Gallery

1296 Kata
Author pov “Haiii. . . Maemunah sayang, cintaku, manisku. Maafkan abang yang dua hari ini telah menduakan mu dengan wanita cantik ini.” Kelakar Bagas saat menerima panggilan dari Dita, adik Gantari. Gantari mendelik dengan Bagas yang tertawa lepas. “Uoooo. . Ogah, sumpah pengen muntah gue.” Suara Dita diujung telpon yang seolah-olah sedang memuntahkan sesuatu terdengar ke seluruh penjuru Pajero yang dikemudikan Bagas, karena panggilan yang masuk ke nomor Bagas sudah disambungkan ke mobilnya via bluetooht. “Kamu dimana, Dek?” Tanya Tari. Matanya yang tadi melirik Bagas kini menatap radio di depannya, mendengar suara Dita di ujung telpon ia yakin sepertinya Dita sedang tidak di luar Negeri. “Kak, aku di Bandung. Baru nyampe sih, nemenin Tigun ke gallery-nya.” Jawabnya. “Lah, kamu enggak jadi terbang ke Swiss? Apa gimana?” Tanya Tari heran, soalnya dua minggu yang lalu dia cerita mau terbang ke Swiss buat pemotretan disana. “Iya, jadi Kak. Cuman diundur, jadi akhir bulan ini. sekarang lagi fitting baju sih buat acara di Jakarta.” Ucapnya menjelaskan, “Kak, kesini yaa. . soalnya nanti malam aku balik lagi ke Jakarta.” Lanjutnya. “Iya, kakak nanti nyusulin kamu. Ehh, dimana sih tempatnya?” Tanya Tari. “Di Braga.” “Elaaah, Maemunah dari Braga ke apartement Taryati tinggal jalan dikit. Apa susahnya sih?” Sela Bagas. “Ehh, ni Gas LPG nyamber mulu tuh mulut.” Tari hanya tersenyum melihat kelakuan Bagas sama adiknya yang sudah kaya kucing bertemu anjing. “Ini kita masih dimana sih, Mas?” Tanya Tari, matanya melihat ke luar jendela. “sudah masuk kota, bentar lagi keluar tol.” Jawab Bagas. “Oke, Maemunah sayangku. Tunggu abang pulang yaa, awas jangan nakal-nakal tuh mata. Muuuuach, muuuuaaachhh..” Bagas memonyongkan bibirnya. “Ihhh, ogah guee. Mitamiiiit, pait pait pait. . . hus hus hus, sana daging gue pait!” diujung telpon Dita komat-kamit. Tari tertawa mendengar ucapan Dita. “Mas, kamu dianggap lebah sama Mae.” Ucap Tari masih dengan tawa renyahnya yang sekarang menular ke Bagas. “Bener ya loe, Dit. Anggap gue lebah.” Protes Bagas. “Udah ahh, Mas. Gue tunggu yaa. Gak pake lama titik!” “Iya bawel. Mas tutup ya. Byee adik ipar kesayangan gue.” Panggilan dari Dita pun terputus. “Kita langsung ke Braga ya, Ri. palingan setengah jaman lagi lah.” Ucap Bagas sambil sesekali melirik Tari yang anteng menatap lurus ke depan. Dalam hatinya selalu tersimpan nama Tari, namun sepertinya Tuhan tidak menggariskan takdir jodoh Tari dengannya. Namun walaupun begitu, Bagas selalu memperhatikan Tari dari jauh. Dia bertekad tidak akan menikah sebelum Tari menikah duluan. “Iya, Mas.” Jawab Tari lesu. “Kepikiran lagi anaknya Wijaya?” Tanya Bagas, Tari memalingkan muka ke kaca jendela pintu mobil mendengar pertanyaan Bagas. Hatinya sesak bila mengingat lagi kejadian malam itu, dimana Arga bersama wanita lain. Ia sangat ingin melupakan Arga, namun hatinya tidak sejalan dengan akal sehatnya. Hatinya sudah begitu akrab dengan Arga sehingga sulit untuknya menyingkirkan rasa cintanya untuk Arga. Benar, rasa cintanya pada laki-laki itu mengalahkan rasa sakit yang telah ditorehkan Arga di hatinya. Umpama sekarang Arga ada di hadapannya, apapun yang akan Arga ucapkan dia akan selalu mendengarkannya. Apapun yang Arga lakukan, dia akan menerimanya. Sebesar itukah kekuatan cinta sehingga bisa dengan mudah membodohinya? Tari pun tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, yang dia tahu hanyalah dia yang tidak bisa mengendalikan hatinya sehingga bisa mencintai Arga begitu dalam. “Apapun keputusan kamu, Mas akan selalu mendukung. Ingat, apapun yang terjadi masih ada Mas dan keluarga Kamu.” Bagas meyakinkannya, Tari melirik Bagas dari samping. Laki-laki yang selalu menguatkannya disegala situasi, namun sayang tidak ada rasa cinta dihatinya untuk Bagas. Hanya ada kasih sayang seorang adik untuk saudara laki-lakinya, tidak lebih. “Semoga Mas Bagas mendapatkan pendamping yang mencintainya dengan tulus.” Batinnya. ***   Mobil yang dikemudikan Bagas masuk kedalam Basement gedung berlantai empat milik designer Tian Gunawan. Sesampainya disana mereka berdua naik ke lantai satu dengan menggunakan tangga darurat yang langsung menghubungkan basement dengan pintu utama dari samping. Dipintu masuk dua orang satpam menyapa mereka dengan sangat ramah. “Oh iya, Pak. Kami sudah ada janji dengan Mbak Pandita.” Ucap Bagas pada salah satu satpam di depan pintu. “Oh, mari saya antar.” Satpam bername tag Yuyus mengantar mereka ke lantai tiga gedung tersebut.  “Itu Mbak Pandita.” Ucapnya setelah sampai di lantai tiga. “Terima kasih, Pak.” Ucap Tari dengan senyum manisnya. Satpam yang mengantarnya kembali dengan menuruni anak tangga. Di lantai tiga ini adalah koleksi gaun pengantin, terlihat deretan gaun-gaun mewah dengan berbagai macam warna yang bisa memanjakan mata. “Kak Tari.” Dita sedikit berteriak kala netranya menemukan sang kakak tengah melihat-lihat gaun yang ada di mannequin bersama Bagas di sampingnya. Tari tersenyum, dengan langkah cepat dia menghampiri adiknya yang tampak cantik dalam balutan busana kebaya pengantin khas sunda berwarna putih bersama dengan sang designer di belakangnya yang ternyata sedang mengukur badannya. “Dek..” Dita memeluk Tari manja. “Ogah, gue enggak mau meluk-meluk Mas Bagas.” Ucap Dita setelah melepas pelukan dari sang kakak, namun Bagas hanya mencibirnya. “Ehh, udehh pesen baju pengantin aja. Padahal Abang belum nyiapin mahar sama buat seserahan.” Bagas pura-pura terkejut dengan Dita, seolah dia adalah mempelai prianya. “Bapak pilot ganteng, maaf sekali lagi. Aye kagak rehdo udah nikah ditinggal-tinggal terbang. Jadi lebih baik bapak cari yang seprofesi aja buat bapak kawinin. Kalau enggak, nih si Taryati juga masih free pasti mau diajak nelangsa ditinggal pas malem pertama.” Sindirnya. Yang di sindir malah tertawa dengan Bagas menoyor keningnya “Serunyaa... sampe lupa masi ada mahluk segede gaban dimari.” Sindir Tian Gunawan di belakang Dita. “Ya ampuuun, Nunaa... sorry sorry sorry.” Dita berbalik menghadap Tigun, tangannya memeluk lengan Tian. “Sini deh aku kenalin.” Dita membawa Tian kehadapan Tari dan Bagas. “Nuna, ini kakak-kakak kece aku. Tersuper duper baik, perhatian sama aku, tempat minta duit ya ke si Mas ganteng ini. Kak Tari sama Mas Bagas.” Tari menyalami laki-laki gemulai itu, begitu pun dengan Bagas. “Pak pilot, kalau nanti ke luar negri minta jadwalnya ya. Biar bisa barengan.” Ucap Tian malu-malu. Bagas hanya tersenyum mengangguk mengiyakan. “Yaeelah, tuh mulut yaa. Enggak bisa lihat yang ganteng dikit, langsung ngoceh.” Sindir Dita. “Yakan jarang-jarang ada yang maco modelan gini. Bapak pilot mau jadi model utama saya?” Tanyanya antusias. Bagas hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, bibirnya menyunggingkan senyum. Namun obrolan seru mereka terganggu oleh kedatangan sebuah keluarga yang katanya sudah janjian dengan sang Manager Galerry buat fitting baju. “Maaf, Nuna. Mengganggu obrolan serunya, saya bawa tamu kebetulan sudah ada janji buat fitting gaun pengantin sore ini.” Ucap Manager Gallery saat menghampiri pemilik Gallery. Bibirnya tersungging kala netranya melihat tamu yang bersama Tian. “Santai saja, Mir. Saya juga cuman mencocokan model kebaya buat pemotretan Dita.” Lalu Tian berjalan menghampiri keluarga yang baru tiba di Gallery miliknya. “Selamat sore. Terima kasih sudah memilih Gallery kami untuk acara bahagianya.” Ucap Tian. Kedua orang wanita di depannya tersenyum bahagia dengan penyambutan Tian. “Saya Mamanya, Dira.” Wanita paruh baya dengan pakaian modis itu memperkenalkan diri beserta anaknya. Ketiga orang yang masih di ruangan itu saling pandang kala melihat siapa yang datang. “Mbaknya yang akan menikah? Duhh, cantiknya. Ehhh, sebentar. Kalau saya enggak salah Nyonya Sudjono Salim Ya..?” Wanita didepannya hanya tersenyum dengan tebakan benar Tigun. “Maafkan saya terlambat mengenali.” lanjutnya “Iya, Kak enggak apa-apa. Ehh, kebetulan calon suami saya juga hadir.” Ucapnya, tangannya memegang lengan laki-laki di sampingnya. Aura kebahagian terpancar dari kedua wanita tersebut, namun tidak dengan laki-laki yang bersamanya. Wajah kaget bercampur gugup tersirat di wajahnya kala netranya melihat ketiga orang di belakang Tigun yang tengah menatapnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN