Yakin

1962 Kata
Arganta Ragnala Sejak satu jam yang lalu aku terus meng-unlock ponsel yang selalu aku bawa bersamaku, mengecek push-notification di bagian atas layar ponselku berharap ada balasan pesan masuk atau panggilan dari Gantari. Karena dari pesan yang ku kirim ke WhatApp-nya dari hari kemarin, centang satunya sudah berubah menjadi centang dua berwarna biru, itu artinya Tari sudah membaca semua pesan yang ku kirim. Sejak malam dimana aku bertemu dengannya disebuah kamar hotel dikawasan Gatot Subroto Bandung, kami tidak sekalipun berkabar lagi. Berkali-kali aku menelpon dan mengirim pesan singkat ke nomornya, namun selalu di luar jangkauan. Hatiku cemas dengan keadaannya, karena bagaimanapun juga aku adalah penyumbang terbesar rasa sakit yang Tari rasakan malam itu. Aku hanya cemas dengan keadaannya, digaris bawahi hanya cemas dengan keadaan Tari bukan cemas memikirkan saat ini Tari dengan siapa, kemana dia pergi bersama laki-laki bernama Bagas itu. Bukan! Bukan itu yang aku cemaskan. Walaupun aku sangat marah dan tidak ikhlas dia bersama laku-laki lain, namun aku tahu Tari tidak akan melakukan sesuatu diluar batas. Kenapa aku seyakin itu? Padahal aku sudah kalah telak karena tidak tahu apa-apa tentang dia, aku hanya tahu tempat tinggalnya, tempat kerjanya dan satu lagi adik perempuannya yang seorang super model, Pandita Mahameru. Udah itu saja, namun entah kenapa aku sangat yakin dengannya. Aku yakin dengan cintanya untukku, aku hanya yakin Tari tidak akan pernah menghianatiku lalu melakukan hal di luar batas. “Bang, Mami manggil dari tadi. Enggak denger, loe?” Ahh, Evan. Dia menghampiriku yang kini duduk di taman belakang rumah orang tuaku di kawasan Dago. Hari minggu seperti ini keluarga Wijaya biasa berkumpul di rumah dengan anak cucu. Aku hanya mengangguk lalu berjalan masuk kedalam rumah melewati Evan yang berdiri diambang pintu begitu saja. Aku mendengar Evan menggerutu, namun aku tak menghiraukannya. Hari ini mood-ku benar-benar buruk, tadi setelah keluar dari apartement Ira aku pulang ke rumah orang tuaku. “Duduk sini, Bang.” Ajak ibuku saat netranya menemukanku masuk ke ruang keluarga. Tangan kananya menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. Aku menghampiri wanita yang sangat aku cintai ini lalu duduk di sebelahnya, memenuhi ajakannya. “Gimana sama Ira? Kenapa tadi enggak diajak ke sini sekalian?” Dan kalimat pertama yang diucapkan ibuku adalah kalimat yang enggak mau aku dengar. Padahal malamnya aku abis ena-ena sama dia. Yaelaah, POBOX loe mah Bang. Dikasih ena-ena, garcep. Ehh. . . giliran bahas orangnya, ogah! Hadeuuuuh.. “Kalau dia mau ke sini, ya tinggal datang sendiri. Udah gede ini, enggak usah diajak atau disuruh-suruh juga.” Gottaaaa!!!! Aku suka jawaban Evan, yang kalau nyindir suka ngena banget. Ternyata si Evan mengekoriku di belakang ikut masuk ke ruang keluarga. “Hus. .mulut kamu tuh, ya.” Ucap ibuku, matanya melotot melirik Evan yang duduk berdua dengan istrinya. “Bagaimanapun juga Ira itu calon ipar kamu, sebentar lagi jadi istri kakak kamu.” Lanjutnya. Istri? Aku lemas, menunduk memejamkan mata mendengar kata istri yang keluar dari mulut Mami. Yaa Tuhan, masih bisakah aku meminta namanya saja yang menjadi jodohku? Ketir. .sebelumnya aku tidak pernah merasakan ketakutan yang teramat sangat seperti ini. Seolah ini adalah akhir dari segalanya, aku menyugar rambut yang mulai memanjang ke belakang, menghembuskan nafas dan berharap rasa sesak yang menghimpit rongga pernapasan ini bisa menghilang begitu saja. Namun apalah daya, kenyataan memang seperti ini. Aku tidak bisa lagi menentang keinginan ibuku. “Bang..” ku rasakan tangan lembut Mami mengusap punggungku. “Setelah kalian membangun rumah tangga, Mami yakin kasih sayang itu akan tumbuh dengan sendirinya. Apa lagi dengan hadirnya seorang anak diantara kalian. Rasa cinta kita sebagai orang tua pada anak akan mengalahkan segalanya.” Mami selalu meyakinkanku dengan kata-kata bijak seperti ini, sampai-sampai aku tidak berani mendebatnya. “Udah enggak usah dipikirin lagi, yang penting mulai sekarang kamu baik-baik sama Ira. Malam kemarin Sudjono sudah transfer untuk menutupi semua kerugian perusahaan.” Ucap Papi, yang dari tadi diam saja dan hanya berinteraksi dengan ponsel yang dipegangnnya. Aku mendongak melihat Papi yang duduk di depanku, dan terlihat sesekali matanya melihat layar ponsel yang beliau taruh di atas meja. “Kita sementara sudah terselamatkan oleh keluarga Ira.” Lanjutnya. Dan mulai sekarang aku bertekad akan bekerja keras mencari banyak uang untuk mengembalikan semua uang yang keluarga Ira pinjamkan ke perusahan Papi. “Mih, kita jadi enggak nih keluar?” Tanya Evan yang sekaligus mengalihkan semua pembicaraan tentang pernikahanku dengan Ira. “Ihh, Mami sampai lupa. Kita rencananya mau ajakin kamu keluar, Bang.” Mami menepuk pundakku. “Tapi Papi kali ini akan mengingkari janji. Ada kerjaan yang. . .” Ucap Bapakku dengan penuh penyesalan. “Ini hari libur, lohh. Kalau-kalau Papi lupa.” Evan menyela perkataan Papi. “Iya, tapi enggak bisa ditunda lagi Dek.” Jawabnya. “Ya, sudah. Kita berangkat tanpa Papi saja. Kita cuman ke Bogor ini.” Ucap Mami. “Loh, Mih. Kita maksudnya nginep disana?” Tanyaku, soalnya besok aku ada kerjaan. Yang paling penting sih kerjaan nyari Tari di hotel. “Enggak lah, Bang. Besok gue juga kerja keles. Tar malem pulang lagi, cuman mau nengok anak-anak aja di panti.” Jawab adikku. Oh iya aku udah lama juga enggak ke panti nengokin Bunda, panggilan untuk Ibu Mariam. Ibu asuhku ketika masih di Panti Asuhan Kasih Bunda, Bogor. “Hayuuuk, kita berangkat sekarang.” Ajak Evan. “Papi juga berangkat sekarang. Kalian hati-hati di jalan.” Bapakku berdiri dari duduknya mencium selilas kepala Mami lalu pergi keluar rumah. Kami menaiki mobil yang berbeda dengan arah yang berlawanan. *** Author pov Hari senin yang biasanya menjadi hari termalas buat seorang Arganta Ragnala, kini menjadi hari yang sangat dinanti olehnya. Pasalnya hari ini dia akan menemui Gantari, pujaan hatinya untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka. Bukan kesalahpahaman juga sih, soalnya disini murni karena kesalahan Arga yang memberi harapan pada wanita lain di tengah pertunangannya dengan Dira. Pagi sekali ia sudah bangun dari tidur lelapnya, padahal baru beberapa jam dia mengistirahatkan tubuhnya usai dari perjalanan jauhnya beserta keluarga ke Panti Asuhan Kasih Bunda, Bogor. Ia mematut dirinya dicermin memperhatikan kembali penampilannya, kali aja ada yang kurang atau ada yang enggak pas di tubuhnya. Arga yang hari ini mengenakan kemeja berwarna navy tanpa dasi menyisir rapih rambutnya yang sudah panjang hampir melewati telinga. Memakai jam tangan possil hitam metalik lalu merapihkan jambang-jambang halus diwajahnya yang sudah mulai tumbuh. Dirasa sudah cukup rapih dengan penampilannya hari ini, kemudia Arga memberikan sentuhan terakhir untuk menambah kepercayaan dirinya dengan menyemprotkan parfum ke lelernya. Pukul 08.45 “Ibu Tari dari Artha Tama sudah datang?” Tanyanya to the point pada seseorang diujung telpon yang dihubungi disaluran receptionis lobby New Shapire. “Belum, Pak. Pak Evan, Pak Eko dan Ibu Santi sudah di ruang meeting.” Jawab reseptionis menjelaskan, bahwa karyawan Artha Tama hari ini hanya mereka bertiga yang terlihat sudah hadir di hotel. “Terima kasih.” Jawabnya lalu memutuskan panggilan.   Ini udah kali ketiganya ia menelpon anak-anak receptionist menanyakan kehadiran Tari di tempat training Artha Tama. Namun samapi jam delapan lebih empat puluh lima menit gadis itu belum menampakan batang hidungnya juga. Kemana dia? Apakah dia sakit? Apakah telah terjadi sesuatu dengannya? Ahh, pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan dikepala Arga, yang membuatnya semakin cemas dengan keberadaan gadis cantik itu. Netranya terus menatap layar ponsel yang dipegangnya, memandang potret seorang wanita bersurai hitam yang tengah tersenyum kearah kamera dengan latar luasnya sebuah perkebunan teh hijau terhampar sejauh mata memandang. “Tadi malam photo di profil Tari bukan photo ini.” Batinnya. Karena diphoto yang sekarang rambut Tari sudah sedikit panjang berarti photo ini kemungkinan diambil belum lama ini. Mengirimi pesan singkat atau untuk menelponnya sekarang buat Arga sangat percuma karena sejak dua hari yang lalu tidak ada balasan apapun dari Tari. Tari hanya membaca semua pesan yang dikirimkan Arga. Rasa cemas yang Arga rasakan tidak sebanding dengan perasaan Tari, karena dilain tempat Tari sedang berteriak-teriak, menjerit-jerit kemudian tertawa lepas di atas perahu karet yang membawanya menyusuri aliran sungai Palayangan, Pangalengan. Dia menumpahkan serta melepaskan segala rasa kecewa juga sakit hatinya diwahana Arung Jeramnya Cilenca. Kini yang ia rasa hanya rasa bahagia karena bisa bermain sepuasnya di dalam air, serta sejenak telah melupakan segala masalahnya dengan Arga. Segala kekecewaannya dua hari kemarin terbayarkan sudah dengan indahnya panorama yang ditawarkan tempat itu, hawa sejuk khas pegunungan serta aroma yang dihasilkan pohon pinus di sisi kanan kiri sepanjang sungai menjadi obat penenang di tengah pikirannya yang sedang kacau karena percintaannya dengan Arga terhalang tembok tinggi yang susah untuk dilewati. Beban berat di pundaknya untuk sejenak hilang, seolah terbawa oleh derasnya arus aliran sungai Palayangan ke samudra lepas yang berbatasan dengan Benua lain. Sebelum berpartisipasi bergabung dengan grup lain di arung jeram, -karena Tari hanya berdua dengan Bagas sementara satu paket rafting minimal lima orang akhirnya Tari ikut ke grup yang lain dan untungnya masih ada grup yang kekurangan orang-, pagi harinya Tari menyempatkan berjalan-jalan ke perkebunan teh yang masih di area Situ Cilenca ditemani Bagas yang selalu setia sebagai photographer dadakannya. Walaupun amatir, namun hasil photo-photonya Bagas sangat memuaskan untuk Tari. Sehingga salah satu mahakarya bidikan apiknya tangan Bagas Saputra kini menjadi photo profil akun media sosialnya Tari. “Dua jam di air, gila kulit tangan sama kaki aku pada kriput Mas.” Ucap Tari setelah membersihkan tubuhnya dan kini telah berganti pakaian dengan celan jeans robeknya. “Tapi serukan?” Jawab Bagas yang duduk lesehan dihadapan Tari. Kini mereka berdua berada ditempat makan yang masih satu area dengan wahana arung jeram sungai Palayangan, sedang menunggu makanan yang mereka pesan. “Iya, sih. Soalnya ini pertama kalinya juga. Seru dan ingin mencoba lagi.” Tari nyegir dengan ucapannya sendiri. “Dan ternyata, tidak semua hal yang pertama kali kita lakukan itu menyakitkan.” Lanjutnya dengan dengusan, ia mendramatisir ucapannya. “Siapa suruh baru belajar jatuh cinta? Dari dulu aku udah ngajakin kamu kencan, biar perlahan-lahan kamu belajar mencintai aku.” Seru Bagas cuek. Mata Gantari melotot mendengarnya. “Dan aku enggak berniat menjadi nyonya Saputra.” Jawab Tari, di depan wajahnya ia menggerakan jari telunjuknya ke kanan ke kiri. “Masa iya malem pertama aku dibiarin nunggu di kamar pengantin sendiri, karena Mas Bagasnya masih terbang. Terus udah nikah pasti ditinggal-tinggal terbang, Mas Bagas dipesawat bareng si mbak Pramugari-pramugari cantik, transit di luar Negeri bobok di hotel bareng mereka. Duuuh, maaf Mas aku masih sayang sama hatiku.” Lanjutnya. Bagas tidak menjawab atau mendebat Tari dengan argument-argumennya, dia hanya tersenyum menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban asal Gantari di depannya, hingga seorang perempuan paruh baya mengantarkan makanan mereka. “Udah jangan cemberut gitu. Cemburu sama aku boleh, asal jangan menyiksa diri.” Canda Bagas, Tari hanya manyun dengan candaan yang dilontarkan Bagas. “Ayoo, makan. Beres makan kita langsung pulang.” Lanjutnya dengan tangannya mencomot makanan dari piring yang sudah tersaji. “Kenapa enggak nginep semalam lagi gitu, Mas?” Genit! Tari mengedip-ngedipkan matanya. “Rabu jadwal Mas terbang. Jadi besok sudah harus sampai Tangerang. Kalau Mas off, kita kamp yaaaa..” Bujuknya. “Tuh kan bener, aku akhirnya ditinggal lagi. belum juga nikah udah ditinggal-tinggal gini, udah gak jadi nerima Mas Bagas buat jadi calon suami aku. Padahal yaa, barusan aku udah pertimbangin ajakan kencan Mas Bagas mengingat Mas Bagas banyak uang. Tapi ya udahlah yah, namanya juga bukan jodoh pasti ada aja alasannya.” Bagas mendengus mendengar candaan Tari, karena memang seperti itu Tari. Tiap Bagas mengajaknya berkencan pasti banyak alasannya.   “Ehh, tapi Janji, yaa. Ajak aku kamp, awas boong.” Ancam Tari dengan mengacungkan sendok ke depan wajah Bagas. “Iyalah, Taryati. . Sekalian nanti ajakin si Dono. Udah lama juga kita enggak hangout bertiga bareng.” Janji Bagas. “Bali ya, Mas. pliiiis! Tapi semua akomodasi Mas Bagas yang tanggung.” Tari tertawa bahagia dengan obrolan ringannya bersama Bagas. Untuk sementara ia melupakan Arga dengan segala rasa sakitnya, namun ia tidak tahu ketika sudah kembali ke Bandung mungkin semua rasa sakit itu akan kembali menyapa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN