Saingan

2164 Kata
Arganta Ragnala Tigun’s Gallery Jln. Braga No. 02 Bandung Itulah kata yang tersemat di papan billboard gedung berlantai empat ini, sampai di pintu masuk kami disambut oleh dua orang satpam yang langsung mengantar kami keruangan Managernya Tigun’s Gallery di lantai dua. Hawa sejuk dari pendingin ruangan langsung ku rasakan saat kakiku menginjak ruangan bergaya eropa ini, dan dapat dipastikan ruangan ini adalah ruangan tempat pengelola gallery menerima klien. “Selamat sore, Miranda.” Sapa calon ibu mertuaku saat kami tiba di ruangan Manager Tian’s Gallery. Wanita yang disapa Miranda mendongak, lalu menyunggingkan senyum dengan kedatangan kami bertiga. For your information, Miranda ini adalah anak dari rekan sosialitanya calon ibu mertuaku. “Hallo, tante Rianty. Selamat sore.” Jawabnya, lalu berdiri dari duduknya dan langsung berjalan menghampiri kami. Dia memeluk singkat Ira serta ibunya. “Ini calon mempelai prianya, Ra?” Tanyanya, matanya menelisik melihat ku. Ku sungguingkan senyum kepadanya lalu mengulurkan tangan memperkenalkan diri. “Arga.” ucapku. “Baik Mas Arga, langsung saja ya. Sore ini kebetulan Kak Tian ada di Gallery, jadi bisa langsung dapat masukan dari beliau apa yang dirasa masih cukup kurang.” Ucapnya menyebutkan sang pemilik gallery sekaligus sang designer disini. “Kita langsung ngobrol aja kali ya Tante di atas. Nanti kita minum-minum di sana sambil nunggu yang fitting.” Ajaknya. “Tante setuju, sayang. Ayo.” Ajaknya. “Ternyata kamu beruntung bisa langsung ketemu sama yang punya gaun. .” Lanjutnya dengan melihat anak gadisnya. Calon ibu mertuaku terlihat sangat senang dengan kehadiran sang designer, kami mengikuti Miranda yang berjalan di depan kami menuju ke lantai tiga, dimana katanya khusus tempat kebaya serta gaun pengantin karya tangan apiknya sang designer adibusana Indonesia ini. “kamu bisakan sedikit bersikap lembut sama aku, Ga?” Bisik Ira di telingaku. “Aku belum setuju kita fitting hari ini. Karena segalanya sesuai dengan keinginan kamu dan juga orang tua kamu. So, up to you. Aku enggak akan komen apa-apa.” Ucapku, lalu berjalan mendahuluinya menaiki anak tangga. Dia diam tak berkata apa-apa lagi. Suara gelak tawa dari lantai tiga lumayan nyaring hingga terdengar sampai ke telinga kami yang sedang menaiki anak tangga menuju ke lantai itu, dari suaranya bisa diperkirakan obrolan antara beberapa orang itu mungkin telah mengangkat topik yang sangat menyenangkan disana. “Itu koleganya Kak Tian dari Jakarta.” Ucap Miranda di tengah obrolan-obrolan santainya di lantai atas yang kini menyapa pendengaran. Kami semua hanya menyunggingkan senyum maklum dengan kebisingan mereka yang telah lebih dulu datang ke gallery. Sesampainya di lantai tiga, Tian Gunawan yang seorang designer ternama tanah air sekaligus pemilik gallery menyambut hangat kedatangan kami, dan benar saja yang sekarang sedang berdiri di hadapanku adalah Tigun yang sering wara-wiri menghiasi layar kaca. Hanya saja ada sedikit perbedaan di layar kaca dengan Tian yang ada di hadapanku saat ini, aslinya ternyata lebih gemulai dari yang dibayangkan. Namun aku tidak punya waktu untuk memperhatikan mahluk terkenal di hadapanku, karena ketika netraku melihat ke belakang sang designer kakiku serasa tidak menapaki lantai. Terlalu kaget dengan keberadaan tiga orang yang sudah aku kenal sebelumnya, bahkan salah satu dari mereka adalah orang yang aku cari keberadaannya seharian ini. “Apa yang harus aku lakunkan, Tuhan.” Batinku. “Ga. . Arga.” Panggil Ira, tangannya menarik ujung lengan kemejaku. Aku meliriknya. “Malah ngelamun. Aku ke kamar ganti dulu, kamu ikut sama Kak Tian.” Ucapnya dan berlalu mengikuti Miranda ke ruang ganti. Sementara aku terpaksa mengikuti Tigun menghampiri ketiga orang yang dari tadi memperhatikan interasksi kami, lebih tepatnya mungkin mereka memperhatikan aku. “Kenalin nih calon manten baru.” Tidak ada tanggapan dari ketiga orang dihadapanku, mereka diam saja dengan saling pandang satu sama lain. “Why..?” Tanyanya, ku lirik dari ujung mataku Tian mengangkat kedua alisnya. Aku kembali fokus memandang Tari yang tepat berdiri dihadapanku. “Ekhm. . . kebetulan kita sebelumnya sudah pernah bertemu dengan Pak Arga.” Ucap Bagas yang notabenenya sebagai saingan cintanya, mencairkan suasana. “Ternyata sudah saling kenal heh? jadi no problem dong kalau saya ngukur badannya disini sekalian ukur badan Bagas juga.” Ucap Tian dengan mengedipkan sebelah mata. Ehhh, tapi tunggu dulu aku baru kepikiran kenap mereka disini, di ruang khusus baju pengantin Tigun’s Gallery? Ngukur badan Bagas? Apa dia dan Gantar. .? Ahhh, tidak tidak tidak! Gantari tidak mungkin meninggalkan aku untuk menikah dengan laki-laki lain. “Kak. .” Ku lihat Pandita menarik ujung jari Tari, super model itu lalu berbisik di telinganya. Mereka berdua lalu duduk di kursi yang tersedia di ruangan itu. “Saya bisa mulai sekarang?” Tanya Tian di sampingku. Aku menganggukkan kepala mengiakan. Dia mulai mengukur panjang lenganku, lebar bahu lalu mencatatnya. “Say, inget yaa. Kamu harus balik Jakarta besok. Kita terbang kamis malam.” Ucap Tian sambil menuliskan hasil ukuran lengan serta pundakku. “Aku bareng sama Mas Bagas aja. Malem ini mau nginep di apartement Kak Tari. Dan . . . Nuna enggak usah ikut.” Ohh, ternyata yang di ajak ngobrol Dita. Dan dari tadi aku enggak mendengar Tari berbicara sepatah katapun. Aku yakin saat ini dia enggan melihatku, terlihat darinya yang melihat kelain arah. “Bagas jangan lupa jadwal terbangnya ke luar negri.” Ucap Tian malu-malu. “Bulan depan jadwal Eropa, kalau bulan ini ambil domestik.” Jawabnya, aku baru tahu si Bagas ini ternyata seorang yang bergelut di bidang penerbangan. Entah sebagai pramugara atau seorang pilot, pantes saja badannya bagus. Ternyata sainganku kelas berat juga, bukan kalangan kelas teri. “Ehh, by the way. Dua hari kemarin kalian kemana? Sumpah yaa, ponsel sampai dimatiin segala.” Aku mempertajam pendengaranku, aku juga penasaran dengan kabar Tari dari Jum’at malam sampai sore ini. “Nyicil honey moon.” Bagas tertawa setelah mengucapkannya. Aku mengepalkan tanganku mendengar jawaban Bagas. “Sabar, sabar Arga sabar.” Batinku menenangkan. “Dek, kamu ikut pulang sekarang apa nanti nyusul?” Dan itu kalimat pertama yang ku dengar dari mulut Tari. “Sekarang aja bareng kalian.” Jawab Dita cepat dengan masih menenakan kebaya pengantin. “Nuna, sampai ketemu besok. Aku lepas kebayanya di bawah aja.” Dita menjeda ucapannya. “Aku mau hibur dulu yang lagi PATAH HATI.” Lanjutnya menekan kata patah hati diujung kalimat yang sedikit menyindirku. Aku hanya diam memperhatikan lirikan Dita yang terkesan sinis kepadaku. Tari berdiri dari duduknya berpamitan dengan Tian lalu berjalan melewatiku begitu saja yang sedang berdiri. Aku mencekal tangan Tari, namun Bagas sigap menepis peganganku di tangan Tari. “Ngapain?” Tanya Bagas sarkas, bola matanya menatap tajam ke arah ku. “Ri, aku masih menunggu balasan pesan dari kamu.” Ucapku, tidak menghiraukan Bagas yang masih menatapku tajam. “Enggak usah cari penyakit dehh kayaknya.” Sindir Dita yang melewatiku begitu saja. Mereka bertiga pergi meninggalkan ku dengan Tigun yang bengong dengan obrolan panas kami, namun dia sepertinya tipe orang yang enggak mau ikut campur urusan orang lain. Terbukti dengan dia yang diam saja tanpa menanyakan apapun kepadaku setelah kepergian Tari bersama Bagas dan juga adiknya. Akhirnya setelah beberapa saat tubuhku selesai diukur oleh Tian, setelah berpamitan dan mempersilahkan ku duduk, dia meninggalkanku sendiri di ruangan ini pergi ke ruang ganti untuk menemui Ira. *** Gantari Willis Aku bolak-balik mengecek ponsel yang ada di genggamanku, keluar masuk fitur WhatApp dengan harapan ada panggilan masuk atau pesan singkat dari seseorang yang ku terima malam ini. Namun sudah hampir satu jam aku memandangi benda pipih di tanganku, benda itu tak juga bergetar atau mengeluarkan suara nada dari notif masuk. “Dari sejak pertama perusahaan ponsel mengeluarkan produknya, baru kali ini aku lihat seorang Taryati sangat bergantung pada benda pintar ini.” Sindir Dita, adikku. “Dek, coba telpon ke nomor Kakak. Kayaknya ponsel kakak rusak dehh.” Pintaku kepadanya yang baru saja memasuki kamarku. “Masa sih? Kita coba . . tunggu sebentar.” Dita mencoba menelpon nomor ponselku, dan setelahnya terlihat nama adikku beserta potret cantiknya berpendar-pendar di layar gawaiku. “Itu ada.” Ucapnya, lalu mematikan kembali panggilannya. “Kenapa? Lagi nunggu telpon atau pesan dari dia?” Tebaknya, akurat. Dipikir-pikir tebakan Dita ini selalu benar, apa mungkin sekarang adikku ini beralih profesi menjadi cenayang. Ahhh, gegara Arga aku malah ngelantur gini. “Apa sebelumnya kakak tau dia sudah bertunangan?” Keponya. “Kakak tahu baru beberapa hari ini, itupun enggak disengaja.” Jawabku, nertaku menerawang langit-langit kamarku mengingat kembali peristiwa malam itu. Sejak kepulanganku dari Gallery, belum ada satupun panggilan atau pesan masuk dari Arga. Iya, kamunya aja yang kepedean. Mana ada yang lagi fitting baju pengantin bisa chattingan dengan wanita lain, lahh siapa elu? “Huphh. .” Aku menghembuskan nafas kasar mengingat kembali pertemuanku dengannya. Kalau sudah fitting baju berarti langkah Arga ke pelaminan dengan tunangannya sudah semakin dekat, kali ini aku yakin sudah tidak ada harapan lagi buatku untuk bisa bersamanya. “Ikut aku sama Bagas, yuk.” Ajaknya. “Kemana? Kalau kamu lupa, ini udah malem.” Ucapku. “Ya enggak apa-apa. Kalau udah malem emang kenapa? Takut kena razia Satpol PP?” Tanyanya. “Ya kali kita bertiga mau mangkal di pinggir jalan.” Lanjutnya. “Ishh, kamu.” Ucapku. “Ya, udah. Ayoook.” Aku pun setuju dengan ajakan nya kali ini. Entahlah mereka berdua mau membawaku kemana. Yaa, palingan ke klub malam miliknya Mas Bagas. Udah bisa ditebak! *** Dan ternyata disinilah aku sekarang, di tempat Gym menemani mereka berolahraga malam. Pantesan badan Mas Bagas sama Dita pada bagus, lah wong tiap hari olah raga itu wajib walaupun cuman sepuluh menit dengan pola makan sehat juga. Apalah aku yang udah makan gorengan sekeresek sama cake lima potong aja langsung rebahan lalu tidur. Duhhh, gagal deh jadi body goals. “Kenapa kalian malem-malem mengajakku kemari?” Tanyaku di belakang Dita yang sudah mengganti pakaian. “Kak, olahraga itu selain bisa meningkatkan kualitas tidur dan bisa membantu mengatasi perasaan gelisah, olahraga juga menjadi salah satu cara untuk tubuh mengeluarkan hormon endorfin, tahukan kak? Untuk mengurangi rasa sakit dan memberikan energi positif.” Ucapnya saat aku mencoba treadmil dengan kecepatan sedang. Sementara Mas Bagas tidak ikut dengan kita ke area gym, ia malah pergi ke kolam renang. “Ya ampuuun, ternyata Maemunah udah pinter yaa sekarang..” Sindirku. “Ishh, aka nih. Beneran ihh. .” Aku tertawa melihat Dita cemberut. “Kak, susulin Bagas yook ke kolam. Di sana bisa buat cuci mata loh, selain cuci badan juga.” Bisiknya, aku menggeleng-gelengkan kepala dengan kelakuan ajaibnya adikku. Namun tak ayal, aku tetap mengikutinya juga ke area fool. “Ini sudah larut sekali, tapi ternyata masih banyak orang..” Gumamku saat tiba di area kolam dan melihat lumayan masih banyak orang di dalam air. “Kak, lihat. Di sini banyak cowok berperut kotak berwajah ganteng. Beneran dehh, nongkrong duduk-duduk di sini tuh tubuh malah lebih cepat bekerja mengeluarkan hormon dari pada ngegym di treadmil.” Bisiknya. “Apaan sih, Dek?” Tanyaku. Aku duduk di kursi pinggil kolam dengan Dita mengikutiku duduk di sampingku. Mas Bagas tidak terlihat di area sini. “Lihat cowok-cowok enggak pake baju, Kak Tari enggak ngerasa gerah atau pipi memanas gitu?” tanyanya, masih berlanjut topik tentang hormon. Heran ni anak gaulnya sama siapa sih, sampe jadi gini? “Enggak, biasa aja tuh. Ini keringat juga bawaan dari treadmill tadi, bukan efek lihat cowok-cowok berperut kotak disini.” Jawabku acuh. “Di sini kita bisa milih tipe-tipe ideal.” Ya ampun ni anak ngehibur aku sampe segitunya “Lihat deh, Kak. Yang berotot tinggi di ujung kolam.” Dagunya menunjuk seorang pria yang sedang memejamkan mata di pinggir kolam. “Dan itu, terlihat tipe-tipe pendiam namun menyenangkan.” Tunjuknya lagi pada pria yang berada  diarah jam tiga dari tempatku duduk. Aku hanya ikut melihatnya, namun apa yang dikatakana adikku cukup membuatku bingung. Hanya dengan melihatnya saja dia bisa tahu tipe-tipe setiap pria, padahal yaa aku aja yang beberapa bulan kenal Arga masih saja bisa dibohongi. Apa lagi yang hanya sekilas melihatnya, gimana bisa langsung bisa menilai. -daeeebak- aku menggeleng-gelengkan kepala, gemas dengan kelakuan adikku. “Udah, sekarang saatnya bobo. Melepaskan hormonnya, besok-besok lagi yaa.” Ucapku. “Yuuk cari Mas Bagas. Anak orang takut ilang, kasian kan emak bapaknya udah enggak ada. Kalau bukan kita yang ngurusin tuh anak, mau siapa lagi.” Lanjutku mendramatisir keadaan Mas Bagas. “Ehh, Kak Taryati dia itu lebih kaya dari kita yaa. Mana ada dia ditindas yang ada dia yang nindas kita.” -Hahaha- aku tertawa mendengar jawaban Dita. Mas Bagas keluar dari kamar ganti, dia tampak segar dengan rambut setengah basahnya. “Kalian belum mandi?” Tanyanya saat menghampiri kami. “Belom, barusan lepasin hormonnya Taryati dulu.” jawab Dita asa. “Sensi amet, Buk.” Aku menoel pipinya. “Habisnya masih kesel sama tuh lakik. Kirain aku yaa kak, dia single. Heran kenapa sih cowok suka gitu, seenaknya datang dan pergi. Seenaknya jalan sana sini, mampir sana sini, keluar masuk hati perempuan. Lahh, dikira hati perempuan tuh warteg Tanah Abang.” Aku dan Mas Bagas saling pandang, bingung dengan Dita hari ini yang kayaknya lebih sakit hati dari pada aku yang lagi patah hati karena Arga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN