Garis Dua

1764 Kata
Aganta Ragnala Bola mataku memandang gemerlap kota Kembang dimalam hari dari balkon kamar apartement Ira, hanya gelap yang menyapa indra penglihatanku, tidak ada cahaya bulan atau langit indah bertabur bintang. Satu-satunya cahaya terang hanya dipancarkan dari kerlap-kerlip lampu jalanan serta lampu yang masih menyala dari gedung-gedung pencakar langit yang masih terang pada malam hari. Ya, masih ada beberapa opsi dalam hal menerangi kegelapan. Tidak ada cahaya bulan -Anugrah dari Sang Maha Pencipta Bumi Alam-, tapi masih ada cahaya lampu buatan apik tangan manusia yang bisa memberikan kenyamanan ketika matahari -Sang Pemberi cahaya seluruh alam- kembali keperaduannya. Untuk memberikan sedikit sentilan kepada manusia bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, akan selalu ada akhir pada setiap proses yang dilewati. Tanganku bertumpu memegang besi pembatas balkon yang terasa sangat dingin di kulitku, angin malam yang menusuk sampai ke tulangpun tidak ku hiraukan. Aku hanya berfikir bagaimana caranya aku bisa keluar dari apartement Ira, sementara orang tuanya masih berada di sini. Tadi aku hanya pamit kepada mereka keluar sebentar untuk menikmati sebatang kretek yang kini hanya tersisa setengah yang tengah diapit kedua jariku. Teringat kembali kilasan-kilasan  yang ku lihat di depan pintu masuk hotel di kawasan Gatsu beberapa jam yang lalu, saat dia memeluk erat tubuh laki-laki yang katanya pemilik pabrik kretek di Surabaya. Dan dengan tergesa laki-laki itu memapahnya sampai ke dalam mobil. Rasa sakit, marah serta kecewa bercampur di hatiku saat itu dan tentunya sampai sekarang, melihat wanita yang ku cintai bersama laki-laki lain yang kemungkinan menjadi salah satu sainganku untuk mendapatkan Tari. Namun aku tidak bisa bernuat apa-apa, selain menatap sayu punggungnya berjalan menjauh dari pandanganku. “Malam ini kamu harus menginap di sini.” Ucap Ira di sampingku, entah kapan dia datang aku tidak mendengar suara langkahnya. Aku hanya meliriknya sekilas dan kembali menatap jauh ke depan kembali menyesap rokok yang tinggal sedikit lagi. “Dari pertama bertemu di tempat acara kamu enggak pernah memperdulikan aku, Ga.” Nada yang Ira ucapkan naik satu oktaf. “Beberapa minggu kamu kemana? Uang segitu banyak kamu habisin untuk apa?” Tanyaku santai. “Aku refresing sama temen-temen aku.” Ira menjawabku, terkesan sangat terburu-buru. Entah karena dia takut aku memarahinya, entah karena alasan lain. “Dan sampai membawa uang hotel?” aku tersenyum sinis kepadanya. “Ya ampun, Ga.. kamu segitu aja itungan sama tunangan sendiri?” Elaknya, tangannya menyentuh pinggung tanganku namun aku menepisnya. “Kamu berubah, Ga. Jujur sama aku! Perempuan mana lagi yang kamu kencani kali ini?” tanyanya menyelidik. “Hah, lagi? Memangnya siapa yang pernah aku kencani? Kali ini? Pertanyaan yang seolah-olah aku sebelumnya telah mengencani beberapa orang yang sekaum dengannya. Kalau hanya perempuan malam yang aku sewa buat menemani dan menghangatkan ranjangku, sebelumnya memang pernah ada. Namun itu bisa dihitung jari, dan itu pun hanya satu malam. Setelahnya aku tidak pernah ingin menemuinya kembali.” Monolog batinku. Aku tahu karakter Ira yang enggak akan segan-segan sama wanita yang caper sama aku. Contohnya dulu, pernah ada seorang karyawan hotel wanita yang selalu nyari perhatian sama aku dan Ira dengan gampangnya membully dia sampai dia mengundurkan diri dari hotel, padahal aku biasa saja sama karyawan wanita itu tidak ada cerita lebih antara kami. Itu baru cerita seorang perempuan yang selalu cari perhatian dan aku pun enggak ngasih harapan sama perempuan itu, apa lagi dengan cerita sekarang ketika aku yang mengejar bahkan mencintai seorang perempuan yang bukan dirinya. Aku yakin Ira enggak akan pernah melepaskan Tari, karena Ira masuk dalam kriteria perempuan yang enggak bisa merelakan miliknya diambil untuk orang lain, tipe-tipe perempuan egois! Ya, itulah Ira. Perempuan yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan segala keinginannya. “Kamu ngomong enggak usah kemana-mana! Jangan nuduh sembarangan.” Elakku. Aku berbalik untuk mematikan rokokku di atas asbak yang ada di meja balkon. “Kalau kamu enggak mengencani siapapun, dari tadi kamu enggak akan menolak semua sentuhanku Ga.” Tangannya membuka simpul tali lingerie satin berwarna hitam yang dipakainya malam ini. Aku memalingkan wajah darinya. Aku merasakan Ira mendekatiku, wajahnya yang berjarak sangat dekat denganku menghembuskan nafas yang terasa panas di telingaku. Dia menjatuhkan lingerie yang membungkus tubuh semampainya, hanya tersisa baju dalam berwarna senada dengan lingerie-nya kini hanya memutupi sedikit permukaan kulit putihnya. Tangannya melingkar dipundakku, aku memejamkan mata sebisa mungkin menahan godaan yang tersaji di hadapanku. “Kenapa, Ga?” Bisikknya. Jari lentiknya menyusuri telinga, rahang dan berhenti dibibirku. Ibu jarinya mengusap bibir bawahku. “Ra, enggak begini caranya. Orang tuamu masih ada disini.” Ucapku dengan nafas sedikit memburu. Sekuatnya seorang Arganta yang sudah pernah merasakan kenikmatan surga dunia, pasti imanku sedikit goyah juga dengan suguhan seperti ini. “Mereka udah balik.” Ira yang tingginya enggak begitu jauh denganku, hidungnya menyusuri wajahku. Dengan tanpa dikomando tanganku perlahan menyusuri punggungnya yang hanya tertutupi tali kecil, memberi sentuhan-sentuhan kecil disana. Bagai manapun juga aku bukanlah laki-laki alim yang bisa menahan segala godaan, aku sama seperti mereka yang tidak bisa menahan hasrat ketika di suguhi sesuatu yang indah seperti ini. Dari dulu samapai saat ini aku memang tidak mencintai tunanganku yang sekarang sedang melumat rakus bibirku, namun hasrat tidak membutuhkan itu. Aku bisa menahannya dengan Gantari, wanita yang benar-benar aku cintai. Tapi tidak dengan Ira, karena Ira sendiri yang dengan sadar menawarkan tubuhnya untuk menghangatkan ranjangku melewati malam bukan aku yang memintanya. Malam ini aku kembali jatuh dalam pusaran kenikmatan dunia yang seharusnya masih terlarang untuk ku lakukan, dan untuk kesekian kalinya juga aku jatuh kembali dalam pelukan Ira melewati malam panas dengan peluhku tertinggal di setiap inci tubuhnya. Sekarang kalian tahu kelakuan bejatku, kelakuan tak bermoralku. Menuntaskan hasrat tanpa cinta dan tanpa perasaan. Aku merubuhkan tubuhku di samping Ira, mataku terpejam tanganku menarik selimut yang teronggok di pinggir Kasur lalu menutupi setengah badanku yang tak terhalang sehelai benangpun. Aku merasakan Kasur sedikit bergoyang, aku hanya meliriknya. Ternyata Ira turun dari ranjang entah kemana karena aku tidak mengingat apa-apa lagi sampai pagi menyapa. *** Dira Anastasya Sebelum pergi ke acara galang amal tahunan yang bertempat di salah satu hotel di kawasan Gatot Subroto Bandung, di apartemen aku bertengkar hebat dengan kedua orang tuaku. Alasannya tidak lain dan tidak bukan karena kepergianku ke Negri Sakura selama satu minggu bersama Ragil Raspati, kekasihku. Orang tuaku terutama Ibuku yang sangat menentang dengan hubungan asmaraku bersama Ragil, mengetahui kalau Ragil adalah orang yang bersamaku menghabiskan waktu selama satu minggu di Jepang menikmati akhir musim dingin. Entah dari siapa ibuku mengetahuinya, namun yang pasti ancaman mereka kali ini sangat tidak main-main. Konsekuensi yang aku terima jika memilih tetap melanjutkan menjalin hubungan dengan sang vokalis Simvoni, aku harus keluar dari keluarga Sudjono Salim dengan tanpa membawa apapun yang berkaitan dengan pemberian pengusaha terkaya ke 10 di Indonesia itu. Awalnya aku tetap memperjuangkan cintaku untuk Ragil karena disamping aku yang sangat mencintainya, namun aku juga telah memberikan segalanya untuk Ragil. Dan sehari setelah kepulanganku ke Indonesia dari trip-ku keliling jepang selama satu minggu itu, aku menyempatkan diri mamapir ke sebuah apotik membeli alat tes kehamilan. Karena jadwal datang bulan ku yang sudah telat hampir 15 hari, dengan mata mengintip-ngintip aku melihat hasilnya dari benda tipis itu, yang ternyata menampakan hasil garis dua yang sedikit samar. Namun aku yakin sekarang ada mahluk yang hidup dalam rahimku. Walaupun kaget dengan hasil garis dua dari tes kehamilan yang aku beli sore hari itu, namun nyatanya aku sungguh sangat senang karena bagaimanapun juga aku mengandung benih dari laki-laki yang aku cintai. Benih yang tertanam dari percintaan panas setiap kali bertemu di belakang Arga sejak setengah tahun yang lalu. Pertemuan aku dengan Ragil sangatlah jarang terjadi, dalam setengah tahun ini mungkin hanya beberapa kali bisa dihitung jari. Selain karena kesibukanku dan kesibukan yang Ragil jalani, namun aku juga harus mengaturnya dengan sangat rapih. Sehingga tidak ketahuan oleh Arga dan terutama oleh orang tuaku yang sangat tidak menyukai Ragil. Banyak drama dan alasan yang aku setting setiap aku merindukan Ragil lalu pergi menemui laki-laki itu ke Jakarta dimana dia tinggal dan mencari nafkah sebagai seorang vokalis dari band yang mulai naik daun saat ini. Dan aku ingat malam itu juga aku kembali menemui Ragil di kostannya, setelah pertengkaran dengan kedua orangtuaku aku kembali lagi ke Jakarta. Perjalanan yang ku habiskan selama 3 jam lebih hanya membuahkan pertengkaran dengannya. Ragil tidak mau bertanggung jawab dengan kehamilanku, dengan alasan dia yang baru saja memulai karir tidak mau masa depannya hancur gara-gara sekarang dia harus menikahiku di tengah-tengah kepopularitasannya, sebagai vokalis dari band yang sangat disukai oleh kalangan muda terutama kalangan wanita. Dengan segala argumentnya, akhirnya aku tidak memaksa Ragil untuk bertanggung jawab atas kehamilanku. Namun sebagai wanita yang enggak mau rugi aku memutuskan untuk mematuhi keinginan orang tuaku dan meninggalkan Ragil dengan membawa buah cintanya bersamaku. “Akhirnya sang putri ingat pulang.” Sindir Ibuku sesaat setelah aku menginjakan kaki di ruang tamu rumah orang tuaku yang masih di kawasan Pondok Indah Jakarta. Aku malas berdebat, hanya diam tidak menghiraukan sindiran ibuku dan begitu saja duduk di sofa depan Ibuku. “Jum’at malam acara di Bandung, tugas kamu hanya meyakinkan keluarga Arga untuk melangsungkan pernikahan satu bulan lagi.” Ucapnya, “Tidak ada bantahan!” perintahnya. “Dan andai Arga tidak setuju?” Tanyaku tanpa melihat wajah Ibuku. “Itu urusan kamu, bagaimanapun caranya pernikahn kalian harus dipercepat. Itupun kalau kamu menginginkan semua fasilitas kembali lagi.” Kali ini aku sangat kesal dengan orang tuaku namun bagaimana lagi mereka adalah pohon uangku, baik orang tuaku ataupun Arga. Aku menghembuskan nafas lelah. “Dan satu lagi, ingat tinggalkan laki-laki itu.” Perintahnya, ibuku berdiri dari duduknya lalu pergi ke dalam dengan langkah angkuhnya. Dan akhirnya sampai juga dengan jum’at malam, aku yang berada dalam kamar yang di tempati orang tuaku di sebuah hotel di kawasan Gatot subroto Bandung duduk dengan was-was. Harap-harap cemas menunggu balasan pesan dari Arga aku takut Arga tidak datang malam ini memenuhi undangan galang amal, padahal aku sudah merencanakan segalanya dengan matang. dua hari yang lalu aku sudah mencarinya ke hotel, namun nihil. Arga tidak ada di hotel, aku hanya bertemu dengan si Evan itupun hanya sebentar dan tidak memberi tahuku tentang keberadan Arga. telpon dan pesan singkat yang ku kirimkan ke nomornya pun hanya berubah menjadi centang dua berwarna biru. Itu artinya Arga sudah membaca pesanku namun dia abaikan. Tapi ya sudahlah, yang penting malam ini Arga harus jatuh ke dalam pelukanku sekali lagi demi menyelamatkan masa depanku juga mahluk kecil yang kini tumbuh mendiami rahimku. Ya, kini hanya dia harapanku. Arga yang bisa memberikan kenyamanan lahir bathin saat ku tertekan dengan semua keadaan ini. Dia tidak akan tahu dengan kondisiku yang tengah berbadan dua, aku hanya cukup membuainya dengan kenikmatan yang sebelumnya pernah dia rasakan dan telah dia dapatkan dari ku.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN