Arganta Ragnala
Aku terperanjat kaget ketika Tari membuka pintu kamar yang di tempatinya, sapaan lembut suaranya mampu menarik lamunanku kembali ke dunia nyata. Di depanku dia yang saat ini mengenakan style andalannya, style simple namun selalu mampu menarik seluruh perhatianku hanya dengan mengenakan kaos dipadukan dengan celana jeans.
Hanya Gantari yang membuatku seperti ini, yaa dia perempuan pertama yang bisa membuatku seorang Arganta Ragnala anak pertama dikeluarga Wijaya yang dikenal acuh tak acuh pada lawan jenis akhirnya jatuh dalam pesona seorang sosok perempuan. Aku buru-buru menghempas jauh seluruh pikiran tentang pesona wanita di depanku, dan tanpa permisi aku nyelonong masuk ke dalam kamarnya. Berjalan ke arah kaca besar di kamarnya yang langsung disuguhkan pemandangan malam Lembang yang sedikit tertutup kabut.
Di sini aku menjernihkan pikiranku, berfikir antara meneruskan cinta terlarang bersama Tari atau meneruskan pertunanganku dengan Ira dan meredam semua kebahagiaan yang aku dapatkan selama beberapa bulan ini dari seorang wanita bernama Argantari Willis. Haruskan egoku mendominasi dalam mengambil keputusanku kali ini? Dan ketika ego yang memimpin kewarasan, aku akan memilih mempertahankan cinta terlarangku untuk Gantari lalu meninggalkan Ira yang sebagai tunanganku.
Aku mendudukan tubuh di sampingnya, entah pertanyaan apa yang Gantari tanyakan saat aku memunggunginya. Karena saat ini fokusku menguap entah kemana. Tapi yang pasti hatiku seketika merasakan kenyamanan ketika indra penciumanku mencium bau khas Tari yang mengguar dari tubuhnya, campuran cemara citrus yang menenangkan dan membuat candu. Sehingga aku ingin lebih lama lagi menikmati kenyamanan ini.
Kali ini aku memilih memejamkan mata, untuk mengendalikan diri. Bukan apa-apa namun aku takut kehilangan kontrol akan tubuhku sendiri, dari semenjak dia membuka pintu aku sangat ingin menerjangnya, memeluk erat dia dan berbagi beban dengannya yang selama ini kupikul sendiri. Namun sayang, satu katapun tak terucap dari bibirku. Katakan aku pecundang, namun aku enggak mau membebani wanita yang aku cintai dengan masalah pertunanganku, karena setelah melihatnya rasa ku akan Gantari ternyata nyata adanya bukan rasa sesaat saja.
“Ada masalah, Mas?” Yaa ampuun, aku jadi merasa bersalah telah mengacuhkan wanita cantik di sebelahku karena larut dalam pikiran sendiri.
“Enggak, cuman cape aja.” Bohong, padahal untuk sekarang aku sedang memikirkan dirinya. Karena untuk saat ini yang menjadi akar masalahku hanya dia dan entah harus bagaimana cara memecahkannya. Aku menatapnya dalam, dan berpikir apa yang harus aku katakana padanya. Harus jujur kah seperti laki-laki gentleman pada umumnya? Atau tetap merahasiakan pertunanganku darinya supaya hubunganku dengan Tari tetap aman? Ahhh, entahlah aku tidak bisa berfikir jernih untuk saat ini apa lagi Gantari ada di sebelahku dengan terus menatapiku.
Lama menatapnya, Tari mengetuk-ngetuk kepalanya. Entah apa yang sedang dia pikirkan namun sejak aku menatapnya dalam, Tari menunduk menatap lantai dan sesekali melirik takut-takut ke arah ku.
“Kenapa, Ri?” Tanyaku karena penasaran.
“Hahh..apaan” Lah, dia malah terhenyak kaget dan balik bertanya.
“Itu kenapa kamu nepuk-kepuk jidat terus?” Gemas dengan tingkahnya, aku memegang tangannya yang belum pindah dari keningnya. Aku melihat pantulanku dari mata beningnya, yaa bola mata itu. Ada aku dalam mata Gantari.
“would you mind kissing me?” Bisik ku Tari menampilkan wajah bingungnya.
“Hah..” Hanya itu respon Tari akan permintaan anehku. Entah apa yang sekarang aku pikirkan hingga keluar kata itu memintanya untuk menciumku terlebih dahulu.
“Cium aku, Ri.” Pintaku untuk ke dua kalinya, namun Tari tetap tak merespon. diam dengan kebungkamannya.
“Enggak apa-apa kalau kamu enggak mau.” Ucapku lesu, aku melepaskan tangannya dan beranjak dari duduk berniat untuk keluar dari ruangan berjuta godaan ini dan menghindari kesalahan yang lain yang mungkin akan lebih parah dari ini. Namun aku merasakan tanganku dicekal oleh Tari, aku pun pasrah kembali duduk di sampingnya dan didetik berikutnya aku benar-benar sangat kaget dengan respon Tari, kini bibir Tari sudah menempel di bibirku. Aku menyandarkan tubuhku di sandaran sofa, Tari lalu melumat bibirku, ciumannya dalam dan menuntut. Seperti gayung bersambut, akupun tak kalah darinya. Aku menggigit bibir bawahnya, ku lihat matanya terpejam menikmati aktifitas kami. Tanganku memegang pinggang rampingnya, dengan ciuman yang seperti ini aku yakin Tari orang yang berpengalaman dalam hal aktifitas seperti ini.
“Malam ini tidur sama aku.” Bisikku disela cumannya, sumpah dalam hati aku meruntuk diriku sendiri kenapa harus kata itu yang keluar, tapi aku benar-benar menginginkan Tari malam ini. Biarlah, sudah terlanjur basah ini sekalian berenang aja. Satu detik, dua detik dan tidak ada tanggapan darinya, Tari hanya menatapku tanpa mengucapkan dan melakukan apa-apa. Aku hanya merasakan nafasnya yang masih memburu dan wajahnya yang memerah.
“Need You, aku butuh kamu malam ini Ri.” Tanganku mengerat memengang pinggangnya.
“s**t!! Kamu enggak waras, Mas.” Dia melepaskan diri dari pelukanku, dan beranjak dari duduknya. Aku mencekal tangannya, namun aku kalah cepat. Dia menghempaskan peganganku, melepaskan tangannya dari cekalanku.
“Apa salahnya, Ri? ini sudah bukan menjadi hal yang tabu lagi buat kita yang hidup di kota dan dizaman modern seperti ini, Ri.” Desisku. Dia berbalik ke arahku dengan wajah yang tidak bersahabat, dengan pandangan matanya sedikit berembun.
“But not for me, Mas. Kamu bisa tidur denganku, but merry me first. Please, hormati prinsip yang udah aku jaga selama ini!” aku sedikit kaget, nada yang Tari ucapkan sedikit meninggi. Tapi maksudnya dia masih perawan gitu diusianya yang segitu dan tinggal di kota besar, Tari beneran enggak bercandakan? Bahkan kalau aku tidak salah lihat si Tari punya tato di tengkuknya, loh.
“Tapi aku butuh kamu, Ri. To night!” Kekehku, Satu tetes air mata jatuh dari mata cantik Gantari, Kata-kataku tercekat di tenggorokan menyaksikan Tari yang seperti ini, aku enggak tahu harus ngomong apa lagi. Tanganku terulur berniat menghapus air mata dipipinya, namun ditepisnya.
“Dan saya hanya butuh ijab sah untuk melindungi harga diri saya.” Tegasnya.
“Saya capek, mau istirahat! Silahkan Pak Arga untuk keluar dari kamar saya.” Lanjutnya, tangannya memberi isyarat untukku keluar dari kamarnya. Dan panggilannya pun sudah berubah menjadi saya, fix kali ini aku telah melukai ego dan harga dirinya sebagai perempuan. Tapi mungkin ini menjadi jalan keluar untuk ku saat ini, menjauhi Gantari! Dan untuk kedepannya bisa di pikirkan kembali. Yang penting Gantari hanya tersakiti oleh ucapanku bukan oleh kabar setatusku yang menjadi tunangan orang lain.
Dari pada nanti ketika masalah muncul ke permukaan itu akan lebih rumit, lebih baik untuk sekarang menjauhi Gantari secara halus ketika hatiku masih ada dalam tahap bisa dikendalikan seperti ini. Mungkin untuk sebagian orang atau untuk Tari sendiri caraku yang menggores harga dirinya seperti ini bukanlah cara yang paling tepat untuk mengakhiri suatu hubungan, mungkin saja ada acara lain yang lebih manusiawi untuk menjauhi seseorang. Namun menurutku ini lebih baik, titik!
Kenapa enggak bicara jujur saja dengan Gantari tentang pertunanganku dengan Ira dari pada aku harus melakukan drama seperti ini? Bisa saja kan Tari berfikir aku sudah merendahkan harga dirinya lalu mengklaim seorang Arganta Wijaya eksekutif muda pewaris Wijaya Corporate mendekati dirinya hanya ingin menikmati kenikmatan mandi keringat di atas tubuhnya saja, tidak jauh berbeda dengan orang-orang kaya pada umumnya.
