Gantari Willis
“Mbak, aku nunggu di depan ballroom ya. Cepetan, enggak pake lambreta.” Aku memutus panggilan sepihak tanpa menunggu jawaban Mbak Santi di ujung telpon. Yang katanya dia sama Mas Eko masih setengah jalan, jadi hari ini aku yang harus menyiapkan segala sesuatu untuk hari pertama training. Huhu, padahal aku sendiri jam segini baru turun kamar, dan kayaknya segala keperluan training hari ini sudah beres di siapin sama Mas Evan. “Duhh, piye ini kenapa atasan yang jadi repot sih”, Dengan tergesa dan sedikit berlari dan masuk ke dalam lift lantai 4 sesaat setelah pintunya terbuka.
Pukul delapan lewat sepuluh menit pagi ini, aku baru keluar kamar dengan setelan blazer berwarna pastel yang dipadukan dengan rok berwarna senada di atas lutut serta tetap setia dengan heels 9 cm andalanku yang membuat kepercayaan diriku dua kali lebih meningkat.
Saat ini -menurut jadwal yang telah ku buat sendiri- peserta training pasti sudah memasuki ruang pembekalan materi hari pertama, sementara aku -si pembuat jawal- masih di sini di dalam kotak besi yang akan membawaku ke lantai dasar tempat acara berlangsung hingga petang nanti. Duhhh, aku pasti bakal kena omelan Mas Evan. Batinku
Di dalam lift aku hanya sendiri, kebetulan aku jadi bisa memperbaiki riasan naturalku yang tadi tak sempat mengaplikasikan makeup di wajahku dengan sempurna. Urgent kek gini touchup di lift gak apa-apa kali. Pikirku
Aku melihat diriku di pantulan cermin cushion yang ku bawa dalam tas berlogo GG yang selalu setia menemaniku, aku melihat dengan teliti setiap inci wajahku. Light foundation yang sebelumnya sudah ku aplikasikan ke wajahku udah lumayan oke, mascara anti badai sama blush on berwarna coral yang menonjolkan kesan segar pada wajahku juga aman. Yang kurang hanya lipstick saja, soalnya tadi di kamar selain waktunya udah mepet aku juga udah percaya diri baget tanpa lipstick dan hanya menggunakan lip gloss sebagai sentuhan terakhir. Tapi sekarang ku pikir Gantari tanpa lipstick bagai sayur tanpa garam, hambar.
Aku merogoh tas mengambil lipstick berwarna nude dan mengaplikasikan ke bibir ku. Mulai sekarang lipstick itu wajib buat ku, wajib ya?? Iya wajib!!! Lipstick. . . lip itu kan bibir dalam bahasa inggris, stik itu bisa di artikan tongkat atau tiang. So, bibir itu seperti tiang penyangga untuk menjaga kata-kata supaya tidak kasar dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Elaaaaaah, Gantari ada-ada saja!
Ting..
Pintu lift yang membawaku ke lantai satu hotel terbuka, tanganku masih memegang cushion yang belum sempat ku masukan ke dalam tas. Aku mengangkat wajahku sebelum melangkah keluar dari kotak besi, aku mematung melihat pemandangan di depan pintu lift. Arga dengan style-nya kemeja berlengan panjang di gulung sampai siku, rambut yang sedikit masih basah. Di belakangnya berdiri seorang wanita dengan pakaian modis namun formal, mungkin itu sekretarisnya. Aku mengingat kembali ceritaku melewati malam sampai kejadian tadi pagi ketika Arga menggigit area antara leher dan bahu ku. Reflek tangan ku membenarkan letak ujung kaos yang ku pakai. Karena hari ini aku tidak memakai atasan berkerah, sehingga dapat di pastikan tanda yang di tinggalkan Arga tadi pagi sedikit banyak akan terlihat jelas. Entahlah aku bingung, antara harus menyapanya atau mendiamkannya saja, hanya cukup dengan seulas senyum sebagai sapaan sekedarnya. Namun ternyata Arga berinisiatif duluan menyapaku dengan lengkungan senyum hangatnya.
“Selamat pagi, Gantari.” Sapanya, aku tersenyum sedikit mencondongkan tubuhku ke arahnya. Kulihat wanita yang bersamanya pun tersenyum ramah kepada ku.
“Selamat pagi, Mas Arga. ahh, maaf .” Aku lupa kalau tubuh ku masih berada dalam lift dan menghalangi jalan mereka untuk masuk. Aku keluar dari lift dan mempersilahkan mereka berdua masuk. Arga pun masuk di ikuti wanita berambut panjang di belakangnya, tanpa menunggu pintu lift tertutup kakiku sudah meluncur dengan sedikit tergesa ke ballroom new shapire. Karena apa aku buru-buru meninggalkan mereka? Ya karena malu, pasti wanita yang bersama Arga sudah melihat tanda merah dengan bercak biru di leher bawahku. Di depan pintu netraku menemukan sosok atasanku yang sedang memilah-milah kertas di tangannya. Langkahku ku percepat sebisa mungkin, aku sudah melewatkan waktu dua puluh menit dari jam masuk kerja normal kantor.
“Selamat Pagi, Mas Evan.” Sapaku pertama kali dengan napas masih memburu, di depanku Mas Evan mengangkat wajahnya dan mengerutkan kedua alisnya. Melihatku yang masih berdiri dengan tangan mengusap-usap d**a.
“Kamu abis di kejar apa?” Tanyanya heran.
“Di kejar waktu, Mas. Yang bikin takut dan enggak kelihatan kaya hantu.” Jawab ku asal, Mas Evan di depanku acuh tak acuh dengan jawabanku
“Makannya anak gadis gak baik keluyuran sampe pagi.” Sindirnya, aku manyun mendengar sindirannya. “Nih, absen dulu. Mumpung masih ada 5 menit lagi.” Lanjutnya, ternyata Mas Evan tetaplah Mas Evan yang selalu baik kepada ku. Bukannya geer yaa, tapi dari pertama aku masuk Artha Tama Mas Evan ini udah baik sama aku. No, no, no, big no!! bukan baik dalam artian caper terus nyari kesempatan buat deketin aku tapi baik kaya perhatian seorang kakak sama adik nya. Ngerti gak sihh?? Dan aku pun udah gak sungkan lagi sama dia, cuman yaa aku juga tahu batasan dong kalau Mas Evan ini udah berkeluarga, jadi di luar jam kantor aku tidak pernah meminta bantuan apa-apa sama atasan ku ini.
“Mas, trainer tetep 3 orang? Gak nambah lagi?” tanyaku, ketika bokongku menyentuh kursi dibalik meja yang sama dengan yang di tempati Mas Evan.
“Tetep 3, untuk batch 1 ini penutupan kita majuin ke hari jum’at sore.” Katanya dengan tangan mengotak atik ponsel pintarnya.
“Udah deal sama trainer?” tanyaku tanpa melihatnya, aku membuka berkas yang ada di atas meja. Ternyata resume peserta training batch 1 yang sebentar lagi keluar buat coffe break.
“Ini juga permintaan mereka, kemarin malem ngobrol masalah ini.”
“Oh, iya Ri. . kantor udah transfer ke rekening kamu buat reimburse biaya akomodasi peserta, jadi kamu bisa menyiapkannya dari sekarang.” Lanjutnya, yahh ini mah alamat kerjaan bakalan banyak. Pertama bikin data peserta dengan mereka dimintai bukti pembayaran perjalanan pulang pergi, ke dua harus ke Bank ambil uang untuk akomodasi peserta. Yaa ampun neng, hari gini masih pake uang cash??? Minta nomor rekening masing-masing kali udah gak usah ribet datang ke bank segala. Aku tersenyum dan menepuk-nepuk kepalaku. Kok aku jadi bego gini yaa?
“Kenapa, Ry? Belum sadar dari kejadian semalem? Jidatnya sampai di tepuk-tepuk gitu.” Tanya Mas Evan dengan jari telunjuknya menunjuk kepalaku
“Hahh..” aku menatapnya “maaf Mas gak konek.” Jawabku sambil tertawa, bukan menertawakan Mas Evan tapi menertawakan kebegoanku sendiri.
“Ri, kalau misal Bang Arga. . . .”
“Haiii, Tari. . . . Selamat Pagi Pak Evan.” Ucapan Mas Evan terpotong oleh kedatangan Mbak Santi dan Mas Eko. Aku tersenyum menyambut kedatangan mereka berdua, aku berdiri dari duduk ku menyalami mereka lalu bercipika-cipiki dengan Mbak Santi. Mas Evan tidak meneruskan ucapannya dan aku pun melupakan apa yang akan di bicarakan Mas Evan kepada ku.
“Ternyata jarak tempuh dari Asia Afrika ke sini itu jauhnya sama ya kaya dari Benua Asia ke Benua Afrika.” Sindirku, Mas Eko tertawa dengan sindiran ku. Mbak Santi menarik kursi dan duduk di sebelah ku
“Tas buluk masih di pake aja Neng! katanya kemarin shopping pamer tas baru di postingan status.” Tangan Mbak santi membolak balik tas berwarna hitam kesayanganku yang sudah 2 tahun ini tidak pernah bosan menemaniku. Bukan apa-apa ini tas hadiah ulang tahun dari Mamaku. Aku tertawa mendengar ucapan Mbak santi yang menyindirku, karena kemarin siang aku memang memposting tas baru hadiah dari adikku Dita. Tas medium berwarna hitam keluaran brand yang berasal dari Avenue Montaigne, Paris Prancis. Yang harganya lumayan lah, empat bulan gaji aku di Artha Tama. Kalau kemarin gak di bayarin Dita, mana mau aku beli tas segitu mahalnya. Kan sayang yaa udah cape kerja sampe malem cuman buat kesenangan sesaat.
“Eh, Mbak. Sama tas buluk aja aku setia apa lagi sama cowok.” Jawabku cuek, Mbak Santi menggelengkan kepalanya. Tiap hari seperti ini lah interaksiku dengan mereka bertiga.
“It’s oke kamu emang setia cantik, cuman yang jadi masalahnya kamu laku gitu Neng? . . . . Cowoknya ada enggak?” Candanya, aku mendelik ke arah nya.
“Ya ampuun, Mbak. Tuh mulut yaa minta di sunat. Mbak dari pada tangan, mending mulutnya aja yang di-lotion deh. Biar enggak kasar!!!” Mas Evan ngakak denger jawaban ku buat Mbak santi.
4
“Gak tau aja si Mbak, kemaren si Koko RenJialun udah bawa seserahan ke kampung Mak, cuman eike tolak dong. Ya kali eike mau di jadiin selirnya.” Lanjutku asal
“Wow wow wow, daeeeebakkk!!! Kemarin yang di tolak sekelas Wang Yi Bo, sekarang gak tanggung-tanggung Papa Allen cin yang di tolak seorang Gantari.” Dengan bertepuk tangan Mbak Santi mendramatisir kata-katanya. Aku mengangkat dagu jumawa, Mas Eko sama Mas Evan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kita berdua. Bagi mereka interaksi aku dengan Mbak Santi yang seperti ini sudah tidak asing lagi.
“Oke oke oke, sekarang kerja ya cantik !!! mertua mu enggak bakal nanya kamu udah ghibahin siapa aja, dulu kamu udah nolak siapa aja. Calon mertua mu cuman bakal Tanya, kamu kerja dimana? Lulusan dari mana? Orang Tua kamu punya apa?” Mbak Santi berdiri dan meragakan ekspresi mertua kejam di serial TV Swasta Nasional. Emang yaa si Mbak Santi ini ada aja bahasanya.
“cikk cikk, di kata mertua pewarta gosip kali ahhh.” Jawabku
“Ri, eling calon mertua kamu itu Mami saya Ya. So, kamu jangan ghibahin beliau depan saya dong!” Ucap Mas Evan dengan matanya melihat tepat ke arah bercak merah di leher ku. Spontan tangan ku menutup leherku dengan cara menarik kerah blazer lebih tinggi dari posisi semula. Aku merasakan wajahku memanas, aku malu sama Mas Evan. Ahhhhh, Argaaaaa pagi-pagi udah bikin gara-gara.
“Maksudnya ape ya Pak Evan? Kok saya rada-rada enggak ngerti.” Tanya Mbak Santi
“kamu wajahnya kenapa memerah gitu, Ri?” sambung Mas Eko bertanya kepada ku. Aku menunduk menutup wajahku, di balik telapak tanganku aku hanya mendengan tawa khas Mas Evan yang sedang menertawakan ku.
“Enggak, ini rahasia Perusahaan.” Jawab Mas Evan masih dengan tawanya. Di tengah kebingungan dua orang temanku yang lain, pintu utama ballroom terbuka, aku melepas tangan yang menutupi wajahku melihat orang yang keluar. Ternyata yang keluar Bapak Tubagus trainer yang hari ini memberikan materi. Kami berempat berdiri menyambut orang yang kami anggap mampu memberikan materi Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme dan Law Of Banking ini. Aku sudah dua kali bertemu dengan beliau, dari segi usia laki-laki yang lahir di Bali ini mugkin sudah memasuki kepala 5. Namun penampilannya jangan di ragukan lagi, memiliki postur tinggi dan paras rupawan tidak kalah dengan penampilan Mas Arga yang masih di usia 30’an.
“Mas Evan, coffe break dulu. Saya minta waktu 30 menit.” Ucapnya ramah
“Baik, Pak. Silahkan.” Jawaban Mas Evan tak kalah ramah, para peserta mulai keluar dari ruangan nyaman nan sejuk namun membawa kantuk yang teramat sangat. Kadang di ruangan training seperti itu, melawan kantuk sangat sulit sekali seperti melawan kenangan mantan, semakin mencoba melupakan nya semakin bayangan itu terus menghampiri. Dan akhirnya mencari pasangan baru lagi untuk melampiaskan, ehh deng. . .maksudnya mencari coffe break untuk selingan menghilangkan kantuk di tengah mendengarkan pemaparan materi.
“Ri, to be honest. I think kamu enggak punya pasangan, tapi maksudnya ini apa?” Bisik Mbak Santi di telingaku. Salah satu jari tangannya menunjuk ke arah bercak merah di leherku. Ya ampuun, malu banget. Mau di taruh dimana muka ku sekarang tanda yang Arga tinggalkan ketahuan sama semua orang. Aku menggigit bibir bawahku, bingung mau jawab apa.
“Jangan bilang one night stand sama orang yang enggak kenal.” Mataku melotot dengan ucapan Mbak santi barusan. Aku masih bungkam tak menjawab pertanyaanya dan hanya memanyunkan bibirku dua senti lebih maju.
“Ehh, gue ngomong bukan sama tembok kali. Hai hai hai welcome to warga +62 dengan segala kebungkamannya ketika ketahuan.” Nada sarkas yang di lontarkan Mbak Santi tak membuat ku sakit hati, hanya saja aku bingung mau jawab apa. Di sini Arga perannya sebagai apa? Mau bilang Arga sebagai pacar, takut di sangka ngaku-ngaku. Di bilang cuman deket doang, tapi kok sampai membuat tanda ginian di tubuhku.
Mbak santi memutar bola mata, jengah dengan kebungkaman ku. Aku tersenyum ke arahnya, “Nanti aku ceritain, sekarang jam kerja. Enggak enak sama Mas Evan kalau gossip muui.” Jawabku mengalihkan pembicaraan. Yang penting hari ini aku bisa ngeles dari pertanyaan Mbak Santi.
”Tari..” Seseorang memanggil namaku, aku melihat siapa orang yang mengenaliku di sini. Perempuan berambut panjang dengan mata coklatnya berdiri di depan pintu Ballroom. Ahh, dia Sita teman sekelas ku waktu di bangku SMP. Terakhir bertemu dengannya ketika kami sama-sama memasuki sekolah menengah atas, namun baru menginjak smester 2 dia harus pindah karena mengikuti Ayahnya yang di pindah tugas ke Makassar.
“Sita? Apa kabar?” aku memeluknya hangat, pertemuan ini mengingatkanku pada pada anak laki-laki berseragam putih abu yang bersamaku di hutan waktu itu.
“Baik, Ri. Kemarin malam aku ketemu Pak Evan, dan katanya masih ada rekannya yang lain cuman lagi ada urusan di luar. Kirain aku bukan kamu.” Ucapnya, ohh Sita ini ternyata salah satu dari trainer yang memberikan materi minggu ini.
“Uhh, aku enggak tahu loh kamu jadi trainer sekarang.” Aku masih bercengkrama dengannya ketika netraku melihat bayangan Arga di lobby hotel.
“Nanti di sini sudah kelar, kita lanjut lagi ya.” Pintanya, aku menyetujui rencananya untuk berbincang kembali. Sekalian aku akan mengkonfirmasi anak laki-laki berseragam putih abu pada Sita yang saat itu tengah bersamaku. Karena aku selalu meyakini itu Arga, namun aku harus memastikannya kembali.
Dari jauh aku melihat Arga dengan senyum ramahnya yang sedang menyambut kedatangan seorang laki-laki paruh baya, selama sepuluh tahun aku menantikan pertemuan ini. Namun sekarang setelah bertemu kenapa rasanya Arga jauh untuk ku gapai? Seperti ada ribuan dinding yang menghalangi kita berdua, tapi entahlah mungkin aku hanya terlalu banyak berfikir. Dari dulu ketika yang lain singgah memberikan serangkaian cinta yang begitu indah aku hanya akan menerima tanpa menganggapnya. Namun berbeda dengan cerita sekarang, aku mengagumi tanpa memiliki. Biarlah tetap seperti ini, yang penting aku menemukan kembali dia yang selama lebih dari satu windu ini menempati relung hatiku.
“Arga, mungkinkah untuk kita bersama?”
***
To be continue..