Perih

1997 Kata
Dira Anastasya Aku memperhatikan laki-laki yang kini duduk satu meja bersama keluargaku, gerak-geriknya tidak luput dari pandanganku. Malam ini ada yang Arga pikirkan, beban yang mungkin sangat mengganggunya. Namun aku mencoba untuk tidak menarik perhatian orang tuaku dengan bertanya ini itu pada Arga. karena malam ini aku harus melancarkan aksiku yang sudah ku setting sedemikian rupa, apapun yang terjadi malam ini Arga harus tidur dengan ku, titik! Sampai pada waktu Arga meninggalkan ruangan dengan waktu yang lumayan cukup lama, ayahku berbincang dengan pihak keluarga Arga dan setuju kalau pernikahan aku dengannya akan di laksanakan dua bulan lagi dari sekarang. Orang tuaku sangat senang dengan keputusan mereka, mungkin bisa jadi Arga belum mengetahuinya namun Om Wijaya sudah menjamin kalau Arga akan menyetujui keputusan keluarganya. Satu masalah yaitu perintah ibu ratu untuk membuat keluarga Arga menyetujui pernikahan ku di laksanakan dua bulan lagi telah teratasi. Tinggal yang paling penting, menaklukan Arga. Aku mencari-cari keberadaannya, namun Arga tidak terlihat dimana pun. “kemana dia? Padahal dia sudah sangat lama meninggalkan acara,” Batinku Aku pun berinisiatif mencarinya keluar ruangan, dan benar saja Arga sedang berdiri di lobby hotel. Entah sedang apa atau menunggu siapa. Aku menghampirinya dan membawanya kembali kedalam ruang acara yang sebentar lagi akan berakhir. Kami semua sepakat untuk membawa orang tuaku ke apartemen ku dengan Arga yang membawa mobil orang tuaku. Dan Arga menyetujuinya, entah secara suka rela entah terpaksa. Namun biarlah aku tidak peduli dengan hal remeh seperti itu, yang jelas aku sungguh menantikan moment ini. “Mam, jangan nginep di sini dong.” Ucapku manja, aku mengedipkan mata kala mengucapkannya. Ibuku hanya tersenyum mencubit sedikit ujung hidungku. Saat ini aku sedang berada di ruang tamu apartementku bersama kedua orang tuaku sedangkan Arga berada di balkon kamarku. Entah apa yang sedang dia lakukan. “Ceritanya ngusir nih?” candanya.  “Iya, enggak gitu juga. Cuman katanya aku harus deketin Arga, tapi kalau Mami sama Papi masih di sini aku yakin dia bakalan pulang.” Jawabku beralasan. “oke, oke kami pulang sekarang. Pih, ayoo kita sudah diusir sama putri kita sendiri.” Ibuku menarik lengan ayahku, mengajaknya berdiri. “Ihh, aku bukan ngusir.” Aku cemberut dengan bibir bawah lebih maju sedikit. “Ya udah, Mami balik ke hotel. Ingat dua bulan lagi pernikahan kalian harus sudah terlaksana.” Perintahnya. Bukan apa-apa orang tuaku sangat memaksa aku harus segera menikah dengan Arga, alasannya hanya satu. Supaya aku enggak deket-deket lagi dengan Ragil dan Arga adalah laki-laki baik pilihan Mami bermasa depan cerah dengan status sosial setara dengan keluargaku, sumpah cuman itu alasannya. “siap, laksanakan!” Jawabku dari depan pintu saat mengantarkan kepulangan mereka. Setelah kepergian orang tuaku, aku bergegas ke kamar mengganti baju dengan lingerie super seksi dan memakai wewangian andalanku. Aku berjalan menghampiri Arga yang sedang melamun. Kali ini aku yakin Arga sedang mengencani seseorang terlihat dari sikapnya yang sangat dingin kepadaku. Dari dulu Arga memang selalu bersikap dingin terhadapku, namun tidak sedingin sekarang. Setelah misiku malam ini berhasil, aku akan mencari tahu siapa wanita yang mendekati Arga. Aku akan dan harus menemukannya walaupun harus mencari sampai ke lubang jarum sekalipun. Tidak akan ada celah bagi wanita manapun untuk mendapatkan Arga lalu mengambilnya dariku. Di depannya, kini aku membuka simpul tali lingerie hitamku, memamerkan kemolekan tubuhku. Sebelumnya kami berdebat, namun aku tahu Arga tidak akan pernah menolak semua sentuhanku. Arga memalingkan wajahnya, namun aku tidak akan menyerah dan aku pun berjalan mendekatinya menempelkan tubuhku di tubuhnya. Aku mengalungkan tangan ke pundaknya, setelahnya tanganku membelai setiap inci wajahnya. Ibu jariku mengusap bibir bawah Arga, dia diam saja. Ternyata aksiku berhasil, laki-laki sedingin apapun bila disuguhi dengan keagresifan seorang wanita dia akan takluk juga. Aku melumat rakus bibirnya, perlahan tangan Arga mengusap punggungku, memberikan sentuhan yang membuat nafsuku sampai di ubun-ubun. Arga menggendong tubuhku ke dalam kamar, menjatuhkan tubuhku di atas ranjang. Mata sayunya menatap ku intens, aku melepaskan seluruh kain yang tersisa di tubuhnya. Dan malam ini akhirnya Arga jatuh kedalam pelukannku. Bau percintaan melekat di seluruh ruangan. Erangan, cakaranan, serta gigitan di leherku menambah panas suasana dalam ruangan berukuran cukup besar ini walaupun AC sudah tersetting dalam suhu cukup dingin namun tetap saja rasa panas mendominasi. -- Arga sudah terlelap di atas kasurku saat aku kembali dari kamar mandi, baju Arga masih berserakan di lantai kamarku. Aku mengambilnya lalu menyimpannya di atas sofa di dalam kamarku. Aku keluar dari kamar, menikmati angina malam kota kembang dari balkon kamarku. Aku bukan wanita malam yang menjual tubuhku ke banyak p****************g, aku juga tidak mau seperti ini melakukan hal tabu seperti ini dengan lebih dari satu laki-laki. Tapi aku terpaksa melakukannya demi dia yang ada dalam rahimku. Saat ini siapapun tidak mengetahui kehadirannya termasuk orang tuaku, hanya aku dan Ragil yang mengetahuinya. Mengingat Ragil, aku merasa tercampakkan. Aku yang sudah berkorban segalanya untuk dia, aku yang telah menyerahkan segalanya kepada dia. Namun apa yang aku dapat? bertanggung jawabpun dia tidak mau. “Huupth..” Aku menghela nafas berat. Aku punya segalanya, aku telah melewati hidup dengan nyaman. Tapi aku tidak punya kebahagiaan. Aku merapatkan lingerie yang membungkus tubuhku, rasa dingin dari angina malam kini menusuk ke celak-celah kulitku. Akhirnya aku kembali ke dalam kamar dan menutup pintu, terlihat jam di atas nakas sudah menunjukan pukul 03.42 pagi. Aku menyusul Arga naik ke atas Kasur, menyibak selimut dan ikut bergelung di bawahnya menikmati kehangatannya. “Gantari..” bisiknya. Aku melirik Arga yang tepat di sampingku, keningnya mengerut namun matanya tetap terpejam. Aku yakin nama yang keluar dari alam bawah sadarnya adalah nama wanita yang mungkin sekarang sedang dikencaninya. Aku akan segera mencari tahu sosok wanita bernama Gantari itu. Aku menggeser tubuhku sedikit menjauh darinya, memunggunginya dengan hati terbakar rasa cemburu hanya karena mendengar satu nama yang diucapkan Arga dalam mimpinya. “Wanita seperti apa dia sampai Arga memimpikannya? Secantik apa dia? Sekaya apa?” tanya batinku. Aku ingin membangunkannya dan bertanya langsung pada Arga, namun mataku sudah terlalu lelah dan badanku terasa remuk oleh sisa percintaanku dengan Arga yang mungkin kami lewati lebih dari 3 jam lamanya. Aku tercenung, mengingat kembali sesi percintaanku