Delete Again

1848 Kata
 Arganta Ragnala Aku menyandarkan kepala di sandaran kursi ruang keluarga rumah ku di lantai dua, setelah meninggalkan kamar Tari di lantai 4 hotelku, di resto hotel aku berpapasan dengan Evan namun enggak sempet ngobrol apa-apa hanya menitipkan Tari padanya yang hanya dibalas anggukan dari evan. Karena aku sudah memutuskan untuk beberapa saat meninggalkannya supaya dia terhindar dari Ira, dan aku langsung pulang ke rumah. Aku menyentuh dadaku yang terasa sakit, padahal aku yang telah menyakiti Tari. Kupejamkan mata sejenak, kilasan-kilasan kejadian selama di kamar Gantari terutama wajah kecewanya terus berseliweran dalam ingatanku. Tanganku merogo saku celana mengambil ponsel yang ku simpan di sana. Mengusap layar benda pipih itu, meng-unlock ponsel berwallpaper navy blue aesthetic dan masuk keroom chat-ku mencari nama Gantari. Hatiku gambang, namun dorongan untuk mengiriminya pesan singkat sangatlah kuat. Me Maaf untuk kejadian barusan. Dan, delete. Kayaknya bukan kata ini yang Tari butuhkan untuk saat ini. Aku pikir dengan beberapa kata seperti ini Tari akan semakin marah. Me Selamat malam, jaga kesahata. Dan, delete again! Ahhhhh.. aku mengacak rambut, frustasi. Inginnya kirim pesan buat Tari, tapi aku bingung harus ngomong apa. Mungkin yang dibutuhkan Tari sekarang bukan kata permintaan maaf atau kata-kata manis dariku, tapi aku terus kepikiran gimana kondisi dia sekarang setelah aku tinggalkan di dalam kamarnya sendirian. Aku sedikit terperanjat kaget kala merasakan getaran di tanganku dibarengi suara lembut Luho yang teredengar nyaring dari dering ponselku, kulihat nama bapak-ku berpendar-pendar dilayar ponsel. “Iya, Pih?” Sapaku. “Bang, ada sedikit masalah sama pembangunan Villa Magelang.” Ucapnya diujung telpon. Suara Papi terdengar biasa saja, namun percayalah dibalik kekaleman itu ada rasa was-was yang sangat besar di hati orang tuaku. “Pikah CV ada yang menggelapkan dana.” Great! Tuh kan dugaanku benar. “Kamu secepatnya harus meninjau lokasi pembangunan, Papi enggak berharap masalah ini akan menjadi senjata buat mereka yang ingin menggeser posisi Papi di Perusahaan.” Lanjutnya. “Malam ini aku langsung meluncur, tidak ada kerjaan penting juga di hotel. Jadi bisa dititip sama sekretarisku.” Jawabku mantap, aku membenarkan posisi dudukku untuk fokus dengan pembicaraanku dengan Pak Presiden Direktur Perusahaanku ini. “Kamu jangan pergi sendiri Bang, bawa orang dari sini.” Ucap beliau, mungkin was-was kalau hanya aku seorang yang berangkat ke Magelang dimana lokasi Villa baru Wijaya Corporate dibangun. Namanya juga lagi ada masalah pasti takut nanti di sana akan menimbulkan masalah yang baru, apa lagi kalau sudah bersangkutan dengan uang pasti pihak yang telah berbuat curang merugikan perusahaan akan menutupinya rapat-rapat dan melakukan segala cara supaya tidak muncul kepermukaan. Kan ada istilah “Manusia itu lebih menakutkan dari pada semua makhluk ghaib”. Maka dari itu, daripada setan yang tidak terlihat wujudnya, aku lebih takut sama manusia yang bisa melukai dengan terang-terangan. Kalau  makhluk yang bernama manusia itu kan bisa saja menyakiti atau langsung menyerang fisik dengan bantuan benda tajam atau benda tumpul, atau apapun itu caranya. Berbeda dengan mahluk astral, palingan hanya menakut-nakuti saja dengan suara-suara aneh atau bayangan-bayangan yang menyesatkan, gitu. “Bawa Mang Udin aja kali ya, Pih.” Usulku. “Din, kamu malam ini ke Magelang lagi. Sanggup?” Aku mendengar Bapak-ku berbicara dengan sopirnya. “Mangga, Pak. Kalau jam 1 apa jam 2 berangkatnya, Bisa?” “Iya, bisa. Kamu istirahat dulu beberapa jam. Terus beresin yang perlu dibawa, saya perkirakan bakal lebih dari satu minggu kalian di sana untuk mengurus masalah ini. Itu udah waktu paling cepet, ya.” aku masih setia mendengarkan obrolan kedua orang tua di ujung telpon. “Bang, pokoknya kamu harus rapih ya. Kata orang dalem si Seno ini udah keahliannya dalam hal ini. Besok Irfan Papi suruh nyusul ke sana juga.” Bapak-ku menyebut salah satu tim Pengacara yang biasa menangani masalah didalam Perusahaan Wijaya. Irfan ini masih seusia denganku, namun jam terbangnya jangan diragukan lagi. lowyer muda ini selalu rapih dalam menangani setiap kasus dan yang pastinya selalu pulang dengan hasil yang sangat memuaskan. “Ya sudah Abang ke Dago aja sekarang. Biar Mang Udin enggak bolak balik juga, jadi nanti langsung berangkat dari sana.” Kasian juga kan bapak-bapak yang udah ada diusia senja disuruh bolak-balik ke sini malem-malem. Sebagai yang lebih muda mendingan aku mengalah saja, walau katanya aku ini adalah majikan kecilnya namun untuk urusan sopan santun aku masih menghargai yang lebih tua. “Oke Papi tunggu di rumah, Bang.” Panggilanpun terputus, dan malam ini aku melupakan hal yang sangat penting yaitu untuk mengirimi Tari pesan singkat. Ya, sekedar basa-basi supaya Tari tidak merasa terlalu diacuhkan ketika aku sudah menyakiti hatinya. Bisa saja dengan aku mengiriminya pesan singkat Tari sedikit banyak akan melupakan rasa sakit hatinya karena ucapanku tadi saat di kamarnya. Namun sampai hari kedelapan keberadaan ku di Magelang untuk urusan Negara, tidak sekalipun aku menghubunginya. Karena keterbatasan waktu yang aku miliki dalam menangani hal yang menurutku sangat urgent ini, karena bukan apa-apa uang yang digelapkan si Seno-Seno ini enggak tanggung-tanggung hampir mencapai 8 M. gila enggak tuh orang? bisa ambil uang orang sampe em-em-an gitu. Aku aja serebu perak enggak berani ambi,l sekalipun itu uang orang tua. Hadeeeeeh, itu yang segitu banyak uang loh bukan daun. Memang, apa sih yang enggak buat uang jaman sekarang mah, segala cara pasti di halalkan. Termasuk menggelapkan uang orang lain, lalu dia nikmati untuk berfoya-foya. Dan untuk menutupi kerugian yang diakibatkan oleh CV yang tidak bertanggung jawab, aku menjual beberapa persen sahamku kerekan bisnis Papi yang di Surabaya, sementar Irfan sibuk dengan urusan administrasi peradilan untuk CV yang menangani pembangunan Villa. Beberapa hari pontang-panting dengan urusan Villa, tidak mudah mencari CV baru yang bisa meneruskan pekerjaan bekas pihak lain. Selain karena dana yang belum ada, namun juga biasanya konsep, bahan baku serta tehnik pengerjaan dari setiap CV tidak akan sama dengan CV lainnya. Akhirnya pola tidur dan makan ku sedikit terganngu, namun memasuki hari ke Sembilan keberadaan ku di sini masalah sudah teratasi semua. Walaupun masalah telah teratasi, namun tidak serta merta aku bisa langsung balik Bandung. Untuk beberapa hari kedepan aku harus tetap stay di lokasi Villa memantau CV baru dalam proses pembangunan yang sekarang sudah 80 persen pengerjaan. Sampai finising dan mengatur tata letak property yang nanti akan  langsung didatangkan dari property agent yang sudah menjadi mitra Wijaya Corporate itu diperkirakan akan membutuhkan waktu kurang lebih sekitar satu bulan setengah lagi dari sekarang. Sejenak aku merefresh fikiran serta tenaga yang selama lebih dari satu minggu ini telah ku forsir habis-habisan demi menyelamatkan posisi Bapak-ku di Perusahaan dan pembangunan Villa kembali berjalan lagi, yang sebelumnya sudah diestimasi akan rampung pengerjaannya dalam 5 bulan. Dan yang paling penting aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku dalam hal pekerjaan, karena dari awal akulah yang membuat konsep serta yang bertanggungjawab akan proposal pembangunan Villa ini. Di sinilah aku sekarang, di kolam ikan milik Pak Mamat. Orang yang selalu bersedia aku repoti setiap kali aku berkunjung ke Magelang. Namun untuk kunjunganku kali ini ke Magelang yang sudah menginjak hari ke sembilan, aku tidak menginap di rumahnya. Untuk siang ini menyempatkan diri berkunjung ke kediaman Pak Mamat hanya untuk mencari nafsu makan yang selama beberapa hari ini hilang entah kemana. “Mas, tehnya.” Pak Mamat menyodorkan segelas teh hangat dengan beberapa cemilan berbahan singkong ke hadapanku. “Terima kasih, pak.” Kulihat Pak Mamat ikut mendudukan dirinya di sampingku, aku sedang menunggu pancingan yang dari tadi belum dapat satupun ikan. “Kalau mancing pikirannya harus tenang, Mas.” ucapnya, aku melirik pria paruh baya yang memakai bendo di kepalanya. Mungkin beliau menyadari ada sesuati yang laki aku fikirkan. “Konsep dari mana, Pak? Yang saya tahu aktivitas memancing ini malah yang bisa membuat fikiran lebih tenang dikala lagi stress.” Heranku. “Iya, kalau pikirannya tenang bentaran pasang kail juga udah dapat banyak Mas. jadikan ikannya seneng ketemu sama orang ganteng yang lagi bahagia. Ikannya pasti berfikir enggak bakal kena omel kalau udah sampai di daratan.” Aku nyengir dengan ucapan Pak Mamat. Ya ampuun, ternyata si Bapak pinter juga bercandanya. Kirain beneran ada konsep seperti itu. “Jadi dari tadi aku enggak dapat ikannya tuh karena pikiran saya lagi enggak tenang, gitu maksudnya Pak?” Tanyaku. “Soalnya Mas Arga dari tadi duduk di sini tapi pikirannya enggak tinggal di sini.” Applause buat si Bapak yang satu ini, tebakannya sama sekali enggak meleset. Memang benar, ragaku ada di sini namun fikran sama hatiku tetap berada dekat Gantari. Tak seharipun aku melepaskan bayangannya, namun untuk menghubunginya ini bukan waktu yang tepat. Saat ini aku harus tetap fokus mengatasi dulu masalah perusahaan sampai benar-benar stabil jangan sampai hal yang tidak diinginkan terjadi kapan saja. Dan yang paling penting dikrisis yang seperti ini aku -terutama Bapak-ku yang notabenenya sebagai Presiden Direktur Perusahaan- harus mendapat dukungan yang kuat, dan salah satunya butuh dukungan dari Futur Grup yaitu perusahaan keluarga Ira yang memang sangat kuat dalam hal keuangan. Jadi, untuk sekarang menjauhi Tari adalah jalan yang terbaik. Supaya tidak ada sekandal yang bisa mempengaruhi perusahaan. Aku hanya tersenyum samar menanggapi ucapan Pak Mamat. “Eh, eh, eh Pak. Ini umpan saya dimakan.” Ikan yang kena mata kailku lumayan cukup besar mungkin bisa jadi sekitar kurang lebih satu kilo. Aku perlahan menarik pancingku dengan dibantu Pak Mamat mengambil ikan dari dalam air dengan baskom yang biasa dipakainya untuk menyimpan ikan. “Sini, sini Bapak ambil. Sekalian bapak bersihin, Mas. Mau dibakar apa gimana Mas?” Tanyanya, tangan Pak Mamat cekatan dalam membuka kail dimulut ikan. “Eumpppp, dibakar juga boleh tuhh Pak. Kayaknya enak pakai sambal kecap jahe ala-ala makanan pantai gitu.” Ehh, si Bapak malak tertawa mendengar keinginanku. “Siap. . .siap. . . Mas!” ucapnya dan berlalu ke dalam rumah kayu yang langsung terhubung dengan rumah utama. Aku duduk di dalam gazebo bambu milik Pak Mamat, ternyata mungkin benar aktivitas yang acapkali lebih banyak dilakukan oleh kaum adam ini ternyata bisa membuat pikiran lebih tenang. Aku pun sekarang merasakannya, ketika umpan dalam kailku disambar ikan itu rasanya seperti dapat asupan nutrisi tak berwujud. Pokoknya perasaan ku ringan dan lebih bahagia dibandingkan dengan perasaan yang ku bawa ketika tadi pertama kali aku datang ke sini. Tanganku menggapai iPhone yang dari tadi ku letakan di atas meja dengan mode silent, niat awalnya aku kesini kan mau refresh fikiran sama tenaga yang beberapa hari ini terkuras habis. So, aku tidak ingin mendapat gangguan dari apapun, termasuk dari benda yang sekarang sudah beralih tempat ke dalam genggamanku. Karena benda ini yang lebih sering membawa gangguan ketika bersemedi. Halahh ada-ada sajah Bahasa loe, Bang! Meng-unlock ponselku dan langsung terpampang “15 Panggilan Tak Terjawab” dan beberapa pesan yang masuk ke fitur pesan singkat serta alamat e-mail pribadiku. Sepenting itukah diriku sehingga setiap hari dicari-cari orang lain? *tepokjidat* Membuka log panggilan, ada 2 panggilan tak terjawab dari Kangjeng Mami, Presiden Direktur alias Papiku, 3 panggilan tak terjawab dari Ira dan selebihnya beberapa panggilan tak terjawab dari klien-ku. Kalau di fikir-fikir aku tak berkabar dengan Ira sudah dua mingguan lebih, terakhir kirim pesan ya itu ketika dia meminta uang, dan udah done enggak ada kabar lagi sama sekali. Dan kali ini ada apa lagi? Masih masalah uang kah? Karena aku enggak yakin kalau Ira menghubungiku karena dia merindukanku. Impossible!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN