Dira Anastasya
Walaupun aku tahu Arga akan marah dengan keputusanku membawa mama buat tameng aku saat fitting baju pengantin sore ini, namun aku tetap menghampirinya di hotel. Karena aku takut bila menunda terlalu lama persiapan pernikahan kami, dia akan mengabaikanku kembali dan akhirnya meminta membatalkan pernikahan. Itu yang sangat aku takutkan sekarang.
Benar saja, perjalanan yang menghabiskan hampir satu jam dari hotel sampai ke Tigun’s Gallery dia megacuhkanku, seolah-olah aku tidah ada bersamanya. Tidak ada percakapan yang terjalin antara aku dan Arga. Tapi aku yakin, aku bisa bertahan menghadapi sikap dinginnya Arga demi masa depanku serta anak yang ada dalam kandunganku.
“Aku mau coba yang lehernya terbuka, Kak Mir.” Ucapku saat aku mengikutinya ke kamar ganti tigun’s Gallery. Ibuku menunggu di sofa yang sudah di siapkan di ruang ganti ini dengan sebuah majalah fashion di tangannya, sementara Arga bersama Kak Tian.
“Tenang udah aku atur, kamu tinggal coba satu-satu.” Jawab Kak Miranda Manager Tian’s Gallery yang juga anak dari teman ibuku.
Sesampainya di kamar ganti, kak Miranda sebelumnya telah menyiapkan beberapa gaun dengan berbagai warna. Namun yang dipilihnya untuk pernikahanku nanti adalah gaun dengan warna pastel, dan juga satu gaun panjang berwarna putih tanpa lengan, dan yang paling aku suka dari semua gaun di sisi, ya gaun ini karena tanpa leher . Jika aku memakainya, itu akan mengekspos pundak serta leher jenjangku. Aku mencoba gaun putih itu, yang sejak pertama kali sudah mencuri perhatianku.
“Kak tolong dong resletingnya, tanganku enggak sampai.” Pintaku pada Kak Miranda.
“Loh, kok agak susah sih. Padahal ini udah ukuran yang di kasih sama Tante Rianty kemarin.” Gumamnya saat membantuku menaikan resleting di punggungku yang masih bisa didengar olehku.
“Kamu mau diet apa Kakak rombak lagi sedikit? Biar kamunya nyaman enggak kesempitan kayak gini.” Tanyanya.
“Aku diet aja, Kak.” Jawabku agak gugup.
“Oke kalau begitu, dua hari sebelum hari H kita cek lagi. Takut-takut masih kekecilan.” Aku mengangguk dengan sarannya. Aku keluar dari kamar ganti, berniat memamerkannya kepada Arga, aku berjalan perlahan karena ekor gaun yang panjang menjuntai ke lantai itu sedikit menyulitkanku saat bergerak.
Aku melihat sedikit ada perdebatan diantara Arga dengan ketiga orang tamunya Tian, tapi entah karena apa. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan sampai ketiga orang itu pergi meninggalkan Arga. aku penasaran dengan apa yang terjadi, namun langkahku kalah cepat karena terhalang oleh beban gaun yang ku pakai. Dan aku hanya memperhatikannya dari ruang ganti.
Tian menghampiriku setelah kepergian tamunya.
“Udah pas banget sama yang ini, tinggal pake mahkota sama veil.” Ucapnya sembari menelisik tubuhku.
“Tapi. . .” Tian menjeda ucapannya, aku sangat cemas kakau-kalau dia tahu dengan kehamilanku meski hanya baru menginjak usia lima minggu tapi mungkin dia akan mengetahuinya.
“Kenapa, Kak?” Tanya Kak Miranda.
“Ahh, enggak.” Jawabnya tersenyum, syukurlah. .
“Mir, nanti kamu tambahin saja sekitar lima atau.. ehh empat centi saja deh.” Lanjutnya.
“tapi Kak, kata Ira dia bakalan diet supaya enggak kita rombak lagi gaunnya.” Sela Kak Miranda.
“No no no. .” Tian menggeleng-gelengkan kepalanya enggak setuju dengan Sang Manager.
“Kamu gedein aja, supaya enggak ribet nanti. Beneran aku enggak mau mengecewakan pelanggan.” Lanjutnya lagi.
“Enggak apa-apa aku tinggal, say?” Tanyanya padaku.
“Enggak, Kak. Makasih banget loh Kak udah mau direpoti sama aku.” Ucapku.
“Uhh, jangan gitu. Pokoknya persiapan harus secetar mungkin untuk hari terbahagia kamu menjadi ratu sehari. Oke, say aku tinggal yaa. .” Pamitnya.
“Kak, yang tadi tamunya Kak Tian siapa?” Tanyaku penasaran dengan mereka bertiga.
“Oh, itu Mbak Pandita model utamanya Kak Tian.” Aku manggut-manggut mendengar jawaban Kak Miranda.
“Tapi kalau yang lainnya sih katanya sodaranya Mbak Pandita yang tinggal di Bandung.” Lanjutnya menjelaskan. Pantesan kayak ada trouble gitu sama Arga kalau dua orang yang lainnya tinggal Bandung. Ehh, tunggu dulu sepertinya aku pernah melihat laki-laki tadi. Tapi dimana aku lupa, aku berusaha mengingat siapa laki-laki itu namun otakku sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi.
“Aku pulang duluan.” Ucap seseorang di belakangku, aku berbalik. Arga, di hadapanku dengan wajah datarnya.
“Kamu kenal dengan ketiga orang tadi?” tanyaku, dia tidak menjawabku. Aku melangkah mendekatinya.
“Apa diantara kedua wanita tadi adalah teman wanita kamu?” Tanyaku kedua kalinya, Arga tetap tidak menjawabku. Aku mencondongkan tubuhku ke telinganya.
“Kamu mau pulang duluan, silahkan! Tapi ingat, Ga. Aku tidak akan melepaskan teman wanita kamu begitu saja. Siapapun yang sudah mengambil milikku, aku pasti akan mengambilnya kembali dengan atau tanpa paksaan. Semua milikku harus kembali ketempatnya semula.” Desisku di telinganya. Dia menatapku tajam, begitupun aku. Aku menantang menatapnya tajam, aku sama sekali tidak gentar dengan tatapan tajamnya.
Aku meliriknya dari samping lalu mendekatkan wajahku, ku lumat bibirnya sekilas lalu pergi meninggalkannya yang mematung dengan wajah memerah menahan amarah. Aku kembali ke ruang ganti dengan dibantu Kak Miranda memegangi ekor gaunku.
***
Di rabu siang aku datang ke hotel Arga, aku berencana mengajaknya makan siang. Namun di lobby hotel aku melihat wanita yang sore itu aku temui di Tigun’s Gallery.
“Lagi ngapain wanita itu disini?” Pikirku.
Mataku mengikutinya kemana dia pergi, wanita itu menghampiri Evan di depan pintu Ballroom. Aku semakin penasaran dengan sosok wanita yang beberapa kali aku temui sebelumnya, tidak ada cara lain akhirnya aku memutuskan untuk bertanya pada reseptionis.
“Bu Dira.” Sapa salah seorang reseptionis yang aku lupa namanya.
“Sorry, itu siapa ya?” Tanyaku tanpa basa basi. Reseptionis di depanku mengikuti arah pandangku.
“Ohh, yang sedang bersama Pak Evan?” Tanyanya, aku mengangguk seraya melihatnya.
“Itu Ibu Gantari dari Artha Tama Bu. Sudah tiga minggu karyawan baru Artha Tama training di sini.” Jawabnya.
“Gantari? Tari yang disebutin Arga dalam mimpinya? Tari yang ini? apa masih ada Tari yang lain?” Batinku.
“Oke, makasih ya.” Aku meninggalkan meja reseptionis, aku harus segera mencari tahu seberapa jauh hubungan Arga sama si Tari-Tari ini. Berarti Arga menggunakan kesempatan untuk berkencan dengan wanita lain selama aku pergi.
“Arga ada?” Tanyaku pada Diana sekretaris Arga ketika aku sampai di depan mejanya. Diana berdiri dari duduknya melihat kehadiranku hari ini.
“Ada, Bu. Mau saya kasih tahu bapak dulu?” Tanyanya.
“Enggak usah.” Jawabku jutek lalu pergi meninggalkannya. Dari dulu aku enggak suka Diana, tiap apa-apa pasti ngadu sama Arga. Aku juga tahu dia itu sering cari perhatian sama Arga, namun Arga selalu membantah dan selalu berakhir dengan pertengkaran jika aku meminta Arga untuk mengganti sekretarisnya dengan seorang laki-laki. Arga selalu punya alibi untuk tidak memecat dia, Arga bilang Diana dalam pekerjaan selalu cekatan, enggak ada cela, rajin kalau enggak ada yang urgen banget dia pasti ontime tiap hari. Pokoknya kata Arga Diana adalah orang yang sangat dibutuhkan Arga dalam membantu semua pekerjaannya.
Padahal dia sudah bersuami, tapi aku selalu enggak suka dengan kehadirannya yang menurutku suatu saat dia pasti akan mengambil seluruh perhatian Arga. contoh kecil, Arga akan selalu menerima setiap panggilan darinya. Entah itu pagi, siang, sore atau bahkan tengah malam sekalipun kalau itu panggilan dari Diana Arga pasti akan mengangkatnya. Entah apa yang digunakan Diana untuk menarik semua perhatian Arga. sehingga aku bisa terkalahkan oleh sekretaris kecil itu, huh.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, aku masuk begitu saja keruangan Arga. Disana, Arga sedang berdiri di depan jendela memunggungiku. Merasa ada seseorang masuk kedalam ruangannya, Arga berbalik. Dia mengangkat kedua alisnya kala netranya melihat kehadiranku di ruangannya siang ini.
“Aku mau ajak kamu makan siang bareng.” Ucapku, lalu duduk di pinggir meja kerjanya. Siang ini aku sengaja memakai rok setengah paha, sehingga ketika aku duduk paha mulusku terekspos kemana-mana. Arga tidak menghiraukan ucapanku, dia mendudukan tubuhnya di kursi kebesarannya. Matanya lalu fokus dengan tablet di mejanya.
“Baiklah, kita mulai.” Batinku.
“Siapa Gantari?” Tanyaku. Aku sudah terlalu muak dengan semua sikap dinginnya Arga. Aku sudah terlalu lelah dengan kepura-puraanku yang seolah tidak tahu apa-apa dengan apa yang dia lakukan di belakangku. Dia mendongak menatapku namun tidak menjawabnya, aku menurunkan sedikit tubuhku.
“Kenapa, Ga? Kaget?” Tanyaku sinis. Aku turun dari mejanya, berjalan memutar ke belakang kursi tempat dia mendudukkan tubuhnya. Aku mensejajarkan tubuhku dengannya dan kedua tanganku memegang pundaknya.
“Aku tidak akan mengganggunya, satu yang harus kamu lakukan.” Aku menjeda ucapanku.
“Tinggalkan dan lupakan wanita itu untukku.” Lanjutku berbisik di telinganya. Iya, aku hanya menggertak Arga. karena pada dasarnya aku belum tahu siapa wanita yang dikencani Arga saat ini, namun aku menipunya seolah-olah aku telah mengetahui segala tentang perselingkuhannya.
***
Arganta Ragnala
Pagi ini aku melihat Tari berada di area resto hotelku bersama adikku Evan dan juga seorang teman wanitanya yang lain setelah dua hari menghilang. Aku sengaja tidak menghubunginya atau menemuinya langsung, karena aku enggak ingin keberadaan Tari tercium oleh Ira. Hari dimana aku bertemu dengannya di Tigun’s Gallery aku sangat takut, takut Ira tahu siapa Gantari sebenarnya. Karena aku yakin kalau wanita itu tidak akan melepaskan Tari begitu saja.
Awalnya siang ini aku akan meminta bantuan Evan untuk membawa Tari ke rumahku yang masih satu area dengan hotel, tapi kedatangan Ira hari ini yang tanpa ku prediksi mengacaukan semuanya. Apa lagi dia sekarang menanyakan nama Gantari, awalnya aku kaget kenapa Ira bisa dengan cepat mengetahuinya. Namum setelah berfikir jernih, aku yakin Ira hanya menggertakku. Soalnya aku tidak pernah meninggalkan jejak apa-apa tentang Tari, ponselku bersih dengan chat atau log panggilan dia, dan hubunganku di sini biasa saja. Hanya aku dan dia yang tahu apa yang terjadi diantara kita berdua.
So, Ira hanya menduga-duga. Bisa saja sebelum sampai ke ruanganku di bawah dia bertemu seorang wanita yang kebetulan adalah Gantari. Ya, cerita seperti itu sudah basi untukku yang menjadi tunangan wanita licik ini.
“Kamu mau tahunya Gantari yang mana? Mantanku waktu sebelum sama kamu? SPG? Atau yang selalu menemaniku di D’One?” Pancingku. Aku memutar kursi kebesaranku, jariku menyusuri paha mulusnya. Dia menurunkan lagi tubuhnya hingga sejajar denganku.
“Ternyata bukan hanya satu wanita yang ada di hati kamu.” Ucapnya lembut tepat di depan wajahku. Aku merasakan nafasnya karena Ira hanya beberapa centi di depan wajahku.
“Enggak usah menutupinya, Ga. Toh dia juga tidak akan selamat dari bidikanku.” Ira menaikan sebelah kakinya ke atas pahaku. Andai yang bersikap seperti ini adalah Tari, aku pasti sudah menerkamnya dari pertama dia duduk di atas mejaku. Namun sayang nyatanya yang sekarang berada tepat di hadapanku adalah wanita licik dengan segala akal busuknya, aku akan segera mencari celah untuk membatalkan pernikahanku dengannya.
“Ra, kamu tahu aku tidak pernah mencintai kamu. Jadi untuk apa kamu memaksakan diri seperti ini?” Aku menatapnya dalam. Jujur aku sayang sama dia, dibuktikan dengan aku yang selalu memenuhi setiap keinginannya, namun sebatas sayang seperti seorang kakak yang menjaga adiknya. Cuman seperti itu, tidak lebih. Lah Bang, seorang kakak ya seorang kakak enggak ada acara pake bobo bareng segala kalii.
“Aku juga tahu, Ra. Kamu juga tidak mencintai aku. Dihati kamu sudah ada seseorang yang enggak akan pernah bisa aku gantikan.” Lanjutku. Ira mematung dengan semua ucapanku.
“Walaupun dulu aku tidak pernah peduli dengan itu, tapi aku tahu selama ini kamu masih bersamanya. Evan pernah melihat kamu bersama laki-laki itu.” Aku menjeda ucapanku, masih tidak ada reaksi dari dia.
“So, ngapain kita menyiksa diri dengan pernikahan yang tanpa pondasi ini?” Aku lebih mendekatkan lagi wajahku ke wajahnya.
“Aku bisa membicarakannya lagi dengan orang tua kamu, akan ku pastikan aku yang akan menanggung semua kesalahan. Kamu hanya perlu diam tidak melakukan apa-apa.” Saranku yang masih belum ditanggapinya. Jari tangannya membelai rahangku.
“Tidak perlu, Ga.” Bisiknya.
“Dari pertama kali aku bertemu denganmu di hari pertunangan kita, aku sudah mencintai kamu. Tapi kamu tidak pernah mau tahu itu. Cinta atau tidak, itu tidak akan pernah menjadi masalah untukku. Yang harus kamu lakukan hanya menikahiku dan tidak terpikat dengan wanita di luar sana selain aku.” Bisiknya.
Detik berikutnya tanpa aba-aba Ira menempelkan bibirnya, lalu sedikit melumat bibirku. Hembusan nafasnya terasa hangat di wajahku.
“Ingat, Ga. Tidak akan ada yang yang bisa memilikimu selain aku.” Bisiknya di tengah ciumannya.
“Bang. .” Aku memejamkan mata, itu suara Evan. Aku sedikit mendorong tubuhnya, Ira melepaskan ciumannya, perlahan ia menurunkan kakinya dan menjauh dari kursiku.
Aku memutar kursi kebesaranku kembali, di sana di ambang pintu Evan tidak sendiri. Dia berdiri mematung bersama dua orang wanita, dan pastinya bila di lihat dari belakang kejadian barusan bisa diartikan sebagai adegan panasku bersama Ira.
Dia. Iya, dia Gantari memalingkan wajahnya saat aku menatap netranya. Kekecewaan jelas tergambar di wajahnya, begitupun dengan Evan adikku.
“Sayang, aku pulang dulu.” Ucap Ira memecah keheningan, tangannya merapihkan rok yang dikenakannya serta rambut panjangnya.
Cup.
Dia mengecup pipiku sebelum berlalu dari hadapanku, di depan pintu dia melirik Gantari yang sedang menunduk melihat lantai dan dengan sengaja menubrukan bahunya ke bahu Gantari.