dengannya barusan. Karena aku pernah beberapa kali melakukannya dengan Arga, jadi aku tahu dulu Arga tidak seperti ini. Aku harus menggodanya dengan berbagai cara baru dia bisa melayaniku, tapi malam ini dia melakukannya dengan sangat nafsu bercampur kemarahan yang dia lampiasakan kedalam percintaan kita. Walaupun aku menyukai semua sentuhannya di setiap inci tubuhku malam ini, namun aku tahu Arga tidak dengan sepenuh hati melakukannya denganku. Tak terasa air mataku menetes begitu saja, hatiku perih mengingat Ragil yang mencampakanku, dia tidak mau bertanggung jawab atas kehamilanku. Dan hatiku sangat sakit mengetahui kenyataan bahwa Arga hanya melampiaskan nafsu serta kemarahannya saja di atas tubuhku bukan sepenuhnya menginginkan tubuhku. Ternyata tidak ada laki-laki yang benar-benar mencintaiku dengan tulus. Mataku terpejam, membawa semua perih yang kurasakan hingga alam bawah sadarku. Ragil yang tengah duduk memunggungi ku dengan menundukkan kepalanya, di sisi lain ada Arga yang memengang tangan seorang wanita dengan penampilan yang tak jauh berbeda denganku, hanya saja tak menampakan wajahnya berjalan bersisian pergi meninggalkanku. “Yang. . . sayang!” Aku memanggil Ragil namun dia tidak memperdulikanku. “Ragil..” Sekali lagi aku memanggilnya namun sama, Ragil tidak menghiraukan panggilanku malah berdiri dari duduknya lalu pergi begitu saja meninggalkanku. Aku bangun dari tidurku, nafasku memburu dengan keringat yang sudah membasahi keningku. Aku melihat sekeliling, ternyata aku masih berada dalam kamar tidurku. “Ahh, ternyata cuman mimpi.” Batinku. Arga sudah tidak ada di sampingku, aku menggapai ponsel di atas nakas. Jam analog di layar ponsel menunjukan angka 8 lebih 20 menit. Pantas Arga sudah tidak ada di sampingku, ternyata sudah siang. Aku menyibak selimut yang membungkus tubuhku, turun dari ranjang dan masuk ke mamar mandi. Tiga puluh menit lebih waktu yang ku butuhkan untuk menuntaskan ritual pagiku, karena aku ingat hari ini adalah hari minggu aku hanya mengenakan kaos berlengan pendek berwarna pastel dengan bawahan hotpans. Aku keluar kamar berniat mencari sarapan, ternyata Arga ada didapur dengan beberapa hidangan tersaji di meja makan. Ada Bi Ratih, asisten rumah tangga yang setiap pagi selalu menyiapkan makanan serta membereskan apartement ku. Namun Bi Ratih akan pulang ketika pekerjaannya sudah selesai. “Masak apa, Bi?” Tanyaku, tanganku mengambil gelas dan menuangkan air putih ke dalamnya. “Neng..” sapanya dengan kepala sedikit menunduk. “Ada ayam sama tumisan, Neng.” Lanjutnya. Aku duduk di depan Arga yang tidak memperdulikan kehadiranku. “Makasih Bi makanannya.” Ucap Arga lalu berdiri dari duduknya, tanpa menyapaku dia pergi begitu saja ke dalam kamar yang menjadi saksi percintaan panasku semalam dengannya. Aku hanya melihat punggungnya menjauh dari pandanganku tanpa ada niat bertanya apa-apa kepadanya. Karena sudah tidak asing lagi buatku menghadapi Arga yang seperti ini. “Bi, nanti seprai sama selimut di kamar di cuci ya. Sekalian ganti pewangi dalam kamar sama yang baru, kayaknya udah mau habis.” Perintahku. “Baik, Neng.” Jawabnya. Aku makan cukup lahap pagi ini, tidak biasanya aku selahap ini. Palingan biasanya juga cuman roti sama s**u kalau kemarin-kemarin. Namun pagi ini aku menghabiskan sepiring nasi putih beserta lauknya, sungguh rekor dalam sarapan pagiku. Namun.. Deg. Aku melupakannya, mungkin saja ini karena kehamilanku. Reflek, kepalaku menunduk melihat perutku yang kini masih rata. Tanganku mengusap permukaannya “Kalau benar ada mahluk kecil dalam rahimku, aku akan memastikan kamu mendaptkan kehidupan yang layak walaupun tanpa ayah bersamamu.” Batinku. Tapi kebanyakan wanita yang sedang mengandung di tiga bulan pertama biasanya akan mengalami fase-fase yang sangat sulit, itu aku tahu dari teman-temanku yang sudah mengalami masa kehamilan. Mereka selalu mengeluh pusing, mual-mual di pagi hari, bakhan enggak mau berdekatan dengan ayah si jabang bayi, namun aku tidak merasakan semua itu. Tapi syukurlah, dengan begini hari-hariku selama dua bulan kedepan tidak terlalu sulit. Aku harus bertahan sampai pernikahan ku terlaksana dengan Arga. “Aku pulang dulu.” pamit Arga sesaat setelah keluar kamar, tanpa menunggu jawaban dariku dia berlalu pergi keluar dari apartementku. “Sabar, sabar Ira. Kamu cukup sabar sampai waktunya tiba. Setelah aku menjadi istrinya aku akan mengendalikan Arga dengan kehamilanku.” Batinku. -- Sore ini aku pergi menemui dokter kandungan, untuk memastikan kehamilanku. Dan benar saja hasil pemeriksaan dari dokter kandungan yang aku temui, dan kini kehamilanku berusia enam minggu. “Selamat, Bu. Kandungan ibu sudah menginjak usia enam minggu.” Ucap seorang dokter wanita dengan ramah saat aku menjalani USG. “Ibu harus menjaga pola makan, istirahaat yang cukup dan juga hindari stress. Tidak merokok, tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang rentan terhadap janin.” “Ini sudah terlihat.” Lanjutnya dengan sedikit menekan perutku dengan alat yang beliau pakai. Aku hanya mengangguk mendengarkan semua ucapan dan saran sang dokter, walaupun kehamilanku kali ini membawa sedikit keuntungan untuk ku karena dengan kehamilan ini akan menjadi senjata yang ku gunakan untuk membuat Arga mengikuti semua keinginanku, namun jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, aku sangat tidak ingin mendengar kabar bahagia seperti ini hanya seorang diri tanpa didampingi siapapun. Aku hanya ingin Ragil, ayah dari bayi dalam rahimku bertanggungjawab atas kehamilanku.  Walaupun bukan menjadi seorang ayah yang siaga, namun cukup dengan bertanggungjawab menikahiku, aku juga akan merasa sangat senang, bukan malah mencampakanku seperti ini dan bahkan sudah tidak bisa di hubungi lagi sejak hari itu dimana aku bertengkar hebat dengannya. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Ragil tidak mau bertanggung jawab, aku hanya bisa menguatkan diri dan menutupi kehamilan ini yang mungkin akan di pandang sebagai aib dalam keluarga. Sekarang cukup diam, tenang menghadapi keadaan sesulit apapun. Berharap bayi dalam perutku anteng, tidak membuatku dalam kesulitan selama dua bulan ke depan. Dan satu lagi yang paling penting, aku harus segera mencari tahu sosok wanita bernama Gantari yang kemungkinan besar saat ini menjadi wanita yang di kencani Arga. Aku akan memastikan wanita itu tidak akan mendapatkan apa-apa dari Arga. tapi aku harus mulai dari mana untuk mendapatkan semua informasi tentang wanita pengganggu itu? Ahh, Keluarga Arga. Ya, keluarganya! Sekarang aku harus mendekati semua keluarga Arga, terutama calaon ibu mertuaku. Disamping menggali informasi, aku juga bisa cari muka juga mencari dukungan untuk memperkuat posisiku di tengah keluarga Arga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN