LPG Cakep

1983 Kata
Gantari Willis Aku melirik iPhone-ku dari pouch kecil di luar tote bag peach yang ku bawa hari ini, tanganku mengambil benda pipih yang tersimpan disana -karena tadi aku beberapa kali merasakan getaran dari benda kesayanganku itu- kenapa benda kesayangan? Ya, karena jujur saja, aku tidak bisa lepas dari ponsel pintar keluaran Apple Energy ini. Paling lama aku enggak pegang ponsel palingan ya waktu mandi sama tidur doang. Aneh memang, but you know-lah sekarang keberadaan benda kecil ini sangat dibutuhkan. Semua orang pasti sangat bergantung padanya diera digital ini. Begitupun aku sebagai penikmat kemajuan tekhnologi sekarang, yang apa-apa mengandalkan ponsel pastinya kemana-mana benda pipih ini harus mengikutiku. Aku meng-unlock ponselku, dan dari push-notification dibagian atas layar ponselku terlihat ada pesan masuk dari Mas Bagas -sahabat sekaligus laki-laki yang sudah aku anggap kakak sendiri- juga satu notif dari aplikasi Mobile Banking-ku. Masuk ke room chat w******p, membuka pesan yang dikirim Mas Pilot Ganteng, ponakan kesayangan Ayah sambungku sekaligus mantan bosku ketika aku masih menjadi seorang bartender disebuah club malam di kota Surabaya. LPG Cakep I Put money into your Bank account, use! Enggak ada tapi-tapian. Tapi ada sayang-sayangan. Dikit sih, Tapi cukuplah buat permak wajah *emot ketawa jahat* Tarik benang, sulam alis, sulam bibir. Ehh, enggak cukup ya *tepok jidat* Sambung rambut, tanam bulu mata. Tanam deposit juga boleh, biar nanti buat bekal kita berumahtangga! Aku hanya geleng-geleng kepala membaca rentetan pesan masuk dari Mas Bagas. Sedikit cerita, jadi kita bertiga aku, Dita sama Mas Bagas ini udah deket banget. Sampai kita bertiga punya panggilan sayang masing-masing. Dan diantara kita bertiga belum ada yang pecah telor untuk membangun rumah tangga. Kalau Dita mungkin karena umurnya yang belum genap seperempat abad, kalau aku yaa karena belum ada yang sreg aja di hati. Aku masih parno untuk hubungan ke jenjang pernikahan, karena selalu berpikir kalau rumahtangga itu akan sesulit yang orang tuaku hadapi. Padahal tidak semua laki-laki akan sama dengan ayahku, Bapak Sura Jalu yang rela meninggalkan Istri serta ketiga anaknya demi daun muda. Namun untuk si bapak pilot ini aku enggak tahu kenapa dia enggak pernah pacaran padahal umurnya udah lebih dari kepata tiga. Pokoknya udah mateng bangetlah, mungkin bentar lagi juga busuk. Hihi just kidding Mas Bagas. Aku inget, waktu itu ada wanita yang ngejar dia. Dan dia rela bayar aku untuk berpura-pura sebagai pacarnya. Lah, akum ah ya seneng aja kalau urusannya sama uang. Jadi aku selama beberapa minggu berperan sebagai pacarnya Mas Bagas, kemana-mana aku ngintilin dia macem pacar over protectif gitulah. Banyak deretan wanita cantic yang antri buat jadi pendampingnya dia, karena Mas Bagas ini laki-laki yang menurutku tipe idaman wanita. Tampang? So pasti ganteng banget. Postur tubuh? Well, he very manly. Uang? Jangan diragukan lagi. Selain membuka club malam dibeberapa kota besar di tanah air, dia juga seorang Pilot disebuah Maskapai Penerbangan di Indonesia dan satu lagi yang perlu dicatat, Mas Bagas adalah pewaris Saputra Grup. Sejak kecil dia dirawat oleh Om Pram, Ayah sambungku karena kedua orangtuanya sudah meninggal dunia dan mewariskan seluruh kekayaan kepadanya. Termasuk setengah saham pabrik rokok yang dikelola oleh Om Pram, yang itu tadi Saputra Grup. So, masalah materi dia bakal kaya sampe tujuh turunan dan dia enggak punya saudara yang lain jadi enggak perlu khawatir ada istilah perang saudara di dalam Saputra grup. Andai jadi mantennya si orang kaya raya ini pasti seserahannya sertifikat saham, deposito, rumah sama mobil. Cuman beberapa point sih, tapi harganya pasti selangit. Orang kaya emang beda yaa, apalah daya kita yang cuman dari klan umbi-umbian yang enggak muncul di permukaan tanah, seserahan sampe teh sirih serenteng juga dibawa. Ehh, apaan sihh kok malah ngelantur. Uhuk uhuk, kenapa panggilannya LPG Cakep? Karena namanya kan Bagas, ya udah panggilan kerennya dia dari aku sama Dita jadinya LPG, pelesetan dari Ba-Gas “Baba Gas, Bapaknya Gas” *ketawajahat* Keluar dari Room chat, jariku mengusap lembut notif aplikasi Mobile Banking-ku. Trx Rek. 67291xxxxxxxxx: TRANSFER MASUK sebesar Rp. 15.000.000,00 Pada Tanggal 20/xx/xxxx Pukul 10:45:33 Dari dulu Mas Bagas tetep Mas Bagas paling perhatian sama aku dan Dita, adikku. Padahal sekarang kita udah punya penghasilan yang jauh lebih dari kata cukup untuk ukuran pekerja kantoran seperti aku. Sering aku tolak tapi dia masih saja kekeh kirim uang, alesannya “Iya kan anak gadis banyak yang musti di beli. Makeup lah, shopping sama temen-temen, makan juga kan seabreg beda sama aku yang anak bujang, pengeluaran perbulan palingan berapa sih? Ya, itung-itung aku jajanin pacar boonganlah, hahaha.” Lahh, anak bujang apaan ya? Umurnya aja itu udah di pertengahan kepala tiga. Emang kayaknya dia enggak niat aja nyari pendamping, soalnya wanita yang deketin mah seabreg pokoknya banyak banget tapi di tolak semua sama si Mas LPG Cakep. Me Mas Bagas, dimana? Gak usah mulai deh, Mas. Tabungin buat seserahan nanti. LPG Cakep Iya, itu jugakan aku nabung buat seserahan. Jadi nanti tinggal minta sama calon istriku. Me Iiiiuuuuh, ogaaah! Aku membalas pesan Mas Bagas. Senyumku mengembang mengingat saat-saat sulitku dulu, hanya Mas Bagas dan Keluarganya yang selalu baik. Sayang seribu sayang, aku tidak menaruh perasaan apa-apa untuk laki-laki sebaik dan seperhatian dia yang tidak pernah meminta imbalan apapun ketika membantu kesulitanku. Tapi kenapa hatiku malah berkiblat sama laki-laki yang dua minggu ini hilang tanpa kabar berita, laki-laki yang malam itu merendahkan harga diriku sebagai perempuan. It’s oke aku akui, aku bukan wanita baik-baik dari kalangan wanita andalemi manut aturan. Aku juga dulu wanita pekerja malam, beteman dengan asap rokok yang bercampur dengan bau minuman keras, dan juga  penampilan urakan bertato pula. Namun untuk urusan prinsip tidak bisa hanya melihat penampilan saja, karena perinsipku yang diajarkan ibuku untuk anak-anaknya harus tetap menjaga mahkotaku sebagai perempuan karena disanalah letak harga seorang perempuan.  Pagi ini adalah hari terakhir diminggu kedua keberadaan ku di New Shapire, setelah malam itu Arga meninggalkanku sendiri di kamar dengan seabreg makanan di atas meja, sampai selama dua minggu ini aku tidak melihat batang hidung Arga dan aku pun enggan untuk mencari tahu tentang kabar Arga. Sakit? Ya, pastinya aku sakit hati. Merasa di rendahkan? Apa lagi ini! Tapi aku juga turut andil menjadi pihak yang salah dalam kejadian malam itu. Dimana seharusnya aku membatasi skinship dengan Arga kalau tidak mau Arga melontarkan permintaan yang menurutku tidak pantas. Tapi apa? Aku malah menyambar tangannya saat dia berdiri dari duduknya berniat meninggalkan kamarku. Entah apa yang ada dalam pikiranku waktu itu, aku malah menjadi orang pertama yang melakukan skinship dengannya. Tapi yang pasti malam itu aku benar-benar tidak ingin berjauhan dengan Arga. katakana aku aneh, karena ingin terus menempel dengannya namun sakit hati ketika kata-kata Arga menggores harga diriku. Netraku melirik ponsel yang ku taruh di atas meja, nama LPG Cakep berpendar-pendar di layar. “Hallo, Mas Bagas.” Sapaku ketika iPhone-ku sampai di depan telinga. “Enggak kangen sama aku? Lama banget enggak kasih kabar.” Protesnya, aku yakin jauh di ujung telpon sana Mas Bagas lagi manyun. “Enggak adiknya, enggak kakaknya sama aja. Kalau enggak dihubungi duluan yaa enggak bakal nelpon duluan, sampe bumi pindah ke Mars juga kayaknya kalian enggak akan perhatian sama bujangan ini.” Aku ketawa mendengar ocehannya. “Mas Bagas dimana?” tanyaku, biasanya yaa kalau si Mas cakep ini nelpon pasti posisinya lagi deket gitu sama tempat aku sekarang. “Di Bandung.” Jawabnya dengan nada kesal. Tuh kan, bener posisi dia sekarang lagi deket sama aku. “Nanti udah beres kerja, aku samperin Mas Bagas ya.” Hiburku, kalau enggak gitu dia bakal terus ngomel. “Kamu ke hotel ya, aku share alamatnya.” Ucapnya. “Awas kalau enggak ke sini.” lanjutnya. “Baiklah, Bapak pilot tersayang. Apa sih yang enggak buat kamu Mas Bagas?” di ujung telpon dia tertawa mendengar ucapan gombalku untuknya. “Ri, tapi kamu malam nanti pakai dres ya. Soalnya Mas di sini ada acara, jadi kamu yang bakal jadi pasangan Mas malam ini. Tadinya Mas mau bawa Dita, cuman dia kan lagi enggak di Indonesia.” Ucapnya ringan, aku manyun mendengar ucapannya. “Oh, karena aku enggak secakep plus enggak sekece adikku, jadi cuman pilihan alternative doang. Gituuu maksudnya?” Ehhh, dia malah ngakak dengan sindiranku. Untung cekep, kalau enggak udah aku tutup panggilannya. “Enggak gitu juga kali, cuman maksud Mas tuh di sini kan bakal banyak desainer ternama kali aja nyantol sama agensi dia. Gitu.. anak gadis jangan ngambekan ehh, nanti enggak ada yang mau kawinin, loh.” Cibirnya. Ya elaah, mungkin fikirannya dia udah soldout gitu, jadi kasih wejangan sama jomlo kaya aku. “Emang situ udah soldout?” Cibirku. “Cikzz cikzz cikzz. . . kualat ngatain orang tua. Pokoknya nanti malam temenin Mas, enggak mau tahu pokoknya kamu harus datang.” Perintahnya tanpa bisa dibantah lagi. “Mas, tutup dulu ya. Ehh, mau dijemput enggak?” Tuh kan, sama kewajibannya aja lupa. “Iya, jemput ke Lembang. Hotel New Shapire, kalau enggak dijemput aku enggak mau pergi.” Manjaku. “Iya iya Neng Taryati, nanti sopir jemput kamu. Sampai ketemu nanti malam!” Dan panggilanpun terputus. Sebuah pesan kembali masuk dari Mas Bagas, ohh ternyata nanti malam acara galang dana dari semua pengusaha diseluruh Indonesia. Aku baru ingat kan Mas Bagas juga seorang pengusaha, dia kan punya pabrik rokok di Surabaya. “Ri.” seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku meliriknya, ternyata Mas Evan dengan membawa nampan makanan di tangannya. Memang dari tadi aku berada diarea belakang hotel, karena ini adalah hari jum’at pukul 10 pagi semua peserta sudah keluar dari ruangan dan aku pun bisa ikut bersantai meregangkan semua syaraf-syarafku yang tegang beberapa hari ini karena tuntutan pekerjan dan yang pastinya karena masalah hati yang selalu menjadi beban fikiranku beberapa hari terakhir ini. Aku tersenyum menyambut kedatangannya, Mas Evan menarik kursi lalu duduk di depanku. “Sekalian, aku bawain makan buat kamu.” Tangannya cekatan memindahkan makan dari nampan yang dibawanya ke depanku. Aku sedikit merasa enggak enak hati dengan Mas evan. Soalnya yaa Mas Evan ini kan atasan aku, masa atasan yang bawain makanan buat kacung sekelas klan umbi-umbian kaya aku sih. Duhhh, ini dimana sopan santunku sebagai keturunan Priangan yang masih menjunjung tinggi adat ketimuran, karena di tanah kelahiranku sopan santun paling diutamakan dalam segala aspek. “Maaf udah repotin Mas Evan.” Aku tersenyum enggak enak, namun tanganku tetap menerima makanan yang dibawa Mas Evan. “Abangku dua minggu ini lagi di Magelang.” Celetuknya. Kepalaku terangkat sebelum sendok berisi makanan masuk ke mulutku, mendongak melihat kearah Mas Evan, namun Mas Evan tetap anteng menikmati makanannya tanpa melihat ke arah ku.  “Oh..” Jawabku menanggapinya “Van, Arga dimana?” mataku melirik ke arah sumber suara yang datang dari belakang Mas Evan, ternyata seorang wanita dengan penampilan modisnya yang datang. Aku tersenyum dan menganggukan kepala kepadanya, namun tak ditanggapinya. “Kenapa Tanya gue?” Jawab Mas Evan tanpa repot-repot melirik wanita cantik itu. “Dia kan Kakak kamu.” “Dan gue enggak kelonin dia tiap waktu.” Jawab Mas Evan cuek. Wanita cantik itu pergi tanpa pamit dengan sedikit menghentakan kaki. Aku dari tadi memperhatikan interaksi mereka berdua, entah apa yang sedang terjadi diantara mereka berdua dan entah siapa wanita cantik yang barusan datang ke tengah acara makan kita berdua, tapi yang pasti aroma permusuhan kental diantara mereka berdua. Kalau aku enggak salah tebak mungkin itu masih anggota keluarganya Wijaya, soalnya melihat apa yang dikenakan wanita yang barusan pergi tanpa pamit itu, semua barang berkelas dan orang dari kalangan seperti aku enggak bakal sanggup untuk membelinya. Ehh, bukan enggak sanggup sih sebenarnya cuman menurut aku mubazir aja beli mahal-mahal cuman buat pamer doang karena kegunaanya sama saja dengan barang-barang yang murah namun masih bermanfaat dan masih layak untuk dipakai. Mataku melirik Mas Evan di depanku, seolah tak pernah ada yang terjadi Mas Evan tetap meneruskan makannya tanpa merasa terganggu oleh apapun. Dan akupun enggak mau repot-repot bertanya, karena itu privasi atasanku. Normanya seorang kacung hanya boleh berbicara ketika ditanya dan menjawab kalau sudah dipersilahkan saja. Akhirnya aku menyamankan diri kembali menikmati makanan yang ada di depanku sampai tandas tak bersisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN