Gantari Willis
Hingar bingar suara teriakan dan sorak sorai dari penggunjung yang menghabiskan malamnya dengan menikmati ajojing di dance floor dan suara dari music yang dimainkan oleh tangan apiknya seorang Disc Jockey yang memekakkan telinga, lampu temaram diseluruh ruangan, hilir mudik orang-orang dengan berpakaian bermacam gaya, aroma keretek dan parfum yang menusuk memenuhi rongga nafas menambah suasana panas tengah malam ini di dalam ruangan D’One Discotek miliknya Mas Bagas yang masih berada di kawasan Gatsu.
Keluar dari hotel, Mas Bagas membawaku ke sini. Disamping dia yang ada kerjaan di salah satu cabang diskotek yang dia buka, Mas Bagas juga membiarkanku melupakan semua masalah yang aku temui seharian ini. Sifat dia yang tidak suka mencampuri urusan orang lain, membuatnya hanya bisa menemani ku melewati malam tanpa bertanya apapun. Mas Bagas menutupi pahaku yang terekspos dengan jas yang dikenakaanya saat aku mendudukkan diri.
“Bos.” Sapa seorang laki-laki yang mungkin seusia denganku, berahang tegas, wajahnya putih bersih dengan perawakan tinggi membuatnya terlihat menonjol diantara yang lain. Entah cuman perasaanku saja, namun aku kira pernah melihat laki-laki ini sebelumnya tapi entah dimana. “Ahh, mungkin cuman perasaan saja. Toh di dunia ini ada beberapa orang yang memang terlihat sama percis.” Batinku
“Bim, sehat loe.” Samar-samar aku mendengar obrolan mereka dalam kegaduhan ruangan ini, aku masih anteng menatap dance floor yang sesak dipenuhi muda mudi yang berjoged ria dari sofa VIP-nya D’One Discotek. Dari sudut mataku terlihat laki-laki yang dipanggil Bim oleh Mas Bagas duduk di samping Mas Bagas. Dan aku tidak lagi mendengarkan apa yang mereka bicarakan, aku larut dalam lamunan yang aku pun tidak yakin apa yang sedang aku benar-benar fikirkan saat ini. Mataku menatap keramaian lautan manusia yang sama-sama meluapkan segala emosinya lewat kesenangan sesaat, dan ragaku kini berbaur dengan hingar bingar tempat rekreasi bagi pengunjung setianya, tempat gaulnya aktivis gaya hidup metropolis, namun percayalah pikiran dan hatiku tidak ikut serta bersamaku ke sini. Entah kemana mereka pergi, namun yang pasti hati dan fikiranku untuk sejenak telah meninggalkan tempat ternyamannya selama ini.
“Ri..” panggil Mas Bagas sedikit berteriak, dan tepukannya di pahaku membuatku melirik kearahnya. Aku menggerakan bibirku bertanya “Apa?” karena menurutku ngomong atau bahkan harus sampai teriak-teriak di tempat gini tuh percuma, enggak akan kedengaran juga sama lawan bicara kita.
“Ini Bima, Manager di sini.” Ucap Mas Bagas sedikit berteriak. Aku tersenyum menyambut uluran tangannya Aa Ganteng yang kini satu meja denganku.
“Gantari, adiknya Mas Bagas.” Aku pun terpaksa ikut berteriak. Aa ganteng tersenyum lebar menampilkan deretan gigi rapihnya mendengar aku menekankan kata adik di perkenalan kami.
“Bim, suruh Tari aja yang racik minuman.” Ucap Mas Bagas.
“Hah dia?” tunjuknya padaku yang diangguki Mas Bagas.
“Seriusan, yakin loe Bang?” Tanya sang manager tidak percaya. Aku hanya tersenyum menanggapi ketidak percayaannya.
Akupun berdiri dari dudukku lalu berjalan membelah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang menuju Bar dan diikuti oleh mereka berdua dibelakangku. Banyak pasang mata dari laki-laki hidung belang yang menatap liar dairiku, sehingga mas Bagas dengan sigap menariku ke dalam pelukannya. Memang seperti itulah dunia malam, orang-orang akan memandang rendah setiap wanita yang masuk kedunia tersebut. Walau nyatanya tidak melakukan hal-hal buruk sekalipun, dan keadaan seperti itu aku pernah mengalaminya dulu.