Ya, sebelumnya aku sempat berfikir untuk berbicara jujur saja dengan Gantari tentang pertunanganku namun aku tidak sanggup melihat raut wajah kecewa Gantari yang berfikir selama ini dia telah dibohongi oleh ku. Karena percaya enggak percaya aku yakin Tari sudah menaruh harapan besar kepadaku untuk hubungan terlarang ini.
Kejadian malam ini, ketika kata-kata yang tak pantas tadi keluar langsung dari mulutku, itu murni karena kebodohanku. Aku tidak pernah membuat sekenario yang mengharuskan aku sendiri yang melukai hati Gantari, enggak sama sekali. Namun karena nasi sudah menjadi bubur, yaa sudahlah. Kita nikmati saja nasi yang sudah menjadi bubur itu dalam rasa yang berbeda namun tetep sangat layak untuk dinikmati. Mungkin dengan begini hanya aku yang menyakiti Gantari, tidak ada cerita orang lain juga menyakiti hati Gantari -dengan nanti ketika mencuatnya hubungan terlarang kita ke muka public-. Karena aku sangat tahu betul sifat Ira, dia tidak akan melepaskan wanita yang menjadi pengganggu dalam hubungan asmaranya. Sekarang dan selamanya aku sangat mencintai Gantari, dan ketika ada orang yang menyakiti Gantari itu sama saja dengan menyakitiku.
Gantari sengaja menghindari kontak fisik dengan ku ketika dia berjalan ke arah pintu masuk kamar untuk mempersilahkan aku keluar dari kamarnya, matanya masih basah dengan air mata dan makeup di wajahnyapun sudah hilang tersapu ketika tanggannya mengusap air mata.
Ketika tangannya sudah menyentuh gagang pintu, namun suara ketukan dari luar puntu terdengar lebih dahulu. Mungkin itu anak-anak yang membawa pesanan makanan, aku sengaja mendekatinya dan menyuruhnya duduk kembali di sofa kamar. Karena aku enggak yakin apa yang akan dipikirkan orang lain ketika melihat seorang gadis membuka pintu kamar hotel dengan wajah tak karuan dan di dalamnya bersama dengan seorang pria yang berstatus bukan sebagai suaminya.
Ceklek..
Aku membuka pintu kamar sesaat setelah tanganku memegang gagangnya, aku melihat 2 karyawan wanitaku terlihat kaget ketika yang membuka pintu kamar adalah atasannya.
“Pak Arga..eummm.” Karyawanku yang entah siapa namanya terlihat kebingungan.
“Kalian enggak salah kamar, benar saya yang sudah pesan makanan.” Aku segera memberi jawaban atas kebingungan mereka.
“Bawa masuk saja semua.” Perintahku dan membuka pintu lebar sepaya mereka bisa masuk ke dalam kamar Tari.
“Baik, Pak.” Dua karyawanku masuk ke kamar Gantari dengan membawa semua pesanan Gantari sebelumnya.
“Bu, saya taruh di sini.” Ucap salah seorang dari mereka ketika mereka menaruh satu-satu makananya di atas meja, mata mereka sesekali mengintip ke arah Gantari yang duduk di sofa.
“Terima kasih, Mbak.” Ucap Gantari tanpa menyembunyikan wajah kusutnya, aku menyusul duduk di samping Tari. Tanganku mengusap surainya dan tidak dipedulikan olehnya.
“Kalau ada yang kurang bisa panggil saya, Bu.” Ucapnya. Dan Tari hanya tersenyum mengangguk. Ternyata dalam keadaan marahpun dia masih sempat bisa tersenyum.
“Kami permisi Bu, Pak.” Pamitnya kemudian, aku hanya menganggukan kepalaku. Akhirnya mereka keluar dengan menutup pintu kamar.
Beberapa menit berlalu, tidak ada pembicaraan apa-apa, Gantari anteng dengan pemikirannya sendiri bahkan tidak ada Gerakan yang dilakukan olehnya. Makananpun tak disentuh nya, dan aku menyadari ini adalah kesalahanku. Sadar diri, aku bangkit dari dudukku. Namun sebelum pergi tanganku terulur mengusap kepalanya.
“Makan yang banyak, kamu istirahat yang cukup ya. Sekarang aku pulang dulu.” Pamitku lalu meninggalkan kamar Tari tanpa menunggu jawaban darinya.
Mungkin Tari kecewa dan merasa sangat tersakiti olehku, namun saat ini aku lebih merasa sakit ketika harus menyakiti hati wanita yang aku cintai. Mungkin ini yang selalu orang sebut definisi sakit hati yang sesungguhnya, ketika aku menyakitinya namun aku malah lebih sakit darinya.