Dira Anastasya
Aku merasakan usapan punggung tangan hangat seseorang membelai wajahku, dengan mata setengah terbuka aku melihatnya tepat di depan wajahku. Laki-laki yang sudah beberapa bulan ini ku temui di belakang Arga, tunanganku. Dia yang empat tahun lalu ku tinggalkan karena tidak sanggup hidup bersamaku, dia yang ku tingglkan demi tetap hidup nyaman di tengah keluarga Sudjono Salim orang terkaya yang menempati perigkat ke 10 di Indonesia. Ya, Ayahku. Sudjono Salim beserta sang istri tidak merestui hubunganku dengan laki-laki yang sekarang tengah memandangi setiap inci wajahku. Dengan rambut masih setengah basah, ku lihat bibirnya menyunggingkan senyum melihat wajah bantal yang ku tampilkan pagi ini.
Ini adalah hari ke 2 keberadaanku di Negri Sakura, tempatku dulu selama dua tahun menggantungkan harapan untuk kehadiranya disisiku, tempat yang menjadi saksi kegundahanku setiap malam karena merindukan suaranya dan bahkan akhirnya di Negri ini jugalah tempat membuang segala kenangan tentang dia lalu perlahan-lahan mencoba melupakannya.
Ya, tiga hari yang lalu aku memintai ijin kepada orang tuaku trip ke Jepang bersama genk sosialitaku padahal kenyataanya aku ke Jepang bersama laki-laki yang mereka benci. Kalaupun ke Arga aku hanya kirim pesan singkat mengabarkan kalau aku cuti selama dua minggu ke depan, dan sampai hari ini tidak ada tanggapan dari Arga.
Ketika di Bandara sesaat sebelum pesawat take off, aku sempat memposting di akun i********:-ku sebuah potret jendela pesawat terbang dengan captionnya aku tunjukan buat Ragil. Beberapa temanku mengomentari postinganku, Arga tidak muncul. Namun bukan berarti dia tidak melihatnya, bisa saja dia juga telah melihat postinganku namun dia mengabaikannya. Itu sudah biasa! Sudah menjadi makanan sehari-hari aku diacuhkan oleh seorang Arganta Ragnala. Karena aku pun tahu dia sama sekali tidak pernah mencintaiku dari dulu sampai saat ini.
“Bangun My Queen.” Bisiknya lembut di telingaku, sejenak pendengaranku tetap menikmati suara merdu milik Michael Bolton yang terdengar nyaring dari ponsel milik Ragil. Ya, Ragil Respati, Laki-laki yang sekarang bersamaku menikmati nyamannya tempat tidur Highland Mitsui Garden Resort Hotel & Spa Fujiyoshida-shi, Yamanashi, Japan. Aku merapatkan tubuhku ke dadanya, cuaca Jepang pagi ini sangat dingin dengan gumpalan-gumpalan salju masih menghiasi disetiap sudut kota, karena semalaman salju turun dengan lebatnya. Musim terakhir di Negeri Sakura ini menjadi pilihan terakhir Road Show 5 Negara Simvoni nama Grup Band baru tanah air yang dileaderi oleh salah satu anak teman Ayahku, dan menggandeng Ragil sebagai vokalis mereka. Rekomendasi dari ku juga, sehingga Ragil bisa masuk ke Simvoni. Soalnya aku kasian juga sama dia yang udah datang jauh-jauh ke Bandung dari Jakarta hanya untuk meminta bantuanku mengenalkannya dengan Simvoni. Karena dia tahu aku kenal dengan salah satu pendiri Simvoni.
Managemen Simvoni memilih Jepang sebagai tempat terakhir Road Show karena pada Musim dingin, di Jepang akan banyak festival salju yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat local bakan Mancanegara yang sengaja melancong pada Musim terakhir di Negeri Sakura ini. Dan bisa di pastikan acara manggung terakhir kali ini akan sukses dengan bantuan Musim dingin yang selalu menarik minat para pelancong untuk menikmati sajian music di tengah cuaca bersalju.
“Aku masih ngantuk.” Ucapku dengan suara manja. Aku semakin mengeratkan pelukanku ke tubuhnya, Ragil yang pagi ini sudah rapih dengan hoodie coklatnya mengecup pipiku.
“Katanya hari ini mau main ski sama snowboarding. Bangun yuk, anak-anak udah nunggu.” Perlahan mataku terbuka mendengar ajakan Ragil. Aku keluar dari zona nyamanku, dengan enggan melepaskan pelukan darinya. Bangun dan menyandarkan kepala disandaran ranjang. Ku Tarik selimut sebatas d**a, bau percintaan semalam masih kental di kamar yang aku tempati saat ini. Netraku melihat seisi ruangan, baju yang ku kenakan semalam masih teronggok di pinggiran Kasur. Baju Ragil pun masih sama berserakan di lantai marmer itu.
Tangan Ragil mengusap lembut pundak ku yang tak terhalang sehelai benang pun. Dari pertama hubungan kami terjalin, aku melakukannya dengan Ragil. Selaput tipis yang melindungi harga diriku pun aku berikan kepadanya ketika aku masih menjadi mahasiswi disalah satu Universitas di Jakarta enam tahun silam. Memang yang aku lakukan tidak berbanding lurus dengan logika, adat, etika dan norma yang berlaku di tempat kelahiranku yang notabenenya masih menganut adat ketimuran, namun apa daya jiwa muda ku selalu ingin melanggar batas-batas aturan itu. Kota Jakarta menjadi tempat pertemua pertamaku dengannya. Salah satu hobby-ku nongkrong bareng temen-temen dan kebetulan sore itu Ragil manggung di kafe tempatku hengout bareng bestiesku. Sejak pertama kali melihatnya aku sudah menaruh rasa untuknya, hingga segalanya aku berikan kepada Ragil. Termasuk kesucianku.
Namun jangan salah dengan Arga pun dalam 4 tahun terakhir ini menjadi tunangannya aku sudah melakukannya beberapa kali, bukan karena cinta namun karena nafsu dan kebutuhan saja. Mungkin sampai detik ini dia enggak bakal pernah sadar kalau waktu itu saat pertama kali aku melakukan dengannya aku sudah tidak memiliki selaput dara lagi. disamping karena Arga lagi mabuk saat pertama kali melakukan hubungan badan dengan ku, namun aku tahu itu juga kali pertama dia melakukannya. Bisa dibilang Arga amatir dalam hal begitu. Lamunanku buyar oleh sentuhan lembut tangan Ragil di rambutku.
“Tapi buat ke Tokamachi kamu masih punya simpenan gak? Tahu sendiri kan kalau aku baru mulai, Managemen cuman ngasih buat akomodasi aku aja Yang, enggak termasuk kamu.” Iya, aku tahu karirnya Ragil sekarang masih ditahap awal, apa susahnya sih aku ngeluarin duit buat kita jalan-jalan di sini. Aku menyibakan selimut putih tebal yang membungkus tubuhku, turun dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi tanpa sehelai benangpun yang melekat ditubuhku.
“Masih ada tabunganku, Sayang.” Ucapku sambil membalikan badan ke arahnya. Ragil tersenyum lebar, dia turun dari ranjang lalu berjalan mendekatiku. Mengelus perut rataku, lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku. Hembusan nafasnya terasa panas dikulitku, mengalahkan suhu dalam kamarku. Padahal pemanas ruangan ini sudah ku setting sedemikian rupa supaya terasa hangat.
“Jangan mincing-mancing deh, Yang. Kalau anak-anak enggak nunggu hari ini aku gak bakal keluar kamar.” Di depanku dia sekuat tenaga menahan hasrat untuk mencumbuku lagi. Aku mengecup bibirnya singkat.
“Aku mandi dulu.” Ucapku, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
“Kunci, Yang. Kalau enggak aku masuk.” Terdengar teriakan Ragil di balik pintu, aku hanya tersenyum mendengarnya. Ku lihat wajahku dipantulan cermin, bibir yang membengkak bekas gigitan Ragil. Di leherku serta atas tubuhku banyak bekas merah yang ditinggalkannya dari sesi percintaan kami semalam.
‘Huuupzzz...” Aku menghela nafasku, kalau diingat-ingat uang di rekeningku cuman tertinggal beberapa digit saja. Soalnya udah dikuras habis buat beli tas. Minta lagi sama Mama enggak mungkin, soalnya kemarin Mama udah transfer yang ku pake buat tiket pesawat trip ke Jepang sama sewa kamar hotel ini. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, udah lah sekarang mandi dulu masalah uang fikirin nanti. Pikirku
Setengah jam berlalu, aku keluar dari kamar mandi dengan jubah mandiku dan satu handuk ku lilitkan di atas kepala. Keramas dengan air hangat benar-benar membuat badanku terasa ringan, rasa pegal di sekujur tubuh hilang dengan hanya merendam tubuhku di bathtub berisi air hangat. Netraku memicing melihat Ragil berbaring di atas sofa dengan mata terpejam, hidung mancungnya sedikit diterpa sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela. Aku tersenyum melihat pemandangan indah di depan ku, sejak bertemu kembali dengan laki-laki kelahiran Jakarta ini aku tidak lagi mengikuti kemana Arga pergi, aku tidak lagi bersikap posesif pada Arga. waktuku benar-benar tersita oleh Ragil. Entah karena aku mencintai Ragil, entah karena hatiku enggak bersama Arga. Tapi yang pasti beberapa bulan ini aku enggak pernah meminta Arga menginap di Apartemenku, enggak pernah meminta Arga membawaku kemana dia pergi. Aku hanya menghubunginya ketika membutuhkan sesuatu atau aku kehabisan uang.
Dua hari ini aku menghabiskan waktu bersama Ragil, dan Arga tidak pernah menanyai kabar atau keberadaanku. Begitulah Arga, dari dulu kalau aku enggak punya inisiatif buat hubungi dia duluan, sampai lebaran monyet pun dia enggak bakal berinisiatif buat hubungi aku duluan. Tapi dengan keacuhan Arga selama ini sekarang menjadi ketenanganku. Karena aku tidak perlu khawatir Arga akan mengganggu waktuku bersama Ragil, Cinta pertama ku.
Aku duduk di depan meja rias, perlahan tanganku mulai mengusapkan makeup ke seluruh inci wajahku. Ragil terlihat dari pantulan cermin berjalan kearahku, dia memelukku dari belakang.
“Kamu wangi banget.” bisiknya, Ragil ini type laki-laki romantis. Sangat malah! Ucapannya, gerak tubuhnya, perlakuannya, ahh segalanya tentang dia yang memperlakukan aku selalu membuat hatiku bergetar luluh.
“Manggung aku udah beres, jadi kayaknya anak-anak seharian bakal main. Jadwal kita balik besok penerbangan siang.” Lanjutnya
“Kamu masih mau lama di sini, apa ikut mereka pulang?” Tanyaku, aku melepaskan tangannya yang melingkar di leherku, berjalan kearah lemari dan memilih pakaian yang akan di kenakan hari ini untuk menghabiskan hari mengitari kota Tokamachi, Prefektur Niigata, aku udah lama memimpikan main ski sama snowboarding. Soalnya kota Tokamachi ini selain dikaenal dengan Tokamachi Snow Festival yang menjadi festival musim dingin tertua di Negeri Sakura, kota ini juga memang dikenal sebagai tempat yang paling seru untuk bermain ski sama snowboarding.
“Aku gimana kamu aja. Tapi aku dapat transferan dari Management paling pertengahan bulan.” Ucapnya sambil melihat ku berpakaian.
“Aku masih sanggup bayarin sih kalau kamu masih mau liburan di sini. kita bisa perpanjang Visa.” Jawabku enteng, nanti sore aku minta di transfer aja sama Arga. bilang aku lagi liburan bareng temen-temen ku. batinku
“Ya, udah kalau gitu. Kita seminggu lagi di sini.” aku tersenyum mendengar jawaban darinya. Dari dulu aku selalu memprioritaskan segala keinginan Ragil. Entahlah, mungkin karena aku terlalu mencintainya. Dan sekarang aku mengesampinkan Arga, yang sudah jelas menjadi tunanganku dan lebih mendahulukan ego ku yang menginginkan Ragil menjadi milikku namun Arga tetap berada dalam jangkauanku. Dalam benakku lama tertanam sejuta bayangan segala tentang Ragil yang selama ini harus ku tepiskan karena orang tua ku lebih merestui Arga sebagai calon pendamping hidupku.