Author pov
Pukul tujuh malam Arga sudah berkeliaran di New Shapire, hotel miliknya. Dengan berbekal rasa penasarannya untuk -memastikan perasaan apa yang dimilikinya untuk Gantari- selama ini, dia tiba di depan pintu kamar yang di tempati Tari selama beberapa minggu ke depan. Tangannya sudah mencapai bel di atas pintu, namun ragu. Ujung jari telunjuknya maju mundur sampai beberapa saat jarinya tak kunjung menyentuh tombol kecil di atas pintu kayu itu.
Arga ragu! Ya, ia ragu dengan keputusan yang diambilnya saat ini untuk memastikan perasaan yang sebenarnya kepada Gantari. Bagaimana jika rasa itu benar untuk Tari, apa yang harus dia lakukan ke depannya.
Arga takut! Ya, Arga takut atas jawaban yang mungkin sebentar lagi akan dia dapatkan ketika si empu yang punya ruangan di depannya membuka lebar pintu kamarnya. Bagaimana jika jawaban yang ia dapat tidak sesuai dengan harapannya, kalau Tari hanya pengisi sesaat diantara kekosongan hatinya.
Dilema, perasaan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Karena sebelumnya dia dikenal sebagai pengusaha muda yang selalu mengambil setiap keputusan dengan tepat. Namun bila menyangkut Gantari ternyata dia tidak bisa apa-apa, Arga kalah dengan perasaan yang masih samar.
Namun malam ini dia harus membuat keputusan untuk kisah asmaranya yang belum menemui jalan penyelesaian dengan wanita yang mendiami kamar di depannya, karena siang tadi ultimatum dari Ibu sudah dia terima bahwa pernikahannya dengan Ira harus terlaksana dan jangan sampai membuat kesalahan. Orang tua Ira punya kekuatan yang bisa menopang posisi Ayah Arga serta dirinya di perusahaan, yang sampai hari ini saham ayahnya di Wijaya Corporate masih diangka 54%. Jadi sedikit banyak posisi Ayahnya untuk Presiden Direktur masih membutuhkan dukungan dari pemegang saham lain. Dan tentu saja suara Sudjono Salim selalu diperhitungkan oleh para pemegang saham di Wijaya Corporate, walaupun beliau tidak mempunyai saham di Wijaya Corporate namun sokongan dana akan selalu menglir andai bisa menggaet Sudjono Salim menjadi mertua.
5 jam yang lalu
“Ada masalah, Bang?” Tanya Mami Tami, Ibunya Arga saat Arga masuk kembali ke dalam ruangannya setelah mengantarkan calon mertuanya ke depan lift hotel. Arga menghela nafas berat dan duduk di samping sang ibu.
“Mungkin keluarga Ira terkesan buru-buru, tapi itu untuk kebaikan kalian berdua juga. Enggak ada masalah jugakan sama pernikahan kalian, toh sebelumnya sudah pernah dibahas. Cuman waktunya aja yang dimajuin, mungkin karena orang tuanya Ira enggak mau ada hal yang enggak diinginkan terjadi pada anak gadisnya. Andai Mami punya anak gadis mungkin akan lebih over protective dari pada orang tuannya Ira.” Ibu angkat Arga berbicara dengan sangat lembut, tangannya menggenggam tangan sang anak sulung. Meyakinkan kembali anaknya kalau-kalau anaknya berubah pikiran atau mungkin ada sesuatu yang membebaninya saat ini. Karena terlihat jelas dari sikap anaknya yang menyembunyikan sesuatu darinya, feeling seorang ibu pada anaknya tidak pernah salah, begitu pun dengan feeling Utami pada Arga saat ini.
“Tunangan, Aku masih bisa jalani. Tapi kalau untuk ke tahap rumah tangga Aku masih bingung, Mih.” Keluh Arga kepada ibunya, Utami tersenyum hangat menanggapi keluhan sang buah hati.
“Semua orang yang sudah berumahtangga pasti mengalami fase ini, ragu ketika akan menikah. Dan itu hal yang wajar, cuman kitanya kuat apa enggak menghadapi godaan pra nikah itu?” Mata Utami memicing ke arah anaknya.
“Pasti ada hal lain yang membuat kamu ragu, Bang?” selidiknya.
“Soalnya dari awal menurut cerita adik kamu, kamu itu enggak cinta Bang sama Ira tapi kamu tetap menerima keputusan yang Papi sama Mami buat untuk masa depan kamu. Bukan sebentar, Bang. Empat tahun lohh, kalau kamu mau menolak mungkin udah dari kemarin-kemarin kamu membatalkan pernikahan dengan Ira.” Lanjutnya.
“Tapi sekarang secara tidak langsung kamu menolak pernikahan dengan Ira, apa ada pilihan lain Bang selain Ira?” Tanyanya masih menyelidik.
“Bukan gitu Mih, ini udah tahun ke-4 pertunangan aku sama Ira tapi sampai saat ini Abang belum mencintai Ira. Abang belum siap kalau untuk jenjang pernikahan yang segalanya nanti akan kami lalui berdua, jadi Abang belum yakin dengan pernikahan ini.” Ucapnya. Arga menyugar rambut yang sudah mulai terlihat memanjang ke belakang kepala.
“Pikirkan baik-baik, jangan sampai membuat masalah. Papi percaya kamu akan melakukan yang terbaik buat keluarga kita.” Pak Wijaya, Papi Arga angkat bicara dengan penolakan anaknya. Ya, karena pernikahan ini bukan murni sebuah pernikahan yang bahagia untuk anak-anaknya, namun sebuah pernikahan formalitas untuk memperkuat keluarga Wijaya di Wijaya Corporate. Kenapa hanya pernikahan Arga yang di atur oleh keluarganya, kenapa Evan bisa memilih pendamping hudupnya sendiri? Jawabannya karena dulu ketika Evan menikah, Ayahnya masih memegang 90% saham Wijaya Corporate. Namun sekarang posisi ayahnya sebagai Presiden Direktur Wijaya Corporate sangat tidak aman karena hanya memiliki 54% saham perusahaan. Penyebannya karena ada beberapa penipuan investasi oleh rekan bisnisnya sendiri sehingga untuk beberapa alasan Ayahnya terpaksa harus menjual sebagian sahamnya.
Arga melihat wajah tua Ayah dan Ibunya, dia tidak akan pernah tega mengecewakan kedua orangtua yang membuatnya bisa sesukses hari ini.
“Baik, Pih. Aku pikirkan lagi.” Jawaban lesu Arga membuat ibunya mengucapkan kata maaf kepada Arga.
“Maafkan Mami, Bang. Kalau saja. . “
“Mami bicara apa? Abang sudah sangat bersyukur bisa jadi bagian dari anak Mami dan Papi.” Ucapan Ibunya terpotong oleh Arga. “Udah enggak usah di bahas lagi masalah pernikahan Abang sama Ira, Toh Iranya juga udah beberapa hari enggak ada di Indonesia.” Lanjutnya. Dan, upssss Arga keceplosan membicarakan tentang keberadaan Ira yang mungkin orang tuanya belum tahu Ira sedang ada di Jepang.
“Loh, Ira kemana?” Tuhh kan bener, Ibunya enggak tahu tenatang keberangkatan calon menantunya ke Jepang yang entah bersama siap dia berangkat. Dan Arga enggak mau tahu, juga enggak ingin mencari tahu.
“Ke Jepang, Mih.” Kertusnya, Utami bukan enggak tahu tentang Ira yang boros sama uang, tentang hobby Ira yang sering menghamburkan uang tapi dia udah terlanjur menyetujui permintaan perjodohan dari kerabatnya itu dan ditambah dengan sedikit pailitnya keuangan mereka ditahun kemarin. Kalau saja keuangan keluarga Wijaya saat ini stabil, mungkin Utami akan membuat beribu alasan untuk membatalkan pernikahan anaknya dengan Ira. Karena dia sendiri tahu anaknya tidak bahagia dengan Ira, menurut kacamatanya seorang ibu saat ini anaknya sudah ada pilihan lain namun berbenturan dengan keadaan yang mengharuskannya bertahan pada pilihan semula, yaitu Ira.
Sebagai seorang ibu, Utami merasa bersalah pada anaknya. Tapi apa dayanya ketika harta, tahta dan jabatan di atas segalanya. Tak dipungkiri ketiganya yang akan menentukan masa depan anaknya kelak. Karena Utami tidak mau anaknya diremehkan, dan dipandang sebelah mata oleh orang lain hanya karena Arga adalah anak angkat keluarga Wijaya.
“Abang baik-baik, ya. Istirahat, makan yang cukup. Enggak usah terlalu menjadi beban.” Ucap Utami kepada anaknya, Arga menganggukkan kepala mendengar pesan sang Mami tercinta.
“Mami sama Papi pulang dulu, mau lihat Evan dulu di bawah.” Ucap Utami seraya bangkit dari duduknya, lalu mengambil tas yang ia simpan di atas meja.
“Abang anter ke bawah.” Arga menawarkan diri mengantar orang tuanya pulang.
“Bang, tadi di bawah kok Mami kayak lihat temen Mami gitu. Ehh, maksudnya wajahnya tuh mirip temen lama Mami. Itu loh Pih, Mbak Dyah istrinya Mas Sura Jalu.” Ucapnya saat memasuki lift yang akan membawa mereka turun ke lobby hotel.
“Diman?”
“Itu Pih, yang lorong ke tempat Acaranya ade.”
“Iya mungkin saja itu bener anaknya, atau mungkin cuman kebetulan saja berwajah sama.” Jawab sang suami simple.
“Nanti Mami cari atau Tanya sama Evan deh.” Gumamnya.
“Lah, Mih. Evan mana tahu sama rupanya temen Mami kalau Mami enggak bawa photonya dia bakalan susah untuk nyarinya juga.” Timpal Arga, karena menurutnya ibunya itu enggak masuk akal. Soalnya tamu yang keluar masuk hotelnya sangat banyak, kalau enggak bawa photonya pasti bakal susah buat nyarinya.
“Ehh, iya juga ya Bang. Tapi kemarin waktu ke Bogor kita enggak sempet mampir sih.” Gumamnya.
Ceklek. .
“Mas, Arga.” Arga terperanjat kaget ketika seseorang membuka pintu dan memanggil namanya. Lamunannya tentang pembicraan dengan Sang Ibu tadi siang buyar begitu saja.
“Ahh. . .” Arga bingung mau ngomong apa, sementara Gantari tepat beberapa centi meter di hadapannya, dengan hanya mengenakan kaos merah berlengan panjang dengan bawahan celana jeans tiga perempat. Gantari menaikkan sebelah alisnya menunggu Arga berbicara.
“Makan di kamar aja, biar nanti aku telp anak-anak.” Arga menerobos masuk ke dalam kamar Tari, Tari hanya bengong melihat kelakuan Arga yang menurutnya hari ini Arga sangat aneh. Gantari lalu menutup pintu kamar dan berjalan kembali kedalam kamarnya. Lalu duduk di atas sofa, Arga berdiri membelakanginya memandang ke luar jendela. Netranya lalu menatap dalam punggung lebar laki-laki yang sudah memporak-porandakan hatinya beberapa bulan terakhir ini.
“Mas Arga udah nunggu lama? Kenapa enggak masuk?” Tanya Tari kepada Arga yang sedang menikmati pemandangan malam dari balik jendela besar di kamar Tari. Arga berbalik dan berjalan ke arah sofa di mana Gantari duduk, Arga mendaratkan tubuhnya di samping Tari. Wangi kayu manis bercampur citrus yang mengguar dari rambut Tari menusuk indra penciuman Arganta.
“Kamu wangi banget.” Gumamnya yang masih terdengar oleh Gantari. Arga menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi, dengan satu tangan menutupi kedua matanya.
“Mas Arga mau makan apa?” Tanya Tari yang sebenarnya dia sedang mengalihkan pembicaraan karena saat ini dia sedang mati-matian menahan rasa bahagia yang membuncah hanya karena Gumaman Arga yang menyebut dirinya wangi. Wajahnya pun sudah terasa panas, mungkin sekarang warnanya sudah berubah menjadi merah. Tapi syukurlah karena Arga tidak melihat perubahan di wajahnya.
“Samain aja sama kamu.” Jawabnya tetep dengan memejamkan mata, Tari tidak menjawabnya lagi dia langsung menghampiri telpon hotel yang ada di atas meja sebelah Kasur. Mengambil gagang telpon dan menekan angka 3 untuk dapur hotel.
“Kicken New Shapire, ada yang bisa kami bantu?” Sapaan suara seorang perempuan di ujung telpon setelah menunggu sekitar tiga kali nada sambung.
“Kamar no 01 di lantai 4, Mbak. Pesan nasi goreng special 2 porsi, minumnya air putih saja. Ohh iya tambah buah ya, Mbak.” Ucap Gantari, matanya melirik Arga yang masih anteng dengan mata terpejamnya.
“Ditunggu ya, Bu. Pesanan akan kami proses.” Jawaban ramah diterima Gantari dari seorang karyawan dari dapur hotel.
“Terima kasih, Mbak.” Gantari memutus panggilannya dan mengembalikan gagang telpon kembali ke tempatnya semula. Dia berjalan kembali ke sofa lalu kembali duduk di samping Arga.
“Ada masalah, Mas?” Ragu-ragu Tari bertanya kepada Arga. Arga membuka matanya dan membenarkan posisi duduknya.
“Enggak, cuman cape aja.” Ucapnya, Arga menatap Tari intens. Di depan Arga Gantari memeriksa penampilannya sendiri. Dia merasa sedikit keder terus di tatap sama Arga, akhirnya dia menunduk menatap lantai namun sesekali mengintip ke Arga yang masih menatapnya.
“Kenapa Ri?” Tanya Arga
“Hah. .apaan?” Tanya Tari kaget
“Itu kenapa kamu nepuk-kepuk jidat terus?” Ucapnya sambil memegang lembut tangan Gantari yang masih di atas jidatnya, dan Tari tidak menolaknya. Dia hanya tersenyum melirik Arga, netra mereka bertemu sama-sama tenggelam dalam keinginan masing-masing.
“would you mind kissing me?” Bisik Arga
“Hah. .” Tari bengong dengan permintaan Arga, dia bukan enggak ngerti apa yang di ucapkan Arga namun dia bingung maksudnya Arga apaan.
“Cium aku, Ri.” Pintanya, walaupun bukan untuk pertama kalinya mereka melakukan skinship tempel bibir bertukar sliva, namun untuk pertama kalinya Gantari dibuat bingung sama perubahan sikap Arga dalam sehari ini.
“Enggak apa-apa kalau kamu enggak mau.” Ucap Arga lesu, Arga melepaskan tangan Gantari dan beranjak dari duduknya. Namun tangannya dicekal oleh Tari, Arga kembali duduk di tempatnya semula dan detik berikutnya Tari menyambar bibir Arga, Tari memberanikan diri melumat bibir Arga pertama kali. seperti gayung bersambut, Arga sedikit menggigit bibir bawah Gantari. Lumatan demi lumatan Gantari terima dari bibir Arga, rasa manis bercampur bau kretek Tari rasakan dari bibir Arga.
“Malam ini tidur sama aku.” Bisik arga di tengah ciuman panas mereka, Gantari membuka matanya dan tersadar dari aktivitasnya bersama Arga, nafasnya masih memburu dan sedikit demi sedikit dia mengembalikan kewarasannya.
“Need You, aku butuh kamu malam ini Ri.” Arga menyugar rambutnya kebelakang, dia prustasi dengan ucapannya sendiri yang sudah terlajur dia ucapkan. Gantari mematung, sekalipun matanya tak berkedip mendengar apa yang diucapkan Arga malam ini. Dia shock dengan ucapan Arga yang menginginkan dirinya menghangatkan ranjang laki-laki yang ada di hadapannya malam ini.