Gantari willis
“Aku mencintainya.” Gerakan tangan Mas Bagas terhenti seketika saat hendak menuangkan air putih ke dalam gelas Kristal di dapur apartementku siang ini.
Ya, orang yang membunyikan bel apartementku yang ku anggap masih pagi buta padahal matahari sudah berada hampir di atas kepala, tidak lain tidak bukan adalah dia. Aku sedikit kesel aja, ngapain coba bunyiin bel berulang-ulang kali padahal dia tau kode kinci pintu apartement yang ku tempati. Toh tempat ini juga punya Om Pram, aku cuman numpang neduh aja di sini, ya walaupun kata Om Pram ini sudah menjadi milikku namun tetap saja ini pemberian orang bukan hasil dari jerih payahku sendiri, tidak seperti mobil butut kesayanganku yang aku beli dari uang gaji yang ku sisihkan selama beberapa tahun.
30 Minutes Earlier..
Kakiku yang tak beralaskan apapun menyentuh lantai yang terasa dingin saat turun dari ranjang di dalam kamar tidurku, dengan gontai aku terpaksa berjalan keluar kamar karena suara bel yang enggak berhenti mungkin kira-kira sejak lima menit yang lalu. Masih dengan mata sedikit terpejam dan masih terasa perih aku membuka pintu tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang datang pagi-pagi buta mengganggu tidur nyamanku.
Ketika aku membuka pintu, wajah tengil Mas Bagas sudah nongkrong di sana. Rasanya aku ingin sekali mencakar wajahnya, namun aku terlalu menyayanginya sebagai seorang saudara yang selalu ada di saat aku susah. Apa lagi saat senang, dia akan menjadi bagian list teratas orang-orang yang mendapat kabar bahagiaku pertama kali. Dengan tanpa bersalah, dia nyelonong masuk gitu aja ke dalam apartementku.
“Anak perawan enggak bae bangun siang, cepat mandi.” Ucapnya sambil membuka sepatu dan menyimpannya ke rak sepatu di samping pintu masuk. Salah satu tangannya membawa kantong makanan bertuliskan restoran terkenal di sekitaran Asia Afrika.
“Masih ngantuk, Mas.” Jawabku, lalu mendudukan tubuhku di sofa ruang tamu “Masih pagi juga.” Lanjutku asal.
“Pagi dari mana, Taryati. Ini tuh udah jam sebelas siang.” Mas Bagas berjalan kearah jendela di ruang tamuku, dan membuka tirai yang masih menutupi permukaan kaca besar itu. Dan benar saja hari sudah siang, matahari pun sudah terik berada hampir di atas kepala, dengan hawa panasnya kini terasa kedalam ruangan merambat melalui kaca jendela.
Oh iya, taryati itu panggilan sayangnya Mas Bagas buat aku, katanya. Sebel enggak sih dapet warisan nama seindah Gantari Willis, eh malah kalah sama nama Taryati. Dita aja panggilan sayangnya Dono atau bahkan Maemunah. Hadeeeeh, dasar bujang lapuk minim ahklak. Hahaha ada-ada saja.
“Aku mandi dulu.” dengan malas aku berdiri dari duduku, berjalan memasuki kamar lalu menjalankan ritual pagiku yang sudah terlambat. Dan Mas Bagas pergi kedapur untuk menghangatkan makanan yang dibawanya.
Flash back off.
“Sejak aku hidup di dunia dengan identitas seorang Gantari Willis, ini untuk pertama kalinya aku mencintai seseorang. Namun kenapa harus dia, Mas?” Aku mencurahkan segala beban di hatiku kepada Mas Bagas. Mas Bagas yang kini duduk di depanku masih enggan bersuara, mungkin membiarkanku mengoceh mengeluarkan unek-unek terlebih dahulu sebelum dia merespon curahan isi hatiku.
“Kamu tahu, Mas? dari sekian banyak laki-laki yang hidup di dunia ini, aku malah jatuh cinta pada laki-laki yang sudah bertunangan! Miris.” Aku tersenyum mengejek diriku sendiri. Mas Bagas menelisik wajakhu, lalu meminum air dari gelas yang ada dalam genggamannya.
“Anak Wijaya?” Tanyanya setelah beberapa teguk air meluncur membasahi tenggorokanya. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.
“Minggu kemarin dia menjual beberapa sahamnya ke Om Pram.” Ceritanya.
“Hah. .kenapa?” Tanyaku, Mas Bagas hanya mengedikan bahu tanpa menjawab. Mungkinkah Arga saat ini sedang dalam kesulitan keuangan.
“Habisin dulu makananya.” Perintahnya padaku, karena dipiring makanku masih tersisa makanan separuh lagi. Akupun menurut dan menghabiskan makananku sampai habis.
“Kalau tunangannya pewaris Sudjono Salim, sulit juga buat anaknya Wijaya memutuskan hubungan. Apa lagi kalau prediksi Mas bener ya, saat ini Wijaya lagi ada di titik krisis keuangan.” Ucapnya, “Ehh, Ri. ini cuman prediksi Mas saja yaa. Bisa saja salah kan?” Lanjutnya menenangkanku.
“Lagi pula konsep dari mana kalau Arga bakal mutusin hubungan sama tunangannya.” Aku menyangkal ucapan Mas Bagas yang menurutku enggak masuk akal. Soalnya kan dia itu cantik dan yang paling utama dia kaya sederajat sama Arga, enggak mungkin juga kan Arga mutusin hubungan demi aku yang remehan kaya gini. Halahhh, mimpimu ketinggian Taryati. Entar kalau nabrak pesawat baru tahu rasa!
“Karena anaknya Wijaya mencintai kamu!” aku mendongak menatap Mas Bagas saat mendengar ucapannya.
“Mas yakin seribu persen kalau dia mencintai kamu.” Lanjutnya mantap.
“Dan yang paling penting..” Mas Bagas menjeda ucapannya, aku pun sedikit mencondongkan tubuhku ke depannya. Penasaran dengan apa yang dia ucapkan setelahnya.
“Di luar sana, di belahan bumi yang berbeda. Wanita itu dekat dengan laki-laki lain.” Lanjutnya dengan sedikit berbisik.
“Hah, yakin Mas? siapa?” Tanyaku enggak percaya.
“Yakin! Soalnya kemarin Mas satu penerbangan sama anaknya Sudjono Salim itu. Tokyo-Indonesia!” Ucapnya dengan diujung kata menekankan kata Tokyo-Indonesia.
“Enggak kenal sih sama laki-laki yang bersamanya, cuman yang Mas tahu, laki-laki yang bersamanya itu masih wajah baru musisi Indonesia. Interaksinya juga kayak pasangan pada umumnya gitu, enggak ada sekat diantara mereka.” Aku khusyu mendengarkan ceritanya Mas Bagas. Mendengar negri Sakura, musisi wajah baru Indonesia sekilas aku sedikit mengingat pembicaraanku dengan Dita, adikku sekitar dua minggu yang lalu. Mungkinkan apa yang dulu Dita ceritakan padaku adalah pasangan ini? Ahh, entahlah. Rasanya kepalaku akan pecah mengingat kembali Arga yang sudah bertunangan dengan wanita lain, dan yang paling penting aku kalah banyak dengan tunangannya. Ya, aku sangat mengakui itu.
“Dan sepertinya anak Sudjono Salim selingkuh di belakang anaknya Wijaya. ehh, Mumpung hari minggu, Mas temani jalan-jalan deh.” Bujuknya, “Emang kamu enggak sumpek gitu di rumah terus? Lama-lama kamu jadi perawab tua loh kalau terus ngurung diri di dalam rumah.” Lanjutnya menakut-nakutinya. Padahal apa hubungannya coba, mau di dalam rumah kek mau di luar rumah kek toh umur terus bertambah. Enggak pernah ada ceritanya yang selalu di luar rumah umurnya enggak bertambah, hahh ada-ada saja Mas Bagas ini dikiranya aku masih anak kecil kali yaa yang masih bisa ditakut-takuti seperti itu.
“Ya udah ayoook. Ehh, bentaran beresin ini dulu.” Ucapku. Tanganku segera membawa piring kosong bekas makan serta gelas yang ada di atas meja.
Aku mencucinya di washtafel, dan membereskan meja makan yang sudah digunakan sebelum berangkat ikut berpartisipasi dalam kemacetan di jalanan arterinya kota Bandung bersama Mas Bagas siang ini.
Karena sejak kepindahanku ke Bandung empat tahun lalu, aku tidak pernah mempekerjakan seorang asisten rumah tangga. Segala sesuatu aku kerjain sendiri, paling pakaian aja yang pake jasa laundry lima kali dalam satu bulan. Oh iya, sama makan juga aku seringnya beli di luar. Bukan enggak bisa masak sih, cuman ya enggak sempet aja buat beli bahana makanannya soalnya kan pagi-pagi aku udah berangkat kerja, beli sarapan didekat kantor dan pulang sampai apartement biasanya hari sudah mulai gelap. Jadi ya take a way aja hampir tiap hari.
So, aku mungkin masuk golongan wanita yang enggak bisa berhemat. Tepe-tipe orang yang susah ngumpulin harta segunung lah. Enggapk apa-apa lah yaa, solnya belum punya suami sama anak ini. Ahhh, tuh kan nyinggung suami jadi inget lagi deh sama Arga. Soalnya udah aku gantung tinggi-tinggi harapan untuk bisa bersamanya di langit-langit do’aku, berharap dia yang kelak akan menjadi pendampingku menemani sisa usiaku. Namun sekarang apa? kenyataan sungguh tak sesuai harapan, sekarang Arga menjadi ketidakmungkinan dalam hidupku. Sumpah demi apapun, sakit!
“Lah, malah bengong. Ayook jadi enggak?” Mas Bagas menepuk pundaku, aku segera mematikan air keran yang mungkin sudah lama juga airnya mengalir. Duuh, aku malah melamun. Padahal tagihan air lagi mahal-mahalnya sekarang.
aku buru-buru mengeringkan tangan dengan lap yang tersedia di kabin lemari dapurku, sesudah megucapkan sebentar aku langsung meluncur ke kamar tidutku membetulkan riasan serta mengambil tas.
Ketika tanganku hendak mengambil tas, tak sengaja mataku menemukan benda pipih milikku tergeletak begitu saja di atas nakas. Ahh, aku melupakannya. Semalaman aku off ponsel kesayanganku dengan mode pesawat, dan sampai sekarang aku lupa menghidupkan signalnya kembali.
Aku mengambilnya jariku menekan gambar pesawat di layar ponsel, menghidupkan kembali signal provider yang sudah beberapa tahun ku gunakan sebagai alat penunjang komunikasiku bersama keluarga serta semua rekan kerja, sambil melihat-lihat isi ponsel aku duduk di pinggir ranjang kasurku yang siang ini terasa hangat sekali.
Sesaat sesudah nomor ponselku aktif kembali, ada banyak panggilan masuk serta pesan singkat yang masuk ke aplikasi WhatApp-ku. Ada pesan singkat yang dikirim dari Mama, adikku Dita, Mas Evan yang notabenenya adalah atasanku di kantor, serta yang paling banyak adalah panggilan dan beberapa pesan singkat dari nomornya Arga. aku males membuka semua pesan, aku hanya membuka pesan singkat yang dikirim Ibuku dan juga adikku saja. Yang menanyakan jadwal kepulanganku ke Surabaya, dan setelah dipikir-pikir ternyata aku sudah tiga bulan enggak nengok orang tua ke Surabaya. Uhh, ternyata aku jauh dari kata anak yang berbakti. Aku lebih perhatian dengan tumpukan kertas serta layar monitor dimeja kerjaku ketimbang dengan orang tua yang sudah melahirkanku ke dunia.
***
Setelah berjuang menembus kemacetan jalanan Kota Kembang, akhirnya disinilah aku sekarang di tempat rekreasi untuk menghilangkan penat kalau kata Mas Bagas sih gitu!. Lebih tepatnya di Situ Cilenca, pangalengan yang masih masuk ke Kabupaten Bandung. Selain menyuguhkan panorama Situ dengan keindahan yang luar biasa serta cuaca dinginnya khas pegunungan teh Pangalengan, namun disini ada juga sungai Palayangan yang menawarkan wahana arung jeram dengan pemandangan alamnya yang indah dan juga jeram yang menantang untuk di arungi. Dan sebelumnya aku belum pernah merasakan sensasi bermain Arum Jeram, jadi ini pertama kalinya berkunjung ke tempat seperti ini. dan ternyata di tempat ini aku bisa mengembalikan semangat hidupku kembali.
Karena dari pusat kota Bandung untuk bisa sampai ke daerah pangalengan memerlukan waktu lebih dari tiga jam, sehingga sampai disini waktu sudah semakain sore dan cuaca pun berkabut dibarengi gerimis yang tidak memungkinkan untuk rafting saat ini. Akhirnya Mas Bagas memutuskan untuk menyewa villa untuk bermalam disini, dan rencana balik ke Bandung besok sore. Padahal rencna awalnya tidak seperti itu, aku ingin kami berdua kembali ke Bandung hari ini juga karena besok aku masih harus masuk kerja. Namun di tengah jalan Mas Bagas malah ingin ke tempat ini, ya sudah aku iya iya aja.
“Mas, kenapa kepikiran tempat ini padahal jauh?” Tanyaku setelah memasuki villa yang kami sewa untuk malam ini. Villa ini termasuk villa berukuran standar karena hanya memiliki 2 kamar tidur saja, dengan satu ruang keluarga yang terhubung langsung dengan pantry.
“Ada salah satu pramugari yang posting tempat ini.” Dia nyengir tangannya memegang ponsel yang layarnya memperlihatkan photo Situ Cilenca ini.
“Mas udah booking paket rafting, Paintball sama Flyingfox buat besok. Kamu tadi bener udah minta ijin kan sama kantor?” Tanyanya.
“Iya, udah Mas. aku udak kirim email keatasan aku. Surat dokternya bisa nyusul.” Jawabku dengan manyun. Tadi waktu di tengah jalan Mas Bagas merubah rencana dan akhirnya mengajakku ke tempat ini, aku sudah mengerti kita tidak bisa pulang hari ini juga mengingat perjalanan yang lumayan jauh. Ya bisa saja cuman sehari, tapi kita harus berangkat pagi-pagi dari Bandung bisa pulang lagi ke bandung malam harinya.
“Terus ke Dokternya kapan? Kamu kan enggak sakit beneran.” Tanyanya bingung. Ihh, Mas Bagas ini kelihatan karyawan yang super duper rajinnya. Masa kenakalan karyawan kayak gini aja enggak tahu.
“Ihh, Mas Bagas enggak pernah nakal yaa?” Aku hanya tersenyum dengan kebingungannya.
“Mas, sini deh pemandangannya bagus.” Lanjutku ketika aku keluar dari pintu villa yang langsung menghadap ke Situ Cilenca. Kabut tipis yang menghalangi tidak menghilangkan keindahan tempat ini, justru malah lebih memberikan sisi kesan romantis.
Saat ini, aku bukannya melupakan laki-laki yang telah menorehkan luka di dalam hatiku, bayangannya malah terus menari-nari menutupi sejauh batas mata memandang. Tidak ada tempat yang luput dari bayangan Arga, segalanya terlihat hanya seperti dirinya. Aku memejamkan mata ketika kepalaku bersandar nyaman di bahu Mas Bagas. Seandainya laki-laki yang bersamaku adalah dia, arggghh Tuhan cobaan-Mu terlalu berat untukku!