Aku merasakan pelukan tangan Mas Bagas mengerat di pinggangku, dan itu membuatku sadar diri dengan masa laluku yang mungkin tidak semua orang akan bisa menerimanya, termasuk Arga. Berada di ruangan yang sama dengan orang-orang penikmat kebisingan dunia malam, membuatku mengenang kembali masa kelamku. Aku tidak yakin akan ada laki-laki yang tulus mencintaiku jika dia tahu kehidupan masa laluku, apa lagi laki-laki dari kalangan keluarga elit yang mementingkan bibit, bebet dan bobotnya seorang calon menantu. Aku pasti akan tersingkir sebelum perang dimulai.
“Huupttz.. Itulah kehidupan, sudahlah. Jika kamu tidak cukup kuat, buat apa bersaing dengan raja rimba. Itu hanya akan membuatmu tersingkir, lebih baik menjauh mencari lingkungan yang bisa menerima segala kekuranganmu.” Batinku.
Langkahku terhenti tepat di depan bar, dengan bartender seorang laki-laki diusia dua puluh limaan. Mas Bagas melepaskan pegangan tangannya dari pinggangku lalu mendudukan tubuh di atas kursi bar, sementara aku sedikit berbincang dengan bartender setelah perkenalan singkat kami barusan, menanyakan ketersediaan semua bahan yang aku butuhkan untuk meracik minuman kali ini. Dan katanya semua bahan yang aku butuhkan kebetulan ada, namun dia harus mencarinya dulu di gudang bahan yang terletak di lantai paling atas. Akhirnya aku menunggu sejenak sampai bahan yang aku perlukan ready di sini.
“Kamu nyuruh cari apa Ri sama dia?” Tanya Mas Bimo yang ikut mendudukan tubuhnya di kursi tinggi depan meja Bar.
“Rahasia dong.” Ucapku sambil mengedipkan mata, si Bima cuman bengong aja melihat ku. Ehh, sebelumnya aku pernah bercerita belum sih tentang kehidupanku sebelum hidup nyaman tinggal di Kota kembang? Lah, kayaknya belum ya… It’s oke sedikit cerita saja dulu aku pernah bekerja sebagai bartender di discotic pusatnya Mas Bagas yang ada di Kota Surabaya. Jadi tentang racik meracik koktail adalah keahlianku yang paling sempurna. Karena aku beberapa tahun sempat hidup sebagai pekerja malam untuk membiayai pengobatan adikku dan juga kuliahku. Dan itulah masa-masa tersulitku setelah ayahku meninggalkan kami.
Masa laluku bisa dibilang hitam, namun alasanku seperti itu karena tuntutan ekonomi bukan karena tuntutan gaya hidup. Aku berfikir dari pada minta-minta bahkan menjadi simpenan mending dapet uang hasil dari keringatku sendiri. Ya, walaupun untuk sebagian orang pekerjaan seperti itu bukan untuk kaum perempuan baik-baik. Namun mau bagai mana lagi kehidupan keluargaku yang jauh dari kata sejahtera, juga yang paling utama adalah untuk pengobatan adikku yang telah divonis mengidap penyakit leukemia membuat ku mau tidak mau harus mendapatkan penghasilan berjuta-juta setiap bulanya. Sehingga aku dengan berani terjun kedunia malam, dan untuk mendapatkan pekerjaan itupun tidak gampang. Aku sampai harus merengek sama Mas Bagas untuk mengijinkanku bekerja discoutik miliknya.
Kenapa aku sampai harus bekerja di tempat hiburan malam padahal ada Om Pram? Jawabannya karena waktu itu ibuku belum menikah dengan Om Pram. Mungkin keuntunganku waktu itu hanya satu, yaitu aku tidak pernah punya masalah selama bekerja di sana, karena semua orang tahu kalau aku adalah adik dari bos mereka. Jadinya setiap karyawan selalu menghormatiku, dan pengunjung yang datang pun tidak pernah bersikap tidak sopan kepadaku.
Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya si Mas Bartendernya membawa semua bahan yang aku butuhkan. Aku berjalan ke belakang meja bar, untuk memuluskan aksiku aku tidak mau ditemani oleh siapapun. Karena konsentrasi dalam meracik minuman yang akan meninggalkan kesan terbaik harus dilakukan dengan konsentasi penuh dalam menentukan semua takaran. Intinyakan segala sesuatu yang kita lakukan harus dengan perasaan supaya hasilnya maksimal.
“Silahkan di cicipi.” Setelah beberapa saat aku menyodorkan 3 gelas kecil minuman di atas meja bar. Aku hanya membutuhkan waktu lima menitan untuk meracik minuman special itu.
“Sumpah kangen banget sama minuman racikan kamu, Ri.” ucap Mas Bagas, tangannya menggapai gelas kristal di depannya.
“Cicipi, Bim!” perintahnya “Gue, yakin loe bakal nagih.” Lanjutnya, aku hanya tersenyum menanggapi ocehan Mas Bagas. Ragu-ragu akhirnya Bimo juga mencicipi racikan perdanaku di D’One Kota Kembang.
“Gimana?” tanyaku penasaran. Tapi kalau melihat ekspresi mereka berdua aku yakin, minuman kali ini sukses membuat mereka meninggalkan kesan tersendiri dari hasil tangan apikku sebagai mantan bartender.
Mas Bagas menggeleng-gelengkan kepala, matanya terpejam kala lidahnya mencecap rasa yang kuat dari minuman yang ku racik.
“Memang tidak akan ada yang bisa menyaingi kamu dalam meracik koktail, Ri.” Sanjungnya. Dia memutar kursinya menghadap Bimo.
“Jadi, Bim. Lima tahun lalu ni perempuan jadi bartender terkenal di D’One pusat. Banyak yang gak percaya, yah secara perempuan kalem gini mana ada masuk tempat-tempat kaya gini kan? Tapi nyatanya semua bartender kalah sama dia.” Ceritanya. Bimo yang kali ini diajak cerita menatap diriku tak percaya, aku hanya tersenyum malu. Karena itu adalah masa-masa tersulitku dalam melewati hidup, dan memilih menjadi seorang bartender dengan penghasilan tinggi.
“Kayaknya resep baru?” Tanya Mas Bagas. Aku tersenyum, dan berjalan kembali memutari meja bar berniat duduk di kursi yang sebelumnya aku tempati di sebelahnya.
“Hooh, Mas.” Jawabku sebelum mendudukan tubuhku di kursi.
“Koktail kali ini aku kasih nama rice and papper.” Aku tertawa dengan jawaban ku sendiri. Ya kali nasi ama lada, udah kaya mau makan-makan barbeque-an di ancol bareng ibu-ibu komplek, tinggal tambahin daging, bawang bombai sama paprika. Dan, jadi deh. Tapi memang itu sih nama yang terpikir olehku untuk menu baruku ini.
“Jadi ini tuh, racikan Bulleit Bourbon yang dipadukan sama mojito, brem putih, kombinasi lada hitam dan aroma bakar dari uap kayu manis. Aku yakin semua bar pasti menyediakan semua bahan ini.” Lanjutku.
“Aku redho kok Mas ini si rice and papper jadi menu koktail baru di tempat Mas Bagas. Asal royalty-nya aja sesuai sama karya aku.” Aku mengedip-ngedipkan mataku, genit. Dan Mas Bagas hanya mencolek ujung hidungku dan kembali menyesap minumannya.
“Ehhh, tapi jangan banyak-banyak minumnya, soalnya ini minuman kuat banget Mas. apa lagi buat mereka yang jarang minim, satu gelas aja langsung tepar gak inget bumi alam.” Aku memperingatkan mereka berdua.
“Tenang, Mas enggak terbang. Masih cuti sampai dua hari kedepan.” Jawabnya.
“Bikinin lagi dong!” pintanya.
“Ogah!” Tolakku
“Loe enggak minum?” Tanya Bima, aku hanya mengedikkan bahu menjawab pertanyaannya.
“Dia bukan peminum bahkan tidak suka minum.” Jawab Mas Bagas cuek.
“Lah, terus?” Bimo kayaknya bingung, soalnya dia langsung melihatku setelah mendengar jawaban dari Mas Bagas.
“Enggak terus, pokoknya dia enggak minum dan enggak boleh minum.” Ucap Mas Bagas, dan aku jadi ingat saat Mas Bagas membanting gelas Kristal yang aku pegang saat salah satu pengunjung diskotik memaksaku meminum racikanku sendiri yang katanya tidak sesuai dengan selera dia. Dasar orang mabok, pasti selalu bikin ulah, selalu membesar-besarkan masalah dengan pelayan seperti kami. Dan untungnya saat itu Mas Bagas kebetulan ada di diskotik, jadinya aku bisa terhindar dari masalah.
“Aku racik koktail enggak pernah aku cicipi, jadi pake perasaan aja gitu pas masukin takarannya. Ahh, pokoknya gitulah.” Ucapku menjawab kebingungan Bimo, “Dan selama aku menjadi bartender hanya ada beberapa pelanggan yang mengeluh, dan itupun karena dia mabok parah. Kalau masih normal kaya gini, mereka menikmatinya.” Ucapku jumawa.
“Kamu masih mau disini, apa pulang sekarang?” Tanya Mas Bagas. Aku melihat jam di pergelangan tangannya dan ternyata sudah hampir jam tiga pagi. Walaupun besok weekand dan bisa rebahan sepuasnya seharian di kamar, namun aku selalu memperhatikan kualitas tidurku karena kulit seorang gadis adalah yang paling penting. Dan kecantikan kulit selain didapat dari asupan makanan serta perawatan, namun kualitas tidur juga menjadi salah satu faktor yang menentukan kesehatannya. Sekarang aku harus segera tidur untuk mengistirahatkan seluruh tubuh yang terasa lelah. Dan yang paling utama, aku harus mengistirahatkan fikiranku yang hari ini dibuat kacau oleh Arga.
“Pulang sekarang aja, Mas. Ya, walaupun aku sebenarnya masih nyaman di sini karena bisa melupakan masalahku tapi aku harus tidur Mas.” Jawabku.
“Oke, kita pulang sekarang.” Ucapnya.
“Besok siang ketemu di kafe bawah, Bim.” Ucap Mas Bagas yang kini kembali melirik Bimo. “Bawa semua laporan, Loe. Oke.” Dia menepuk bahu Bimo.
“Sip, Bang!” Bimo mengacungkan kedua jempolnya lalu tersenyum kearahku. Akhirnya tepat jam tiga pagi aku keluar dari D’One, dan Mas Bagas mengantarku pulang ke apartement. Sementara Mas Bagas kembali lagi ke hotel tempat acara galang amal tahunan tadi berlangsung, karena pihak penyelenggara sudah menyiapkan satu kamar mewah untuknya.
***
Aku memandangi langit-langit kamar yang berwarna putih saat kepalaku menyentuh bantal di atas Kasur, sudah jam setengah empat pagi namun mataku masih enggan terpejam. Kurasakan sedikit nyeri diarea kedua betisku, buah dari semalaman memakai sepatu berhak tinggi. Dengan malas aku turun dari Kasur berniat mencuci muka dan membersihkan makeup yang masih menempel di wajahku. Namun sebelum itu aku mengganti pakaianku terlebih dahulu dengan piyama tidur.
Aku hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk ritual menghapus makeup, kembali naik keatas Kasur dan bergelung dengan kehangatan selimut sebatas dagu. Aku mencoba memejamkan mataku dan merafalkan doa dalam hati berharap kedamaian menghampiriku kali ini. Namun kilasan-kilasan Arga yang mencium bibirku serta bayangan Arga bersama wanita lain terus berputar di kepalaku.
Bayangn-bayangan Arga bersama wanita lain yang seharusnya tak terfikirkan olehku memenuhi semua imajinasiku, menciptakan sebuah film panjang pengantar tidur. Perlahan aku tak mengingat apapun, lalu membuka sang tabir mimpi.
Terlihat diriku sendiri yang sedang menangis di atas makam kecil dengan Arga memelukku dari samping, aku yang mengenakan baju serta hijab berwarna hitam di bawah langit mendung memandang lekat batu nisan dengan air mata terus mengalir di pipiku. Satu tanganku membelai nisan yang masih bersih tanpa tulisan.
“Dia akan selalu menunggumu di Syurga, Sayang.” Bisik Arga menenangkanku.
“Kita sebagai orang tua, wajib mengirimkan do’a untuknya.” Lanjutnya.
“Aku sayang kamu, aku sayang anak kita. Maafkan papa, Sayang.” Setitik cairan bening meluncur dari bola mata Arga.
Aku membuka mata terbangun dari tidurku, karena mendengar seseorang menyembunyikan bel pintu apartemenku. Aku memperhatikan sekeliling kamarku, aku hanya sendiri tidak ada Arga di sampingku. Aku menghela nafas berat, ternyata cuman mimpi. Ku usap keningku yang basah dengan keringat, aku kembali memikirkan mimpi barusan. Kenapa aku bermimpi seperti itu? Aku memegang d**a dan sedikit menekannya, tangisan serta rasa sakitku karena kehilangan buah cintaku dengan Arga terasa sangat nyata. Dan ternyata pipiku juga basah dengan air mata. Aku berharap semoga itu hanya sebuah bunga tidur, tidak untuk menjadi nyata.