Arganta Ragnala
Aku merapihkan kemeja putih yang ku pakai hari ini di cermin dalam lift hotel, tujuanku adalah lobby hotel New Shapire untuk menyambut kedatangan calon bapak mertuaku yang hari ini tanpa pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba saja berkunjung ke tempatku mencari nafkah. Hal seperti ini sebelumnya tidak pernah terjadi, ketika ada makan malam bersama atau sekedar ngopi kumpul-kumpul keluarga Mami ku selalu konfirmasi terlebih dahulu.
Gugup? Enggak juga!
Cemas? Iya!
Cemas karena memikirkan perkataan adikku Evan tadi pagi, yang katanya keluarga Ira ingin prosesi pernikahan Ira dan aku waktunya dipercepat ke tiga bulan lebih awal. Yang sebelumnya direncanakan pada pertengahan tahun ini. Padahal baru kabar angin yang belum tentu kepastian kabarnya, tapi aku udah secemas ini. Takut kabar itu benar adanya lalu keluargaku menyetujui keinginan keluarga Ira.
Bukan masalah biaya yang aku cemaskan, walaupun segala fasilitas acara pernikahan aku yang tanggung, serta keluarga Ira yang meminta mahar lebih tinggi dari kebanyakan orang, namun aku masih sanggup mengusahakannya. Justru yang aku cemaskan adalah hatiku yang sampai sekarang belum menetapkan pilihan kepadanya, aku selalu meminta kepada sang pembolak-balik rasa, pemilik hati seluruh mahkluk bernyawa, supaya masih diberi kesempatan menjatuhkan pilihan untuk hati yang tepat. Melengkapi hati dengan dia yang sama-sama masih mencari, lalu berhenti ketika sama-sama melengkapi, dan memberi kebahagian tulus tanpa paksaan seperti ini.
Berawal seperti ini, aku enggak tahu akhirnya akan seperti apa. Orang bilang dua orang yang saling mencintai dan sudah saling melengkapipun tidak jadi jaminan pernikahan mereka langgeng. aku pikir, dua orang yang saling mencintai dan saling melengkapi aja tidak menjadi jaminan pernikahan mereka langgeng, bertahan sampai maut memisahkan tanpa di dalamnya dibumbui percekcokan. Apa lagi hubungan yang diawali tanpa rasa dan tidak ada keyakinan dengan pilihan seperti ini, enggak tahu akan dibawa kemana hubungan rumah tangga tanpa pondasi kokoh seperti ini, dan aku sampai hari ini pernikahanku dengan Ira tidak pernah terjadi. Bukan apa-apa, dari pada kita saling menyakiti dan berpisah dikemudian hari lebih baik jangan ada pernikahan sekalian.
Ketika pintu lift terbuka, aku melangkah keluar yang kebetulan calon bapak mertuaku sudah ada di area lobby hotel. Langkahku sedikit ku percepat menghampiri beliau, seulas senyum dari bibir hitamnya yang seorang pecandu berat kretek disungginggkan untukku yang telah dengan sengaja menjemputnya di lobby hotel. Walaupun sudah Nampak beberapa kerutan di ujung mata namun beliau masih terlihat gagah diangka usianya yang sudah memasuki setengah abad lebih.
“Apa kabar, Pak.” Sapaku dengan senyum hangat, tanganku menyalami tangan Bapak Sudjono Salim salah satu pemegang saham Perusahaan Minyak di Indonesia. Tubuhku sedikit membungkuk ketika menyalaminya, Beliau adalah calon bapak mertuaku dari versi perjodohan keluarga, kenapa harus ada kata versi? Apakah mungkin ada versi pilihan lain untuk jadi calon bapak mertua? Jawabannya tidak sama sekali, tidak ada calon bapak mertua yang lain tapi setidaknya untuk saat ini. Ehh, gimana sih Bang? Berarti intinya ini si Abang mengharapkan ganti calon bapak mertua dong. Hahahaha
Aku bukannya enggak mau pria paruh baya yang sekarang tepat berada dihadapanku ini menjadi mertuaku, namun masalahnya hatiku masih abu menjatuhkan pilihan untuk anak gadisnya.
Cinta itu enggak bisa di paksakan! iya.
Pernikahan itu harus menjadi wadah hati saling melengkapi! setuju.
Rasa nyaman untuk bersandar harus di miliki setiap pasangan! bener.
Jadi intinya pondasi kokoh pernikahan adalah yakin dalam menjatuhkan pilihan. Ketika sudah memilih dia yang kamu yakini akan menemani mu hidup dalam bahtera rumah tangga, apapun yang akan terjadi ke depannya dalam proses menjalani kehidupan pernikahan kamu tidak akan menyesalinya, karena itu sudah menjadi komitmen yang sudah kamu putuskan jauh sebelum ijab sah.
“Baik, kamu sehat Nak?” calon bapak mertuaku bertanya dengan logat khasnya, kalau mereka yang punya keturunan memang gitu kan, punya logat khas masing-masing beda sama aku yang orang pribumi. Logatnya pasti tetep aja ada sundanya walaupun udah terbang ke luar Negeri juga, hahaha pameeerrr kamu Arga.
“Saya baik, Pak.” Ucapku menjawab pertanyaan laki-laki paruh baya berkharisma di hadapanku yang tingginya hanya sekupingku. Katanya udah tahap calon bapak mertua, tapi kok enggak seakrab yang di bayangkan. Kenapa masih ada formalitas di antara kita? Jawabannya, karena dari dulu aku tidak pernah mengakrabkan diri pada keluarga Ira. Panggilan kepada orang tuanya pun masih memakai panggilan Ibu sama Bapak, beda sama Ira yang udah manggil Mami Tami sama Papi Wijaya sama orang tua ku.
“Sebentar lagi Papi mu sampai, mungkin bareng sama Mami mu juga.” Ucapnya lagi. Dan rasa was-was serta cemas yang tadi sempat mereda kini muncul kembali. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Pak Sudjono Salim, Papanya Ira ini. Bukan apa-apa tapi pikiranku blank, tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Akhirnya aku mengajak Pak Sudjono ke ruanganku untuk menunggu kedua orangtua ku di lantai 8 kantor ku.
Aku bergeming, kala netraku melihat sosok cantik yang kemungkinan sudah dari tadi memperhatikan interaksiku dengan bapak calon mertuaku dari lorong hotel arah ballroom. Pak Sudjono sudah berjalan jauh di depanku menuju lift yang akan membawa kami ke lantai 8 hotel. Saat ini hatiku gambang dengan dua pilihan, menuruti ego atau membunuh rasa. Apa dengan menuruti ego, dan memilih jalan untuk kebahagianaanku sendiri lalu mengesampingkan perasaan orang tuaku kehidupanku ke depan akan bahagia? Apa aku sudah yakin rasa yang kumiliki untuk dia yang saat ini netraku tengah bertubrukan dengan netra bening miliknya adalah rasa yang nyata, bukan rasa sesaat ketika hatiku tanpa arah? Entahlah, yang pasti ego dan bijakku saat ini sedang berperang dengan argument masing-masing karena pilihanku yang masih bias.
“Nak Arga.” Panggilan Pak Sudjono Salim menginterupsi lamunanku, aku menoleh ke arah laki-laki paruh baya berkacamata yang berdiri menungguku di depan pintu lift yang sudah terbuka.
“Ya, Pak.” Jawabku terkesan buru-buru. Sekali lagi aku kembali menliriknya ke tempat Tari berdiri. Namun, Gantari sudah memunggungiku dan terlihat sedang bercengkrama dengan teman kerjanya. “Ahh, sudahlah. Aku harus meredam rasa gundahku disidang paripurna hari ini dengan orang tuaku bersama orang tua Ira.” Batinku.
Dengan langkah lebar aku menyusul Pak Sudjono yang sekarang sudah menungguku di dalam lift, sampai di depan lift aku buru-buru masuk dan berdiri berdampingan dengan bapak calon mertuaku.
“Maaf, pak. Tadi sebentar melihat dulu Evan, kebetulan lagi ada projeck di hotel saya.” Ucapku kemudian sesaat setelah kurasakan lift berjalan ke atas.
“Nak Evan lagi di sini juga? Kalau sekirnya Nak Evan hari ini enggak sibuk, bisa gabung dengan pembicaraan kita nanti.” Usulnya, wahh gak salah lagi. Mungkin feeling ku hari ini sangat sensitive jadi bisa menerka kedatangan para orang tua ini bisa dipastikan 99,99 % adalah untuk urusan pernikahan ku dengan Ira.
“Saya enggak yakin, Pak. Tapi akan saya coba mengajaknya.” Ku paksakan tersenyum saat menjawab usulan Pak Sudjono. Akhirnya kami sampai di lantai 8, keluar dari lift lalu mempersilahkan Papanya Ira masuk ke dalam ruanganku, namun sebelum masuk aku memerintahkan sekretarisku membuat kudapan untuk kedua orang tuaku beserta orang tua Ira.
“Sudah setahun saya enggak ke hotel kamu, dan saya lihat dalam setahun sudah banyak berubah.” Ucapnya ketika aku masuk ruangan, calon bapak mertuaku sedang berdiri dihadapan kaca besar yang menghadap ke kolam renang belakang hotel. Dan dari sini, terlihat pula rumah yang aku bangun beberapa tahun ke belakang.
“Kebetulan pak, tahun-tahun ini pengunjung sama tamu hotel banyak. Apa lagi liburan sama akhir pekan banyak tamu yang kecewa gara-gara enggak kebagian kamar.” Jawabku seadanya tanpa melebih-lebihkan keadaan hotel akhir-akhir ini.
“Silahkan duduk, pak!” Lanjutku mempersilahkan beliau duduk di sofa depan meja kerjaku. Pak Sudjono berjalan ke arah ku, lalu duduk tepat dihadapanku.
“Kalau kamu rajin seperti ini, saya jadi tenang anak saya hidup satu atap dengan kamu.” Dan mulai, pembahasan pernikahan yang sebetulnya ingin aku hindari. Pak Sudjono membenarkan letak kaca matanya, tangannya merogok saku jas yang hari ini dia kenakan, mengeluarkan sebungkus keretek beserta pematiknya.
“Di sini free apa no smoking?” Tanyanya melihatku.
“Mangga, Pak. Di ruangan saya bebas, saya juga kadang-kadang merokok.” Jawabku sembari berjalan ke arah meja kerja dan mengambil asbak yang ku simpan diambalan bawah meja lalu meletakannya di atas meja depan sofa. Seperempat jam lebih kami ngalor-ngidul, ngobrol bahas sana bahas sini ketika pintu ruangan terbuka menampilkan sosok wanita cantik nan anggun walau diusianya yang sudah tak muda lagi, di belakangnya disusul oleh pria payuh baya memakai setelan jas kebesarannya sebagai seorang pendiri Wijaya Corporate. Ya, mereka orang tua ku yang telah membesarkan dan membimbingku sampai sesukses sekarang.
“Mami, Papi.” Sambutku, aku berdiri dari dudukku. Berjalan kearah mereka, lalu mencium tangan kedua orang tua ku yang satu minggu ini tidak ku tengok.
“Long time no see, Pak Wijaya.” Sapa Pak Sudjono pertama kali, mereka berpelukan sebentar.
“Apa kabar, Mas Sudjono?” Sapa Mami Tami di belakang Papi.
“Baik, Tami. Makin cantik aja.” Mami Tami tertawa dengan sanjungan calon mertuaku, mungkin karena Pak sudjono ini kerabat dari pihak Mami sehingga ada komunikasi yang hangat serta akrab diantara mereka, berbeda dengan Papi yang seadanya seperti aku.
“Silahkan, Pak.” Papi Wijaya mempersilahkan calon besannya untuk duduk kembali, diawali dengan obrolan bisnis mereka berdua yang kebetulan Pak Sudjono ini akan berinvest kembali di Wijaya Corporate, lalu cerita liburan yang tiap setengah tahun sekali wajib bagi kedua keluarga, hingga proprti apa saja yang sekarang sudah di miliki keluarga sultan sekelas Sudjono Salim itu menjadi perbincangan seru diantara para orang tua. Aku hanya mendengarkan dan sesekali menanggapi obrolan mereka.
Aku merafalkan do’a dalam hati, semoga calon mertuaku ini lupa dengan topik pembicaraan inti alasan beliau datang jauh-jauh ke hotelku. Harapan tinggal harapan karena pada akhirnya Pak Sudjono Salim menyiggung pernikahn aku dengan putrinya juga, Dira Anastasya.
“Pak Wijaya, sekarang ke intinya saja. Kedatangan saya kemari murni karena keinginan saya untuk membahas kelanjutan pernikahan putra putri kita. Tidak ada dorongan dari keinginan putri saya.” Ucapnya setelah sebelumnya sukses membangun pembicaraan yang seru dan hangat bersama ke dua orang tua ku.
“Saya dari dulu, monggo. Selalu ikut kemauan istri sama anak saya baiknya seperti apa.” Jawaban Papi Wijaya dengan bijak.
“Saya kira sepertinya dari awal kita sudah sepakat Pak, pernikahan akan dilangsungkan pertengahan bulan 6 tahun ini, kan?” Tanya Papi, laki-laki paruh baya di depan Papi tersenyum hangat.
“Iya, tapi saya cuman menyarankan. Bagaimana kalau di percepat ke bulan 4 karena bulan empat atau bulan enam enggak ada bedanya. Toh pada akhirnya mereka akan menikah juga kan?” Ucapnya, aku pun angkat bicara mendengar ucapannya.
“Kalau Bapak ingin pernikahan aku sama Ira dipercepat kayaknya Ira juga harus hadir, Pak. Kita juga perlu mengkonfirmasi pendapat Ira seperti apa. Takutnya tidak sesuai dengan yang kita sepakati saat ini.” Ucapku sok bijak, padahal aku tahu Ira lagi enggak ada di Indonesia. Entah kapan balik ke tanah air dan dipastikan dalam waktu dekat dia tidak bisa menghadiri pertemuan apapun.
“Iya juga, Mas. Ini kan pernikahn mereka berdua jadi aku setuju sama sarannya Abang. Ira juga harus ikut menyumbang pendapatnya.” Mami Tami menyetujui pendapatku.
“Bang, gimana kalau sekarang coba hubungi Ira suruh ke sini.” Dan jeng jeng jeng umpanku dimakan juga, ujung mataku melirik Pak Sudjono yang saat ini tengah menutupi ke gugupannya.
“Sebentar, Mih.” Ucapku, lalu berdiri berjalan ke meja kerja ku untuk mengambil ponsel yang dari tadi tersimpan di atas meja kebesaranku.
“Nak Arga, enggak apa-apa enggak hari ini juga soalnya ini sudah siang juga.” Ucap Pak Sudjono. Padahal tanganku baru menyentuh benda pipih sejuta manfaat buat ku itu, namun tiba-tiba Papanya Ira melarangku dengan alasan hari ini tidak cukup waktunya. Katanya perjalanan Ira kemari dari apartemennya aja akan memakan waktu satu jam setengah, jadi beliau akan mengatur pertemuan kembali selanjutnya yang dipastikan Ira akan hadir dipertemuan selanjutnya. Ke dua orang tuaku menyetujui usulan Pak Sudjono Salim.
Setelah kepulangan calon besan orang tua ku yang di antar langsung oleh ku sampai depan lift, akhirnya aku bisa bernafas lega dan normal kembali, setelah sebelumnya pasokan oksigen di ruanganku rasanya sangat sedikit dengan pembahasan pernikahan yang masih bias buat ku.
“Ada masalah, Bang?” Tanya Mami ku ketika aku menutup pintu ruangan. Mami menatapku dalam, dan inilah feeling seorang ibu yang mampu menerka rasa apa yang anak-anaknya pendam walau sudah sekuat tenaga disembunyikan dengan terus menampilkan senyum terbaik di hadapannya sepanjang pertemuan.