Ceroboh

1222 Kata
Arganta Ragnala Seharian aku bolak-balik nanyain Tari sama anak-anak di receptionist, hasinya nihil. Tari tidak kembali check in kamar ataupun datang ke tempat training. Bahkan dari jam dua siang saat aku menelpon nomornya Tari, ponselnya sudah tidak aktif. Entah dimana gadis itu sekarang. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, sekarang aku sudah keluar dari ruanganku dilantai delapan, turun ke ballroom hotel. Niatku sih mencari adikku, Evan. Dia pasti tahu dimana keberadaan Tari saat ini. “Di, saya pulang duluan. Kamu kalau sudah beres langsung pulang saja.” Ucapku di depan meja Diana, sekretarisku. “Baik, Pak.” Jawabnya, sambil berdiri di belakang meja kerjanya. “Oh iya, Pak. Ibu Dira minta dipulihkan kembali posisinya.” Lanjutnya. “Orangnya mana?” Tanyaku sarkas. “Tadi hanya via telpon, Pak.” Cicitnya. “Suruh ke HRD saja kalau-kalau dia menelpon lagi.” Tegasku. “Tapi, Pak. . Ibu Dira kan. . “ diana menggantung ucapannya. Aku menatapnya, menaikan kedua alisku. “Semua karyawan sama, segala sesuatu harus melewati prosedur yang sudah ditentukan perusahaan. Ingat, tidak ada yang saya beda-bedakan. Sekalipun dia adalah tunangan saya, kalau salah yaa tetep salah.” Jelasku. “Baik, Pak.” Diana paham dengan yang aku ucapkan. “Saya pulang sekarang, Di.” Pamitku, lalu meninggalkan ruang sekretarisku yang ada disebrang ruanganku. Kulihat jam di pergelangan tanganku yang sudah menunjukan pukul tiga lebih empat puluh lima menit, biasanya Evan sudah selesai dengan pekerjaannya. Dan benar saja, saat pintu lift terbuka adikku sedang duduk di salah satu sofa lobby hotel dengan netranya fokus melihat gawai yang dipegangnya. Aku menghampirinya lalu mendudukan tubuhku di sampingnya. Dia meliriku sekilas lalu kembali fokus dengan benda pipih itu, mungkin benda itu lebih menarik dari pada aku. “Tari dimana, Van?” Tanyaku to the point. “ngapain nanya-nanya anak gue?” “Gue mau ketemu sama dia. Dan. . .” “Dan menyakitinya?” Sela Evan. Mataku melotot sama Evan yang hari ini sangat ketus juga terlihat menjaga jarak dengan ku. “Sebenarnya loe sodara dia apa gue, sih? Heran gue.” Dia menyimpan ponsel yang dari tadi dipegangnya ke atas meja di depan kami. “Bukan masalah sodara siapa, Bang. Cuman gue mah enggak suka aja sama pendirian loe yang plin plan. Loe tinggal pilih satu, tinggalin secara bae bae yang enggak loe pilih. Enggak kek sekarang, Bang. Loe mau sama si Tari, ehh si Ira masih di garap juga.” Sindirnya. “Maksudnya gimana, Van? Gue mau ketemu Tari juga buat jelasin kesalahpahaman ini. Gue juga udah mutusin akan ninggalin Ira.” “Dan masih bobo bareng?” Selanya. Aku mengerutkan kedua alisku, dia mengambil ponselnya membuka kunci layar dan menyerahkan ponselnya padaku. Yaa tuhan, apa ini? aku memejamkan mataku, disana dilayar ponsel terpampang jelas potretku yang sedang terlelap di atas Kasur Ira dengan tidak memakai apa-apa. Aku mengeratkan tanganku di ponsel yang ku pegang. “Loe pake pengaman enggak? Loe tahu masa suburnya dia?” Bisiknya di telingaku. “Dan loe tahu, Bang? Yang kirim photo ini ke gue Winda, istri gue. Bukan si nenek lampir.” Lanjutnya. “maksud Ira apa?” Aku hanya diam menahan amarah. Aku marah, malah sangat marah. Namun aku harus melampiaskan kemarahan pada siapa, aku menghembuskan nafas perlahan meredam amarahku yang memuncak. “Loe enggak akan mudah untuk lepas dari dia.” Aku tahu maksud Ira sekarang, ucapan Evan benar malam itu dia menjebakku dan bodohnya aku malah terjerat oleh nafsu dalam tubuhku. Karena aku sudah lama tidak melakukannya dengan wanita manapun, sehingga malam itu aku tergoda oleh sentuhan-sentuhan Ira di tubuhku. Wanita itu benar-benar licik, menghalalkan segala cara demi mengikatku. Aku sangat yakin niatnya pasti ingin semua keluargaku tahu kalau aku sudah tidur dengannya. Dan akhirnya aku sudah tidak bisa lari lagi dari pernikahanku dengannya, apa lagi kalau seandainya benihku malam itu tumbuh di rahimnya. Ya ampuun jangan sampai! Karena bodohnya aku yang katanya anak paling pintar di dalam keluarga Wijaya, malah melupakan hal yang paling penting dalam masalah ini, pengaman. Ya, pengaman. Aku tidak memakai pengaman malam itu ketika menggaulinya, padahal aku biasanya tidak pernah seceroboh ini, benda kecil itu selalu ada dalam dompetku. Dan malam itu aku masih punya beberapa stok di dalam dompet yang ku bawa. Bagaimana seandainya malam itu dia ada dalam masa subur? Arrgggggggg. . . . otakku blank tidak bisa memikirkan apa-apa. “Aku harus segera mengakhirinya dengan Ira.” Tekadku. “Dimana Tari sekarang? Gue yakin loe pasti tahu keberadaan Tari sekarang.” “Di rumahnya, sakit dia. Dan loe enggak akan bisa ke sana sekarang, Bang.” Dengan dagunya Evan menunjuk ke pintu masuk lobbi. Aku mengikuti arah pandangnya. Di sana, di pintu masuk Ira yang bersama ibunya sedang berjalan ke arahku. “Tuhan, drama apa lagi sekarang.” Batinku. “Gue sangat suka si ratu drama ini, ngalah-ngalahin pemain peleem di tipi.” Bisiknya. Aku hanya meliriknya. “Selamat sore Tante Ranty.” Sapa Evan, kami berdua berdiri menyambut calon ibu mertuaku. “Duuh, makin cantik aja, tante.” Sanjung Evan. Ya, gitu. Kalau soal sanjung-menyanjung adikku mungkin menjadi orang terbaik di kelas cari muka. “Evan bisa saja, kalian ada waktu? Ikut tante yuk..” Ajaknya. “Kemana, Bu?” Tanyaku. “Loh, bukannya hari ini kalian sudah janjian ya pergi ke gallery-nya Tigun buat fitting gaun pengantin?” Ibunya Ira melihat kami berdua bergantian saat menyebutkan sebuah Gallery pakaian yang ada di jalan Braga -dekat dengan kantor perusahaan keluarga ku- miliknya Tian Gunawan. Designer adibusana Indonesia yang memang membuka cabang di kota Bandung. Aku mengangkat kedua alisku, kodeku bertanya pada Ira. Karena sebelumnya tidak ada obrolan tentang fitting baju sama printilannya hari ini, Ira memang sosok wanita yang banyak akalnya demi menjeratku masuk ke dalam pusaran kehidupannya. “Ahh, Arga sibuk Ma. Jadi kayaknya lupa.” Ucap Ira manja, tangannya bergelayut di lengan sang Ibu. Di sampingku Evan menghembuskan nafas lelah. “Tante, aku enggak ikut dehh. Soalnya masih banyak kerjaan.” Ucap Evan yang masih berdiri di sebelahku, aku memelototinya. Namun tidak dihiraukan olehnya. “Iya, engga apa-apa. Kamu beresin aja kerjaannya, toh ini juga bukan fitting baju pernikahan kamu.” Kelakar Ibu Ranty Utami di hadapan kami. “Ma, sekarang aja berangkatnya yuk! Takut nanti malah kemaleman pulangnya.” Ajak Ira. Aku menatapnya tajam, namun dia memalingkan wajah tidak berani menatapku atau bertanya padaku. “Nak Arga enggak usah bawa mobil, ikut mobil Mama saja.” Aku hanya tersenyum mengiyakannya. “Nak Evan, kami berangkat dulu.” pamitnya, lalu berbalik melangkah pergi meninggalkanku duluan. “Yang sabar, Bang.” Bisik Evan di telingaku, saat Ira bersama ibunya telah menjauh beberapa langkah. Tanganya menepuk dua kali pundakku. “Gue pergi dulu, Dek.” Pamitku, lalu pergi meninggalkan Evan menyusul Ira dan Ibunya ke parkiran New Shapire. Aku duduk dikursi depan samping sopir keluarga Ira, mataku lurus menatap ke depan dan tidak menghiraukan segala obrolan kedua wanita yang duduk di kursi penumpang. Empat puluh lima menit berlalu, mobil yang aku tumpangi berhenti di salah satu gallery bergengsi di kota kembang. Dari luar terlihat deretan patung mannequin dengan mengenakan gaun-gaun elegan. Masuk ke parkiran di basement gedung 4 lantai ini terlihat deretan mobil-mobil mewah sudah terparkir disini. Jelas, pelanggan yang menginjakan kaki disini adalah kalangan menengah ke atas dan sudah dapat dipastikan harga yang di bandrol peritem bisa menguras dompet. Huhh, nasib akan mempersunting anak orang kaya ya gini. Apa-apa maunya yang serba mahal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN