Arganta Ragnala
Jum’at malam, kuda besiku membelah jalanan arterinya kota Kembang. Navigasi sudah aku set ke jalan Gatot Subroto, tujuanku malam ini ke salah satu hotel terbaik di kota Parahiyangan yang menyediakan berbagai fasilitas mewah tempat acara galang amal tahunan berlangsung. Dan sekalian aku bisa cari referensi buat nambah-nambahin ide dalam konsep pembangunan villa baru Wijaya di Magelang, karena setiap tamu undangan mendapatkan satu kamar Premier Room yang harganya mungkin tembus diangka dua jutaan permalamnya.
Kini aku melajukan kendaraan cukup pelan, karena di depanku terlihat perempatan yang kebetulan lampu warna merah masih terlihat diangka dua puluh tiga. Dan aku harus bersabar menunggu sekitar dua puluh detik lebih lagi lampu merah berubah menjadi hijau.
Aku menyandarkan kepalaku di sandaran kursi kemudi, rasa-rasanya badanku masih lelah dengan perjalanan Magelang-Bandung. Kemarin sore sekitar jam limaan badan ini baru samapi Bandung, yaa walaupun selama perjalanan aku enggak nyetirin mobil namun rasa lelah tetap mendominasi seluruh tubuhku. Padahal hari ini aku cuman ingin tidur mengembalikan stamina yang hilang, namun perintah dari Presiden Direktur untuk datang menghadiri acara galang amal ini sudah tidak mungkin dihindari lagi.
Aku melirik ponsel yang ku simpan di sampingku, nama Kangjeng Mami berpendar-pendar dilayar ponsel. “Mungkin Mami sama Papi sudah ada di lokasi acara.” Batinku.
Ya, aku hanya meliriknya tanpa repot-repot menjawab panggilan Ibuku. Toh sebentar lagi aku sampai di Gatot Subroto, karena bukan apa-apa Mami pasti bakal ngomel-ngomel. Dan benar saja kala nertaku menemukan pengatur waktu di dashboard mobil, ini sudah jam setengah delapan malam dan sudah lewat lima belas menit dari janjiku sama Mami. Pasti Mami cemas, ngiranya aku enggak jadi datang ke acara itu.
Lima belas menit berlalu, kakiku melangkah masuk ke dalam hotel lewat pintu utama. Terlihat keluarga ku sudah menunggu di dalam lobby hotel.
“Bang, mukanya enggak usah kusut gitu. Keluarga Ira menginap di sini, sebentar lagi mereka turun.” Itulah rentetan kalimat yang aku dengar saat sampai di tengah keluargaku.
“Huhh…” Hanya itu responku, karena sebelumnya ketika aku masih di Magelang waktu itu aku sudah menerima pesan yang dikirim Ira.
Empat hari yang lalu.
Aku menikmati santapan siang yang mungkin sudah terlambat ini di rumah kayu milik Pak Mamat, di depanku tersaji Ikan bakar hasil pancinganku hari ini di kolam belakang rumah milik Pak Mamat. Nasi putih hangat, sambal jahe dan lalapan mentah mejadi teman Ikan kali ini, dan ini lah yang aku inginkan makan enak yang selama beberapa hari terakhir ini tidak pernah aku nikmati.
Di tengah menikmati makanan bersama Pak Mamat, ponsel yang ku taruh di atas meja makan terus bergetar serta berkedip-kedip, tanda pesan masuk ke nomorku. Penasaran, akhirnya aku mengambil benda pipih itu dan perlahan jariku mengusap layar meng-unlock ponsel. Terlihat pesan dari Ira yang masuk ke nomorku.
Dira Anastasya
Kenapa aku enggak bisa akses akun keuangan hotel?
13.20
Minggu ini kamu belum transfer aku!
13.25
Ga, aku di Bandung
Hari kamis Papa sama Mama bakal ada di sini
Acara galang amal tahunan
Kamu harus datang
Aku enggak mau tau
Oh, iya.
Papa sama Mama nginep di Gatot Subroto
Enggak di Apartemenku
Hari kamis sebelum acara temui mereka dulu
13.54
Dan aku hanya membacanya saja, tidak ada niat untuk membalasnya. Jariku malah mengusap nama adikku dan masuk ke room chatnya.
Me
Van, Tari gimana?
Gue masih beberapa hari lagi stay Magelang.
Papa Kia
Dia Bae.
Oke, loe tenang aja Bang.
Kamis jadi balik?
Me
Jadi.
Mandat Kangjeng Mami sama Presiden Direktur tidak bisa diganggu gugat!
Papa Kia
DL alias derita loe!
*ketawa jahat*
Aku tersenyum geleng-geleng kepala membaca pesan terakhir yang dikirim adikku, keluar dari room chat WhatApp dan menyimpan kembali ponsel di atas meja. Kamis atau rabu aku harus balik Bandung, dan secepat mungkin aku harus membereskan semua pekerjaan yang belum tersentuh.
“Bang, enggak nyamperin calon mertua ke kamarnya?” pertanyaan dari Mami menyadarkan ku kembali dari lamunan.
“Ahh. . Ohh, enggak Mih. Biar nanti ketemu langsung aja di tempat acara.” Jawabku asal, males juga kudu caper sama calon mertua
“Ya udah kita masuk sekarang, udah telat juga kan.” Si Evan manyun, dia mungkin maksudnya protes karena udah nunggu lama di depan lobby. Kami sekeluarga masuk ke dalam ballroom hotel tempat acara galang amal akan berlangsung, terlihat hampir semua meja dengan nama perusahaan di atasnya sudah terisi hanya beberapa yang masih menyisakan kursi kosong.
Di sana, di baris ke dua depan podium meja Wijaya Corporate berada. Aku sengaja berjalan duluan menghampiri meja keluarga Wijaya.
“Mih, meja yang ini.” Aku menarik kursi supaya ibuku bisa duduk di atasnya. Dan yang aku bingung kenapa kursinya cuman ada empat biji tiap meja, kalau missal keluarganya ada yang lebih dari empat selebihnya mereka harus duduk dimana? Dan perumpamaan itu pun sekarang terjadi sama keluarga Wijaya yang membawa personil lebih dari empat.
“Mih, Abang duduk dimana?” Bisikku di telinga Mami yang malam ini sangat cantik dengan dres abunya senada dengan warna kemeja yang aku sama Papi pakai dan tidak ketinggalan si Evan sama Istri cantiknya juga memakai warna yang sama dengan yang Mami pakai malam ini.
“Kamu nanti gabungnya sama Futur Grup. Ingat Bang, kamu sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga mereka walaupun belum legal. Namun semua orang di dunia kita sudah mengetahuinya.” Bisik Mami.
“Nanti kamu yang anteng sama Ira.” Lanjutnya.
Dan aku hanya bisa menghela nafas, aku masih berdiri ketika dua orang menghampiri meja keluargaku. “Mungkin itu rekan bisnis Papi.” Pikirku. Awalnya aku tidak memperdulikan mereka berdua, namun betapa kagetnya ketika suara laki-laki itu memperkenalkan seorang wanita yang bersamanya malam ini, netraku melihat siapa wanita yang bersama seorang laki-laki dengan setelan perlente di sebrangku berdiri. Kali aja cuman sama nama namun beda orang.
Namun kini di depanku berdiri seorang wanita dengan gaun panjang tanpa lengan dan rambut disanggul rapih. Gaya serta barang-barang yang dikenakannya malam ini benar-benar bukan style Gantari yang belakangan ini aku temui. Saat ini yang berada di depanku bukan lagi seorang Gantari karyawan Artha Tama, namun lebih terlihat seperti nyonya dari seorang pengusaha muda. pinggang rampingnya dipegang oleh laki-laki yang sedang bersamanya. Mataku melotot tak percaya melihat pemandangan di depanku saat ini.
“Tari? Benarkah Tariku?” Tanya batinku.
Dia dekat bahkan mungkin mempunyai hubungan dengan pemilik pabrik kretek itu, terlihat dari interaksi mereka yang sangat akrab. Kedekatan yang mungkin lebih dari kata sekedar teman. Aku mengingatnya, ketika aku dulu saat pertama kali berkunjung ke apartemen Gantari di kawasan Asia Afrika, satpam di sana mengira aku Pak Bagas. Iya, aku yakin sekali ini yang dipanggil Bagas Bagas itu. Dari awal aku berkunjung ke apartement Tari, aku sudah penasaran dengan kehidupan dia yang bisa tinggal di apartemen mahal, namun sekarang pertanyaankun semua terjawab sudah karena mungkin Tari adalah pacar atau simpanan dari eksmud ini sehingga kehidupannya lebih dari kata layak.
Aku tidak peduli dengan semua obrolan basa-basi si Bagas-Bagas ini, yang aku pedulikan adalah wanita yang sangat aku cintai yang kini pinggangnya tengah dipeluk oleh laki-laki lain. Bisikan Bagas ditelinganya membuat Tari melirik tajam ke arahku, entah apa yang dibisikan oleh laki-laki itu sehingga bola mata Tari mengisyaratkan kekecewaan yang sangat kepadaku.
Aku merasakan lenganku dipegang oleh seseorang, “Sayang.” Ucapnya manja, aku yakin Ira yang dengan sengaja bersikap manja padaku di depan orangtuannya.
Dan sebentar lagi masalah besar akan menghampiriku, aku masih menatap dalam Tari dan terlihat kedua matanya memerah dan berkabut. Tari mengepal tangannya lalu memalingkan wajah dariku, dan setelah ini aku tidak yakin bisa menjelaskan semua ini kepadanya.