Kenapa?

1909 Kata
Gantari Willis Aku membubuhkan sedikit blush-on pink ke pipi mulusku sekali lagi sebagai sentuhan terakhir make-up natural yang ku pakai untuk acara malam ini -sebagai pendamping Mas Bagas selama acara berlangsung- yang katanya bertempat disebuah hotel yang masih di kawasan Bandung kota. Aku menyanggul rambut coklatku rapih sedikit lebih atas dan memakai kalung berlian pemberian ayah sambungku yang sepaket dengan gelang juga cincinnya. Kali ini aku mengenakan dress yang dikirim langsung oleh Mas Bagas katanya khusus untuk acara malam ini yang tadi dibawa oleh sopirnya, padahal tadi waktu nelpon pagi-pagi ngomongnya “Buat acara malam ini kamu pakai dress ya.” Cuman gitu doang. Ehhh, pas sopirnya sampai di lembang si bapaknya malah jinjing paper bag yang berisi dress lengkap dengan heels 10 centi meternya. Pokoknya Mas Bagas ini memang pengertian banget kalau udah menyangkut urusan penampiln, mulai dari yang besar sampai perintilannya pun dia perhatikan. Setelah mengenakan heels 10 centi meter berwarna navy tosca, dan sebelum benar-benar pergi aku memutar tubuhku di depan cermin dalam kamarku, melihat kembali penampilanku mengenakan maxi dress berwarna senada dengan heels yang ku pakai. Aku meliht pantulan diriku di cermin yang mengenakan long dress tanpa lengan dan sedikit mengekspos leher jenjangku kiriman Mas Bagas. Long dress berlogo Stassie yang panjangnya sampai mata kaki ini polos tanpa aksen apa-apa namun sangat cantik dan warna navy toscanya yang sangat kontras dengan kulit putihku. Pokoknya pilihannya sangat cocok buatku pakai malam ini. Tiba di lobby bestment apartement-ku aku langsung berjalan menuju mobil Mas Bagas yang sudah terparkir di sana dari tadi sore, tadi ketika pak sopirnya Mas Bagas jemput aku di New Shapiree aku minta diantar pulang dulu ke apartement. Karena bukan apa-apa, masa aku ke acara gitu polos tanpa memakai apa-apa kan, dan semua perhiasan serta makeup-ku semua ada di apartemen. Jadinya yam au tidak mau aku harus pulang dulu. Tanganku mengetuk kaca mobil hitam itu, sebelum pak sopir keluar dan membuka pintu mobil untukku. “Terima kasih, Pak.” Ucapku di barengi senyum ramah. “Sama-sama, Mbak.” Pak Har, sapaan akrab sopir Mas Bagas tersenyum dan menutup kembali pintu belakang mobil, beliau lalu kembali lagi ke depan kursi kemudi. “Mbak, kerasan di Bandung? udah lama enggak pulang ya. Mbak Dita juga lumayan lama enggak ke Surabaya.” Ucapnya setelah beberapa saat mobil yang aku tumpangi membelah jalanan arterinya kota kembang. Mataku melirik pak sopir di depanku. “Iya, Pak. Mungkin udah beres acara di kantor aku ambil cuti.” Jawabku. “Ibu sama Bapak kadang nanyain Mbak Tari dan Mbak Dita sama Mas Bagas.” Aku memejamkan mataku, kalau ada orang yang menyinggung tentang semua keluargaku pasti suasananya jadi mellow. Aku sangat merindukan Mama, walaupun setiap hari ada pesan masuk atau telpon dari Mama hanya untuk sekedar bertukar kabar, namun tetap saja aku selalu merindukan beliau. “Mudah-mudahan secepatnya bisa pulang, Pak. Yang penting beliau sehat di rumah.” Jawabku, mataku berembun karena merindukan orang-orang yang aku sayang. Aku menyusutkan selembar tisyu yang ku ambil dari pinggir jok mobil kr mataku. “Aamiin, Mbak.” Ucapnya. “Di depan tempatnya, Mbak. Nanti diturunin di depan lobby, Mas Bagas sudah menunggu di depan lobby hotel.” Lanjutnya. “Terima kasih, Pak.” Aku sedikit menundukan kepalaku untuk melihat ke depan yang kata Pak Har tempat acaranya. Akhirnya setelah beberapa menit menikmati jalanan malam kota Bandung aku sampai juga di lobby hotel tempat acara akan berlangsung. Mobil yang ku tumpangi berhenti di depan lobby, setelah mengucapkan terima kasih yang kesekian kalinya aku turun dari mobil mewah milik Mas Bagas. Di depan pintu terlihat dua orang penjaga yang memeriksa kartu undangan dari setiap tamu yang akan masuk. Di depan pintu masuk aku celingukan mencari keberadaan Mas Bagas yang entah di mana, padahal kata Pak Har Mas Bagas sudah menunggu di depan lobby. Ahh, akhirnya netraku menemukannya bersama sekumpulan orang yang hampir bergaya sama seperti Mas Bagas malam ini, dan aku sekarang melihatnya berjalan ke arah ku, lalu berbincang sebentar bersama dua penjaga di depan pintu masuk, terlihat tangannya merogoh saku dalam jas yang dikenakannya lalu memperlihatkan undangan yang dibawa bersamanya malam ini. “Ayo masuk.” Ajaknya setelah sampai di depanku, aku tersenyum dan mengaitkan tangan kananku ke lengan yang sudah dia isyaratkan untuk dipegang olehku. Aku berjalan beriringan masuk ke dalam hotel, lalu kami masuk ke ballroom tempat acara akan berlangsung dan dari depan pintu masuk terlihat meja-meja sudah penuh dengan tamu undangan hanya beberapa meja saja yang masih terlihat kosong. “Mas, belahan dressnya tinggi banget sih. Aku sedikit enggak nyaman pas jalan, apa lagi nanti pas duduk.” Bisikku di telinga Mas Arga, soalnya ini dress belahannya lumayan tinggi. Pas jalan, kaki sampai atas lututku terekspose meluber kemana-mana. “Cuman setengah pahakan?” Ucapnya ringan, aku hanya mendelik mendengar tanggapannya. “Meja kita di sini.” ucapnya setelah sampai di meja barisan ke dua dari depan panggung, di atas meja bundar dengan empat kursi itu tertulis PT. BS SAPUTRA Tbk. Mas Bagas menarik kursi untuk ku duduki, setelah aku mendudukan tubuh di atas kursi aku melirik ke arahnya dan menggumamkan kata “terima kasih”, setelahnya dia duduk di sampingku dengan sebelumnya membuka jas yang dikenakannya malam ini lalu ditaruh di atas pahaku. Ahh, andai aku punya rasa untuknya. Mungkin aku akan menjadi wanita yang paling bahagia bila hidup dengan orang yang pengertian seperti Mas Bagas. “Mih, meja yang ini.” Deg . Suara yang tidak lagi asing di telingaku, dan kini suara itu tepat berada di sebelah meja yang aku tempati bersama Mas Bagas. Aku menguatkan diri melirik ke asal suara dan menemukannya berdiri di sebelah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik diusianya yang mungkin sudah tak muda lagi. Selain wanita paruh baya yang bersama Arga, ada Mas Evan juga beserta istri cantiknya dan seorang pria berkaca mata yang mungkin seusia dengan Wanita yang duduk di sebelah Arga berdiri, dengan kharisma yang terpancar dari pakaian yang dikenakannya semua orang akan tahu kalau beliau berasal dari kalangan kelas atas. “Aku yakin itu adalah keluarga Arganta.” Batinku. Netra kami bertemu, dia Nampak kaget dengan keberadaanku di sini. “Ri..” Mas Bagas menyentuh tanganku yang berada di atas meja, aku memutuskan kontak mata dengan Arga yang mungkin masih memandangiku. Karena aku masih merasakan tatapan mata elangnya menatap tajan ke arahku. “Kamu kenal dengan keluarga Wijaya?” Bisik Mas Bagas. “Anaknya atasan aku di kantor, Mas.” aku mencondongkan tubuh lebih dekat ke samping Mas Bagas ketika aku menjawab pertanyaannya. Mas Bagas manggut-manggut, dan didetik berikutnya dia berdiri dari duduknya. Menarik tanganku yang masih digenggamnya, aku pun mengikutinya berjalan ke meja yang ditempati keluarga Wijaya. “Maksud Mas Bagas apa sih?” Batinku. “Selamat malam, Pak Wijaya.” Sapa Mas Bagas saat kami berdua sampai di depan meja keluarga Wijaya. Semua penghuni meja melirik ke arah kami. Akupun terpaksa menampilkan senyum seramah mungkin dengan sedikit menundukan kepala dan kedua telapak tangan di depan d**a. “Ahh, Bagas.” Ucap pria paruh baya yang dipanggil Pak Wijaya oleh Mas Bagas. Pak Wijaya berdiri menyambut kami dan bersalaman dengan Mas Bagas. “Mih, ini ponakannya Pram teman Papi. Bos Rokok Surabaya yang kemarin beli saham Wijaya.” Pak Wijaya mengenalkan Mas Bagas kepada keluarganya. “Oh, iya. Mas Pram, saya ingat. Mas Pram-nya dimana?” Ucap wanita anggun yang di panggil “Mih” oleh Pak Wijaya. Matanya sedikit celingukan, mungkin mencari keberadaan Om Pram. “Om, enggak bisa hadir dan sekalian diwakili sama saya.” Jawab Mas Bagas. “Oh, iya. Tari kenalin ini rekan bisnisnya Om Pram.” Lanjutnya, tangan Mas Bagas melingkar di pinggangku. Aku tak sengaja melirik Arga yang ternyata sedang melihat tajam ke arahku.   “Cantik sekali.” Itu suara Ny. Wijaya. “Mungkin sebentar lagi kita akan dapat undangan ya, Pih.” Mas Bagas dan Pak Wijaya tertawa menanggapi ucapan Nyonya Wijaya, tapi tidak dengan ku. Aku hanya tersenyum menanggapinya. “Tapi Mami kaya inget siapa gitu..” Ucapnya kemudian dan terlihat sedang berpikir. “Kenapa, Mih?” Tanya pak Wijaya kelihatan sedikit penasaran. Nyonya Wijaya hanya menggeleng samar dengan tersenyum hangat melihatku. “Kebetulan Tari satu kantor sama salah satu pewaris Wijaya Corporate.” Celetuk Mas Bagas. “Iya Bu, Mas Evan atasan saya di Kantor. Kebetulan Pak Arga juga kolega Bank kami, jadi sedikit banyak kamu sudah mengenal satu sama lain.” Aku menjelaskannya dengan nada seramah mungkin. “Wah, ternyata dunia benar-benar sempit ya Pih. Ini anak-anak sudah punya cerita lain dengan Saputra.” “Aku enggak tahu Ri, kalau kamu kenal dekat dengan Keluarga Saputra.” Ucap Mas Evan, aku hanya nyengir menanggapinya. Namun Arga dari awal samapi sekarang tidak menanggapi apa-apa, hanya terdiam memperhatikan interaksi kami. Mas Bagas melirik ke arahku, ku rasakan tangannya di pinggangku sedikit mengerat. “Ini tahun ke tujuh kita bareng ya, Ri?” Tanya Mas Bagas, aku meliriknya dengan mata melotot sambil mengangguk samar dan menggumamkan kata “Maksudnya apa ini????” “Selamat malam semuanya.” Sapa seseorang yang menghampiri meja keluarga Wijaya. Yang datang adalah seorang pria paruh baya di belakangnya diikuti oleh dua orang wanita dengan gaya modisnya. “Siapa lagi ini?” Batinku, Tapi setelah beberapa saat aku mengingatnya, Pria paruh baya yang baru datang ini adalah pria yang ditemui Arga beberapa waktu lalu di New Shapire sebelum dia menghilang tanpa kabar dua minggu kemarin. “Ini keluarga Sudjono Salim, pemilik Futur Grup yang perusahaan kilang minyak itu. Dan itu istri sama anaknya, kalau enggak salah putrinya itu sudah bertunangan dengan salah satu anaknya Wijaya cuman aku enggak yakin sama yang mana.” Bagai petir di siang bolong mendengar bisikan Mas Bagas di telingaku.  Aku beuru-buru melirik ke tempat Arga berdiri, aku hanya fokus pada sosol laki-laki yang sekarang sama sedang melihatku. Aku sudah tidak peduli dengan semua basa-basi yang mereka semua bicarakan, yang aku pedulikan hanya kabar pertunangan anak keluarga Wijaya dengan Anak Sudjono Salim ini. Aku sungguh tidak tahu Wijaya itu punya berapa anak, dua? tiga? Atau lebih dari itu? Mas Evan? Enggak mungkin, Mas Evan sudah menikahi Mbak Winda dan bahkan sudah punya Kia diantar mereka. Enggak mungkin juga kan keluarga berkelas seperti Keluarga Wijaya ini menganut pro poligami. Deg. Aku mengingatnya, tadi pagi di New Shapiree. Wanita ini yang datang menghampiri Mas Evan ketika sedang makan dengan ku, dan dia mencari keberadaan Arga. Aku memejamkan mata, aku tidak terlalu bodoh dalam hal asmara. Aku yakin anak Wijaya yang mempunyai ikatan pertunangan dengan Keluarga Sudjono Salim pasti Arga. “Tapi kenapa Arga tidak pernah menyinggung masalah ini sebelumnya. Ternyata selama ini dia menbodohiku.” Batinku.   Mataku berembun di tengah canda tawa kedua keluarga itu, sekuat tenaga aku menahan air mata yang sekarang sudah di ujung pelupuk mata supaya tidak jatuh di depan Arga. Namun aku enggan memalinggakan pandanganku dari Arga, sebagai tanda protesku kepadanya karena dia tidak pernah menyinggung soal pertunangannya dengan wanita lain, dan malah memberikan harapan palsu, memberikan angin segar di tengah kegerahanku akan cinta palsu seorang laki-laki kepadaku selama ini. Wanita yang belum ku ketahui namanya itu mendekati Arga, tangannya bergelayut manja di lengan kanan Arga. “Sayang.” Panggilan manja yang keluar dari bibir wanita cantik itu membuatku memalingkan wajah darinya. “Meja kita sebelah sana. Mih, Pih Mas Arga duduk sama aku di sana.” Samar-samar aku masih mendengar ucapannya, setetes air bening meluncur bebas di pipiku aku buru-buru mengusap pipiku. Mas Bagas yang menyadari keterdiamanku, berpamitan dengan keluarga Wijaya dan memapahku kembali ke tempat duduk yang kami duduki sebelumnya. Tuhan, bila ini mimpi. Cepat bangunkan aku kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN