Takut (2)

1343 Kata
Arganta Ragnala Ting. Pintu lift terbuka, aku kembali menggenggam tangannya namun kali ini lebih manusiawi. Dengan tanpa paksaan, di belakangku Gantari mengikuti langkah lebarku. Aku menemukan room yang akan ditempati keluarga Wijaya malam ini sebagai salah satu fasilitas yang diberikan oleh organisasi amal dalam acara kali ini. Merogoh saku jasku, aku mengambil kartu kamar yang ku simpan di dalamnya dan menempelkannya kepintu. Ketika pintu terbuka aku buru-buru menarik Gantari ke dalam kamar dengan satu kaki menutup pintu dari dalam, aku melepaskan tangannya dan berbalik menghadap kearahnya. Tanpa berkata-kata dan tanpa basa-basi, aku menerjang tubuhnyanya. Tubuhnya sedikit limbung ke belakang saat tubuh kekarku memeluknya erat, melepaskan rasa kecewa, marah, takut dan bingung yang tertahan dalam hati, dan kini ketika Tari di hadapanku sudah tak terbendung lagi. Indra penciumanku menemukan aroma Tari yang masih sama dan yang selalu bisa menenangkanku, aku menghirupnya dalam mengingat setiap jejak yang Tari tinggalkan. Dan yang pasti rasa ini masih familiar, aku masih sangat mencintai wanita dalam pelukanku, wanita yang tidak ku temui dan tanpa berkabar apapun sejak dua minggu yang lalu. “Jangan tinggalkan aku.” Itu kalimat pertama yang berhasil lolos dari bibirku. Kilasan-kilasan gambar saat Tari bersama laki-laki lain berseliweran dalam fikiranku. Tinggi Tari yang hanya sedaguku bergerak gelisah dalam pelukannku, dan aku semakin mengeratkan pelukanku. Aku tidak bisa merelakannya dengan laki-laki lain, hanya aku yang boleh bersamanya. Egois! “Le..lepasin dulu aku Mas, kita bicarakan baik-baik.” Ucapnya sedikit terbata seperti menahan tangis. Dan perlahan tapi pasti aku melepaskannya, Tari berjalan meninggalkan tempatku berdiri lalu mendudukan tubuhnya di kursi yang ada dalam ruangan kamar mewah ini. Aku menyusulnya dan mendudukan tubuhku di sofa depan Tari. “Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku juga tidak sebodoh itu dalam menilai situasi. Ketika dua orang berlawanan jenis berinteraksi dengan skinship seperti itu, aku yakin hubungan mereka tidak sesederhana yang aku pikirkan.” Setitik air bening meluncur bebas di pipi mulusnya, telapak tangannya buru-buru menyekanya. Seketika hatiku menceos melihat air matanya, aku akui ini yang ke dua kalinya aku telah membuat Tari mengeluarkan air matanya lagi. “To the point! Siapa wanita itu?” Tanyany dengan menatap tajam mataku. Aku menghembuskan nafas kasar sebelum menjawab pertanyaannya, aku sangat takut mengatakannya. Namun kesalah pahaman ini harus segera aku akhiri. “Tunangnku.” Aku memejamkan mata ketika mengucapkan kata itu. Membuka mata dan menelisik wajah ayunya, Tari menangis dalam senyumnya. Dan itu yang membuat hatiku sangat sakit, Tari masih bisa tersenyum walaupun aku tahu dia sangat tersakiti saat ini. “Anda sukses membodohi saya, dan saya pun terlalu bodoh mengartikan kebaikan anda selama ini.” Ucapnya kecewa. “Kasih aku kesempatan untuk jelasin semuanya, Ri.” Pintaku. “Menjelaskan untuk membodohi saya kembali?” Ucapnya sinis, aku mendekatinya dan berpindah duduk kesampinya. Sebelumnya aku tidak pernah menghadapi Tari dengan sikap sinisnya, sehingga aku tidak menemukan cara untuk menghadapinya. Aku selalu bertemu dia dengan sikap sopan dan manisnya. “Tapi aku benar-benar mencintai kamu, Tari.” Ucapku prustasi, aku menyentuh tangannya berniat memegangnya namun Tari menepisnya kasar. “Dan anda yakin saya akan percaya?” Tari menunjuk dirinya sendiri. “Dengan segala kelebihan yang dimiliki tunangan anda, anda masih bisa mencintai saya? Aku benar-benar tidak yakin ini nyata atau hanya mimpi saya saja.” Lanjutnya, Tari menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. “Karena pertunangan ku dengannya sudah diatur oleh keluargaku. Pliiis Tari, aku hanya mencintai kamu. Dari empat tahun yang lalu aku sama sekali tidak pernah mencintai dia.” Aku bingung harus dengan seperti apa lagi aku membujuk Gantari. “Orang lain tidak akan pernah bertanya anda mencintainya atau tidak! Yang mereka tahu anda adalan tunanganya dan posisi saya disini hanya sebagai selingkuhan dari tunangan wanita lain. Dan sekarang saya harus seperti apa? Haruskah tetap berhubungan dengan tunangan orang lain dan menjadi perusak hubungan orang?” Tanyannya sarkas. “Tidak, Pak! Saya tidak bisa dan saya tidak mau!” Tegasnya. “Saya seorang wanita yang punya perasaan yang setara yang sama dengan tunangan Bapak.” Lanjutnya dengan memalingkan wajah ke samping. “Tapi aku tahu kamu juga mencintai aku, Tari. Tidak bisakah kamu egois dan memperjuangkan cinta kamu untuk ku?” ucapku meyakinkan. “Dengan aku egois dan memperjuangkan perasaanku, lalu aku akan dapat apa?” dan ini pertanyaan yang belum bisa aku jawab. “kenapa? Enggak bisa jawab?” Ejeknya, Tari tersenyum samar lalu kembali mengusap jejak-jejak air mata di wajahnya. “It’s oke, mulai sekarang lupakan apa yang pernah terjadi dengan kita berdua. Dan harus bapak ingat kembali, kita sebelumnya tidak pernah punya hubungan apa-apa.” Tari berdiri dari duduknya berniat meninggalkanku, namun aku segera mencekal pergelangan tangannya. “Ri, aku sekarang diposisi yang serba salah. Kamu tahu kalau aku itu bukan..” ucapanku terpotong oleh dering ponsel yang ku simpan di saku celanaku, ingin mengabaikannya namun suara yang dihasilkan oleh panggilan masuk ke ponselku sanggat mengganggu, padahal aku akan mengatakan kalau status aku itu hanya sebagai anak pungut di keluarga Wijaya sehingga aku tidak bisa begitu saja menolak pertunangan itu. Tanganku akhirnya mengambil ponsel yang terus bersuara dari saku celanaku. Terlihat nama Evan berpendar-pendar dilayar ponselku. “Ya, Van?” Akhirnya aku menerima panggilan Evan. Namun satu tanganku tetap memegang tangan Tari yang kini memalingkan muka dariku. “Dimana, Bang? Sudjono cari-cari loe. Dan barusan Sudjono mengumumkan pernikahan kalian akan secepatnya dilaksanakan.” Ucapnya. “Tunggu bentar.” Tut. Dan aku mematikan panggilan Evan. “Kasih aku sedikit waktu, untuk membereskan masalahku.” Aku memaksa Tari supaya melihat kearahku dengan memegang dagunya, aku menghapus jejak-jejak air mata yang tersisa dipipinya, selembut mungkin aku mengusapnya supaya tari menyadari kalau aku sangan mencintainya dan tidak akan pernah ada wanita lain lagi selain dirinya di dalam hatiku. Cup! Aku mengecup singkat bibirnya, dan sedikit melumat bibir Gantari. Tari hanya diam tidak ada perlawanan ataupun jawaban apa-apa darinya. “Sekarang kita kembali ke tempat acara dulu ya.” Ajakku. Aku melihat lengan tari yang tidak tertutupi apa-apa, akhirnya aku berinisiatif melepaskan jas yang ku pakai dan menyampirkannya di pundak Tari, dan tetap tidak ada penolakan darinya. Dia menunduk hanya diam saja, bola matanya terus melihat ke ujung sepatu yang dia kenakan dan sama sekali tidak melihat kearahku. “Aku enggak mau kamu dekat-dekat dengan si Bagas Bagas itu!” Tegasku. Tari mengangkat kepala dan bola matanya melihat kearah mataku, terlihat akan protes. Namun aku membungkam bibirnya terlebih dahulu dengan bibirku, tangannya mendorongku namun kekuatannya kalah jauh oleh kekuatannku yang memeluk erat tubuh rampingnya. Lidahku menerobos masuk menjebol pertahan bibirnya, aku melihat Tari memejamkan mata lalu mengalungkan tangannya ke pundakku. Dan akhirnya Tari tidak menolakku, dan aku merasakan rasa cinta Tari untukku sama besarnya seperti rasaku untuknya. Ini yang aku inginkan dari pasangan yang akan menemani sisa hidupku nanti. Rasa yang masih familiar. Rasa yang hanya menghampiri ketika aku bersamanya. Rasa yang tidak akan pernah hilang untuknya. Dan rasa yang akan bersemayam abadi di hatiku. Hanya rasa cintaku untuk Gantari. Wanita yang selama ini menyita seluruh perhatianku. Dan wanita yang akan selalu ku perjuangkan dalam hidupku. “Mas, aku mencintaimu.” Ucapnya di sela ciuman kami, terlihat butiran-butiran bening itu kembali mengalir dari mata yang masih terpejam. Aku melepaskan lumatanku, perlahan meregangkan jarak diantara kami berdua. “Namun aku tidak mau hidup diantara kalian berdua, aku enggak mau dibayang-bayangi rasa bersalah karena merebut kebahagiaan wanita lain.” Tari meneruskan ucapannya dalam isak tangis. “Jadi, pliis. Jangan ganggu aku lagi. cukup sekali Mas Arga menyakitiku, tidak ada cerita untuk kedua kali atau ke sekian kalinya lagi. Selain urusan pekerjaan, di luar itu kita tidak punya urusan apa-apa lagi.” Dia mengusap tuntas semua jejak air matanya. Kata-kataku tercekak di tenggorokan kala ia menarik nafas dan membenarkan letak pakaiannya yang sedikit berantakan. Dan kali ini aku benar-benar takut akan kehilangan dirinya, karena Tari terlihat sangat percaya diri melepaskan diriku, dan tidak mau berhubungan apa-apa lagi dengnku kecuali urusan pekerjan. Dia membuka pintu kamar, lalu pergi meninggalkanku. Ku melihat punggung tegarnya pergi menjauh dariku dengan jasku masih tersampir di pundaknya. Aku berjalan cepat menyusulnya dan membawanya masuk kedalam lift untuk kembali ke tempat acara. Karena aku harus memastikan dia sampai dengan selamat kembali ke tempat acara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN