Terlarang

2014 Kata
Arganta Ragnala Ketika Tuhan merahmatkan rasa kasih sayang ke setiap mahkluknya, pasti saat itu aku jadi orang terakhir yang mendapatkannya. Atas dasar apa? Karena selama tiga dekade lebih dua belas bulan lebih satu hari aku hidup di dunia, baru kali pertama ini merasakan rasa bahagia yang membuncah di hatiku dengan kehadiran seseorang di dalam kehidupanku. Sebelumnya aku belum pernah menyayangi dan mencintai seorang wanita sampai sedalam ini. Memang benar, Tuhan pasti mengirimkan orang yang tepat di waktu yang tepat pula. Ehh, enggak deh. Saat ini Tuhan mengirimkan kehadiran Tari bukan di waktu yang tepat. Karena apa? Karena sebelumnya, jauh sebelum Tari masuk ke dalam kehidupanku aku sudah menerima perjodohan yang telah di atur oleh keluarga ku. Ya, walaupun aku tidak pernah mencintai Ira tunanganku, tapi aku sudah lebih dulu menyetujui perjanjian pernikahan ini. Haruskah aku jujur dengan pertunanganku pada Gantari? Haruskah aku berhenti dari cinta terlarang ini? aku tahu Tari datang bukan diwaktu yang tepat, namun mau bagai mana lagi Tuhan menanamkan rasa kasih ini diwaktu sekarang. So, syukuri dan jalani saja. “Belum puas mandanginnya? Padahal semalem bobo bareng.” Aku terperanjat kaget dengan suara di belakangku. Ku tengokan kepala ke asal suara. Di sana, ya di kursi meja makan dapurku Evan duduk anteng. Didepannya tersaji nasi goreng yang sama dengan yang tadi ku makan bersama Tari di balkon kamar ku. Aku menghampiri asal suara yang membuyarkan lamunanku di depan pintu setelah mengantar kepergian Tari kembali ke kamar hotel. Aku mendaratkan tubuhku di kursi yang sebelumnya sudah ku tarik tepat di hadapan Evan, adikku. Pagi ini dia sudah rapih dengan setelan kerjanya, kemeja berwarna putih tulang tanpa dasi. Nasi goreng di hadapannya hanya tinggal seperempat saja, “Kalau lihat nasi yang hanya tersisa seperempat berarti dia udah cukup lama di rumahku.” Batinku “Namanya juga serumah, ya pasti bobo bareng.” Jawabku acuh. Tanganku terulur mengambil buah pisang yang tersaji di atas meja. “Beneran, Bang? Yakin gak takut sama Nenek Lampir?” Tanya Evan dengan mata melotot sedikit tak percaya. Nenek Lampir, adalah sebutannya untuk Ira. Aku enggak tahu pasti kapan dan apa alasannya sehingga Evan tidak menyukai Ira. Setiap ada pertemuan keluarga, atau setiap makan malam bersama aku tidak pernah melihat Evan dan Ira bertegur sapa. Bahkan Winda istrinya Evan pun tidak dekat dengan Ira, komunikasi hanya sebatas say hallo aja. Apa lagi dengan Kia, Ira tidak pernah mengajak main keponakanku. Alasannya, Ira tidak terlalu menyukai anak kecil. Heran juga sih, biasanya perempuan seusia Ira itu paling suka anak kecil kan? Tapi Ira malah kebalikannya, katanya “Ga, Kia itu berisik. Teriak-teriak mulu, makeup aku di tumpah-tumpahin sama dia. Baju aku kotor sama eskrim dan cokelat yang dia makan” dan masih banyak lagi keluhannya. “Udah dari tadi di rumah gue, kenapa gak ikut sarapan di atas?” Aku tidak menjawab pertanyaan sebelumnya, justru malah balik bertanya padanya. “Gue enggak kepikiran buat jadi nyamuk.” Ucapnya dengan mulut penuh makanan. Ya ampuun, aku heran gimana si Winda bisa cinta sama si Evan yang kelakuannya somplak gini. “Van, telen dulu tuh nasi baru ngomong. Heran deh kok bisa-bisanya orang secantik Winda bisa cinta sama Bapak si Kia.” Di depanku dia mendelik mendengar ucapanku. “Tadi gue terpaksa ke sini, kalau kangjeng Mami enggak nelpon gue ogah nyamperin loe, Bang.” Ucapnya setelah menghabiskan makanan yang tersisa di piringnya. “Kenapa juga loe enggak angkat telpon Mami sih?” Lanjutnya bertanya. Dari keluar kamar mandi sampai sekarang aku melupakan ponsel pintarku yang kebetulan aku simpan di atas nakas kamarku. “Gue enggak bawa ponsel, di silent juga. Ada apa Mami pagi-pagi nelpon?” Tanyaku. Padahal udah tak heran sih Mami sering nelponin anak-anaknya. Apa lagi seminggu ini aku enggak pulang setor muka sama Mami, walaupun aku udah setua ini tapi Mami enggak pernah absen menanyakan kabar. Kata Beliau sih “Walaupun kamu udah sebesar ini Bang, tapi buat Mami kamu masih anak laki-laki yang Mami gendong dan memeluk Mami saat takut melihat seekor monyet di Kebun Binatang.” Aku selalu bersyukur di pertemukan dengan Mami Tami sebagai Ibu asuhku, karena dari kecil kasih sayangnya tidak pernah berubah kepadaku walaupun dengan kehadiran Evan ditahun pertama aku menjadi bagian dari keluarga besar Wijaya. Sejak kecil aku memang bukan anak pemberani, berbeda dengan adikku. Ketika aku diganggu oleh teman-teman sebayaku, justru Evanlah yang selalu maju membelaku. “Bokapnya si Nenek Lampir mau Bang Arga cepet-cepet kawinin anaknya.” Begitukah? Aku mengingat kembali waktu yang diajukan oleh keluarga Ira untuk melangsungkan pernikahan. Dan masih di tahun ini, waktu itu Mami mengusulkan acara pernikahanku dengan Ira digelar pertengahan bulan ke enam tahun ini. Sementara sekarang sudah hampir memasuki pertengahan tanggal di bulan ke dua, berarti masih ada waktu sekitar empat bulan lagi. “Kan semua udah sepakat bulan enam, Dek?” Jawabku bingung, masa calon mertuaku memajukan tanggal pernikahan tanpa berdiskusi dulu denganku. “Mana gue tahu, Bang. Mami juga waktu tadi nelpon bilang bingung dengan segala keinginannya keluarga Sudjono yang katanya keluarga kalangan elite.” Ucap Evan mencibir . “Kalau tahu anaknya, emak bapaknya kayak gitu dulu gue enggak bakal setuju dengan pertunangan loe, Bang.” Lanjutnya, Yaa apa gunanya menyesali kejadian yang sudah berlangsung empat tahun silam dan bahkan digaris bawahi sampai sekarang aku masih bertahan menjalaninya. Karena enggak dipungkiri juga akupun menerima keuntungan dengan pertunanganku bersama Ira, Pemegang saham yang dulunya memandangku dengan sebelah mata hanya karena statusku sebagai anak pungut keluarga Wijaya kini semua mendekatiku. Ya walaupun aku tahu mereka hanya menjilat, namun dengan begitu posisiku semakin aman di perusahaan. “Inget telpon balik Mami.” Evan berdiri dari kursinya. “Bi, makasih makananya.” Ucap Evan sedikit berteriak ke arah asisten rumah tanggaku yang sekarang sedang membersihkan ruang tamu. Bi Mimin tersenyum kepadanya, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya membersihkan meja di ruang tamu. “Gue ke hotel duluan ya Bang. Gue yakin si Tari bakal kesiangan.” Pamitnya dengan menggeleng-geleng kepala. “Gue nunggu dulu Diana.” Ucapku, kemarin malam dipesan yang dikirim sekretarisku itu katanya dia akan  melaporkan sesuatu yang katanya enggak pantas via telpon harus langsung bertemu. Bingung juga, dia mau laporin apa sampe gak bisa lewat telpon dan harus langsung ngomong ke aku. Si Evan berlalu dengan satu tangan ke atas dan jari tangannya membentuk huruf O. Setelah kepergian Evan dari rumahku, akupun kembali ke kamarku di lantai atas. Mengganti baju dan mengecek ponsel yang masih nyaman berdiam di atas nakas samping ranjangku. Setelah membuka kunci di layar ponsel, ada beberapa pesan yang masuk dari klient-ku dan beberapa panggilan tak terjawab dari Mami, Diana sekretarisku dan juga Ira yang masih berstatus tunanganku. “Ada apa lagi dia menelponku.” Tanya batinku. Aku mendial kontak dengan nama Diana di layar ponsel, dua kali nada sambung terdengar diana baru menerima panggilan dari ku. “Ya, Pak Arga. Saya sudah di parkiran.” Ucapnya di ujung telpon tanpa basa basi. “Ahh, iya. Saya otw.” Tut. Aku mengakhiri panggilan untuk sekretarisku, mengambil jam tangan di lemari aksesoris dan keluar dari kamar. Di depan pintu, aku tidak langsung keluar namun membuka pintu kamar di sebelah kamarku. Kamar yang semalam ditempati oleh Tari, aku berjalan ke dalam ruangan bercat putih itu. Baju yang Tari pakai kemarin masih ada di atas meja, karena ketika tadi meninggalkan kediamanku dia masih memakai baju tidur yang aku siapkan di kamar ini. Mataku memindai seluruh isi ruangan, rapih dan bersih tanpa jejak Tari. Hanya meninggalkan baju yang di pakainya semalam dan harum tubuhnya. Mungkin Bi Mimin sudah membereskan kamar ini ketika tadi kita berdua sarapan. Aku berbalik melangkah keluar ruangan dan menutup kembali pintu kamar yang semalam di tempati Gantari. Keluar rumah menuju lobby hotel, Diana sudah Stay di pintu utama lobby dengan stelan kerjanya menunggu kedatanganku. Senyumnya mengembang kala netranya menemukanku yang berjalan dengan langkah lebar menghampirinya. “Bicara di ruangan saya, Di.” Ucapku pada sekretarisku ketika aku sampai ditempatnya berdiri menungguku. “Baik Pak.” Patuhnya, Diana mengekoriku di belakang menuju lift yanga akan membawa kami berdua ke kantorku di lantai 8. Tiba di depan pintu lift aku menunggu lift turun dan kebetulan turun dari lantai 4 jadi tidak akan terlalu lama untukku berdiri menunggu di sini. Ting.. Suara pintu lift terbuka, di dalam lift hanya Gantari sendiri berdiri mematung dengan tangan memegang sesuatu. Entah apa yang dia pegang yang pasti berbentuk bulat bukan sejenis ponsel yang berbentuk persegi. Ketika melihatku dia sedikit terperanjat, tangannya ke atas memegang kerah baju. Fokusku jadi ke titik itu, dimana tangan Tari mendarat. Dan sedikit terlihat tanda yang ku tinggalkan tadi pagi, karena dia hanya memakai baju tanpa kerah. Aku sangat menyesal dengan kesalahan terindahku kali ini yang mungkin akan membuat dia malu bertemu dengan rekan kerjanya nanti. Lama dia mematung di dalam lift tanpa bicara apa-apa, aku berinisiatif menyapanya duluan. Ketika menjawab dia terlihat ragu dan tidak fokus. Mungkin dia enggak leluasa dengan tanda yang ku tinggalkan di leher bawahnya. Aku masuk ke dalam lift saat Tari memberi jalan untukku masuk, Tari berlalu tanpa menoleh kembali. “Itu Bu Tari yang dari Artha Tama kan, Pak?” Tanya sekretarisku saat ku rasakan lift perlahan bergerak naik ke atas. “Heeemmm..” Gumamku. “Masalah apa yang mau kamu sampaikan ke saya?” tanyaku tanpa melihatnya. “Ada transaksi ke luar dari rekening hotel, kemungkinan besar Bu Ira.” Ucapnya, aku manggut-manggut mendengar laporan Diana. Karena kemarin aku hanya kasih dia empat puluh juta dan dia berani mengambil uang hotel. “Keterlaluan ira.” Batinku.    “Kapan itu?” Tanyaku kembali. “Tadi malam, Pak.” Jawabnya, pintu lift terbuka. Aku melangkah menuju ruanganku diikuti Diana di belakangku. “Berapa yang dia ambil?” tanyaku pada sekretarisku ketika aku sampai di ruanganku, aku memutari meja dan duduk di kursi kebesaranku. Ku lihat Diana takut-takut menjawab pertanyaanku. “Sembilan puluh lima juta, Pak.” Jawabnya meringis, aku memejamkan mataku mendengar jawaban Diana. Satu bulan ini aku udah kasih dia uang 140 juta dan itu masih kurang. Aku tidak percaya dengan apa yang dilakukan tunanganku itu, namun nyatanya seperti itulah Ira. Mungkin sampai sekarang Mami Papiku Belum tahu kelakuan Ira, hanya Evan yang tahu kalau Ira sering meminta uang padaku dalam jumlah yang tidak sedikit. “Kamu bisa kembali, nanti kalau ada apa-apa kasih tahu saya.” Perintahku kepadanya, ku lihat dia menganggukan kepala mengerti. “Baik, Pak.” Diana berbalik meninggalkan ruanganku, menghilang dibalik pintu yang dia tutup. Akhirnya aku fokus dengan tumpukan berkas di depanku, pekerjaanku hari ini lumayan banyak karena semua kerjaan yang Ira tinggalkan aku yang mengerjakannya. Aku beralih ke layar di depanku membuka beberapa file yang aku butuhkan, larut dalam pekerjaan tak terasa satu jam berlalu. Aku merasakan getaran dari ponselku, panggilan masuk ke nomorku yang aku simpan di saku jas yang ku kenakan hari ini. Naman calon mertuaku berpendar-bendar di layar handphone-ku. Mau aku liatin sampai panggilannya berakhir, enggak sopan. Mau aku angkat panggilannya, males juga. Akhirnya panggilan itu pun berakhir dengan sendirinya, satu detik setelahnya muncul pemberitahuan di layar “1 panggilan tak terjawab dari Bapak Sudjono Salim”. “Nanti aku tinggal mencari alasan yang pas kalau-lakau calon Bapak mertuaku bertanya.” Pikirku. Namun selang beberapa menit, panggilannya pun masuk kembali ke nomorku. Pasrah, akhirnya aku menjawab panggilannya. “Hallo, Pak.” Sapaku ketika panggilannya tersambung. “kamu lagi sibuk, Nak?” Tanyanya sopan, “Saya sudah di jalan arah hotel kamu.” Lanjutnya, aku menggaruk kepalaku yang tak gatal “Ngapain Bapak mertua sampai nyamperin aku ke hotel?” Tanya batinku. “Kebetulan kerjaan sudah selesai semua, Pak.” Bohong.   “Nanti saya jemput di lobby.” Lanjutku menawarkan diri. “Baik kalau begitu, sampai ketemu di hotel.” ucapnya, lalu panggilanpun berakhir. Mungkinkah tentang pernihakan? Ahh, sebaiknya aku jangan menerka-nerka dulu sebelum orangnya datang mengutarakan tujuan. Saat ini fikiranku benar-benar kacau, tentang kerjaan yang Ira tinggalkan begitu saja, tentang kelakuan Ira yang sudah melewati batas, tentang calon bapak mertua yang tetiba nyamperin ke tempat kerja dengan tujuan yang masih abu, dan tentang hubungan terlarangku dengan Gantari. Ya, bukan cinta yang tidak pantas untuknya, namun waktu dan keadaanlah yang membuat cinta ini singgah bukan pada tempatnya sehingga membuat cinta yang ku berikan terlarang untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN