Gantari Willis
Aku menunduk melihat ujung high heels hitamku, karena aku enggan untuk melihat pertunjukan di depan sana yang telah menyakiti hatiku. Arga yang sedang bersama tunangannya tengah memamerkan kemesraan mereka. Ya, aku bersama Mas Evan dan Mbak Santi sengaja menemui Arga di ruangannya untuk membicarakan acara penutupan Training karyawan baru Artha Tama. Karena pada dasarnya Arga adalah pemilik New Shapire, jadi alangkah lebih baik jika Arga dilibatkan dalam Acara puncak yang rencananya akan digelar akhir bulan ini.
Namun alangkah terkejutnya kami bertiga ketika membuka pintu ruangan Arga, kami melihat pemandangan -yang tak seharusnya kami saksikan-. Arga yang tengah memangku tunangannya dengan rok tersingkap hampir sampai ke pangkal paha. Walaupun aku hanya melihat dari belakang juga terhalang sandaran kursi, namun aku yakin mereka sedang melakukan aktifitas yang menurutku sangat tidak pantas mereka lakukan di lingkungan tempat mencari nafkah seperti ini dan masih dijam kerja pula. Terlalu. . aku hanya bisa tersenyum sinis dalam diamku.
Mataku sudah memanas, namun aku sekuat tenaga menahannya supaya aku tidak meneteskan air mata disini. Pegangan tanganku mengerat difile yang ku bawa, aku yakin aku pasti kuat dengan kenyataan ini.
Duk.
Aku merasakan seseorang menabrak bahuku, aku mendongak melirik orang yang telah menabrak bahuku, ternyata tunangannya Arga. Tatapan sinisnya menusuk menatap tajam ke dalam bola mataku, aku sangat yakin dia dengan sengaja melakukannya.
Sebelum benar-benar pergi dia menelisik melihatku dari kepala sampai ujung kaki dan tersenyum meremehkan. Setelah itu dengan membusungkan d**a dia benar-benar pergi meninggalkan ruangan Arga dengan mengenakan kaca mata hitam yang dari tadi bertengger di atas kepalanya.
“Ada masalah apa sampai repot-repot nyamperin ke ruangan gue?” dengan wajah tanpa dosanya dia berdiri dari duduknya lalu berjalan menghampiri kami.
“Ayo masuk.” Ucap Mas Evan yang tidak menanggapi pertanyaan Arga. Aku yang sudah menenangkan hatiku mengikuti Mas Evan duduk di sofa ruangan Arga senyaman mungkin, hanya Mbak Santi yang terlihat enggak nyaman dengan duduknya di dalam ruangan berhawa panas ini.
“Akhir bulan rencananya bikin acara penutupan, dan kita perlu konfirmasi dulu untuk masalah tempat dan juga segala sesuatunya.” Tanpa basa-basi Mas Evan langsung ke inti pembicaraan sesaat setelah Arga duduk satu meja dengan yang aku duduki.
“Mau outdoor apa indoor?” Tanyanya.
“Masukan sih, kalau Acaranya pagi lebih baik ambil outdor tapi kalau sore mending indoor. Soalnya masih musim pancaroba, kita enggak bisa prediksi kapan hujan akan datang. Yaa. . kecuali kalau memang enggak masalah pas waktu acara diguyur hujan, ya bisa ambil outdoor saja.” Lanjutnya.
“Direksi mintanya outdoor. Mudah-mudahan Pak Arga bisa menyiapkan tempatnya.” Ucapku. Arga melirikku, matanya menyiratkan kesakitan yang sama sepertiku. Namun aku tak peduli itu, yang aku inginkan segera keluar dari ruangan yang terasa sangat pengap ini.
“Ri, jangan bersikap seolah-olah kita enggak mengenal satu sama lain sebelumnya.” Ucapnya.
“Dan ini masih jam kerja saya.” Jawabku tanpa melihatnya. Karena bunga di atas meja lebih menarik untuk ku lihat saat ini.
“Tapi jam kerja kamu ada di tempat saya.” Ucapnya penuh penekanan, aku menatapnya tajam. Kali ini aku benar-benar muak dengan Arga.
“Van, untuk urusan acara nanti gue suruh anak-anak buat persiapan. Untuk sekarang bisa tinggalkan gue sama Tari berdua?” Pintanya.
“Atas dasar apa bapak meminta saya tinggal di sini?” Sela ku sebelum Mas Evan membuka mulut. Mata Arga nyalang melihatku.
“Saya tidak setuju.” Aku bangkit dari dudukku, dan tanpa permisi meninggalkan ruangan Arga untuk kembali ke ballroom hotel di lantai satu.
“Rekan kerja, tapi kayaknya tidak sesederhana itu.” Ucap seseorang di samping pintu ruangan Arga saat aku membuka pintu. Dia disana menyandarkan punggungnya ke dinding dengan dua tangan menyilang di depan d**a.
“Maaf.” Tanyaku memastikan. Dira tersenyum sinis lalu berjalan mendekatiku.
“Cukup dramanya, udah enggak ada yang nonton juga.” Ucapnya pelan.
“Saya ingatkan! kamu enggak akan pernah mendapatkan apa-apa dari Arga. Mimpi kamu ketinggian.” Bisiknya, matanya menelisik menilai penampilanku lalu setelahnya tersenyum meremehkan.
“Sepertinya anda salah orang.” Tanpa permisi aku melewati wanita itu. Aku tidak mendengar langkah dia mengejarku namun rasanya punggungku hampir terluka karena tatapan tajamnya. Memang benar, meninggalkan seseorang yang sedang berbicara dengan kita begitu saja tanpa permisi adalah bentuk ketidaksopanan, namun biarlah toh aku enggak kenal dan enggak mau ketemu lagi dengan dia –terutama dengan Arga-. Aku sudah memutuskan untuk menjauh dari Arga, mengalah kepada dia yang sudah seharusnya mendampingi Arga. Walaupun akan sakit tapi aku yakin aku pasti bisa melewatinya. Pokoknya yakin aja dulu, giliran bisa apa enggaknya, biar waktu yang menjawab. Kalaupun tetap enggak bisa, aku akan tetap berusaha untuk terus melupakannya.
***
Author POV
Tiga hari setelah kejadian memalukan yang dilihat langsung oleh Tari di ruangannya, Arga belum berani menampakan batang hidungnya dihadapan Tari. Dia ingat betul siang itu Evan sempat menasehatinya dengan dikemas dalam kata-kata yang sedikit memarahinya.
“Dari kemarin-kemarin gue udah ngomong, pilih salah satu diantara mereka. Lebih cepat lebih baik! Walaupun keputusan loe akan menyakiti salah satu dari mereka, tapi itu lebih baik dari pada harus seperti ini.” Ucapnya setelah kepergian Gantari dari ruangan Arga.
“Namun apa sekarang? Gue gak bisa mikir, sumpah.” Lanjutnya dengan menghembuskan nafas lelah. Santi yang tidak mengerti arah pembicaraan hanya bisa menebak-nebak dari apa yang dia lihat, mungkin sedikit banyak dia sudah bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya sedang terjadi di ruangan ini.
“Gue enggak ikut campur, Bang. Loe urus saja sendiri. Tapi pliis, untuk sementara jangan ganggu dulu Tari. Gue yakin dia pasti shock dengan apa yang terjadi beberapa hari ini.” Pinta Evan.
“Gue balik dulu ke bawah.” Tanpa menunggu jawaban Arga dia berdiri dari duduknya.
“Ayo, San.” Lanjutnya mengajak bawahannya keluar dari ruangan Arga yang masih diam dengan fikirannya sendiri.
Flash back off.
“Sendiri, loe?” Tanya temannya di belakang meja bar dengan sedikit berteriak karena kebisingan musik di dalam ruangan dengan sedikit pencahayaan. Arga mendongak ke asal suara, menyipitkan matanya melihat jelas siapa yang bertanya kepadanya di bawah remang lampu bar, lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.
“yo’i. Martin dong Bim.” Pintanya.
“Eh, loe mau coba resep baru D’one gak?” Tanya Bimo Manager D’One dengan menaik turunkan kedua alisnya.
“Siapa yang bikin resep? Loe? Ogah gue.” Ucapnya meremehkan.
“Enggak lah, mana bisa gue bikin racikan baru.” Jawabnya.
“Terus?” Tanyanya dengan mengangkat sebelah alisnya.
“Adenya Bos, gue. Dulunya bartender di D’One Surabaya.” Jawabnya, tangannya dengan terampil meracik minuman yang katanya resep barunya D’One.
“Keren dong.” Tanya Arga, menaikan satu kakinya ke tiang bawah kursi karena menurutnya pembicaraan ini akan semakin menarik.
“Enggak cuman keren, tapi anaknya cantik gilaaa.” Jawabnya antusias. Arga semakin penasaran dengan cerita Bimo.
“Cewek?” Tanya Arga penasaran.
“Yoyoy, kalau bukan adenya bos udah gue embat malem itu.” Bimo memamerkan ketertarikannya dengan bartender adik dari bosnya.
“Nih, coba.” Dia menyodorkan gelas Kristal berisi cairan yang memabukan itu ke hadapan Arga.
“Woy woy woy, pelan-pelan. bro. kata si enengnya minum dikit aja, efeknya lumayan kuat.” Arga memejamkan matanya setelah meminum cairan dalam gelas Kristal dalam satu tegukan.
“One again!” pintanya dengan menyodorkan kembali gelas yang ada di tangannya.
“Loe sendiri, Bang?” Tanya Bimo ke dua kalinya. Arga mengangguk, sebelum matanya melihat ke belakang punggungnya tempat orang-orang mengabiskan malam di lantai dangsa. Malam ini D’One lumayan disesaki oleh pengunjung, bau asap rokok bercampur dengan berbagai jenis parfum memenuhi rongga pernafasannya.
Bimo nyodorkan kembali minuman pesanan Arga, “Udah lama loe enggak mampir, kemana aja?” Tanyanya. Arga kembali menghadapkan kepalanya kepada lawan dicaranya di belakang meja bar.
“Banyak kerjaan gue.” Arga menghembuskan nafas lelah, lalu menegak kembali minuman yang ada di tangannya.
“Mau gue cariin partner?” Tawar Bimo.
“Enggak usah.” Gelengg Arga.
“Bilnya, Bim.” Pinyanya dengan mengeluarkan ponselnya.
“Lah, masih pagi udah mo balik aja Bang.” Herannya namun tetap mencetak bil. Bimo menyerahkan bil yang di minta Arga. satu menit kemudian transfer dari rekening Arga masuk ke rekening D’One.
“Gue balik dulu, Bim.” Pamitnya.
“Bang, mobil loe taruh aja di sini, besok baru loe ambil. Gue enggak yakin loe bisa nyetir selamet sampe rumah.” Ucap Bimo saat netranya melihat wajah Arga yang sudah memerah. Arga mengacungkan jempol dengan saran Bimo.
Arga berdiri lalu berjalan dengan sedikit sempoyongan. Benar efek dari minuman itu sangat kuat, sekarang dia merasakan pening di kepalanya. Demi keselamatan akhirnya Arga menuruti saran dari Bimo pulang dengan taksi dan meninggalkan mobilnya di basement D’One.
--
Arga beberapa kali menempelkan kartu yang dipegangnya ke gagang pintu, beberapa kali pula dia menekan angka-angka yang tertera di sana. Namun tetap tidak berhasil membuka pintu rumahnya, padahal kepalanya sudah terasa sakit dan dorongan dari dalam perutnya pun ingin segera dikeluarkan. Dengan putus asa dia akhirnya kembali ke lift yang tadi membawanya naik ke lantai ini.
Namun sebelum dia mencapai lift, pintu lift terbuka lebih dahulu dengan Gantari keluar dari sana mengenakan piyama tidur dan di tangannya membawa kantong keresek berwarna putih bertuliskan salah satu swalayan yang ada di area apartement yang ditempatinya selama kurang lebih empat tahun terakhir.
Arga mematung melihat wanita yang keluar dari dalam lift lalu melewatinya begitu saja tanpa berbicara sepatah katapun.
“Kenapa Tari ada di ruanganku?” Batinnya.
Terdengar suara pintu terbuka dari belakangnya, Arga pun membalikkan tubuhnya dan melihat Gantari yang telah membuka pintu masuk ke ruangannya tanpa menutup pintunya kembali.
Arga masuk mengikuti Tari, tangannya menutup pintu dengan mata tetap memperhatikan semua gerak-gerik Tari yang mengacuhkannya, tangannya cekatan memindahkan setiap bungkusan dari kantong keresek putih ke dalam kulkas dan sisanya ke lemari atas dapur.
Setelah selesai Tari berjalan masuk ke kamarnya dengan tetap mengacuhkan Arga, seolah Arga tidak ada di dalam apartementnya. Arga dengan kesal mengejarnya masuk ke dalam kamar memeluknya dari belakang, membalikan tubuh Tar dengan kasar lalu menjatuhkan Tari ke atas tempat tidur.
Arga yang berada dalam pengaruh alkohol, dengan kasar mencium bibir Tari. Sekuat tenaga Tari menghindari ciuman Arga.
“Lepasin aku, Mas.” Tangannya mendorong tubuh Arga, kepalanya terus menghindar dari bibir Arga.
“Mas. . kamu mabuk.” Ucap Tari dengan nada setengah berteriak saat ia merasakan pahit serta bau alkohol dari mulut Arga. Namun Arga tidak memperdulikan teriakan Tari, bibirnya terus menyusuri bibir serta wajah Tari. Tangan kanannya membuka jaket hitam yang dipakainya malam ini.
“Mas.. Arga.” Teriak Tari lagi, berharap Arga sadar dengan apa yang dilakukannya. Namun tidak ada tanda-tanda Arga akan berhenti, akhirnya Tari dengan sengaja memeluk erat tubuh Arga.
“Mas Arga” cicit Tari di telinga Arga. perlahan Arga mulai sadar, dia menjatuhkan kepalanya di pundak Tari. Ia tidak merasakan ada pergerakan lagi dari laki-laki yang berada di atas tubuhnya, Tari dengan cekatan membenarkan letak jaket Arga yang sudah terbuka setengah badan.
“Mas Arga.” Panggil Tari dengan sedikit menggoyang-goyangkan tubuh Arga, namun tidak ada jawaban dari Arga. Arga tertidur, hanya tarikan nafas teratur yang terdengar dari mulutnya.
Dengan sekuat tenaga Tari melepaskan diri dari kurungan tubuh Arga yang menindihnya yang kini telah tertidur pulas di atas tubuhnya, dengan sekuat tenaga Tari membalikan tubuh Arga ke posisi terlentang. Tangannya dengan cekatan membenarkan posisi kepala Arga di bantal senyaman mungkin. Tari melepas sepatu yang di pakai Arga, dan menyimpannya di dekat pintu. Kini Tari beralih ke atas tubuh Arga, Ia memeriksa semua saku baju, celana serta jaket yang dikenakan Arga, mengeluarkan semua benda yang ada di sana, Tari hanya menemukan dompet, kunci mobil, bil pembayaran, ponsel dan rokok beserta pematiknya. Tari lalu menyelimutinya.
Lelah, Tari mendudukan tubuhnya di lantai yang terasa dingin. Melirik jam di atas nakas, pukul 11.24. netranya lalu memperhatikan wajah Arga yang tertidur pulas, telunjuknya menyusuri hidung mancung Arga lalu turun ke bibir hitam Arga, khas pecandu rokok. Tari menggenggam telapak tangan Arga, lalu mengecupnya cukup lama.
Dia mendekatkan wajahnya, lalu menempelkan bibirnya di kening Arga. bibirnya menyusuri setiap inci wajahnya dan berhenti di atas bibir Arga.
Dreeeet..
Dreeeet..
Netranya melirik ponsel milik Arga yang ada di atas nakas, nama Dira Anatasya dengan menampilkan potret Dira yang tengah memeluk Arga dari samping dengan senyum lebarnya berpendar-pendar dilayar.
“Tari. . .” Panggil Arga dalam tidurnya. Hati Tari menghangat, kenyataan yang tidak dapat dipungkiri dalam tidurnya pun Arga tetap menginginkan dirinya.
Namun kenyataan yang membuat Tari selalu ingin pergi dari kehidupan Arga, kenyataan bahwa dia hanya menjadi duri dalam hubungan Arga bersama tunangannya. Kenyataan bahwa dalam hitungan bulan Arga akan menjadi milik orang lain. Ketika ijab sah itu terucap dari mulut Arga untuk wanita lain di situlah titik tertinggi Tari harus mengikhlaskan Arga dengan kehidupannya lalu pergi menjauh dari jangkauan Arga untuk selamanya.
Setetes air mata jatuh dari sudut matanya, rasa perih membayangkan kehilangan sosok Arga yang sangat ia cintai terasa nyata di hatinya. Apalah daya, Tari hanya seorang manusia biasa. Hanya mampu berharap Sang Penguasa Alam memberikan takdir jodohnya kepada Arganta tanpa harus menyakiti hati wanita manapun.