Gantari Willis
Biar kata udah haha hihi sana sini bareng Mbak Santi, ngeghibah segala yang kita temukan saat melipir ke dunia maya. Namun entah kenapa hati ini masih aja sesek. Yapsss, nyesek!! Rasanya kayak ada bongkahan batu besar yang menghimpit rongga pernafasanku.
Ini udah masuk sore hari juga, tapi aku masih kepikiran terus sikap Arga beberapa saat yang lalu ketika netra kami bertubrukan. Entah dia samar melihatku karena jarak kita yang mungkin cukup jauh terhalang beberapa meter, entah dia sengaja mengabaikan keberadaanku saat itu. Yang pasti tidak ada senyum hangat yang biasa dia tunjukan kepadaku, seolah-olah kita adalah dua orang asing yang saat itu baru pertama kali bertemu.
Apa yang salah dengan diriku? Apa karena perhatian Arga yang selama ini dia kasih buatku dan dengan beberapa cimun waktu itu lalu membuatku berfikir kalau Arga sudah menjadi miliku? Sebelumnya aku tidak pernah berfikir sesempit ini, namun dari tadi pertanyaan-pertanyaan itu terus menggangguku.
Menempati sebagai apa posisiku dalam hati Arga?
Sebagai air mata pada matanya, kah?
Sebagai burung pada sangkarnya?
Apa sebagai jasad pada makamnya? Beberapa hal Yang mustahil terlepaskan dari satu sama lain karena sangat berkaitan erat.
Atau mungkin bisa jadi hanya sebagai selingan di antara kekosongan hatinya? Sehingga mencari keberadaan ku dikala butuh dan mengacuhkan ku disaat bosan lalu mencari kesenangan dari yang lain?
Uhhh, kenapa hari ini aku rasa-rasanya kayak anak es-em-pe yang baru kasmaran? Di acuhin dikit aja udah rewel banyak protes, banyak drama. Mungkin saja hari ini Arga punya kesulitannya sendiri, sehingga bersikap acuh tak acuh padaku. Udah ahh, enggak baik kesel terus lagian tadi pagi sikap Arga masih manis, tunggu aja sampai jam kerjanya selesai dan nanti bisa ditanyakan baik-baik. Kan dengan pikiran seperti ini kayaknya aku bakalan layak mendapatkan piala citra untuk katagori wanita terpengertian se-antero bumi alam. Elaaah, Gantari mulai lagi dehh gesreknya.
“Neng, udah jam 3. Mau istirahat gantian apa bareng?” Tanya Mbak Santi di tengah kesibukan ku menjadi pendengar setia dari pertanyaan-pertanyan yang bermunculan dalam fikiranku. Aku melirik Mas Evan yang sekarang duduk di sebelah ku, ya kami masih berada di depan ballroom hotel, sekitar dua jam lagi acara di dalam ruangan bakalan beres.
“Eummmp, Mas Evan enggak apa-apa di tinggal sendiri?” aku malah bertanya terlebih dahulu sama atasanku sebelum ku jawab pertanyaan Mbak Santi.
Mas Evan manggut manggut, dengan tangan masih memegang kertas hasil jawaban peserta training tadi siang. “Boleh, 15 menit cukup ya?” jawabnya. Aku tersenyum sumringah ke arahnya mendengar jawaban dari atasanku
“Oke, Mas.” Jawabku, tanganku mengambil tas yang ku letakan di atas meja dan memasukan ponsel ke dalam nya.
“Ayoook, Mbak.” Ajakku sambil berdiri dan berjalan mengapit lengan Mbak Santi ke belakang hotel, disana ada fasilitas kolam renang, Gym dan Mushola juga untuk tamu muslim.
“Mbak, aku masih halangan. Aku nunggu di pinggir kolam aja ya.” Ucapku saat kami sudah setengah jalan menuju belakang hotel yang jaraknya lumayan dekat.
“Sip..” jawabnya menanggapi ucapanku, Mbak Santi menoleh ke arah ku,
“Ehhh, yang punya hotel ini tuh keluarganya Pak Evan, ya Ri?” Tanyanya,
“Iya, Mbak. Kakaknya Mas Evan yang punya hotel ini. Mbak dapet info dari siapa?” tanyaku basa-basi.
“Dari Eko. Katanya waktu pertama MOU kan Eko yang urus, terus yang dia temui tuh Bu Ira bukan kakaknya Pak Evan. Kalau cewek kan bibirnya lemes yaa, jadi deseu cerita katanya pemilik hotel ini kakaknya Pak Evan.” Jelasnya panjang lebar, ohh mungkin yang di panggil Mbak Santi Bu Ira itu adalah sekretarisnya Arga yang tadi pagi papasan di lift.
“Ohh, gitu yaa Mbak. Tapi Mas Evan enggak pernah cerita loh. Aku juga tahu pas udah pertemuan yang ke berapa kalinya gitu, itu juga bukan dia yang ngomong.” Sambungku bercerita.
“Pak Evan itu enggak pernah pamer-pamer, tapi feel aku udah kuat sih kalau Pak Evan anak orang kaya. Soalnya yah barang yang dia pake walaupun sederhana tapi nilainya tinggi, emang yaa orang kaya dari lahir mah gitu ngumpet-ngumpet enggak kaya OKB apa-apa di posting.” Ehh, ini si Mbak mau ke mushola masih aja ghibah, hadeeeeeh..
“Udah nyampe kolam, Mbak. Aku nunggu di sini yaa.” Aku berhenti di salah satu kursi di pinggir kolam, tanganku menyimpan tas di atas meja. Sore ini kolam tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang pengunjung yang sedang menikmati sejuknya air pengunungan Lembang.
“Aku enggak bakal lama kok, tunggu yaa.” Mbak Santi berlalu meninggalkan ku sendiri di sini. aku duduk di atas kursi yang memang tidak di tempati oleh siapapun. Di sini spot view-nya bagus, memang cocok buat menikmati secangkir teh disore hari. Namun sore ini langit Lembang tertutup kabut tipis, yang mungkin sebentar lagi kabut tebal akan menyelimuti tanah dataran tinggi ini. Aku merapatkan blazer yang ku kenakan hari ini, karena cuaca yang ku rasakan saat ini lumayan dingin ampai menusuk ke tulangku, dan aku menggosok-gosokan kedua telapak tanganku di depan d**a.
“Tadi orang tua Pak Bos sama Bu Bos datang barengan, mungkin ada rapat paripurna.” Samar-samar aku mendengar percakapan dua orang karyawan yang melintas di tempat ku duduk menikmati indahnya kabut tipis sore ini.
“Mungkin sebentar lagi bakal ada pesta, Dy. Kan hubungan merekan lumayan udah lama ya? Tinggal nentuin tanggal terus ijab kobul, udah beres sah. Terus yah denger-denger Pak Bos tuh suka nginep gituh di tempat Bu bos.” Lawan bicaranya menimpali obrolan, dua karyawan itu masing-masing membawa nampan berisi beberapa gelas minuman yang diantarkan ke meja di pinggir kolam belakang aku. Pak Bos sama Bu Bos?? Bos di sini kan Arga ya, maksudnya gimana? Sumpah demi apapun aku penasaran dengan obrolan dua karyawan tadi. Arga single kan? Soalnya waktu kemarin aku menginap di rumahnya tidak ada tanda-tanda dia punya pasangan. Apa mungkin hotel ini mempunyai beberapa pemegang saham, sehingga ada lebih dari satu orang bos. Ahh, mungkin bisa jadi seperti itu ceritanya.
Tapi gimana kalau seandainya yang di bicarakan dua karyawan itu memang benar Arga? seketika rasanya bumi ini berhenti berputar, mungkin benar saat ini aku terlalu banyak berpikir, terlalu banyak menerka-nerka sesuatu yang belum pasti kebenarannya. Namun aku takut, malah sangat takut. disaat aku sudah membuka hati yang sudah sekian lama terkunci tapi aku malah jadi pengganti sesaat dalam hatinya. Aku masih trauma dengan rumah tangga orang tuaku. Memikirkan itu, kepalaku benar-benar pusing, hatiku gundah enggak tahu apa yang aku rasakan saat ini.
Netraku menerawang jauh menembus kabut putih tebal yang menyelimuti tanah dataran tinggi ini. Yaa, kabut. Walaupun Nampak indah, kabut hanya pengganti sesaat antara senja dan hujan. Namun aku tidak berfikir untuk menjadi pengganti sesaat dalam kekosongan hati Arga, dan tersisishkan saat yang lain hadir kembali dalam hatinya.
Kini gerimis hadir menemani kegundahanku, dari kejauhan kulihat bayangan Mbak Santi berjalan dengan langkah lebar menuju ke arah ku. Tak terasa aku memikirkan sesuatu yang masih bias sudah selama ini, ku putuskan mengambil tas dan bersiap meninggalkan tempat ku menghabiskan waktu.
“Kuyy, Ri.” Ajak Mbak Santi, aku mengapit tangannya dan berjalan kembali ke dalam hotel berdampingan dengannya.
“Do’a apa, Mbak? Lumayan lama yeee.” Sindirku, Mbak Santi memicingkan mata ke arahku.
“Kepo aja, apa kepo banget nihhh?” ucapnya, aku memanyunkan bibir mendengar jawabannya.
“Kali aja minta dikirim jodoh tampan, mapan, anak kolongmerat, kayahh rayahhh gemah ripah loh jinawi, keturunan ningrat darah biru gitu. Biar bawa seserahannya saham sama deposit di Bank Artha Tama yang bunganya gedooong cin.” Cibir ku.
“Tuhh bibir yaa, udah minum pelumas apa minyak goreng? Lemes banget, heraaaan.” Ucapnya.
“Ehhh, tapi beneran ada loh definisi laki-laki yang kaya gitu, mau?” Lanjutnya bertanya, aku buru-buru menoleh ke arahnya. Shock mendengar ucapan Mbak santi barusan, Ini beneran ada laki-laki modelan kayak gitu, enggak dalam khayalan aku doangkan?
“Beneran ada Mbak laki-laki kaya gitu?” tanyaku penasaran
“Sumpah ada, malahan tetangga komplek aku.” Jawabnya dengan wajah serius.
“Tapi aki-aki bangkotan, udah punya istri 4. Kalau kamu mau bakal dijadiin bininya yang ke 5, lumayan kan hartanya banyak. Kalau metong kan lumayan kamu dapet warisan banyak, terus kamu tinggak kawin lagi. kelar deh urusan.” Mbak Santi tertawa melihatku yang melotot menatapnya horor.
“Ehh, amit-amit cabang bayi yaa Mbak. Ogahhh..” Aku mengetuk-ngetuk kepalaku beberapa kali, lalu mengusap-usap perut mendengar jawaban perawan lebih dari matang yang kayaknya menuju fase busuk di sebelahku ini. Haha memang bener ya yang dikatakana orang-orang, semakin akrab pertemanan pasti akan semakin kasar pula percakapan yang digunakan. Kayak aku sama Mbak Santi, walaupun ngomong kasar tapi aku sama Mbak Santi enggak pernah tersinggung.
“Tapi beneran loh, Ri. Tuh aki-aki masih aja ganjen pengen nikahin yang muda-muda.” Ohh, ini masih lanjut pembahasan aki-aki, kirain udahan. Ahahaha aku geleng-geleng kepala mendengar ocehan perawan tua ini.
“Ya, udah embat aja Mbak. Kan lumayan ya ada yang nemenin masa tua dari pada jadi perawan tua terus.” Hahaha sumpah, I’m laugh my ass off. Sampai aku menutup mulut saking tawaku yang terlalu keras, sampai beberapa pengunjung melirik heran ke arahku.
“ehh, sekate-kate. Eikeu gini-gini belum purna yaa, eikeu Jomblo tapi tetep seloooow Mak! Alphard sama Lamborghini lakunya enggak secepat Avanza dan balad-baladnya kali. Harga kan menentukan kualitas, biar kata udah tuwir tapi kualitas sama harga eikeu di atas gadis-gadis muda ya. ” Dan tawaku semakin menjadi mendengar perumpamaan Mbak Santi untuk dirinya. Daebaak, acungin empat jempol bual perawan tuanya Artha Tama.
“Ohh God. . If this is a dream, please don’t wake me up.” Ucapku di tengah tawaku yang belum mereda, dengan hanya obrolan ringan gini aja aku melupakan kegundahan hatiku karena Arga.
“Ngeghibah apa sampe rame gitu?” lahh, itu suara Mas Evan. Ternyata tanpa menoleh kiri kanan aku udah sampai di depan ballroom, ya ampun sampe enggak sadar gini. Dan aku diam seketika, mematung saat netraku melihat keberadaan seseorang yang seharian ini membuatku menerka-nerka sesuatu yang masih bias. Dia, yang sekarang duduk di samping Mas Evan melirik ke arahku. Arga, ya Arganta yang pesonanya selalu membuat hatiku luluh.
“Ri, bisa ikut aku sebentar?” Tanyanya, dan tahu enggak dengan mendengar suaranya saja jantungku meloncat-loncat girang minta keluar. Reflex, tanganku sampai menyentuh dadaku karena merasakan sedikit nyeri yang di timbulkan rasa bahagia yang membuncah.
“Ahh, maaf Mas. Tapi aku belum beres. Gimana dengan waktu makan malam?” Jawabku gugup.
“Iya, lah Bang. Ini masih jam kerja, baru juga di tinggal sehari loe udah enggak bisa diem aja.” Ucap Mas Evan yang sukses membuat Mbak Santi menyiku pinggangku. Aku meliriknya, Mbak Santi seolah meminta penjelasan lewat tatapan mautnya. Dan aku hanya tersenyum memberi isyarat “nanti akan ku jelaskan.”
“It’s oke nanti jam 7 aku temani kamu makan, ya. Sekarang aku pulang dulu.” Ucapnya sambil berdiri dan berjalan mendekatiku, tangannya terulur mengacak rambut ku.
“Miss you.” Ucapnya tanpa bersuara.
Aku bahagia dan gugup dalam waktu bersamaan, Arga cuman menyentuh kepalaku dan menggerakan bibirnya bilang rindu aku. Dan cuman gitu aja jantung aku hampir nyungsep ke selokan depan hotel, untung garcep mungut lagi. Gusti nu Agung, apa kabar hatiku kalau Arga terus bersikap manis seperti ini?
“Jangan kemana-mana, nanti aku ke room kamu.” Bisiknya di telingaku, aku merinding mendengar bisikannya. Hangatnya nafas Arga yang menerpa kulitku membuat bulu kudukku berdiri, aku memejamkan mata sesaat sebelum Arga berlalu pergi meninggalkanku yang mematung. Di dalam perutku ku rasakan ada ribuan kupu-kupu berterbangan, rasanya nyeri, berdebar, dan ahhh entahlah..
“Pak evan, itu tadi..?” Tanya Mbak Santi bingung dengan interaksi Arga denganku.
“Ohh, itu kakak saya. Yang punya hotel ini.” Jawabnya cuek.
“Dan, Gantari Willis. Tadi ituuu. . .” Todong Mbak santi dengan dua tangan ke sisi kanan kiri kepala, jarinya membentuk kuping kelinci.
“Eump..” aku menggigit bibir bawahku, bingung mau jawab apa dengan hubungan ku dengan Arga yang aku pun belum yakin mau dibawa kemana hubunganku dengannya.
“Calon suaminya.” Celetuk Mas Evan memecah kegugupanku, celetukannya sukses membuatku dan Mbak Santi melotot ke arahnya. Aku enggak percaya dua kata keramat itu akan keluar dari mulut Mas Evan yang notabenenya adalah keluarga inti Arganta.
“Ih, apaan sih Mas Evan.” Protesku, yang di protes malah nyengir.
“Bukan gitu sihh, ahh pokoknya bingung mau ceritanya dari mana dulu.” Cicitku,
“Enggak apa-apa, enggak usah di paksain.” Mbak Santi mengusap punggunggku lembut.
“Ikuti kata hatimu.” Mbak Santi mengucapkannya dengan lembut.
Seperti pelangi sehabis hujan, kata-kata Mbak Santi kali ini memberikan pengaruh yang begitu besar untukku. Yaa, ikuti kata hatimu.
Dan hari ini jantungku enggak aman hanya dengan mendengar namanya saja, perlakuan dia enggak se-hot yang lain, bisa di bilang kita minim alias tipis sekali skinship. Namun Arganta hari ini mampu memporak porandakan hatiku kembali. Dia mampu menjungkir balikan hatiku dalam satu hari ini.