Matsunoyama

1323 Kata
Dira Anastasya Matsunoyama Hot Spring Ski Area Aku merapatkan mantel yang membungkus tubuhku sebagai penangkal dinginnya hawa Matsunoyama. Di sinilah aku sekarang, di atas kereta gantung bersama Ragil menikmati keindahan alam dari ketinggian. Sejauh mata memandang Matsunoyama Hot Spring Ski Area menyuguhkan panorama luasnya pegunungan yang tertutupi salju putih, pemandangan yang tidak akan di temukan di Negara asalku. Karena pada dasarnya Negara Indonesia hanya melewati dua musim sepanjang tahunnya, karena terlewati oleh garis khatulistiwa atau yang sering aku dengar sebagai garis imajinasi yang membagi bumi menjadi dua bagian serta menyebabkan kawasann atau daerah yang dilalui garis khatulistiwa ini memiliki iklim tripis yang hanya mengenal dua musim saja, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Sehingga tidak heran ketika musim dingin terjadi di negara yang jauh dari garis imajinasi ini, aku sebagai penikmat dari negara tropis yang hanya merasakan dua musim saja selalu menantikan saat-saat seperti ini, dimana salju turun menutupi daratan kota Jepang, dan segera datang meluangkan waktu ke tempat bersalju ini menikmati pemandangan yang terasa asing buat ku. Dan saat Ragil mengajakku trip ke Jepang bersama Managenentnya, aku langsung menyetujuinya. Ya, walaupun aku harus mengeluarkan uang dari saku sendiri untuk semua keperluan ku selama disini. Dan termasuk membiayai keperluan Ragil selama kelebihan hari disini yang tidak termasuk dalam jadwal manggungnya Shimvoni. Now, what to see and do? Tetap di atas kereta ngantung menikmati indahnya panorama ini atau ikut ski bersama teman-teman Ragil? Tapi aku sangat takut dengan meluncur dari ketinggian. Karena sewaktu kecil aku pernah terjatuh dari perosotan di halaman sekolah, hingga sekarang aku belum berani meluncur dari ketinggian lagi. Dengan banyaknya drama serta alasan akhirnya aku mengalah pada keadaan dan tetap tinggal di kereta gantung melihat Ragil bermain ski bersama rekan-rekan satu band-nya.   Aku membuka sarung tangan yang setia membungkus tanganku dalam perjalanan kali ini, merogoh tas yang ku bawa dan mengambil ponsel kesayanganku. Aku harus mengirim Arga pesan untuk mengirim uang ke akunku hari ini, tanpa menunggu lama aku mengetikan sederet kata-kata kepadanya yang masih berada di area +62. Sambil menunggu balasan pesan dari Arga, aku menikmati pemandangan di bawahku. Dimana Ragil yang tertawa bahagia dengan teman-temannya, demi dia yang ku cintai aku membohongi Arga dan orang tua ku. Tak lama balasan dari Arga yang bermil-mil jauhnya serta terpisahkan oleh lautan luas denganku saat ini masuk ke room chatku. Dia hanya menuliskan dua kata “Buat apa?” dengan menyematkan tanda Tanya di belakangnya. Dari dulu sikap Arga memang dingin, namun tak sedingin akhir-akhir ini. Aku juga sempat heran dengan perubahan sikap Arga beberapa minggu ini, di awali dengan pertengkaranku pada malam itu saat aku meminta di beliin tas keluaran terbaru yang sama dengan teman-teman sosialitaku dan itu menjadi terakhir kali Arga menginap di apartemenku. Aku ingat, waktu itu aku sempat masuk ke kamar yang di tempatinya dan menggodanya dengan menyingkap sedikit baju yang ku pakai malam itu ke atas pahaku, dengan sikapku yang nakal seperti itu biasanya dia akan menerjangku dan mencumbuku. Namun entah kenapa malam itu dia mengacuhkanku, lalu pergi tidur. Sampai sekarang dia tidak menemuiku bahkan membujuk pun tidak pernah. Sekarang, saat ini, di sini aku malah kepikiran kenapa sikap Arga seperti ini?? Mungkinkah dia tahu hubunganku dengan Ragil? Ahhh, tapi mana mungkin aku sangat rapih menyimpan hubunganku dengan Ragil. Karena aku pun masih belum punya keberanian untuk menentang keputusan kedua orang tua ku. Aku mengetikkan kembali balasanku untuknya, dengan alasan kehabisan uang dan malu sama teman-temanku. Hampir 10 menit aku menunggu balasan darinya, namun tak kunjung ada. Aku mulai cemas, beberapa kali aku mengecek ponselku melihat apakah ada notif yang masuk ke ponselku apa tidak. Sampai-sampai aku mengacuhkan Ragil yang tengah melambai-lambaikan tangannya di bawahku. Aku tersenyum ke arah Ragil yang masih melambai-lambaikan tangannya ke arahku, aku membalasnya dengan melambaikan satu tanganku kepadanya. Aku terperanjat kaget ketika suara notif pesan masuk ke aplikasi Mobile Banking-ku. Jempol tanganku mengusap layar benda pipih itu, dan menekan notif yang muncul di atas layar. Trx Rek. 67270xxxxxxxxxx: TRANSFER MASUK sebesar Rp. 40.000.000,00 Pada Tanggal 11/xx/xxxx Pukul 15:45:33 “Hupzzzzzzzz.. Arga cuman transfer 40 jeti. Mana cukup buat seminggu di sini.” Gumamku, aku kembali mengirimi Arga pesan namun sudah dari 10 menit dia belim membalas pesanku. Mungki dia masih sibuk di hotel, nanti malam atau besok aku telpon dia lagi. Dan kebetulan sekarang aku melihat Ragil berjalan kearah ku dengan masih mengenakan perlengkapan ski. Aku menyimpan kembali ponselku ke tas selempang yang ku bawa. “Kamu beneran gak mau ikut main?? Seru loh, kamu gak bakal takut kalau udah nyoba. Sekali aja yuk, ngapain coba datang jauh-jauh ke sini kalau enggak nyobain main ski di sini.” Bujuknya, benar juga sih yang di katakana Ragil, ngapain aku jauh-jauh datang ke sini kalau cuman duduk diem dan melewatkan permainan di wahana bersalju ini. Kalau cuman mau diam menikmati pemandangan, lah di ancol juga bisa kan ngapain sampai jauh-jauh datang ke jepang segala. Akhirnya aku mengiyakan ajakan Ragil untuk ikut gabung bermain ski di jalur yang biasa aja, enggak se exstreme kaya temen-temen Ragil. Adrenalinku terpacu oleh permainan ini, awalnya aku sempet urung karena kakiku gemeteran. Namun Ragil membimbingku, di awal-awal tangannya tetap memegangi tanganku, namun sudah setengah jalan tangannya terlepas dari genggamanku. Aku mulai terbiasa dengan jalur ski yang aku lewati, bahkan rasa takutku sudah terbang entah kemana dan tergantikan dengan keseruan. Sejenak terfikirkan, mungkinkah aku akan bisa keluar dari zona nyamanku dan membatalkan perjodohanku dengan Arga, awalnya mungkin itu tidak akan mudah karena aku yakin itu tidak akan di setujui oleh orang tua ku, tapi aku yakin ketika aku membuang rasa takut dan rasa cemas, perlahan itu akan terlewati dengan mudah. Dan, hampir 2 jam aku bermain, haripun sudah mulai gelap salju mulai turun kembali dengan lebatnya di kawasan Matsunoyama Hot Spring Ski Area. Selalu ada penutupan jalan saat salju turun, karena di khawatirkan bisa menciderai pengguna jalan. Dan dapat di pastikan jalur menuju kota tidak akan dapat di lalui karena jalanan biasanya licin dan terhalang oleh tumpukan salju. “Malam ini kita cari penginapan di sekitar sini, soalnya kita enggak bisa keluar juga dari kawasan ini.” Ucap Ragil setelah membereskan perlengkapan ski. Dingin yang menusuk sampai ke tulang membuatku enggan untuk menggerakan badan. “Tadi aku udah sempet Tanya sama guid-nya, katanya disini juga menyediakan penginapan.” Jawabku,  “Aku udah ijin sama Mami kalau trip-ku di perpanjang sampai tiga hari kedepan.” Lanjutku. “Ya, syukur kalau aman.” Jawabnya cuek “Yang, kalau misal aku enggak punya apa-apa kamu tetap mau nikahin aku enggak?” Tanyaku, sesaat setelah kami keluar dari area ski menuju penginapan yang direkomendasikan oleh salah satu guid tour disini. Ragi melirikku, tangannya memeluk pinggangku. “Tapi karirku masih seperti ini, Yang. Aku belum punya uang banyak buat kita.” Jawabnya ragu-ragu. “Ya, aku juga kan bisa kerja sama kamu juga kan sekarang lumayan udah kerja. Ya, walaupun aku tahu kamu baru merintis karir kamu.” Aku meyakinkannya, namun ketika melihat matanya aku tidak melihat keyakinan dalam bola mata Ragil. “Udah ahh, enggak usah bahas ini dulu. kita berdua masih muda. Cita-cita kita buat sukses jadi orang kaya harus kita raih dulu sayang.” Ucapnya, pelukan tangannya mengerat dipinggangku. Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Ragil, dan mengikutinya kedalam hotel yang kami pesan. Hawa hangat dari dalam penghangat ruangan segera aku rasakan setelah memasuki hotel yang cukup nyaman dengan dekorasi rumah adat jepang ini. Aku dan Ragi memesan hotel yang berbeda dengan teman-teman Ragil. Aku merendam kakiku di air hangat yang ada di belakang meja lesehan di area tempat makan. Rasa nyaman langsung menghampiriku, karena katanya yaa tiap hotel disini menyediakan air panas untuk merendam kaki para tamu ketika sedang menunggu makanan tersaji. Trip kali ini sangat mengesankan buat ku, banyak hal yang ku lalui bersama Ragil, satu-satunya laki-laki yang aku cuntai. Walaupun aku tahu konsekuensinya ketika aku pulang ke tanah air, aku akan berhadapan dengan Mami yang aku yakin sudah mengetahui perjalananku bersama Ragil ke jepang. Namun biarlah, masalah yang akan muncul bisa dipikirkan belakangan sekarang nikmati saja dulu kenyamanan ini bersamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN