Bodoh

2071 Kata
Gantari Willis Aku tidak pernah berfikir dan tidak pernah membayangkan ketika aku jatuh cinta untuk pertama kalinya, aku malah menjadi orang ketiga dalam pertunangan wanita lain. Wanita kaya, anggun, cantik nan modis yang kini duduk satu meja dengan Arga saat ini, bernama Dira Anastasya yang dikenal sebagai anak dari pengusaha sukses Sudjono Salim yang menurut cerita dari Mas Bagas, Sudjono Salim ini masuk kedalam daftar sepuluh pengusaha terkaya di Indonesia. Dan menurut cerita dari Mas Bagas juga, keluarga Sudjono Salim sudah ada perjanjian pernikahan dengan keluarga Wijaya Corporate. Wow wow wow, orang kaya pasti bersandingnya dengan orang kaya juga kan yah? Itu mungkin sudah menjadi budaya di Masyarakat kita, kasta akan menjadi tolak ukur nomor wahid dalam menentukan kriteria canlon Mantu pilihan keluarga kelas atas. Kita tinggalkan sejenak cerita klise seorang pangeran yang akan bersanding dengan wanita sederajatnya dari keluarga kerajaan lain, bukannya aku enggak mau mendengarkan cerita indah ini yang secara logika bisa dipastikan pernikahan dua keluarga kaya akan berdampak sangat luar biasa untuk kedua pasangan pernikahan ini. Baik dalam segi materi ataupun dalam ketenaran, namun masalahnya sekarang hatiku terasa perih kala mengingat siapa sosok pangeran yang akan bersanding dengan pewaris perusahaan Futur Grup itu. Aku yakin anak Wijaya yang akan segera melangsungkan pernikahan dengan pewaris Futur Grup adalah Arga, aku bisa memastikannya dengan dia yang sekarang duduk satu meja bersama keluarga Sudjono Salim. Saat ini aku ingin sekali berteriak, ingin menangis sejadi-jadinya hanya untuk menghilangkan rasa kecewa serta rasa sakit yang ditinggalkan oleh Arga di hatiku. Selama Mas Bagas menceritakan kedua keluarga bergengsi itu, selama itu pula hatiku merasakan nyeri yang teramat, bagai ribuan jarum menusuk-nusuk hatiku. Rasanya kaki pun tak sampai menapak bumi, dan jiwaku terenggut dari raganya entah melayang kemana, bersembunyi dari rasa kecewa serta rasa malu karena ternyata aku terlalu bodoh dalam urusan asmara untuk ukuruan wanita yang sebentar lagi akan menginjak usia kepala tiga. Ternyata ketika aku jatuh cinta untuk pertama kalinya juga, logika ku tidak berjalan seperti biasanya. Idealnya, aku harus menghitung segala kemungkinan dan mencari tahu segalanya tentang Arga sebelum hatiku jatuh lebih jauh kepusaran pesonanya. Namun yang berjalan hanyalah rasa cinta yang menggebu-gebu untuk seorang Arganta Ragnala serta rasa rindu yang menggunung ketika beberapa saat tak menemukan sosoknya dan tak mendengar kabar tentangnya. Aku merasakan tanganku dicekal kuat oleh tangan besar seseorang ketika aku melewati lorong yang menghubungkan ballroom dengan toilet, karena desakan air mata yang sudah sangat tak tertahankan lagi untuk segera diloloskan dari persembunyiannya akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari ruangan yang menyesakkan d**a itu. “Ri..” Panggilnya, akupun berbalik kearah suara itu dan menemukan sosok Arga telah berdiri di belakangku. Belum sempat protes namun tanganku sudah ditariknya dengan sedikit kasar, aku pun terpaksa berjalan mengikutinya di belakang. Untuk saat ini berdebat adalah hal yang sangat tidak mungkin mengingat kita masih berada di area hotel, yang kemungkinan besar mereka yang mengenal kita berdua akan melihatnya dan menimbulkan masalah baru. Jadi untuk sementara aku akan mengikuti kemana pun dia membawaku pergi, karena aku juga butuh kepastian serta butuh jawaban yang belum aku ketahui. Dan yang pasti aku ingin jawaban dari semua pertanyaan yang ada di kepalaku ini di jawab langsung oleh Arga sendiri, bukan dari cerita orang lain yang belum tentu kebenarannya. Ya, meskipun dalam hati aku telah meyakini semua yang diceritakan oleh Mas Bagas semua itu benar adanya dan bukan rekayasa ataupun karangan darinya, namun tetap saja aku harus memastikannya sendiri bukan hanya cerita dari kabar angina belaka. Arga membawaku ke kamar di lantai 12, dan kamar ini menjadi saksi perdebatanku dengannya. Di kamar ini juga aku melepaskan semua rasa kecewa serta rasa sakit yang telah Arga torehkan di hatiku atas semua jawaban darinya yang dengan gambang telah mengakui wanita dari keluarga Sudjono Salim itu adalan tunangannya. Saat ini, dunia yang ku pijak terasa runtuh dengan langitnya menimpa seluruh ragaku, aku sudah tidak dapat membendung lagi semua air mata yang dari tadi aku tahan supaya tidak keluar. Ya, mungkin benar Arga mencintaiku. Namun apakah aku masih pantas untuk menunggu seorang laki-laki yang sudah jelas berstatus tunangan wanita lain? Dan logikaku menjawab tidak! Namun nyatanya eksistensi sang logika masih kalah jauh dari rasa cintaku untuk Arga. Saat ku rasakan bibirnya mengecup lembut bibirku, rasa marah serta kecewa atas semua kebohongannya menguap hilang entah kemana. Sehingga aku dengan suka rela menerima semua perlakuannya kali ini. aku memejamkan mata serta mengalungkan kedua tangan di lehernya, aku menerima sapuan-sapuan lembut dari bibir yang masih terasa manis seperti sebelumnya, rasa khas yang ditinggalkan keretek di bibir Arga. Dan rasa ini pula yang selalu aku rindukan darinya. Aku menumpahkan segala kegundahan dalam ciumannya, berharap perlahan bisa membuang rasa sakit yang terus menghimpit hatiku. Benar, aku sangat mencintainya. Namun aku tidak ma uterus hidup diantara mereka dan terus dibayang-bayangi rasa bersalah karena telah merebut kebahagian dari wanita lain. Dan dengan pikiran jernih, akupun harus mengakhiri cinta terlarangku dengannya. Aku meninggalkannya yang masih mematung di dalam kamar, namun ternyata Arga menyusulku dan mengajakku masuk ke dalam lift untuk kembali ke tempat acara sedang berlangsung. Dan tidak ada percakapan lagi diantara kami berduan saat berada di dalam lift, aku pun berdiri sedikit menjauh darinya dengan memunggunginya. Ketika pintu lift terbuka netraku menemukan Mas Bagas yang sedang berdiri di lorong ballroom hotel satu tangannya memegang ponsel yang ditempel ke telinganya. Kepalanya celingukan dan akhirnya berbalik kearahku, wajahnya terlihat bahagia saat menemukanku. Kemudian dia menyimpan ponselnya disaku jas yang dikenakannya malam ini, dengan langkah lebarnya ia menghampiriku yang sedang berjalan beriringan dengan Arga. “Kamu dari mana saja, Ri? Loh, wajah kamu berantakan gini. Kenapa?” nada yang diucapkan Mas Bagas sedikit meninggi menandakan dia khawatir dengan ku, tangannya memegang daguku yang menunduk. Aku diam, bingung harus jawab apa. “Saya yang membawa Gantari.” Ucap Arga ringan, Mas Bagas menaikan sebelah alisnya kala netranya melihat sosok pewaris Wijaya Corporate keluar dari lift bersamaku. “Pak Arga, terima kasih untuk jasnya.” Aku membuka blazer Arga yang dari tadi tersampir di pundaku lalu mengembalikan kepemilik aslinya. Arga menerimanya, namun tidak berkata apa-apa. “Ayo, Mas.” Aku menarik tanggan Mas Bagas dan berlalu begitu saja tanpa mempedulikan Arga lagi. Langkahku sengaja ku percepat, kini betisku terekspos kemana-mana karena belahan gaun yang terlalu tinggi. “Ri, beneran kamu enggak apa-apa? Kamu juga belum makan, terus tas kamu juga masih di tempat acara.”  Telingaku terasa penuh dengan rentetan kalimat-kalimat yang diucapkannya, setelah beberapa langkah berjalan menjauh dari Arga berdiri. Dan di tengah jalan aku menghentikan langkah, karena kupikir sekarang aku lebih baik pulang saja tidak ada gunanya juga kalau harus kembali lagi ke dalam. “Mas Bagas tolong ambilin tas aku ya, aku mau nunggu di sini saja.” Pintaku dengan wajah sedikit memelas. Mas Bagas akhirnya mengalah dan kembali keruangan tempat acara yang masih berlangsung untuk mengambil tas. Aku memperhatikan punggung Mas Bagas yang menjauh, namun sekarang netraku menemukan wanita bernama Dira itu keluar dari pintu masuk Ballroom dan berpapasan dengan Mas Bagas di depan pintu. “Ga..” Panggilnya. Tangannya melambai kearahku. Tidak, lebih tepatnya ke belakangku dimana Arga masih berdiri. Aku mematung saat wanita cantik itu terus berjalan dengan langkah anggunnya yang sebentar lagi akan melewatiku, aku menahan nafas saat bahu telanjangku hanya berjarak beberapa senti meter ketika berpapasan dengan bahu putih mulusnya. Dan aku memejamkan mata ketika dia berhasil melewatiku. Entah apa yang kurasakan saat ini. Sakit? Tentu saja aku sakit, laki-laki yang sangat aku cintai kini mungkin sedang berpelukan dengan tunangannya. Kecewa? Pasti sangat kecewa. Siapa yang tidak akan kecewa bila harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Aku yang selalu berharap Arga menjadi cinta pertamaku serta menjadi cinta terakhirku, namun nyatanya selama ini aku telah dibodohi olehnya. Marah? Benar aku sangat marah! Pertanyaan aneh, yang benar saja! mana ada wanita yang tidak marah dengan situasi seperti ini. Saat ini aku sangat marah dengan diri sendiri karena sudah terlalu bodoh dalam hal urusan asmara. Ketika seorang wanita menemukan tambatan hatinya, biasanya mereka akan kepo dengan kehidupan laki-laki yang dicintainya. Stalking semua akun media sosial, membuka membolak-balik semua masa lalunya, bahkan sampai membanding-bangingkan semua mantan pacarnya dari si A sampai si Z.  Dalam sehari biasanya semua seluk beluk si tambatan hati sudah ada dalam genggaman. Namun tidak demikian denganku, sudah dua bulan lebih sejak aku mengenal Arga, aku hanya tahu dia pemilik Hotel New Shapiree kakak dari atasanku di Artha Tama, Mas Evan. Selain dari itu blank! Aku tidak tahu apa-apa tentang dia. Dan tidak pernah ingin tahu ataupun mencari tahu tentang dia. Aku menyadari, ternyata aku tidak mengenalnya. Aku hanya mengenal sentuhan, pelukan serta ciuman Arga yang beberapa kali aku rasakan. Aku mulai berpikir, kenapa aku bisa sebodoh ini? Apa karena aku tidak pernah berhubungan yang serius dengan laki-laki sehingga aku melupakan semua hal yang seharusnya menjadi dasar dalam membangun sebuah hubungan? Entahlah, tapi yang pasti aku yakin di luar sana tidak ada wanita yang sebodoh diriku. “Kamu lama banget, ayo masuk Papa nyariin kamu dari tadi.” sayup-sayup aku masih mendengar wanita itu berbicara. Dan terdengar suara langkah kaki yang mendekat di belakangku. Jantungku berbacu dua kali lebih cepat dari biasanya, hatiku berdebar-debar kala langkah kaki itu perlahan mendekati ke tempat dimana aku berdiri, aku mengepalkan telapak tangan yang terasa gemetar dan sedikit mengeluarkan keringat karena gugup. Tanpa menoleh, Arga serta Dira yang bergelajut manja di lengannya berjalan melewatiku begitu saja. Aku memejamkan kedua bola mataku kembali saat aroma tubuh Arga sampai di indra penciumanku, rasa sakit di hatiku kini tak tertahankan lagi. pertahananku akhirnya runtuh, dan perlahan air mata itu kembali menetes tanpa dikomando. “Sayang.” Itu suara Mas Bagas, perlahan aku membuka mata kembali dan dengan kasar aku mengusap air mata di pipiku. Dalam buram, terlihat Arga dan juga tunangannya berada beberapa langkah di depanku. “Sini sayang.” Perintahnya sedikit berteriak, aku melihat Arga berhenti sejenak dalam langkahnya. Aku hanya sebentar menatapnya lalu berjalan kearah pintu masuk lobby tempat Mas Bagas berdiri menungguku bersama beberapa orang rekannya, dua orang pria paruh baya dan seorang perempuan cantik berambut sebahu yang tersenyum bahagia dengan kedatanganku. Sebelum beranjak aku merapihkan penampilanku, beberapa kali menghembuskan nafas terlebih dahulu lalu berjalan menghampiri mereka. “Sini sayang, kenalin dulu.” Ucap Mas Bagas saat aku sampai di depan pintu masuk lobby. Tangan Mas Bagas terulur menggapai pinggang rampingku. Aku tersenyum ramah saat rekan Mas Bagas memuji kecantikanku. “Ini rekan-rekannya Om Pram di Jakarta. Itu loh, Yang Perusahan Asuransi nomor satu di Indonesia.” Aku tersenyum menanggapi ucapan Mas Bagas. “Ini Pak Anto, Pak Sandi serta ini Ibu Sarah.” Mas Bagas memperkenalkan satu persatu rekannya, dan yang juga katanya masih rekannya Om Pram, Ayah sambungku. “Hallo, selamat malam. Senang bertemu anda.” Ucapku sekedarnya, karena tidak dipungkiri saat ini fikiranku masih sangat kacau sekali. “Tari ini anaknya Om Pram.” Ucap Mas Bagas sedikit berbisik, dan ketiga orang di depanku ber-oh ria. “Kalau begitu saya duluan Pak, Bu. Bukannya enggak mau ikut gabung tapi Tari dari tadi mengeluh sedikit enggak enak badan.” Jelas Mas Bagas di sampingku, aku melirik Mas Bagas. Memang hanya laki-laki ini yang selalu mengerti kondisi aku. “Enggak apa-apa, Pak Bagas. Saat melangsungkan pernikahan saya pasti menyempatkan diri untuk hadir.” Kelakar laki-laki berkaca mata yang disapa Pak Sandi itu yang ternyata di amini antusias sama Mas Bagas. “Mari semuanya, sampai bertemu kembali dilain kesempatan.” Pamit Laki-laki yang masih memengang erat pinggangku, aku tesenyum menganggukan kepala kepada rekan-rekannya lalu berjalan menikuti Mas Bagas di belakang. Tangan Mas Bagas kini beralih memegang pergelangan tanganku dan membawaku keluar dari lobby hotel. Sesampainya di depan hotel aku sudah tidak bisa membendung air mataku lagi, tanpa berfikir panjang aku memeluk erat tubuh Mas Bagas dan menumpahkan seluruh air mataku di bahunya. Mas Bagas tidak bertanya apa-apa, hanya membiarkanku menangis tanpa suara. Satu tangannya mengelus lembut punggungku dan yang satunya lagi memeluk pinggangku. Untuk beberapa saat tubuh Mas Bagas menjadi objek untukku menenangkan diri. “Nak Bagas.” Sapa suara seorang perempuan di belakang punggungku. “Nak Tari kenapa?” Lanjutnya bertanya dengan nada sedikit khawatir. “Ahh, sedikit enggak enak badan Bu. Saya akan segera membawanya pulang.” Ucap Mas Bagas. “Kita pulang ya, sayang.” Bisiknya lembut, aku hanya mengganggukan kepalaku. Ku lihat kemeja Mas Bagas kusut dan basah oleh air mataku. “Mari semuanya.” Pamitnya, dia kini memapahku dengan kedua tangannya memeluk bahuku. Aku tidak tahu siapa yang datang, namun karena orang yang bertanya tahu namaku kemungkinan besar itu adalah Ibunya Arga, laki-laki yang membuatku menangis seperti ini karena sebuah perasaan tulusku namun terlarang untuknya. Sakit!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN