Arganta Ragnala
Sewaktu kecil aku merupakan bagian dari anak laki-laki yang penakut. Takut digigit serangga, takut jatuh dari sepeda, takut akan ketinggian, takut melihat darah, takut kegelapan bahkan ketakutan akan sosok mitologi hantu yang notabenenya adalah produk alamiah yang diciptakan oleh khayalan dan pemikiran manusia sendiri yang dikemas sedemikian rupa berdasarkan keanekaragaman budaya masyarakat setempat. Sampai-sampai aku tidak pernah berani tidur dalam keadaan gelap, setiap malam lampu belajar di kamarku harus tetap menyala. Karena rasanya ketika ruangan gelap gulita aku seolah-olah merasakan ada makhluk lain ikut bersamaku dan itu membuatku sesak nafas dan berkeringat dingin.
Itu berlangsung hingga aku menginjak usia remaja, dan perlahan hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usiaku. Namun ketakutan yang ku alami ketika itu perbandingannya mungkin hanya seujung kuku saja dibandingkan ketakutan yang kurasakan saat ini akan kehilangan Gantari. Ya, aku tahu ini adalah buah dari kesalahan yang aku buat karena sudah memberikan harapan kepada wanita lain disaat statusku masih menjadi tunangan seseorang.
“Ga, Arga..” Aku melirik Ira yang duduk tepat di kursi sebelah kanan ku, dengan wajah tak bersahabatnya dia menelisikku.
“Aku dari tadi ajak kamu ngobrol, tapi enggak dapat respon kamu.” Aku masih diam dengan kebungkamanku, Ira mendekatkan tubuhnya ke sampingku.
“Di depan Papa sama Mama aku seenggaknya kamu berpura-pura kita baik-baik saja.” Bisiknya.
“Ekhm..” Aku berdehem melancarkan tenggorokanku yang kering.
“Dan aku sudah sangat baik dengan kamu, aku sudah menutupi semua yang kamu lakukan selama dua minggu ini. Hanya aku dan sekretarisku yang tahu kelakuan kamu, kurang baik apa lagi aku?” Lanjutku. Ira sama sekali tidak menjawab, dia akhirnya kembali duduk tegak di kursinya dan akupun membenarkan posisi dudukku senyaman mungkin.
“Keluarga Futur Grup semua ikut berkontribusi dalam acara galang amal tahunan kali ini.” Calon bapak mertuaku mengawali pembicaraan diantar kami berempat.
“Kali ini mereka berpartisipasi dengan cara bekerja sama dengan setiap pelanggan pengguna bahan bakar kendaraan, setiap satu liter bensin dikonvensi ke rupiah Rp 500,-. Sehingga satu minggu kemarin terkumpul donasi yang cukup besar.” Lanjutnya bercerita, aku hanya menanggapinya dan belum menyela obrolannya.
“Keuntungan yang seharusnya kita dapatkan dua ribu rupiah dari satu liter bensin, satu minggu kemarin hanya masuk satu ribu lima ratus saja.” Terlihat senyum bahagia tercetak diraut wajah pak Sudjono Salim.
“Kamipun seluruh keluarga Wijaya Corporate sama ikut berpartisipasi dalam donasi yang akan disumbangkan ke organisasi peduli anak tahun ini, namun mungkin hanya berbeda dalam kegiatan saja Pak.” Aku menimpali obrolan Pak Sudjono Salim, dan saat ini di atas podium pemandu acara sudah membuka acara malam ini, kira-kira sudah berjalan beberapa menit yang lalu.
“Karena jati diri bangsa kita adalah gotong royong, tolong menolong dan saling membantu. Dan perusahaan kami mewajibkan setiap karyawannya ikut berkontribusi dalam galang amal ini. Karena hanya dilakukan satu tahun sekali, sehingga tidak akan memberatkan para karyawan. Dan itupun kami sebagai petinggi perusahaan sudah melewati banyak pertimbangan untuk keputusan ini. Namun ternyata antusias dari para karyawan luar biasa.” Aku melanjutkan obrolanku dengan laki-laki paruh baya yang disebut calon mertuaku.
“Itu bagus, Nak Arga. karena bagaimanapun juga selama sebelas bulan penghasilan perusahaan sangat besar begitupun dengan penghasilan para karyawan, untuk itu perusahan maupun karyawan bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk donasi hanya dari satu bulan penghasilan saja.” Ucapnya, dan obrolan kami terhenti ketika penanggung jawab acara memberikan sambutannya.
Karena asyik mengobrol dengan presiden direktur Futur Grup, perusahaan yang bergerak di bidang minyak bumi. Pikiranku teralihkan sebentar dari sosok Gantari. Aku sengaja melirik ke meja yang dia tempati malam ini, namun nihil. Tari tidak ada di tempat duduknya, hanya ada Bagas yang duduk sendirian di meja bertuliskan PT. BS SAPUTRA Tbk. Yang aku tahu perusahaan itu adalah sebuah pabrik keretek terbesar di Kota Surabaya.
“Kemana dia?” Batinku
Aku mencari-cari keberadaanya, dan netraku menemukannya sedang berjalan ke arah pintu keluar ballroom dengan tanpa membawa apapun. Tas tangannya masih anteng tersimpan di atas meja PT. BS SAPUTRA Tbk.
“Saya pamit ke belakang sebentar.” Pamitku tanpa menunggu jawaban dari penghuni meja Futur Grup. Aku tahu Ira tidak setuju aku keluar dari ruangan, namun tidak ku pedulikan dia dan tetap berdiri berjalan melangkah untuk mencapai pintu keluar ruangan.
Langkahku sedikit ku percepat, takut kehilangan jejak Gantari. Aku melihat punggungnya berjalan dilorong hotel, dan aku yakin lorong ini yang menghubungkan ballroom dengan toilet dan Mushola bawah. Kini aku sedikit berlari mengejar dia, tepat satu langkah di belakangnya aku mencekat pergelangan tangannya.
“Ri..” Panggilku, dan dia berbalik ke arahku. Tanpa menunggu jawaban darinya aku menarik tangannya, aku fikir sama sekali tidak ada penolakan darinya, karena Tari mengikuti langkah lebarku di belakang.
“Pak, Arga. Mau kemana? Lepas, Pak!!!” Ucapnya dengan nada sedikit tinggi, namun aku tak memperdulikannya dan terus menarik tanggannya keluar dari lorong ballroom menuju lift. Rencanaku membawanya ke kamar keluarga Wijaya, karena tadi saat masuk ke ballroom si Evan sudah memberikan kunci kamarnya kepadaku.
Seolah langit berpihak kepadaku, lift sedang tidak terisi dan tanpa harus menunggu aku masuk kedalam lift dengan pergelangan tangan Tari masih dalam genggamanku. Aku memijit angka 12 lantai yang akan aku tuju.
“Pak, lepas. Sakit.” Aku buru-buru melepaskan genggaman tanganku darinya yang ternyata genggamanku cukup kuat menggenggam pergelangan tangan Gantari, sehingga membuat kulitnya sedikit memerah. Bukan niatku menyakitinya, sedikitpun tidak ada niatan untuk itu. Namun karena buru-buru serta takut Tari lepas dariku sehingga aku tidak memikirkan Tari akan kesakitan atau tidak dan tetap fokus membawanya ke dalam lift.
“Maaf.” Cicit ku.
Dan tidak ada obrolan lain lagi diantara kita berdua, aku hanya diam dengan pikiranku begitupun dengannya. Waktu beberapa menit di dalam kotak besi yang akan membawa kami ke lantai dua belas hanya dihabiskan dengan pikiran masing-masing. Dan tidak ada lagi tamu hotel yang masuk ke dalam lift selain aku dan Gantari, sehingga membuat hawa di dalam kotak besi ini semakin pengap dengan kecanggungan.
Aku memperhatikan punggung wanita cantik yang berdiri di depanku, terlihat dari pantulan dinding di dalam lift wajahnya sedikit tirus. Sepertinya berat badannya pun sedikit turun, dan aku sangat bersalah dengannya. Karena aku tahu untuk ukuran wanita yang sedang jatuh cinta jangankan dua minggu enggak ada kabar dari orang yang dicintainya, seharipun rasanya seperti setahun tidak berkabar.
Selama dua minggu ini Tari pasti tidak istirahat dan makan dengan benar. Fokusku kini pada tato kupu-kupu yang medikit mencuat dibalik gaunnya. Hatiku memanas kala mengingat hari-hari yang telah aku dan dia lewati sebelumnya, namun kini dia bersama laki-laki lain. Dan segala yang ada pada diri laki-laki itu tidak kalah denganku. Bahkan laki-laki bernama Bagas itu lebih kaya dariku, secara dia itu pewaris asli Saputra Grup. Berbeda dengan aku yang hanya menjadi pewaris di atas kertas saja tidak ada darah wijaya yang mengalir di dalam tubuhku.
Pikiranku benar-benar kacau, disatu sisi aku tidak menginginkan Tari memilih laki-laki itu. Namun disisi lalin aku tidak bisa berbuat apa-apa karena terhalang statusku yang sudah menjadi tunangan dari wanita lain. Bilang aku egois, namun rasa cinta itu tidak akan pernah tahu rasa egois, dan tidak akan pernah tahu tentang status.