan berucap terima kasih tanpa suara ku arahku.
“Enggak apa-apa sarapannya ini aja?” tanyaku setelah mendaratkan bokongku di atas kursi kayu berwarna hitam. Bi Mimin cuman menyiapkan teh hangat, nasi goreng cumi telur dan buah segar.
“Aku Omnivora, kok.. jadi apapun aku makan.” Aku tertawa mendengar jawaban asalnya.
“Semalem si Evan kirim pesan nanyain kamu. Ternyata kamu deket juga ya sama adikku.” Sindirku di tengah suapan-suapan makanan ke mulutku. Kemarin sesudah mengantar Tari ke kamarnya aku cek ponselku yang sempat berdering oleh panggilan dari Ira.
Flashback on
Setelah mengantar Gantari ke kamarnya, aku langsung memasuki kamarku. Gugup dengan pangilan dari Ira, takut Tari bertanya siapa wanita yang potraitnya berpendar-pendar di layar smartphone-ku. Namun ketakutanku tak beralasan, karena Tari seolah tidak peduli dengan urusan pribadiku, syukurlah!!!
Aku mengecek notif di smartphone-ku, ada 2 panggilan tak terjawab dari Ira dan beberapa pesan masuk. Salah satunya dari evan dan dari Mami Tami. Aku membuak satu-satu pesan yang masuk ke room chat-ku.
Papa Kia
Bang, anak gue loe culik kemana?
Di kamarnya kagak ada.
Bang..
P
P
Jangan cemaceem loe bang.
Jawab napa Bang!
Me
Aman di rumah gue, Van.
Pesan yang di kirim Evan lumayan banyak, mungkin dia khawatir sama keberadaan Tari. Aku keluar dari room chat nya Evan dan masuk ke japri Mami tercintaku.
Mami Tami
Weekand gak nengok Mami, Bang?
Aku membaca deretan huruf yang membuat hatiku nyeri, Mami yang tidak mewarisi apapun dalam tubuhku namun kasih sayangnya sangat tulus untukku. Luasnya lautan tidak bisa menggambarkan seberapa besar kasih sayangnya yang tercurah untukku. Ku lirik jam di kamarku, baru pukul 22.04 mungkin Mami belum tidur. Ibu jari ku mengusap deretan angka di layar smartphone untuk menelpon Mami. Lama terdengar nada sambung dari panggilanku.
“Hallo, Bang.” Terdengar suara sapaan hangat diujung telpon dari wanita yang selama seperempat abad ini menjadi sandaran hidupku.
“Mami sama Papi sehat?” tanyaku, mataku berkaca-kaca saat bertanya kabar orang tuaku.
“Alhamdulilah, Bang. Papi sudah 2 hari dinas ke luar.” Ucap Mami di ujung telpon. Memang orang tua ku adalah pebisnis, jadi tak heran kalau banyak menghabiskan waktu di luar untuk mengurus pekerjaannya.
“Jadi Mami cuman sama Bi Inah di rumah.” Lanjutnya dengan nada sedikit kecewa. Kalau usia udah tua mungkin semua gitu ya, sifatnya selalu ingin diperhatiin kayak kembali ke masa kanak-kanak gitu. Aku hanya tersenyum mendengar rengekan Mami.
“Maaf ya, Abang di hotel banyak tamu. Evan juga satu bulan ke depan kerja di sini…”
“Ade juga di sana? Kenapa enggak ngajak Mami?” Nadanya satu oktaf lebih tinggi. Padahal aku belum juga menyelesaikan ucapanku Mami sudah lebih dulu memotongnya, dan jadinya kaya gini ngambek salah faham. Dikira si Evan lagi liburan. Hahaha makan tuhhh, pasti bakal kena semprot dia sesudah ini.
“Udah jangan ngambek dong. Lusa Abang jemput ya, bareng Kia.” Hiburku.
“Jangan bohong ya Bang, kualat bohongin orang tua.” Aku tertawa mendengar omelan Mamiku.
“Iya, Mih. Abang tutup dulu ya. Assalamu’alaikum.” Pamitku, terdengar suara Mamiku menjawab salam diujung telpon sebelum beliau memutus panggilanku.
Flashback off
“Padahal aku udah kirim pesan ke Mas Evan kalau aku tidur di rumah Mas Arga.” aku manyun mendengar jawaban Tari, kesannya kayak si Tari sama si Evan ini deket banget. Si Evan juga kenapa bisa sebaik ini sih sama perempuan? Yang aku tahu Evan itu paling cuek kalau masalah perempuan dia hanya baik sama Winda.
Aku kesal, dengan ekspresi wajah kurang bersahabat aku memasukan makanan ke dalam mulutku. Namun wanita di depanku tetap menikmati makanannya dengan tenang tidak mengerti perasaanku yang sedang enggak karuan gara-gara alasan yang tidak mendasar ini. Akhirnya aku menghabiskan makananku dalam diam.
“Mas ini kayaknya udah siang deh, aku takut ke siangan juga. Aku balik kamar dulu ya..” ucapnya setelah menyelesaikan makanannya. Aku melihat jam di pergelangan tanganku, dan benar saja ini sudah pukul 07.25
“Aku antar ke bawah ya.” Tanpa persetujuan darinya aku berjalan mendahuluinya masuk ke dalam kamar, namun tepat di depan pintu aku berhenti dan menarik Tariknya ke dalam pelukanku.
“sebentar saja.” Bisikku di telinganya, kurasakan tangannya melingkar di pinggangku. Dengan gemas ku gigit pundaknya yang sedikit tidak tertutupi piyama.
“Ahh, Mas Arga.” Desahnya. Sedikit lama aku bermain-main menggigit pundak putihnya yang dengan sengaja meninggalkan bekas tanda merah di sana.
“Mas, hentikan!” Pintanya masih dengan desahan yang membuatku menginginkannya melakukan lebih dari ini. namun aku menghentikan aktifitasku saat masih bisa mengendalikan diri dan melepaskan Tari dari pelukanku, karena aku tidak tau akan sejauh mana bila aku tidak menghentikannya sekarang. Aku menarik tanggannya berjalan menuruni tangga dan mengantarnya sampai ke depan rumah ku.
Aku setia menunggu kepergian Tari, menunggu punggung itu hilang di balik tembok hotel.
Sederhana saja, bahagiaku adalah Gantari.
--
To be continue